
Suasana sunyi, mereka saling memandang. Shelly terkejut melihat pria yang masih menggendong Ainsley, kenapa wajahnya terlihat sedikit mirip dengan Harry? Apa ini hanya kebetulan? Mata Shelly menatap ke arah Harry lalu melihat ke arah Damian lagi. Benar mirip dan jangan katakan jika mereka saudara karena itu tidaklah lucu. Mungkin hanya kebetulan belaka karena dia tahu, Harry tidak punya saudara laki-laki.
Harry memandangi Damian dengan tatapan tidak senang, beraninya pria itu menggendong Ainsley di depan matanya? Hatinya panas karena dibakar api cemburu, ingin rasanya menyingkirkan pria itu dan menjauhkannya dari Ainsley. Seharusnya dia yang sedang menggendong Aisnley saat ini, bukan pria itu.
"Dam-Dam, kenapa kau baru datang?" tanya Ainsley dengan pelan.
"Sorry, apa yang terjadi? Kenapa kau bau telur busuk?"
"Mereka melempar aku menggunakan aku telur, padahal aku tidak tahu apa pun!" jawab Ainsley.
"Benarkah?" Damian memandangi tiga wanita yang berdiri tidak jauh dari Harry. Apakah mereka yang melempar Aisnley?
Ainsley mengangguk, entah kenapa dia begitu senang bahkan Damian tidak menurunkannya dari gendongan. Semoga saja dengan ini Harry menyerah mengejarnya karena dia tidak mau terlibat dengan masalah Harry dengan tunangannya.
"Turunkan dia!" ucap Harry. Dia semakin kesal ketika melihat Ainsley memeluk Damian dengan erat.
"Aku tidak mau menurunkannya, memangnya kenapa?"
"Jangan menguji kesabaranku!" kedua tangan Harry sudah mengepal, rasanya ingin memukul pria itu sampai puas.
"Oh ya? Aku ingin lihat apa yang ingin kau lakukan? Aku tidak akan menurunkannya karena aku akan menggendongnya setiap hari sampai mati!"
Ainsley kembali tersenyum,apa maksud ucapan Damian? Harry semakin kesal karena perkataan Damian, apa pria itu sedang menantangnya?
"Dam-Dam, ayo kita pergi. Percuma berbicara dengannya karena dia tidak akan mengerti," ajak Ainsley.
"Ainsley, bukan begitu. Aku minta maaf atas perlakukan Shelly. Aku berjanji lain kali hal ini tidak akan terulang kembali," ucap Harry.
"Mereka yang melakukan, kenapa harus kau yang meminta maaf?" tanya Ainsley dengan sinis.
"Aku tidak akan pernah meminta maaf padamu!" teriak Shelly.
"Aku juga tidak membutuhkan maaf darimu!" ucap Ainsley.
Ainsley meminta Damian menurunkannya karena ada yang ingin dia bicarakan dengan Harry. Harry begitu senang karena Ainsley mendekatinya tapi dia tidak menduga, satu tamparan di wajah dia dapatkan karena Ainsley benar-benar marah saat ini.
"Harry!" Shelly berlari menghampiri Harry dan menatap Ainsley dengan penuh kebencian.
"Kenapa kau memukulnya?" teriak Shelly marah.
"Semua ini gara-gara kau karena kau tidak mau berhenti mengejar aku padahal aku sudah meminta padamu untuk berhenti. Kau selalu mengganggu aku jadi tamparan itu aku berikan karena kau telah membuat aku malu jadi aku harap, mulai sekarang kau tidak mengganggu aku lagi, Harry! Dan kau?" Ainsley menatap Shelly dengan tajam lalu dia berkata, "Sebaiknya jaga dia baik-baik, aku tidak akan segan lagi jika kau berani menuduh aku melakukan hal yang tidak aku lakukan sehingga merusak reputasiku!" ancamnya.
"Aku tidak takut padamu!" teriak Shelly.
"Diam kau, Shelly!" teriak Harry. Shelly ketakutan ketika melihat tatapan Harry yang tajam, dia melangkah mundur. menghampiri sahabatnya dan mengajak mereka pergi dari sana.
Ainsley memutar langkahnya, dia sungguh tidak menyangka, tunangan Harry akan mencarinya dan melemparinya dengan telur dan sekarang rambutnya begitu bau.
"Ainsley, yang aku sukai hanya kau, bukan Shelly!" teriak Harry.
Ainsley tidak perduli, sedangkan Damian tidak senang mendengarnya. Teriakan Ainsley kembali terdengar karena lagi-lagi Damian menggendongnya.
"Dam-Dam, kenapa kau menggendongku lagi?" tanya Ainsley dengan wajah memerah.
"Kita harus keluar dengan penuh gaya, bukan?"
Ainsley tersenyum dan memeluknya, dia melihat Harry dari balik bahu Damian. Harry benar-benar marah, dia tidak terima dan semua ini gara-gara Shelly.
"Ainsley, aku tidak akan menyerah!" teriak Harry tapi Damian dan Ainsley sudah keluar dari tempat itu.
Kedua tangan Harry mengepal dengan erat, kenapa dia merasa tidak begitu asing dengan pacar Aisley? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya ada sesuatu yang terlewat tapi dia belum bisa berpikir dengan jernih karena emosi dan amarah sedang menguasai hatinya saat ini.
Shelly dan kedua sahabatnya sedang di perjalanan kembali, dia tidak berani menjawab telepon dari Harry karena dia tahu, Harry pasti murka dan akan memarahinya.
"Kenapa tidak kau jawab?" tanya salah satu sahabatnya.
"Biarkan saja!" jawab Shelly.
Mobil mereka berjalan seperti biasa, tapi tidak lama kemudian, mobil mereka berhenti mendadak. ketiga wanita itu berteriak dan mereka mengumpat marah.
"Apa yang kau lakukan?"
"Apa kau ingin kami celaka?"
"Apa kau tidak bisa bawa mobil dengan benar?" teriak mereka marah.
"Sorry Nona-Nona, ada yang mencegat," jawab sang supir.
Mereka melihat ke depan dan menelan ludah saat melihat dua mobil menghadang mobil mereka bahkan beberapa orang pria dengan tampak mengerikan keluar dari mobil. Orang-orang berdiri dengan tegap di depan mobil dan dua orang menghampiri mereka dengan sepucuk pistol di tangan.
"She-Shelly, ada apa ini?" tanya salah satu sahabatnya.
Shelly kembali menelan ludah, sial. Firasatnya buruk dan dia curiga orang-orang itu mengepung mereka karena mereka telah melempar Ainsley menggunakan telur busuk. Jangan-jangan gadis yang dikejar Harry bukanlah gadis biasa.
Kaca jendela mobil diketuk menggunakan pistol sehingga membuat ketiga gadis itu semakin ketakutan. Mereka berpelukan dengan kaki gemetar, adakah yang bisa mengatakan pada mereka apa yang telah terjadi?
"Keluar, jika tidak kami tembak!"
"She-Shelly, sepertinya kita menyinggung orang yang salah!" ucap kedua sahabatnya.
"Sudah, ayo keluar jika tidak mau mati!" ajak Shelly.
Mereka keluar dari mobil, dua senjata api mengarah ke arah mereka sehingga mereka ketakutan. Kedua tangan mereka terangkat dan mereka diminta untuk berdiri di depan mobil mereka.
"Si-Siapa kalian?" tanya Shelly ketakutan tapi tidak ada yang menjawab.
"Hei, apa salah kami?!" teriak Shelly lagi.
"Shelly, ada apa ini?" tanya sahabatnya.
"Aku tidak tahu!" jawab Shelly tapi pada saat itu, "Plop!" sebuah telur mendarat di dahi Shelly.
Shelly terkejut dan mengusap telur busuk yang mengalir ke wajahnya, dia bahkan hampir muntah dengan baunya. Shelly dan kedua sahabatnya melihat ke arah orang-orang yang berbaris di mana mereka sedang memegang sebuah senjata dengan lubang besar seperti senjata pelontar bola, mereka menelan ludah dan tidak lama kemudian mereka berteriak karena dari senjata yang ditembakan ke arah mereka mengeluarkan telur-telur yang sudah busuk sekian lama.
Mereka terus berteriak, karena telur-telur itu menghantam tubuh mereka tanpa henti. Bau busuk menyeruak, mereka bagaikan baru saja keluar dari septic tank. Tubuh mereka sudah penuh dengan telur busuk, mereka berteriak karena geli, sedangkan orang-orang itu pergi karena tugas mereka sudah selesai.
Seseorang dari mereka memberi laporan, "Sudah beres," ucapnya.
Shelly dan kedua sahabatnya berteriak histeris, tubuh mereka basah dipenuhi dengan lendir telur busuk. Sepertinya mereka memang sudah salah menantang orang. Satu buah telur busuk yang mereka lempar, dibalas dengan ratusan telur busuk. Sebaiknya lain kali mereka berpikir dua kali sebelum bertindak. Sang supir bahkan sampai mual dan muntah berkali-kali karena bau busuk dari tubuh mereka. Mereka saling pandang dan kembali berteriak histeris, sungguh hari yang sial.
Di saat mereka mendapat serangan telur busuk, Damian sedang membersihkan rambut Ainsley dari telur yang masih menempel tapi bau telur itu sulit hilang jika tidak dicuci. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain mengajak Ainsley pulang.
"Bagaimana?" tanya Ainsley.
"Masih bau," jawab Damian sambil menyeka rambutnya.
"Ck, sepertinya aku harus pulang mandi," gerutu Ainsley.
"Bagaimana jika mandi di rumahku saja? Di sana ada baju adikku yang bisa kau gunakan."
Ainsley memandangi Damian sejenak tapi kemudian dia mengangguk tanda setuju. Dia setuju karena ada yang ingin dia bicarakan dengan Damian. Dia ingin tahu, apa perkataan yang diucapkan oleh Damian tadi adalah akting belaka seperti yang dia pinta sebelumnya? Dia harap tidak karena jika itu hanya akting maka dia akan sangat kecewa.