
Seorang dokter sudah datang untuk memeriksa keadaan Jager Maxton. Tulangnya terasa nyeri karena terbentur dinding beberapa kali. Jika Carl bukan ayah kandung Damian, sudah dia tembak kepalanya tapi dia tidak mau melakukan hal itu.
Damian menunggu dengan rasa khawatir, tentu dengan rasa penasaran juga. Dia ingin tahu kenapa tiba-tiba ayah kandung dan kakeknya datang sebelum dia melihat cctv yang terpasang di rumah, melihat rupa mereka.
Sesungguhnya dia juga tidak mau tahu rupa mereka seperti apa tapi dia harus melihatnya. Siapa tahu dia bertemu dengan ayahnya di jalan secara tidak sengaja? Jika hal itu terjadi maka akan dia hajar sampai babak belur.
"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa!" terdengar suara ayahnya sedang berdebat dengan dokter pribadinya.
"Tapi banyak memar di tubuhmu, Tuan," ucap sang dokter.
"Memar seperti ini sudah biasa aku dapatkan sejak muda jadi janganĀ terlalu berlebihan!"
"Dad, what's wrong?" tanya Damian.
"Tidak ada apa-apa," jawab ayahnya.
Damian hanya menggeleng, dia duduk bersama dengan Ainsley saat itu. Ainsley sedang memberi tahu ibunya melalui pesan singkat jika dia tidak pulang hari ini karena dia akan menginap di rumah Damian. Tentu saja ibunya tidak keberatan karena mereka adalah keluarga.
"Bagaimana?" tanya Damian pada Ainsley saat gadis itu menyimpan ponselnya dan bersandar di lengannya.
"Mommy tidak keberatan."
"Padahal kau tidak perlu menginap, Ainsley."
"Jadi kau keberatan aku menginap?" Ainsley memandanginya sambil tersenyum.
"Tentu tidak, aku hanya tidak mau merepotkanmu."
"Bodoh, apa yang kau katakan? Aku tidak merasa seperti itu, Dam-Dam. Aku tahu kau pasti membutuhkan aku saat ini jadi aku akan selalu bersama denganmu apa pun yang terjadi. Kau tidak akan sendirian karena ada aku yang akan menemanimu."
Damian tersenyum dan merangkul bahu Ainsley, "Thanks," ucapnya seraya memberikan ciuman di dahi.
"Hei, ada ayahmu!" protes Ainsley dengan wajah memerah.
"Daddy tidak melihat."
Ainsley memeluk Damian sambil tersenyum, begitu juga dengan Damian. Setidaknya otaknya tidak begitu panas karena ada Ainsley menemaninya. Jika saja Ainsley tidak menahannya tadi, dia pasti sudah mencari ayah kandungnya dan menghajarnya sampai mati. Jangan salahkan dia melakukan hal itu, dia sungguh tidak terima ayahnya dipukuli seperti itu.
Dokter yang memeriksa keadaan Jager sudah selesai, beberapa resep obat juga sudah diberikan. Sebelum dokter itu pergi, Damian berbicara dengannya sebentar, sedangkan Ainsley mendekati Jager untuk menanyakan keadaannya.
"Bagaimana dengan keadaan Uncle?"
"Tidak apa-apa, hanya luka ringan akibat perkelahian."
"Uncle sudah tua, tidak baik terlibat perkelahian lagi."
"Kau benar, tapi aku sangat marah pada mereka. Tidak saja menghina Sayuri, tapi mereka juga menghina Damian. Mereka benar-benar kurang ajar datang kemari hanya membuat aku emosi!" jawab Jager dengan emosi tertahan karena dia benar-benar tidak terima Sayuri dianggap ja*ang lalu Damian dianggap anak haram.
"Apa maksud ucapan, Daddy?" tanya Damian yang pada saat itu sedang menghampiri mereka setelah berbicara dengan dokter pribadinya.
"Duduk sini, sudah saatnya kau tahu siapa ayahmu dan siapa keluarga kandungmu," ucap Jager.
Damian duduk di samping Ainsley, dia sudah siap mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi dan tentunya dia juga sudah siap mengetahui siapa ayah kandungnya. Ainsley mengusap lengan Damian sambil tersenyum, dia ingin Damian tahu, jika dia ada di sana bersama dengannya.
"Aku tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba datang hari ini tapi aku menebak, pasti mereka yang mencariku beberapa hari lalu di pasar gelap," ucap Jager sambil memandangi Damian dengan lekat.
"Aku juga menebak demikian, Dad. Jadi untuk apa mereka datang?"
"Sebenarnya aku tidak mau mengatakan hal ini padamu Damian, tapi kau harus tahu jika ayah kandungmu datang menemuiku untuk mencari beberadaanmu juga ibumu."
"Untuk apa? Setelah puluhan tahun, untuk apa dia mencari? Bukankah dia tidak menginginkan aku?" Damian mencengkram kedua tangannya dengan erat. Dia hanya anak yang tidak diinginkan, lalu untuk apa pria itu datang mencarinya? Jangan katakan jika pria itu hendak meminta maaf pada ibunya karena dia tidak akan memaafkan perbuatannya sampai kapanpun juga.
"Aku tidak terkejut sama sekali, Dad."
"Dengar, Damian. Aku tidak keberatan jika mereka ingin bertemu denganmu tapi sebagai keluarga. Aku pikir mereka mencarimu karena mereka mengganggapmu demikian tapi hanya penghinaan saja yang aku dapatkan. Kenapa aku memukul ayahmu? Aku melakukan hal itu karena aku sudah cukup mendengar penghinaan yang dilontarkan oleh kakekmu untukmu dan juga ibumu. Lalu ayahmu datang, menambah api dan berkata jika kau bukan darah dagingnya, itu sebabnya aku memukulnya karena kesabaranku sudah habis!"
Rahang Damian mengeras, tanganya semakin mengepal dengan kuat. Dia benar-benar tidak berharap ayah kandungnya mencari keberadaannya tapi dia tidak terima jika sampai ibunya dihina.
Memangnya apa yang pria itu tahu? Dia hanya pria yang tidak bertanggung jawab yang meninggalkan ibunya begitu saja.
Ainsley mengusap lengan Damian, dia juga memasukkan tangannya ke dalam genggaman tangan Damian. Dia melakukan hal itu agar Damian tidak emosi walaupun yang dilakukan oleh kakek dan ayahnya sudah keterlaluan.
Damian memandangi Ainsley sejenak, sedangkan gadis itu tersenyum dengan manis.
"Apa tujuan mereka Dad, dan apa yang mereka katakan?" tanya Damian ingin tahu seraya memandangi ayahnya kembali.
Jager tersenyum, Damian pasti akan marah dan sakit hati tapi dia harus mengatakan pada Damian, jika dia tidak dianggap oleh ayah dan Kakeknya.
"Aku tahu kau pasti akan marah dan sakit hati setelah mendengarnya, tapi kakekmu hanya menganggapmu sebagai anak haram yang dilahirkan oleh ******* dan ayahmu juga menganggap ibumu demikian sehingga dia tidak yakin jika kau adalah darah dagingnya."
"Apa?" Damian terlihat shock, begitu juga dengan Ainsley. Walau dia sudah tahu jika dia tidak diinginkan tapi dia tidak menyangka jika kakek dan ayahnya menganggap bahwa ibunya seorang jal*ng dan dia adalah anak haram. Rasanya sangat ingin menghajar mereka jika mereka ada di depan matanya.
Memangnya apa salahnya? Dia juga tidak memilih pria itu menjadi ayahnya dan jika bisa memilih, dia lebih memilih Jager Maxton sebagai ayah kandungnya.
"Jika mereka menganggap ibuku seorang jal*ng dan aku adalah anak haram, lalu untuk apa mereka mencariku, Dad? Apa mereka hanya ingin menghinaku agar aku terlihat menyedihkan?"
"Tidak, kau tidak terlihat menyedihkan! Sekalipun mereka menghina dan tidak menginginkan dirimu tapi kau sudah punya aku dan juga adikmu. Kami selalu menyayangimu jadi kau tidak perlu berkecil hati hanya karena sindiran yang mereka berikan! Entah apa maksud dan tujuan mereka tapi kakekmu berkata dia ingin memberikan semua yang dia punya padamu padahal aku sangat ingat jika ayahmu sudah memiliki seorang putra saat itu."
"Aku tidak tertarik sama sekali dengan harta mereka, sekalipun mereka ingin memberikan semuanya padaku!" ucap Damian.
"Kau memang tidak memerlukan sepeserpun milik mereka Damian, karena semua yang aku punya sudah aku berikan padamu. Percayalah Damian, sekalipun ayahmu tidak mengakuimu dan kakekmu mengganggap kau seorang anak haram yang dilahirkan oleh jal*ng tapi aku selalu menganggapmu sebagai putraku walau tidak ada darahku mengalir dalam tubuhmu. Aku sangat mengenal Sayuri dan dia bukan jal*ng, dia hanya salah menjalin hubungan dengan ayahmu karena waktu itu ayahmu juga berkata dia pria lajang."
"Aku tidak peduli dengan mereka, Dad. Aku juga tidak peduli mereka menganggap aku apa karena aku sudah memiliki dirimu. Terima kasih kau mau menjadi ayahku," ucap Damian. Sungguh jika tidak ada Jager Maxton, siapalah dia? Hanya orang yang tidak diinginkan bahkan diangap sebagai anak seorang jal*ng oleh ayah dan kakeknya.
"Baiklah, aku hanya tidak mau kau sakit hati saat kau mendengar hinaan mereka jika kau bertemu salah satu dari mereka. Percayalah, ayahmu hanyalah sampah dan baj*ngan yang tidak bertanggung jawab!"
"Tidak perlu khawatir, Dad. Aku sudah terbiasa. Bukankah Daddy berkata aku tidak diinginkan semenjak aku masih dalam kandungan? Aku benar-benar tidak terkejut sama sekali atas penghinaan yang mereka lakukan tapi jika aku bertemu dengan ayahku suatu hari di jalan, maka aku tidak akan ragu memukulnya karena dia harus membayar penghinaan yang dia berikan pada ibuku dan dia juga harus membayar perbuatannya karena telah memukulmu."
Jager tersenyum, dia sangat senang Damian tidak sakit hati karena hinaan dari kakek dan ayahnya tapi sesungguhnya Damian sedang memendam kemarahan di hati. Dia tahu dia memang tidak diinginkan tapi untuk apa mereka mencari dirinya jika hanya ingin memberikan penghinaan seperti itu?
"Dad, siapa ayahku?" sudah saatnya mengetahui siapa ayahnya.
"Ck, dia hanya baji*ngan! Menyebut namannya saja aku malas!" ucap ayahnya.
"Jadi namanya baj*ngan?"
"Ya, aku rasa nama itu lebih cocok untuknya dari pada Carl Windstond!"
"Apa?" Ainsley dan Damian tampak terkejut.
"Ada apa? Apa kalian mengenalnya?" Jager memandangi mereka dengan heran.
Damian dan Ainsley saling pandang, apakah?
"Dad, kau bilang dia punya seorang putra saat menjalin hubungan dengan Mommy, apa nama putranya Harry Windstond?" tanya Damian.
"Entahlah, aku tidak tahu."
Damian dan Ainsley kembali saling pandang, apa yang sedang mereka pikirkan saat ini adalah benar?