
Hari pernikahan Ainsley dan Damian sudah dekat, semua terlihat sibuk dan tentunya semua terlihat menantikan hari bahagia itu. Mereka bahkan tidak sabar agar acara pernikahan segera tiba tapi tidak untuk seseorang.
Seharusnya dia senang karena Damian dan Ainsley akan segera menikah, seharusnya dia juga berbahagia untuk sahabat baiknya tapi entah kenapa semakin hari, perasaannya semakin tidak menentu.
Perasaan takut menguasai hatinya, dia benar-benar takut kehilangan Damian sebagai sahabat baiknya. Dia tahu setelah Damian menikah dengan Ainsley, Damian tidak akan punya waktu lagi untuknya. Semua perhatiannya akan tertuju pada Ainsley saja.
Semakin hari rasa takut itu tumbuh subur menjadi rasa cemburu. Entah kenapa dia jadi merasa tidak mau membagi Damian dengan yang lain. Dia hanya ingin Damian menjadi sahabatnya seorang tanpa ada siapa pun di antara mereka.
Rasa takut kehilangan yang dia rasakan membuatnya membenci Ainsley tanpa sadar. Seharusnya rasa itu tidak pernah ada tapi rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Mungkin semua itu terjadi karena rasa takut akan kehilangan selalu menghantuinya.
Mayumi bahkan enggan melihat kebersamaan mereka berdua apalagi saat itu, Ainsley berada di kantor Damian. Hari ini mereka akan pergi untuk melakukan persiapan terakhir menjelang pernikahan mereka. Padahal Ainsley sedang duduk di sofa sendirian karena saat itu, Damian berbicara dengan Mayumi dan yang mereka bicarakan adalah hal penting.
Tentu yang mereka bicarakan mengenai gerak gerik Akira, selama beberapa hari anak buahnya yang memantau keberadaan Akira tidak mendapati pria itu. Tidak saja Akira, Katsuo juga tidak ada bahkan kediaman mereka begitu sepi tanpa ada kegiatan apa pun.
Anak buah Damian juga kembali ke markas yang mereka tinggalkan tapi di sana juga tidak ada siapa-siapa. Hal itu membuat mereka mengambil kesimpulan jika mereka telah pergi bersama kapal yang membawa peti-peti itu dan memang tanpa mereka ketahui, dua kapal sedang berlayar dan akan tiba di pelabuhan San Francisco pada malam ini.
Dua kapal itu berisi anak buah Akira dan Katsuo dan juga senjata yang akan mereka gunakan karena mereka sudah siap berperang. Mereka pikir lawan mereka hanya organisasi Black King tapi yah, semoga mereka tidak lari tunggang langgang nanti.
Tentu dengan tidak adanya mereka di Jepang membuat Damian meminta kedua anak buahnya untuk kembali dan dia juga harus memperingati Mayumi agar selalu waspada apalagi dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Jangan sampai Mayumi diculik tanpa diketahui dan jika sampai hal itu terjadi, maka usahanya untuk melarikan diri akan menjadi sia-sia.
"Jadi, Akira dan Katsuo sedang menuju ke mari untuk menangkap aku?" tanya Mayumi sambil menunduk.
"Sepertinya memang seperti itu, Mayumi. Itulah kenapa aku memanggilmu karena aku ingin kau selalu waspada. Kau tahu aku sedang sibuk, jadi jagalah dirimu baik-baik," jawab Damian.
Mayumi menggigit bibir, lagi-lagi sibuk dan itu terjadi setelah Damian dan Ainsley memutuskan untuk menikah. Mayumi masih menunduk, dia tidak berani memperlihatkan ekspresi wajahnya karena saat itu Ainsley sedang melihat ke arah mereka.
Ainsley diam saja, dia akan bertanya pada Damian nanti setelah Damian selesai berbicara dengan Mayumi jadi untuk saat ini, dia jadi pendengar saja.
"Apa yang mereka inginkan, Damian?" tanya Mayumi, kini dia berani mengangkat wajahnya.
"Seharusnya kau tahu, Mayumi. Mereka menginginkan dirimu jadi kau harus waspada. Aku menebak mereka akan melakukan sebuah pertukaran denganmu nantinya. Ingat akan hal ini Mayumi, jika ada yang menemuimu dan mengatakan tahu di mana kekasihmu berada, kau harus berpura-pura terpancing lalu kau harus segera mengatakan hal ini padaku. Kita bisa melacak keberadaan kekasihmu yang mereka bawa dan menyelamatkannya."
"Bagaimana jika itu hanya jebakan?" tanya Mayumi.
"Jebakan atau bukan, kita harus bekerja sama. Kau tidak boleh mengikuti siapa pun pergi dan percayalah padaku, kita pasti bisa menyelamatkan kekasihmu jika dia masih hidup," jawab Damian.
"Aku juga akan membantumu, Mayumi. Bukankah aku sudah berjanji?" Ainsley mendekati mereka, sepertinya akan terjadi sesuatu yang serius karena musuh sudah mendekat.
"Kita hanya perlu bekerja sama, maka kita bisa menyelamatkan kekasihmu," ucap Ainsley lagi tapi Mayumi diam.
"Benar, aku hanya takut kau panik lalu mengambil langkah yang salah," ucap Damian.
"Baiklah, aku harap kau selalu waspada karena musuh sudah datang."
Mayumi mengangguk, tentu dia akan waspada. Karena tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Mayumi keluar dari ruangan Damian. Tidak ada yang tahu setelah dia keluar, dia menangis secara diam-diam. Kehilangan orang-orang yang dia cintai membuatnya seperti itu. Kekasihnya hidup atau mati dia sendiri tidak tahu dan kini, sahabat baik satu-satunya yang dia punya juga akan menjadi milik orang lain.
Setelah Mayumi keluar, Ainsley menghampiri Damian dan duduk di atas pangkuannya. Damian tersenyum, tangannya sedang mengusap pipi Ainsley dengan lembut.
"Jadi, kekasih Mayumi sedang di bawa kemari?" tanya Ainsey.
"Ya, sepertinya."
"Apa akan ada perang?" tanya Ainsley dengan mata berbinar.
"Kenapa kau terlihat begitu bersemangat, Sayang?"
"Aku sudah lama tidak merenggangkan otot," jawab Ainsley seraya mengalungkan kedua tangannya ke leher Damian.
"Hei, jangan bilang kau mau terlibat?"
"Ya, aku tidak keberatan. Lagi pula aku sudah berjanji akan membantunya dan aku juga akan membantu suamiku nanti."
"Jadi kita akan berperang bersama?" tanya Damian seraya memberikan ciuman di pipi Ainsley.
"Yes, aku jadi tidak sabar," ucap Ainsley.
"Aku juga, aku ingin melihat aksimu lagi tapi aku harap, mereka tidak menyerang di hari pernikahan kita dan aku harap Mayumi tidak bertindak sendiri dan melakukan hal bodoh."
"Kau benar, kita semua harus berhati-hati."
"Itu sudah pasti, walau kau bisa menjaga dirimu tapi aku akan menjagamu dengan baik. Aku tidak akan memaafkan orang yang melukaimu, aku berjanji akan hal itu."
Ainsley tersenyum dan mendekatkan bibir mereka berdua, "Thansk," ucapnya sebelum mereka berciuman.
Ya, semoga saja Mayumi tidak melakukan hal bodoh tapi sayangnya hati gadis itu sedang dipenuhi dengan rasa cemburu dan kebencian. Entah dia bisa berpikir dengan jernih atau tidak saat umpan di lempar tapi yang pasti, sebentar lagi perang memang akan dimulai apalagi dua kapal yang membawa Akira dan Katsuo juga pasukannya sudah hampir tiba.
Saat tengah malam nanti mereka akan tiba dan tentunya mereka akan menemui sang informan yang akan mereka manfaatkan dan yang akan memanfaatkan mereka demi tujuannya. Masalah yang akan terjadi tidak sesimpel yang Damian dan Ainsley pikirkan karena akan banyak orang yang terlibat nantinya.
Damian mengajak Ainsley pergi, tinggal sedikit lagi yang harus mereka lakukan maka pernikahan mereka akan berjalan sempurna nantinya. Mayumi memandangi mereka dengan kebencian di hati, tentunya gadis yang ada di sisi Damian yang dia benci. Sepertinya kebencian itu akan hilang jika dia bertemu dengan kekasihnya nanti.
Semoga saja dia bisa segera bertemu dengan sang kekasihnya karena dia benci dengan perasaan yang sedang dia rasakan saat ini. Dia sungguh tidak mau tapi, perasaan takut akan kehilangan orang yang dekat dan yang dia sayangi menjadi trauma baginya sehingga tumbuh perasaan seperti itu.