
Kedua pengawal ayahnya masih mencari keberadaan dirinya, Anna semakin panik. Antara ketahuan dan lari, entah yang mana yang harus dia lakukan. Harry menatapnya dengan ekspresi heran, dia semakin yakin jika gadis itu hanya berpura-pura buta.
Anna semakin panik, apalagi kedua pengawal itu hendak masuk ke dalam cafe. Saat mereka masuk maka dia akan ketahuan. Tangannya mulai meraba, alat-alat gambar yang ada di atas meja sengaja dia jatuhkan ke atas lantai.
"Oh, Tidak!" Anna pura-pura terkejut, gadis itu secepat kilat berjongkok seolah-olah hendak mencari alat gambarnya tapi sesungguhnya dia bersembunyi karena kedua pengawal itu sudah masuk ke dalam cafe.
Kali ini Harry diam, tidak membantu karena dia ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu. Bukannya mencari alat gambarnya, Anna masuk ke bawah meja dan bersembunyi di dekat Kaki Harry. Semoga saja kedua pengawal itu tidak sempat melihatnya tadi.
Anna bahkan menutup mulutnya dengan jantung berdebar, dia juga sedikit mengintip dan terkejut melihat kedua pengawal ayahnya sedang menghampiri dari satu meja ke meja lain untuk mencari dirinya. Dia benar-benar dalam masalah. Semoga saja Harry tidak pergi agar kedua pengawal itu tidak melihat keberadaannya di bawah meja.
"Apa yang kau lakukan?"
Anna terkejut saat mendengar pertanyaan Harry. Pria itu sedikit membungkuk untuk melihatnya yang berada di bawah meja.
"Stts, tolong bantu aku, Tuan," pinta Anna memohon.
"Untuk apa aku membantumu?"
"Please," Anna memegangi kedua kaki Harry. Akhirnya ada yang bisa dia raba, sepertinya tangannya akan semakin naik ke atas.
"Kau hanya pura-pura buta saja, bukan?"
"A-Aku terpaksa. Tolong bantu aku," dia semakin panik karena kedua pengawal itu semakin mendekat ke arah mereka.
"Lepaskan kakiku, aku tidak bisa membantumu!" Harry hendak beranjak tapi Anna memegangi kedua kakinya dengan erat. Jika Harry pergi maka dia akan terlihat.
"Jangan pergi, please."
"Hei, lepaskan!" pinta Harry dan hal itu membuat kedua pengawal yang mencari Anna jadi curiga. Mereka melihat ke arah Harry, di mana pria itu sedang berusaha menarik kedua kakinya. Anna semakin panik. Sial, sepertinya dia sudah ketahuan karena kedua pengawal itu menghampiri mereka dengan cepat.
"Please, aku tidak mau mereka menangkapku!" pinta Anna memohon.
"Aku tidak peduli, lepaskan kakiku!" Harry masih berusaha menarik kedua kakinya.
Anna semakin panik luar biasa, Harry pun semakin kesal. Kedua pengawal itu sudah hampir tiba, Anna tidak punya pilihan. Tanpa pikir panjang Anna menyerudukkan kepalanya di sela paha Harry bagaikan banteng. Teriakan Harry terdengar, yeah, asetnya jadi korban kegilaan gadis yang pura-pura buta itu. hancur sudah masa depannya, semoga yang ada di bawah sana baik-baik saja.
Harry meringis akibat rasa nyeri yang dia rasakan\, tapi kedua pengawal itu mengira jika Harry sedang menahan kenikmatan apalagi setelah mereka mengintip sebentar ke bawah meja\, seorang gadis seperti sedang melakukan o*r*l se*ks.
"Cih, pasangan gila!" ucap mereka seraya melangkah pergi.
"Nona tidak ada di sini, ayo kita cari di tempat lain!" ucap yang lainnya.
Karena mereka tidak menemukan Anna yang saat itu kepalanya sedang dijepit oleh kedua kaki Harry, pria itu benar-benar sedang menahan rasa sakit yang diakibatkan oleh gadis itu.
Kedua pengawal itu kembali melihat sekeliling, sepertinya tidak ada. Padahal mereka mengira jika wanita yang ada di bawah meja adalah target yang mereka cari tapi ternyata salah.
Anna mulai memukuli kaki Harry karena kedua pengawal itu sudah keluar dari cafe. Kepalanya sakit karena pria itu menjepit kepalanya dengan sekuat tenaga. Harry masih meringis, sungguh sial.
Sebaiknya dia segera pergi karena dia merasa akan semakin sial jika berdekatan dengan gadis itu.
Anna keluar dari persembunyiannya, sepertinya dia sudah sedikit keterlaluan tapi dia tidak punya pilihan karena panik. Laptop yang ditinggalkan oleh Harry diambil, Anna berlari keluar dengan cepat. Harry sudah berjalan menuju mobilnya saat itu, suara teriakan Anna membuatnya melangkah dengan cepat.
"Tuan, jangan pergi!" pinta Anna sambil berlari.
Harry semakin melangkah dengan cepat, sial. Kenapa dia bisa bertemu dengan gadis gila itu?
"Tunggu, ada yang ingin aku bicarakan!" Anna masih berlari, langkah Harry semakin cepat.
"Tuan, laptopmu!" teriak Anna lagi.
Harry menghentikan langkah, dia lupa dengan benda itu. Matanya menatap ke arah Anna dengan tajam. Seharusnya dia tidak duduk di hadapan gadis itu tadi.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud tapi aku panik. Aku tidak mau mereka menangkap aku," ucap Anna.
"Aku tidak peduli permasalahanmu tapi aku tidak mau melihat wajahmu di sekitarku. Awas jika kau berpura-pura buta dan menabrakku lagi!" ancam Harry.
"Aku melakukannya karena ada alasannya!"
"Aku tidak mau mendengar alasanmu, berikan laptopku!" pinta Harry seraya melangkah mendekati Anna.
"Aku melakukannya karena aku menyukaimu, Harry!" ucap Anna tanpa ragu.
"Simpan rasa sukamu baik-baik, aku tidak tertarik dengan gadis aneh seperti dirimu!" ucap harry sinis.
Laptop yang ada di tangan Anna di rebut, semoga setelah ini dia tidak bertemu dengan gadis gila itu lagi.
"Jangan muncul di hadapanku lagi!" setelah berkata demikian, Harry melangkah menuju mobilnya.
"Aku tidak akan menyerah!" teriak Anna.
Harry tidak peduli, dia meminta sang supir untuk segera tancap gas. Mulai sekarang dia tidak akan mendatangi cafe itu lagi karena dia tidak mau bertemu dengan gadis aneh itu lagi tapi sayangnya, Anna tidak akan menyerah apalagi dia masih punya waktu selama satu bulan.
"Aku tidak akan menyerah!" Anna kembali berteriak dan melambaikan tangan ke arah mobil Harry yang sudah melesat pergi.
Tidak semudah itu, semangatnya bahkan semakin berkobar. Walau kesan buruk yang dia berikan pada pria itu hari ini tapi lain kali dia akan memberikan kesan yang baik. Setidaknya dia sudah bisa berbicara dengan pujaan hati, dia bahkan sudah memegang kedua kakinya hari ini.
Entah kenapa tiba-tiba dia punya rencana, sepertinya tidak buruk, Dia harus kembali meminta maaf dengan cara baik-baik agar pria itu tidak marah lagi.
Anna berlalu pergi, kembali ke cafe sambil bersiul. Dia tidak akan berhenti mengganggu pria itu selama satu bulan dan dia pasti akan membawa pria itu pulang ke rumah agar ayah dan ibunya membatalkan pernikahannya.
Jika memang tidak bisa, jangan salahkan dia berbuat nekat. Dia bahkan sudah punya rencana cadangan jika dia gagal. Apa pun yang terjadi, pria itu harus dia bawa pulang. Cinta di tolak, otak licik bertindak, By Anna.