Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
A Baby Boy



Mereka menunggu dengan cemas tapi belum ada kabar dari dalam sana, para suster hilir mudik keluar masuk ke dalam ruangan dengan alat-alat yang diperlukan. Entah apa yang terjadi, mereka harap semua baik-baik saja. Di dalam sana Ainsley masih berjuang, dia mengalami kesulitan karena kurangnya bergerak dan melakukan aktifitas selama kehamilannya. Itulah kenapa wanita hamil dianjurkan untuk melakukan beberapa kegiatan agar saat melahirkan tidak begitu mengalami kesulitan.


Demi menjaga si buah hati Ainsley benar-benar tidak melakukan kegiatan apa pun apalagi setelah dia mengalami pendarahan. Bagaimanapun dia harus menjaga janinnya yang lemah. Sudah begitu lama operasi ceasar pun di sarankan tapi Ainsley menolak karena dia masih ingin berusaha melahirkan secara normal.


Damian membujuk istrinya, dia tidak sanggup melihat istrinya yang merintih kesakitan dan berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan bayi mereka. Teriakan Ainsley terdengar, dia sedang berjuang keras untuk melahirkan bayinya. Sekarang dia tahu bagaimana perjuangan seorang ibu untuk melahirkan.


Setiap wanita yang akan melahirkan pasti merasakannya, sungguh perjuangan di antara hidup dan mati.


"Arrgghhh!!!" teriakan Ainsley kembali terdengar saat dia berusaha mengeluarkan si bayi dengan sekuat tenaga.


"Sedikit lagi Nyonya, kepalanya sudah terlihat," ucap sang dokter.


"Berjuanglah, Sayang," ucap Damian sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat. Hanya itu yang bisa dia lakukan, dia harap semoga semua cepat selesai.


Ainsley mengatur napasnya dan setelah itu, dia kembali mengeluarkan bayinya dengan sekuat tenaga. Kepala bayi sudah semakin terlihat, Ainsley yang sudah hampir kehabisan tenaga kembali bersemangat. Walau lelah dan sakit luar biasa tapi usahanya membuahkan hasil saat bayinya dapat dia lahirkan dengan selamat.


Para perawat bergerak cepat, saat si bayi lucu sudah dilahirkan. Ainsley terengah-engah tapi senyum menghiasi wajahnya karena dia merasa bahagia begitu juga Damian. Damian juga terlihat bahagia, ucapan terima kasih terucap dari bibir untuk istrinya, ciuman di dahi juga dia berikan sesekali.


Kebahagiaan semakin memenuhi hati saat suara tangisan bayi mereka pertama kali terdengar. Tidak saja mereka, di luar sana keluarga mereka juga tampak senangĀ  saat mendengar suara tangis sang bayi. Mereka sungguh sudah tidak sabar terutama Jager dan Jacob karena si duo J sudah menyiapkan nama untuk si bayi.


"Selamat Nyonya, bayi laki-laki yang tampan," seorang perawat menghampiri mereka dan memberikan bayi laki-laki yang tampan pada Ainsley.


Ainsley menggendong bayinya dengan kebahagiaan meluap di hati, dia bahkan menangis bahagia melihat bayi mungil yang dia jaga dengan baik selama di dalam kandungan. Rasanya suka duka saat mengandungnya terbayar melihat sang buah hati.


"Dia mirip denganmu, Dam-Dam," ucap Aisnley seraya menghapus air matanya.


"Dia mirip denganmu juga, Sayang. Terima kasih sudah melahirkannya untukku," Damian memberikan ciuman di dahi istrinya.


"Apa masih mau satu tahun satu?" goda Ainsley.


"Tidak!" jawab Damian. Setelah melihat kesulitan istrinya bersalin, bagaimana mungkin dia sanggup harus melihat istrinya melahirkan dalam jarak waktu yang dekat? Lebih baik dia melihat Matthew menyiksa musuhnya menggunakan alat mengerikan yang dia buat dari pada melihat istrinya kesakitan.


Mereka berdua memandangi bayi mereka, Damian menyentuh tangan bayinya yang mungil, perasaan bahagia mememuhi hati begitu menyentuh tangan bayinya. Sekarang kehidupan mereka terasa sempurna dengan kehadiran si buah hati.


Setelah semua selesai, Aisnley akan dipindahkan ke ruangan lain untuk menjalani perawatan lebih lanjut. Kate tampak lega melihat keadaan putrinya yang keluar sambil menggendong bayinya. Kebahagian terpancar dari wajah mereka karena satu anggota baru kembali hadir di dalam keluarga mereka.


Ainsley di bawa ke ruangan terbaik yang ada di rumah sakit itu, si duo J sudah sangat tidak sabar. Mereka bahkan saling pandang dengan tatapan persaingan. Mereka akan langsung memberi nama setelah tiba di dalam ruangan, siapa cepat dia yang menang.


Bayi yang belum di beri nama di baringkan, Damian membantu Ainsley berdiri dari kursi roda untuk pindah ke ranjang. Kate dan Albert sedang melihat cucu mereka begitu juga dengan Jacob, Alice dan Jager.


"Wah, Jhony begitu sehat," ucap Jacob tiba-tiba.


"Hei, apa maksudmu Jhony?" Jager tampak tidak terima.


"Itu nama ayahku jadi dia harus menyandang nama ayahku!"


"Tidak bisa!" Jager tampak tidak terima.


"Siapa cepat dia dapat!" Jacob cuek saja.


"Dad, kalian bagaikan anak kecil!" ucap Albert sambil menggeleng.


"Aku hanya ingin ada yang menyandang nama kakekmu saja."


"Tidak ... Tidak, dia cucuku jadi aku yang harus memberinya nama!" Jager tidak mau kalah.


"Hei, dia juga cucuku!" Jacob juga tidak mau kalah.


Damian dan Ainsley menggeleng melihat tingkah mereka berdua, sepertinya mereka harus memikirkan sebuah nama secara cepat agar kedua orangtua itu tidak berdebat lebih jauh.


"Kau benar, aku harus mencari nama yang bagus untuk putra kita."


Mereka melihat ke arah Jacob dan Jager yang masih mendebatkan nama. Kate menggendong cucunya, sedangkan Alice dan Albert berdiri di sisi Kate untuk melihat bayi lucu yang namanya sedang didebatkan. Mereka tidak mempedulikan kedua orangtua itu karena mereka sudah terbiasa dengan persaingan orangtua yang tidak mau saling mengalah.


"Pokoknya namanya harus Jhony!" ucap Jacob sambil bersedekap dada. Dia dan Jager saling pandang, mereka benar-benar tidak mau mengalah.


"Tidak, namanya harus Kendrick Maxton," ucap Jager.


"Jhony!" Jacob melangkah maju.


"Kendrick!" Jager juga melangkah maju tidak mau kalah.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain, lengan baju digulung lalu mereka berdua berjalan berputar. Mata mereka masih saling menatap, aura tidak mau kalah terlihat jelas di antara mereka. Satu tangan mereka sudah terangkat, lalu nama untuk cucu mereka terucap di bibir.


"Jhony!" ucap Jacon dan Jager juga menyebutkan nama untuk cucunya, "Kendrick!"


Mereka mengeluarkan tangan mereka secara bersama-sama karena mereka sedang adu suit. Suit pertama seimbang, mereka berdua kembali saling pandang sambil menaikkan lengan baju mereka lagi. Entah kenapa mereka berdua jadi tegang, mata mereka juga masih saling pandang.


"Kali ini aku pasti menang," ucap Jacob.


"Jangan terlalu percaya diri!" ucap Jager pula.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Albert.


"Stttss!" Jacob meletakkan jari di bibir, tidak ada yang boleh mengganggu persaingan mereka berdua.


"Kau siap pak tua?" Tanya Jacob pada Jager.


"Tentu saja, kakek tua!"


Mereka kembali melangkah memutar, tangan mereka sudah siap. Entah kenapa jantung jadi berdebar karena ini penentuan siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.


"One," Jacob mulai menghitung.


"Two," Jager juga menghitung.


Langkah mereka terhenti, mereka berdua tampak tegang dan dalam hitungan ketiga, mereka mengeluarkan tangan mereka secara bersama-sama.


"Yes, aku menang!" sorak Jager saat melihat jika dialah pemenangnya.


"Apa? Tidak mungkin!" Jacob tidak terima kekalahan.


"Kau sudah kalah, kakek tua!" Jager terlhat senang.


"Tidak bisa, ulangi!" pinta Jacob.


"Tidak, tidak ada kata ulang jadi namanya Kendrick Maxton!" Jager tersenyum lebar, sedangkan Jacob menggerutu karena dia kalah.


"Untuk selanjutnya nama anak mereka harus Jhony!" ucapnya.


"Jadi namanya sudah di putuskan?" tanya Albert.


"Yes, dia akan dipanggil Kendrick," jawab Jager.


Damian dan Aisnley saling pandang, Kendrick nama yang bagus. Semoga dia bisa menjadi pemimpin yang hebat dan bijaksana nantinya.