
Setelah para tua bangka menari, mereka melanjutkan pesta itu dengan makan malam bersama. Mereka dapat menikmati makanan apa saja yang berada di tempat itu. Makanan lezat yang disediakan oleh para koki handal dan minuman berkualitas memanjakan perut juga lidah mereka dan yang pasti, perut Marline yang sangat dimanjakan.
Marline duduk di meja kecil di mana penuh dengan makanan, dia tidak pergi ke mana-mana karena dia belum menghabiskan semua makanan yang dia ambil. Tentu saja dia bersama dengan kedua adiknya yang tidak jauh berbeda dengannya.
Di antara semuanya, hanya Marline yang terkenal hobi makan tapi tidak ada yang membicarakan dirinya karena semua sudah tahu dengan hobinya bahkan dia mendapat julukan dan mereka memanggilnya Nyonya Banjamin karena semua tahu dia pecinta si Benjamin Franklin.
Michael juga tidak melarang karena itu memang sifat Marline, lagi pula selama istrinya senang maka dia tidak akan melarang. Jadi Marline menikmati makanannya tanpa gangguan bersama dengan kedua adiknya. Ayah dan ibunya hanya bisa menggeleng, untungnya Marline masuk ke dalam keluarga aneh sehingga tidak ada yang mempermasalahkan hobinya itu.
Suara teriakan anak-anak, suara tawa memenuhi ruang pesta itu tapi tidak ada yang mempermasalahkan karena semuanya keluarga. Vivian sibuk dengan keenam bayinya yang menangis, ya jika salah satu dari mereka menangis maka keenam bayinya akan menangis. Sepertinya dia harus membawa mereka ke kamar dan menidurkan mereka.
Semua punya kesibukan masing-masing tapi kehangatan di antara mereka tetap terjalin. Tidak saja menikmati makanan tapi mereka juga menikmati kebersamaan mereka.
Ainsley dan Damian sedang duduk berdua, Ainsley menikmati makanan yang disuapkan oleh suaminya. Dia sudah mengganti gaun pengantinnya dengan gaun malam berwarna merah. Ainsley bahkan terlihat cantik luar biasa dengan gaun malam itu.
"Apa kakimu masih sakit?" tanya Damian seraya memotongkan daging untuk istrinya.
"Sudah tidak, terima kasih," Ainsley tersenyum, dia senang Damian memperlakukannya dengan manis bahkan Damian kembali menyuapinya daging yang baru saja dia potong.
"Makan yang banyak karena kita butuh tenaga yang banyak," goda Damian.
"Hei, yang butuh tenaga banyak adalah dirimu!" ucap Ainsley.
Damian terkekeh, ya, dia memang butuh tenaga yang banyak untuk malam pernikahan mereka tapi sayangnya, tidak dia saja yang butuh tenaga banyak karena mereka tidak akan menduga hal buruk akan segera terjadi.
"ke mana kita akan berbulan madu, Damian?" tanya Ainsley ingin tahu.
"Bagaimana jika bahas masalah ini sambil berdansa?" ajak Damian.
"Boleh juga, kau tidak berencana membawa aku berbulan madu ke Jepang, bukan?"
"Tentu tidak, Sweetheart. Kita berdansa sambil bertukar pikiran mencari tempat romantis untuk berbulan madu."
"Baiklah," Ainsley meneguk minumannya sampai habis.
"Sekarang," ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Damian tersenyum dan menyambut uluran tangan istrinya. Mereka melangkah menuju lantai dansa di mana yang lain sudah mulai berdansa.
Satu tangan Damian sudah melingkar di pinggang Ainsley, satu tangannya lagi memegangi tangannya. Mereka mulai berdansa, mengikuti irama musik merdu yang melantun.
"Jadi Nyonya Maxton, di mana kau ingin berbulan madu agar kita bisa membuat Maxton junior tanpa gangguan?" tanya Damian.
"Hei, nanti ada yang mendengar," ucap Ainsley seraya melirik ke arah keluarganya yang berdansa.
Damian hanya terkekeh, tubuh Ainsley ditarik mendekat agar tubuh mereka berdua merapat. Ainsley memeluk leher Damian, dahi mereka berdua saling beradu dan kedua tangan Damian berada di pinggangnya. Mereka saling pandang dengan senyum di wajah, rasanya tidak ingin momen kebersamaan itu cepat berakhir.
"Jadi, mau ke mana?" tanya Damian.
"Putar aku dulu," pinta Ainsley.
Damian memutar Ainsley dan sekarang posisi mereka saling berubah. Ainsley berdiri membelakangi Damian tapi Damian masih memeluknya, mereka juga masih berdansa mengikuti yang lain.
"Bagaimana jika kita pergi ke pulau eksotis?" ajak Aisnley sambil bersandar di dada suaminya.
"Hawaii?" tanya Damian tapi Ainsley menggeleng.
"Maladewa?" tanya Damian lagi.
"Bagaimana jika kita pergi ke Maladewa?" tanya Damian seraya mengusap pipi Ainsley.
"Boleh juga, aku juga sangat ingin pergi ke sana. Kata Nenek tempat itu sangat bagus karena dulu dia juga berbulan madu di sana," jawab Ainsley.
"Baiklah, kita akan berada di sana selama satu bulan."
"Apa tidak terlalu lama?"
"Tidak! Saat kita kembali nanti, kita harus membawa junior Maxton serta agar ayahku senang."
"Sepertinya kau sudah tidak sabar memiliki anak?"
"Yes, dan aku ingin punya banyak anak," ucap Damian seraya mencium bibir istrinya.
Gerakan mereka berhenti, mereka berciuman dengan mesra dan setelah itu mereka kembali berdansa tapi tidak lama kemudian, alunan musik berubah menjadi musik yang ceria.
Yang lain mulai ikut berbaur untuk menari, mereka bergerak lincah, saling bertukar pasangan dan tawa mereka terdengar di lantai dansa. Mereka sangat menikmati pesta itu dan setelah merasa lelah, Ainsley mengajak Damian keluar dari lantai dansa di mana keluarganya masih menikmati tarian mereka.
"Dam-Dam, aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Ainsley,
"Aku akan menemanimu."
"Tidak perlu, hanya sebentar saja," ucap Ainsley.
"Kau yakin?"
Ainsley mengangguk, hanya ke kamar mandi saja, suaminya tidak perlu menemani. Ainsley melangkah pergi sedangkan Damian menghampiri ayahnya yang sedang duduk sendiri dan terlihat lelah.
"Dad, apa kau baik-baik saja?" tanya Damian dan dia terlihat khawatir.
"Tidak apa-apa, mana istrimu?" tanya Jager sambil melihat sana sini.
"Ainsley sedang ke kamar mandi."
"Kenapa kau tidak menemaninya?"
"Dad, hanya ke kamar mandi. Lagi pula Ainsely bilang tidak perlu."
"Baiklah," jawab sang ayah.
Mereka berdua berbincang, tentu yang Damian bahas adalah perjalanan bulan madu yang akan dia lakukan dengan Ainsley nanti. Jager tidak keberatan, lagi pula di rumah ada Mayumi. Mereka berbincang cukup lama sampai akhirnya Damian menyadari jika istrinya tidak juga kembali.
"Dad, aku pergi dulu melihat Ainlsey," ucapnya.
Jager mengangguk, sedangkan Damian berlari menuju kamar mandi. Dia memanggil Ainsley di depan pintu tapi tidak ada jawaban. Damian bahkan masuk ke dalam kamar mandi dan ternyata tidak ada siapa pun di dalam sana. Damian jadi curiga, dia keluar dari kamar mandi dan berlari menuju kamar mereka.
Pintu kamar dibuka dengan cepat, Damian masuk ke dalam sambil memanggil istrinya tapi sunyi yang dia dapatkan.
"Ainsley?" Damian kembali memanggil dan melangkah menuju kamar mandi. Mungkin saja istrinya berada didalam sana.
Pintu kamar mandi dibuka tapi tidak ada siapa pun. Damian diam, berpikir. Entah kenapa tiba-tiba saja firasatnya menjadi buruk. Tanpa membuang waktu Damian berlari keluar, mencari istrinya di antara keluarganya tapi dia tidak bisa menemukannya.
"Guys, apa ada yang melihat Ainsley?" tanya Damian tapi hanya gelengan yang dia dapatkan.
Damian melangkah, bertanya sana sini tapi tidak ada satu dari mereka pun yang melihat keberadaan Ainsley. Karena tidak ada yang melihat istrinya sama sekali jadi Damian kembali berlari menuju kamar mandi. Entah kenapa firasatnya semakin buruk, sepertinya telah terjadi sesuatu. Apa ada yang dia lewatkan?