Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Beri Aku Kesempatan



Anna tersenyum dengan manis, sedangkan Harry pusing. Gadis itu tampak santai saja sambil melihat riasan wajahnya dari cermin kecil yang ada di tangan. Dia bahkan terlihat nyaman duduk di sofa dan enggan pergi walau di usir.


Harry menatap gadis itu sambil memijit pelipis, dia rasa gadis itu lebih nekat dari pada dirinya. Ini seperti sebuah karma yang harus dia dapatkan. Sekarang dia tahu bagaimana perasaan Ainsley waktu dia mengejar gadis itu.


Jika sampai Ainsley tahu bahwa dia sedang dikejar oleh seorang gadis saat ini, Ainsley pasti akan menertawakan dirinya. Semoga saja tidak ada yang tahu dan hari ini dia harus bisa meminta gadis itu untuk berhenti.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" tanya Harry, matanya tidak lepas dari Anna.


"Membawamu pulang dan menjadikanmu sebagai suamiku," jawab Anna tanpa ragu karena memang itu tujuannya.


"Dengar, Nona. Jangan bermain-main denganku!"


"Wah, sofa ini empuk!" Anna menepuk-nepuk sofa tanpa mempedulikan Harry.


"Hei, aku bicara denganmu!" Harry mulai kesal.


"Boleh aku berbaring sebentar?" tanya Anna.


"Tidak!" jawab Harry ketus.


"Thanks," Anna berbaring tanpa ragu, Harry semakin kesal dibuatnya.


"Kenapa kau berbaring? Bukankah aku bilang tidak boleh?" Harry masih berusaha bersabar dengan kelakuan gadis itu.


"Kepalaku sedikit pusing!" ucap Anna pura-pura.


"Ck, tidak perlu menipu! Asal kau tahu, aku tidak suka dikejar karena aku tipe pengejar. Aku lebih suka mengejar gadis yang aku sukai, dan kau tidak termasuk dalam tipe gadis yang aku sukai!"


"Benarkah?" Anna memandanginya dan masih bersikap cuek.


"Ya, sebab itu jangan mengejar aku lagi!"


"kau tahu?" Anna kembali duduk di sofa dan tersenyum dengan manis.


"Aku semakin penasaran dan ingin mendapatkan dirimu!" ucapnya lagi.


"Apa?" Harry tampak tidak percaya.


"Mungkin saat ini aku memang bukan tipe gadis yang kau sukai, itu karena kau belum mengenal aku. Tapi jika kau sudah mengenal aku, aku yakin kau akan merubah pandanganmu tentang aku dan mulai jatuh hati padaku."


"Jangan terlalu percaya diri!"


"Hei, aku memang percaya diri. Sebab itu aku berani mengejarmu. Percayalah, kau tidak akan menyesal saat menjadi suamiku."


"Stop, aku rasa pembicaraan ini sia-sia. Sebaiknya kau pergi karena aku harus bekerja!" Harry sudah tidak tahan lagi, seharusnya dia tidak menarik gadis itu dan membawanya masuk ke dalam ruangannya dan lihatlah, gadis itu kembali berbaring di sofa.


"Jika kau ingin aku keluar maka gendong aku keluar sampai di bawah!" ucap Anna dengan santai.


"What the hell! Apa kau bercanda?!" teriak Harry marah.


"Aku hanya ingin mengenalmu, Harry. Aku ingin kau tahu jika aku menyukaimu sejak lama. Aku terlalu takut untuk muncul di hadapanmu tapi sekarang, aku memberanikan diri untuk mendekatimu agar kau tahu jika aku menyukaimu dan aku ingin kau menyukai aku juga karena pria yang aku inginkan hanya dirimu!"


"Jangan bercanda, kenapa harus aku?" tanya Harry.


"Aku juga tidak tahu, jika bisa memilih dan bisa menentukan perasaan sesuka hati maka aku akan lebih suka jatuh cinta pada seorang pangeran tapi perasaan suka yang aku rasakan tumbuh dengan sendirinya tanpa aku inginkan!"


Harry diam saja, matanya tidak lepas dari Anna. Dia tahu bagaimana perasaan mencintai seseorang tapi tidak terbalas. Ck, sepertinya mereka senasib.


"Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Harry.


"Aku ingin kau menyukaiku," jawab Anna.


"Aku memang suka memaksa!" ucap Anna.


"Jangan keterlaluan jika tidak aku akan memerintahkan orang untuk menarikmu keluar!" ancam Harry.


"Mereka tidak akan berani jika aku mengatakan bahwa aku sedang hamil anakmu!" ucap Anna santai.


"What?" Harry kehabisan kata-kata.


"Ayolah, beri aku kesempatan," Anna memandanginya dengan tatapan memohon.


Harry kembali memandanginya, sebaiknya dia tidak menolak karena dia tahu akan sia-sia. Seperti dirinya dulu yang tidak menyerah mengejar Ainsley, Anna pasti tidak akan menyerah mengejar dirinya apalagi dia bisa melihat jika Anna lebih nekad dari pada dirinya.


Sebaiknya dia membiarkan gadis itu, nanti dia juga akan menyerah dan pergi dengan sendirinya. Dia yakin Anna akan menyerah, yang penting dia tidak menaruh perhatian pada gadis itu.


Harry menghela napas, pria itu beranjak menuju mejanya. Lebih baik dia bekerja saja karena semakin dia meminta gadis itu untuk berhenti maka gadis itu akan semakin gigih seperti dirinya dulu.


"Hei, jadi aku boleh di sini, bukan?" tanya Anna.


"Terserah!" jawab Harry malas.


"Terima kasih. Bolehkah aku bekerja di sini? Di luar sana tidak aman!" ucap Anna dengan wajah berseri.


Tidak aman? Entah kenapa dia jadi teringat dengan dua orang yang membuat Anna ketakutan sewaktu di cafe. Apa gadis itu lari dari sesuatu? tapi sebaiknya dia tidak banyak tahu karena itu bukan urusannya. Harry tidak menjawab karena dia tahu percuma. Gadis itu pasti tidak akan pergi sekalipun dia mengusir.


Anna mengeluarkan sketsa yang dia buat dan belum jadi, dia mulai menyibukkan diri. Harry melihatnya sejenak, dan setelah itu mereka berdua sibuk sendiri. Anna menghubungi kliennya sesekali, dia juga membongkar sketsa yang telah selesai dia buat.


Harry jadi ingin tahu, apa Anna seorang perancang busana? Di lihat dari gambar yang dia buat sepertinya demikian.


"Apa kau desainer?" Harry memecah keheningan di antara mereka.


"Aha, sepertinya kau mulai ingin tahu tentang aku," jawab Anna.


"Aku hanya bertanya, jangan mengartikan ke arah lain!" ucap Harry kesal.


"Ayolah, tidak perlu malu. Duduk di sini bersama denganku, aku akan mengatakan apa pun tentangku yang ingin kau ketahui. Bahkan jika kau ingin tahu berapa ukuran pakaian dalamku, aku akan mengatakannya padamu dengan senang hati dan jika kau ingin aku membuatkan pakaian untukmu, aku akan mengukur tubuhnya dalam keadaan tela*njang dan ini service spesial untukmu."


Harry menghembuskan napas, frustasi. Pria itu beranjak, sepertinya dia membutuhkan segelas kopi hitam super pahit.


Anna tersenyum saat harry keluar tapi tidak lama kemudian Harry kembali, mereka berdua diam saja sampai akhirnya Anna pamit pergi karena dia harus menemui klien.


"Terima kasih karena kau memperbolehkan aku bekerja di sini," ucap Anna.


"Cepat pergi sana!" usir Harry, akhirnya gadis itu pergi juga.


"Nanti aku akan kembali lagi."


"Tidak usah, jangan pernah kembali untuk selamanya!"


Anna tersenyum, dia akan kembali lagi tentu untuk mengikuti Harry karena dia ingin mencari tahu di mana rumah Harry.


"Bye ... Bye, nanti kita bertemu lagi!" Anna melambaikan tangan saat hendak keluar dari ruangan Harry.


"Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" teriak Harry.


Anna hanya tersenyum, dia tampak begitu senang. Itu terlihat dari wajahnya. Harry tampak lega karena si pengganggu sudah pergi tapi sayangnya dia tidak tahu jika sudah tersebar gosip di antara karyawannya jika bos mereka mengalami penyakit Impoten dan saat ini sedang menjalani terapi penyembuhan dengan gadis yang dia bawa masuk ke dalam ruangannya.


Mereka semakin salah paham ketika melihat wajah Anna yang berseri, otomastis mereka mulai membayangkan apa yang telah terjadi di dalam sana apalagi dengan cream pijat dan minyak urut yang Anna bawa.