Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Makan Malam



Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, Damian dan Ainsley sedang menunggu Jager Maxton karena sebentar lagi mereka akan pergi ke rumah keluarga Windstond untuk makan malam bersama dengan mereka. Ketika Damian mengutarakan permintaan kakeknya, Jager tidak menolak sama sekali. Selama niat mereka baik maka dia tidak keberatan.


Ainsley berbaring di kamar, entah kenapa dia merasa sedikit lelah padahal dia tidak melakukan apa pun. Kepalanya bahkan terasa sedikit pusing. Mungkin keadaannya seperti itu akibat pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Banyak yang harus dia tangani, beberapa kesalahan yang diperbuat oleh beberapa karyawan harus dia bereskan. Mungkin akibat pekerjaannya itulah membuatnya lelah dan pusing.


Damian masuk ke dalam kamar karena ayahnya sudah siap, dia tampak heran melihat istrinya sedang berbaring. Tidak biasanya Ainsley seperti itu. Damian duduk di sisi ranjang dan meraba dahi istrinya, Ainsley terkejut, hampir saja dia terlelap.


"Apa sudah siap?" Ainsley memandanginya dengan tatapan sayu.


"Apa kau sedang sakit?"


"Sepertinya," jawab Ainsley. Dia merasa semakin tidak enak badan bahkan dia enggan beranjak dari tempat tidur.


"Jika begitu aku akan menghubungi mereka dan membatalkan makan malamnya."


"Jangan, Dam-Dam," Ainsley menahan tangan suaminya yang hendak beranjak.


"Pergilah dengan Daddy, aku akan istirahat di rumah. Jangan mengecewakan mereka hanya karena aku. Mereka pasti sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan kita, jadi jangan mengecewakan mereka dan membuat mereka berpikir jika kau dan Daddy mempermainkan mereka sehingga mereka berburuk sangka pada kalian."


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan dirimu sendirian di rumah, Sayang," Damian menunduk dan memberikan sebuah ciuman di dahi.


"Aku baik-baik saja, aku hanya butuh istirahat. Sepertinya aku kelelahan karena pekerjaan kantor menumpuk," Ainsley mengusap pipi suaminya, dia tidak mau Damian mengkhawatirkan dirinya.


"Kau yakin tidak apa-apa?" Damian memastika karena dia merasa berat meninggalkan istrinya sendirian.


"Hm," Ainsley mengangguk dan tersenyum. Dia hanya butuh tidur saja, sepertinya keadaannya itu akibat dia kurang tidur juga.


"Baiklah, aku akan cepat kembali," Damian kembali menunduk untuk mencium bibir istrinya. Dia akan mengajak ayahnya untuk cepat pulang agar Ainsley tidak sendirian di rumah.


"Tolong sampaikan salamku dan permintaan maafku pada mereka karena aku tidak bisa bergabung," pinta Ainsley.


"Tidak perlu dipikirkan, aku akan sampaikan pada mereka."


Sebelum pergi, Damian mengambilkan air hangat untuk Ainsley agar istrinya tidak repot jika dia haus. Dia juga meminta pelayan untuk membantu Ainsley jika Ainsley menginginkan sesuatu. Jager juga enggan pergi saat tahu menantunya sedang sakit, tapi mereka memang tidak bisa membatalkan makan malam itu begitu saja apalagi mereka tahu, keluarga Windstond pasti sudah menunggu dan memang itu yang sedang mereka lakukan.


Semua hidangan sudah tersedia di atas meja, Renata dan Isabel baru saja meletakkan makanan terakhir yang mereka buat. Mereka terlihat puas dengan masakan buatan mereka, setidaknya mereka tidak akan mengecewakan tamu mereka.


Lilin sudah berada di atas meja, beberapa botol anggur juga sudah berada di atas meja. Tinggal menunggu tamu datang maka makan makan mereka akan berjalan dengan sempurna.


"Dad, aku harap kau menjaga sikap dan ucapanmu di hadapan ayah Damian!" pinta Harry pada ayahnya. Jangan sampai ayahnya menghancurkan kebersamaan mereka yang sudah terjalin karena masa lalu.


"Apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kau pikir aku akan melakukan hal itu?" ayahnya tampak tidak senang.


"Kau memang harus menjaga sikapmu, Carl. Awas jika kau menghancurkan suasana yang sudah terjalin di antara kita!" ucap Aland pula.


"Baiklah, tidak perlu diingatkan. Aku tahu apa yang harus aku lakukan!" walau tidak senang tapi dia memang tidak boleh memancing amarah Jager Maxton.


"Bagus, awas jika Daddy memulai. Aku tidak akan segan memukul Daddy!" ancam Harry.


Carl hanya menggerutu, kenapa semua jadi mengancam dirinya?


"Kenapa istrimu tidak datang?" tanya Renata karena dia tidak melihat Ainsley.


"Istriku sedang sakit, jadi dia tidak bisa datang," jawab Damian.


"Apa sakitnya parah?" tanya Harry yang saat itu menghampiri mereka.


"Tidak, hanya tidak enak badan saja."


Harry mengajak Damian untuk bergabung dengan yang lain di mana Jager Maxton sedang berbicara dengan Aland dan Carl saat itu. Walau suasana terasa menegangkan di antara mereka, tapi Aland meminta maaf atas perlakuan tidak menyenangkan yang telah mereka lakukan saat menemui pria itu.


"Aku minta maaf atas perlakuan tidak menyenangkan yang telah kami lakukan padamu!" ucap Aland.


"Tidak perlu di bahas, selama kau memperlakukan Damian dengan baik maka aku tidak akan mempermasalahkannya. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, tapi jika kalian masih menghinanya dan menghina ibunya, maka jangan harap aku akan bermurah hati pada kalian lagi. Gunakan kesempatan ini agar kalian bisa menjadi keluarga, aku tidak akan melarang Damian untuk dekat dengan kalian tapi jika kalian menyia-nyiakannya maka lupakan keberadaannya atau aku yang akan membuat Damian melupakan keberadaan kalian!" ancam Jager. Jika mereka masih berani maka dia tidak akan ragu, menculik mereka lalu melemparkan mereka ke dalam kolam buaya milik menantunya.


"Aku tahu, aku akan berusaha agar hubungan kami menjadi seperti ayah dan anak seperti yang seharusnya." ucap Carl.


"Bagus jika kalian mau berubah!" ucap Jager, setidaknya mereka sudah menunjukkan sikap yang baik.


Mereka masih berbincang, Carl tidak berani menyinggung masa lalu. Jangan sampai Jager marah saat mereka membicarakan Sayuri. Dia hanya bertanya mengenai organisasi yang Jager dirikan dulu, kini mereka jadi tahu jika Damian sudah menggantikan posisi Jager sebagai ketua organisasi Black King.


Mereka juga jadi tahu kenapa Damian tidak menginginkan apa yang mereka miliki, itu karena Damian sudah memiliki segalanya. Mereka bahkan merasa malu saat mengetahui hal itu, ternyata selama ini mereka takut Damian mengambil apa yang mereka miliki yang tidak sebanding dengan apa yang Jager Maxton berikan pada Damian.


Carl juga menanyakan keberadaan Marck Wriston karena dia ingat Jager dan Marck adalah sahabat baik. Jager mengatakan jika Marck sudah dia bunuh, hal itu membuat mereka sedikit terkejut, sepertinya mereka tidak boleh meremehkan pria tua itu dan ancaman yang baru saja Jager ucapkan.


Setelah berbincang, mereka makan bersama. Damian sudah sangat ingin cepat kembali karena dia mengkhawatirkan keadaan Ainsley. Tapi dia tidak bisa pergi begitu saja apalagi dia sedang berbincang dengan Harry mengenai pekerjaan.


Dia bahkan berusaha menghubungi Ainsley karena dia ingin tahu bagaimana keadaan istrinya. Ainsley baru saja keluar dari kamar mandi saat Damian menghubunginya. Kepalanya masih terasa sakit, sebab itu dia kembali berbaring sambil menjawab panggilan dari Damian.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Damian. Dia terdengar cemas.


"Aku baik-baik saja, Dam-Dam."


"Apa kau menginginkan sesuatu? Aku akan membelikannya saat pulang."


"Tidak, aku hanya ingin tidur," jawab Ainsley.


"Baiklah, aku dan Daddy akan pulang sebentar lagi."


"Tidak perlu terburu-buru, nikmati waktu kalian di sana."


Walau Ainsley berkata demikian, Damian ingin cepat kembali. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat mereka berpamitan, walau singkat tapi mereka menikmati kebersamaan mereka. Damian mengajak ayahnya untuk pulang, dia sangat ingin melihat keadaan Ainsley.


Mereka kembali dengan terburu-buru, Harry masih berdiri di depan pintu melihat kepergian mereka. Dia bisa melihat kekhawatiran Damian terhadap Ainsley, sekarang dia baru menyadari sesuatu. Sepertinya selama ini dia belum pernah mencintai seorang wanita dengan sungguh-sungguh.


Perasaannya terhadap Sherly tumbuh karena perjanjian yang kakeknya buat sehingga dia berusaha untuk mencintai Shely. Dia rasa perasaan itu hanyalah palsu belaka. Dia memang menyukai Ainsley, tapi dengan maksud tidak baik. Sepertinya mulai sekarang dia harus mencari wanita sederhana, agar perasaan yang ada di hatinya adalah perasaan tulus tanpa ada maksud apa pun.