
Hari ini Anna benar-benar senang,. Bagaimana tidak, Harry tidak keberatan sama sekali dia begitu dekat dengan pria itu. Hubungannya dengan Harry sudah benar-benar dekat, tidak sia-sia usahanya selama ini. Dia semakin yakin bisa membuat pria itu jatuh cinta padanya.
Waktu yang dia punya semakin tinggal sedikit, dia harap Marco tidak mengganggunya tapi pria itu tidak akan pernah berhenti apalagi rencana untuk memberi pelajaran pada Harry sedang di jalankan.
Tanpa mereka ketahui, Marco pergi menemui dua orang yang akan dia bayar untuk melakukan perintah kejinya. Tentu dia menyamar. Tidak ada yang boleh mengetahui identitas aslinya apalagi dia sedang berkampanye. Namanya tidak boleh jelek jika tidak dia akan gagal.
Foto Harry yang diberikan oleh dua pengawal ayah Anna sudah berada di tangan dan sudah diserahkan pada dua orang penjahat yang dia bayar.
"Jadi? Apa yang harus kami lakukan pada pria ini?" salah satu dari mereka bertanya.
"Beri pelajaran, tapi jangan hanya pukulan. Patahkan satu tangan dan kakinya agar dia tidak bisa berbuat apa pun!" perintah Marco. Jika tangan dan kaki pria itu sudah patah, dia yakin Anna tidak akan mengejar pria itu lagi.
"Ini sangat berisiko. Dia bisa melaporkan kami ke polisi karena dia melihat wajah kami!"
"Ck, apa kalain bodoh?! Setelah mematahkan kaki dan tangannya, butakan matanya. Dengan demikian dia tidak akan bisa mengenali kalian lagi!" ucap Marco, membuat pria itu buta juga bukan ide yang buruk.
Kedua orang itu saling pandang, sepertinya pekerjaan itu mudah dan tidak sulit. Mereka tidak akan menolak apalagi mereka dibayar tinggi hanya untuk melakukan hal seperti itu.
"Kalian cukup membuatnya cacat saja, tidak perlu membunuhnya. Terserah mau kalian apakan, mau disiram air keras pun tidak jadi soal yang pasti kalian harus membuatnya cacat sehingga pria itu tidak bisa melakukan apa pun lagi!" ucap Marco.
"Baiklah, akan kami lakukan. Kami akan melakukan sesuai perintahmu. Cukup buat dia cacat saja, bukan?" tanya salah satu dari mereka, sedangkan Marco mengangguk.
"Ini pekerjaan mudah," ucap yang lainnya.
"Bagus, ini sebagian bayaran kalian. Jika sudah selesai, sisanya akan kalian dapatkan setelah tugas kalian selesai!" Uang pembayaran diberikan, tentu kedua orang itu sangat senang melihat uang itu. Mereka segera mengambil uang itu dan menghitungnya, sedangkan Marco sudah selesai dengan mereka berdua.
"Ingat, lakukan tugas kalian dengan baik!" ucap Marco sebelum melangkah pergi.
Kedua orang itu mengangguk, mereka berdua sangat senang melihat uang yang mereka dapat. Hanya perlu membuat cacat seseorang, itu bukan hal yang sulit. Itu baru setengahnya saja, jika sudah selesai mereka akan mendapatkan lagi setengah bayaran. Mereka mulai menyusun rencana karena mereka harus berhasil jika menginginkan uang yang sebagian lagi.
Saat itu, Anna dan Harry sudah selesai makan siang. Sesuai permintaan Anna, Harry mengantarnya ke suatu tempat untuk membeli sesuatu. Entah apa yang hendak Anna beli, Harry tidak bertanya sama sekali.
Anna tidak lama, dia sudah kembali dengan senyum di wajah. Dia sudah tidak sabar pulang dan melempar wajah Marco, sepertinya dia harus mengambil lumpur saat di tengah jalan untuk menambah amunisi. Jika Marco tidak berbicara sembarangan maka dia tidak akan melakukan hal itu.
"Apa sudah selesai?' tanya Harry saat Anna sudah masuk ke dalam mobil.
"Tentu, maaf membuatmu menunggu lama."
"Tidak apa-apa, jika sudah selesai aku harus kembali ke kantor. Aku banyak pekerjaan," ucap Harry.
"Terima kasih, Harry. Maaf aku merepotkan dirimu. Aku akan pergi setelah ini."
"Kenapa? Bekerja saja di dalam ruanganku, aku tidak keberatan."
"Terima kasih, tapi aku harus menemui klient," ucap Anna sambil tersenyum.
"Baiklah, besok kau punya waktu, bukan? Mommy bilang ingin bertemu denganmu."
Anna tampak berpikir, Harry sudah pernah mengatakannya tapi sebaiknya dia yang pergi ke rumah Harry. Dia tidak mau ada yang mengacau apalagi Marco pasti akan sangat marah setelah dia melemparnya nanti malam.
"Aku pikir, sebaiknya aku saja yang pergi ke rumahmu besok," ucap Anna.
"kenapa?" Harry memandanginya, sedangkan Anna tersenyum.
"Aku juga harus bertemu klien jadi besok aku akan mampir ke rumahmu setelah aku selesai dengan klien ku itu," dustanya.
"Baiklah," Harry mengiyakan karena dia tidak mau memaksa Anna.
Anna kembali tersenyum, dia memberanikan diri bersandar di bahu Harry dan lagi-lagi Harry tidak menolaknya. Anna benar-benar bahagia hari ini, walau masih banyak rintangan yang harus dia lalui, dia harap hubungan mereka menjadi lebih baik.
Setelah tiba, mereka masuk ke dalam kantor bersama. Seperti biasa, para karyawan sudah tidak heran. Semua akibat gosip impoten itu, mereka menebak bos mereka dekat dengan dokter terapinya karena hanya wanita itu yang bisa menyembuhkan impoten yang dia derita. Biasanya dari mata turun ke hati tapi kali ini dari bawah naik ke hati.
Walau dia enggan pergi tapi Anna tidak punya pilihan, dia harus pergi menemui klien yang baru saja menghubunginya tidak lama. Bagaimanapun dia harus mengutamakan pekerjaan. Harry juga sibuk setelah Anna pergi, entah kenapa dia merasa ada yang kurang setelah kepergian gadis itu.
Anna pergi menemui klien barunya dan setelah selesai, dia akan kembali. Marco sudah menunggu dengan tidak sabar, dia harap Anna mulai bisa menerima dirinya tapi bukan berarti dia akan menghentikan rencana untuk membuat Harry cacat. Jika pria itu sudah tidak berdaya, Anna pasti akan jijik dan muak melihatnya.
Marco bahkan sudah menyiapkan makan malam, untuk menyambut Anna. Seikat bunga juga sudah dia beli. Marco berpikir dia akan melewatkan malam indah bersama dengan Anna tapi sayangnya dia salah. Anna sudah kembali dengan amunisi yang sudah dia beli, melempar wajah Marco adalah tujuan bahkan dia akan melempar mulut Marco yang sembarangan berbicara tentang dirinya.
Anna terlihat bersemangat, jika ada kotoran kuda sepertinya akan lebih baik tapi telur-telur busuk yang dia beli sudah lebih dari cukup. Dia tidak akan melempar Marco dengan kue karena sayang. Telur busuk sudah pas untuk pria yang asal bicara itu. Walau mereka sahabat, tapi dia tidak terima namanya dijelekkan apalagi di hadapan pria yang dia sukai.
Marco menunggu dengan tidak sabar, dia bahkan berdiri di luar. Dia tersenyum ketika melihat Anna keluar dari lift, Anna juga tersenyum penuh arti. Sepertinya Marco mengharapkan sesuatu tapi memang dia akan memberikan kejutan untuk pria itu.
"Akhirnya kau kembali, Anna. Aku sudah menunggumu sedari tadi," ucap Marco dengan senyum di wajah.
"Benarkah?" Anna pura-pura tidak percaya.
"Tentu saja, aku bahkan sudah menyiapkan makan malam untukmu."
Anna tersenyum, dia harap Marco tidak kecewa. Marco mengajaknya masuk ke dalam dan tentunya Anna mengikuti langkahnya, dia bisa melihat makanan sudah terhidang, lilin sudah menyala dan seikat bunga sudah berada di atas meja.
"Apa maksudnya ini, Marco?"
"Aku ingin kita malam berdua, Anna," jawab Marco seraya mengambil bunga yang ada di atas meja.
"Ini untukmu, kita bisa berbincang sambil menikmati makanannya."
"Kau salah paham, Marco. Aku tidak datang untuk makan malam!" Anna melangkah menjauh, dia juga tidak menerima bunga yang diberikan oleh Marco.
"Aku tahu, aku hanya ingin kita berbincang sambil makan."
"Hentikan, Marco. Aku bukan orang yang suka memberi harapan!" teriak Anna kesal.
"Anna, biarkan aku berusaha," bunga diletakkan, Marco melangkah mendekati Anna.
"Stop di sana!" Anna kembali berteriak, Marco pun menghentikan langkahnya.
"Anna, aku begitu menyukaimu seharusnya kau tahu dan biarkan aku berusaha!" pinta Marco lagi.
"Jika kau ingin berusaha, tidak seharusnya kau menggunakan cara kotor!"
"Apa maksudmu?' tanya Marco tidak mengerti.
"Jangan pura-pura, Marco! Aku tahu apa yang kau katakan pada Harry tentang aku!"
Marco mengepalkan kedua tangannya, jadi gara-gara pria itu? Apa Harry mengatakan pada Anna apa yang dia ucapkan waktu itu?
"Anna, aku mengatakan hal itu karena aku ingin melihat reaksinya. Aku tidak bersungguh-sungguh," ucap Marco.
"Hng, tidak bersungguh-sungguh?" Anna tersenyum sinis, dia mulai mengambil telur busuknya.
"Aku ingin lihat, apa kau akan marah dengan apa yang akan aku lakukan ini!" setelah berkata demikian, Anna melemparkan sesuatu ke arah Marco. Marco terkejut, dia menghindari benda yang dilemparkan Anna sehingga benda itu jatuh di atas lantai. Marco tampak tidak senang melihat telur busuk yang ada di atas lantai tapi tanpa dia duga, Anna kembali melemparinya dengan telur busuk lainnya.
Kali ini dia tidak bisa menghindar, Anna terus melemparinya tanpa memberinya kesempatan untuk menghindar.
"Hentikan, Anna!" teriak Marco marah. Bau mulai memenuhi ruangan dan memenuhi tubuhnya. Kepala, wajah dan daerah lain tidak luput dari lemparan Anna.
"Ups, aku tidak bersungguh-sungguh!" ucap Anna sengaja.
"Kau?!" Marco sangat kesal. Kedua tangannya sudah mengepal dengan erat, sedangkan hampir seluruh tubuhnya dipenuhi oleh telur busuk.
"Kau tidak akan marah, bukan?" Anna tersenyum manis, sedangkan Marco menahan kemarahan di dalam hati.
"Aku hanya bercanda, itu hanya telur busuk saja. Bersyukurlah aku tidak membawa kotoran kuda tapi jika lain kali kau berbicara buruk tentang aku lagi, aku akan membawa kotoran kuda dan memasukkannya ke dalam mulutmu!" setelah berkata demikian, Anna melangkah pergi dengan perasaan puas.
Kedua tangan Marco semakin mencengkeram dengan erat, semua ini gara-gara Harry. Ponsel diambil, dia menghubungi dua orang yang dia bayar dan dia meminta mereka membuat Harry cacat total diseluruh anggota tubuhnya. Ini ganjaran yang pantas pria itu terima karena telah membuatnya mengalami hal seperti itu.