Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Perbedaan Cinta Ayah Kandung Dan Cinta Ayah Angkat



Pasar gelap menjadi kacau, setelah kepergian Damian. Beberapa orang yang melihatnya diintrogasi dan saat itu juga, Damian menjadi buronan di pasar gelap. Jika ada yang melihatnya di tempat itu, mereka diharuskan membunuh Damian tanpa ragu dan tentunya mereka akan mendapat imbalan tapi sayangnya, Damian tidak pernah kembali ke tempat penuh dosa itu lagi.


Informan yang di utus oleh Carl, menemukan rekan mereka mati tertembak. Sepertinya misi yang mereka jalankan mengalami kendala dan berbahaya. Tidak terima rekannya mati, sang informan menghubungi Carl malam itu juga.


"Ini sudah malam, untuk apa kau menghubungiku?!" Carl bertanya dengan nada kesal.


"Rekanku mati!" jawab sang informan dengan nada tinggi.


"Lalu kenapa? Apa hubungannya denganku?!"


"Dengar Tuan Windstond, rekanku sepertinya mati oleh anak buah Jager Maxton!"


"Apa maksudmu? Apa kau punya bukti mengatakan hal itu?" Carl tampak terkejut. Apa ada yang mengetahui pencarian yang dia lakukan?


"Tidak perlu bukti, Tuan Windston. Ada yang mengatakan jika rekanku di bawa oleh seorang pria dan setelah itu dia mati terbunuh! Kami sudah beberapa hari di sini untuk mencari informasi tapi tidak ada kejadian yang mencurigakan tapi malam ini, seseorang datang dan mendekati rekanku lalu dia mati. Menurutmu, siapa yang bisa melakukan hal ini?"


"Lalu apa yang kau inginkan!" tanya Carl dengan emosi tinggi. Rasanya ingin berteriak tapi dia urungkan karena dia tidak mau ada yang mendengar.


"Aku mau bayaranku jadi tiga kali lipat!"


"Apa? Kau gila?!"


"Jika kau tidak mau, silahkan cari yang lain!" ucap sang informan.


Carl menahan emosi, sial! Sepertinya dia tidak punya pilihan karena jika dia tidak menyetujuinya maka si tua bangka itu yang akan menemukan mereka terlebih dahulu. Jangan sampai hal itu terjadi, jadi mau tidak mau dia menyetujui permintaan informan itu untuk membayarnya tiga kali lipat dari harga awal yang sudah mereka sepakati.


Setelah berbicara dengan informan itu, Carl membuang ponsel-nya karena dia benar-benar marah. Dia tidak menyangka akan kesulitan menemukan Jager Maxton dan Sayuri. Jika dia tahu Sayuri akan meninggalkan masalah dalam hidupnya, sudah dia bunuh Sayuri bersama anak yang dia kandung dengan tangannya sendiri.


"Sayuri, dasar kau j*lang dan pembawa masalah! Jika aku tahu kau meninggalkan masalah untukku, sudah aku bunuh kau!" ucap Carl dengan kemarahan di hati.


Rasanya sudah sangat ingin menemukan Sayuri dan membunuhnya tapi dia tidak akan pernah menyangka jika anak yang dia benci dan ingin dia bunuh, anak itulah yang telah membunuh informannya bahkan, sepertinya anak itu juga yang akan membuatnya dalam masalah besar hingga kebenciannya pada anak yang tidak dia inginkan itu semakin besar.


Ternyata malam itu tidak dia saja yang mendapat telepon dari sang informan. Aland juga mendapat telepon dari informan yang dia gunakan untuk mencari Jager di pasar gelap yang sama. Walau informan itu tidak melihat apa yang terjadi tapi dia memberi laporan mengenai keadaan informan yang digunakan oleh putranya.


"Tuan Windston, informan yang digunakan oleh putra anda terbunuh satu!"


"Bagaimana bisa?" tanya Aland ingin tahu.


"Sepertinya ini ada hubungannya dengan orang yang kau cari," jawab informannya.


"Jadi menurutmu Jager Maxton sudah tahu jika ada yang mencarinya lalu membunuhnya?"


"Yes, sebaiknya kita tidak melakukan pergerakan terlebih dahulu agar tidak dicurigai. Aku yakin dia akan mengutus orang lain untuk mencari tahu siapa yang sedang mencarinya."


"Kenapa harus begitu?"


"Tuan Windstond, anda tidak tahu bagaimana dunia mafia. Jager maxton adalah seorang pemimpin organisasi, sudah pasti dia akan mengutus orang untuk mencari siapa yang berani mencarinya di pasar gelap. Jika kau tidak ingin mati sebelum menemukan target, aku sarankan kita tidak melakukan pergerakan terlebih dahulu," saran informannya.


Aland terlihat berpikir, sepertinya saran itu tidaklah buruk. Lagi pula dia tidak mengerti dengan dunia mafia jadi sebaiknya dia mengikuti saran si informan.


"Baiklah, aku ikuti saranmu," ucap Aland.


"Terima kasih."


Pembicaraan mereka berakhir\, Aland terlihat berpikir. Sepertinya putranya tidak mau dia menemukan anak itu. Apa putranya takut posisi Harry digantikan oleh anak haram yang dikandung oleh model itu? Dia tidak menyangka jika putranya seorang baji*ngan yang tidak bertanggung jawab. Tapi walau anak itu dilahirkan oleh seorang jal*ng sekalipun\, anak itu tetaplah cucunya dan sudah menjadi kewajibannya membawa anak itu kembali ke rumah Windstond.


Dia akan membawa cucunya kembali apa pun caranya tapi apa dia pikir cucunya akan mau nanti? Apa dia pikir anak yang tidak pernah diinginkan dan hendak disingkirkan sejak dalam kandungan mau menjadi bagian dari keluarganya? Sepertinya dia juga harus memikirkan dan mencari tahu hal ini dengan baik sebelum dia bertemu dengan cucu yang sedang dia cari.


Saat itu, Damian masih di perjalanan kembali dari pasar gelap. Sangat di sayangkan dia gagal tapi dia meminta anak buahnya untuk meminta sahabatnya yang ada di pasar gelap untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang sedang mencari ayahnya secara diam-diam karena dia tidak akan kembali ke tempat itu lagi.


Dia tidak mau membuat ayahnya khawatir dan memang saat itu, Jager tampak gelisah menunggu putranya yang belum juga kembali. Dia sudah menghubungi orang kantor, menghubungi sekretaris putranya dan mereka bilang jika Damian sudah pulang sedari tadi. Hal itu semakin membuat Jager khawatir, entah apa yang Damian lakukan dan dia punya firasat tidak baik.


Jager bahkan terlihat mondar mandir, mengintip keluar sesekali untuk melihat apa mobil Damian sudah tiba atau tidak tapi sampai sekarang, mobil putranya tidak terlihat. Pikiran-pikiran buruk bermunculan, dia takut putranya kecelakaan di tengah jalan. Dia sudah mencoba menghubungi Damian tapi ponsel-nya tidak ada yang menjawab.


Jager melangkah masuk, lalu dia kembali menghampiri jendela dan mengintip keluar sana. Kenapa Damian belum juga kembali?


"Uncle, ini tehnya," ucap Mayumi.


Mayumi mengangguk dan meletakkan teh yang dia buat ke atas meja, sedangkan Jager melihat ke arahnya.


"Mayumi, apa Damian tidak mengatakan padamu di mana dia akan pergi?"


"Tidak, Uncle," jawab Mayumi sambil menggeleng.


"Baiklah, sudah malam. Pergilah beristirahat!"


Mayumi kembali menjawab dengan anggukan, dia pamit undur diri dan mengucapkan selamat malam sebelum masuk ke kamarnya, sedangkan Jager semakin gelisah apalagi ini pertama kali Damian pulang selarut itu. Dia kembali mondar mandir, tanpa menyentuh teh yang dibuat oleh Mayumi.


Sepuluh menit dia seperti itu dan ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, Jager menghampiri jendela dan melihat keluar sana. Dia terlihat lega ketika melihat Damian turun dari mobil bersama dengan anak buahnya. Syukurlah anak itu baik-baik saja karena dia benar-benar mengkhawatirkannya.


Damian terkejut ketika dia membuka pintu dan mendapati ayahnya berdiri di sana. Dia kira ayahnya sudah tidur tapi apa yang dilakukan oleh ayahnya di sana?


"Dad, apa yang kau lakukan?"


"Menunggumu, astaga! Kau membuat aku khawatir setengah mati!" jawab Jager.


"Bukankah sudah aku katakan pada Daddy jika ada yang ingin aku kerjakan? Kenapa Daddy tidak tidur saja."


"Aku mengkhawatirkanmu, Damian. Bagaimana mungkin aku bisa tidur!"


"Baiklah, maaf telah membuat Daddy khawatir. Sekarang aku sudah kembali, sebaiknya Daddy beristirahat," ucap Damian.


"Katakan padaku, kemana kau pergi?" tanya ayahnya ingin tahu.


Damian diam saja, mencari alasan tepat untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Jika ayahnya tahu dia pergi ke pasar gelap dan membuat kekacauan di sana, ayahnya pasti akan khawatir.


"Tidak ada, aku hanya mencari inspirasi bagaimana caranya mencium bibir Ainsley nanti," jawabnya.


"Ck, begitu saja perlu inspirasi!"


Damian terkekeh, dia mengantar ayahnya menuju kamar bahkan membantu ayahnya untuk berbaring. Dia benar-benar bahagia memiliki ayah yang begitu menyayanginya.


"Dad."


"What?" tanya ayahnya.


"I love you."


"Perkataan itu seharusnya kau ucapkan pada Ainsley!"


"Ck, Daddy tidak ada manis-manisnya!" gerutu Damian.


"Aku memang tidak manis! Sejak kapan aku jadi manis? Bahkan istriku tidak pernah memuji aku manis!"


Damian terkekeh, dan setelah itu dia berkata, "Istirahatlah Dad, sudah malam."


"Hm," jawab Jager singkat.


Damian berjalan menuju pintu, dia hendak keluar dari kamar tapi panggilan ayahnya menghentikan langkahnya.


"Damian."


"Yeah, apa ada yang Daddy inginkan?"


"Tidak, aku hanya ingin mengatakan padamu jika aku juga menyayangimu."


Damian tersenyum, dia memandangi ayahnya sebentar dan kemudian berkata, "Thanks Dad, aku beruntung memiliki dirimu."


"Aku juga," jawab ayahnya.


Senyum Damian masih mekar saat keluar dari kamar. Dia benar-benar beruntung, sangat beruntung bahkan dia lebih memilih Jager Maxton dari pada ayah kandungnya jika suatu hari nanti ayah kandungnya datang dan memintanya kembali tapi sayangnya, ayah kandungnya ingin membunuhnya.