Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Siapa Sebenarnya Mereka?



Akira tersadar dari pingsannya sambil meringis. Matanya sakit di mana bola matanya sudah di ambil oleh Ainsley. Tidak saja mata, tangannya yang dipenggal oleh Damian juga terasa sakit.


Dengan satu matanya yang tersisa, Akira melihat sekelilingnya yang terlihat asing, di mana dia saat ini. Ternyata tidak dia saja yang tampak kebingungan, Katsuo juga terlihat kebingungan.


Ruangan yang terlihat menyeramkan, membuat bulu roma meremang. Sherly sudah ketakutan sedari tadi, dia merasa jika saat ini dia bagaikan ditangkap olah para psikopat dan dia juga merasa seperti akan di eksekusi di tempat yang mengerikan itu.


Dia merasa seperti itu karena ruangan yang dipenuhi alat penyiksaan. Entah apa yang akan terjadi dengan mereka di tempat itu, tidak ada yang tahu bahkan dia ketakutan sedari tadi karena anak buah Matthew membawa masuk para mayat anak buah Akira dan para penjahat jalanan ke dalam.


Para mayat itu dibawa ke dalam sebuah ruangan lain, entah apa yang hendak mereka lakukan pada mayat-mayat itu yang pasti para binatang dia sana berpesta pora.


"Di mana kita?" tanya Akira, matanya melihat ruangan itu dengan penuh selidik.


"Entahlah, aku juga tidak tahu!" jawab Sherly.


"Kenapa kau bisa tertangkap?" tanya Akira lagi.


"Ini karena kau, bodoh! Kenapa wanita itu bisa lepas dan lolos?!" teriak Sherly penuh emosi. Seharusnya dia tidak mengatakan pada Ainsley apa yang sedang dia rencanakan. Seharusnya dia melakukan aksinya tanpa ada yang tahu sehingga dia tidak gagal dan berada di tempat seperti itu.


Sherly menunduk, dia menyesal tidak langsung menghabisi keluarga Harry. Seharusnya dia menekan pemicu bom itu tanpa ragu, jika dia melakukannya maka dia tidak akan gagal. Dia sungguh tidak menyangka saudara Harry yang tidak mereka inginkan itu akan datang untuk menolong mereka. Semua gara-gara Ainsley, dan juga Akira yang bodoh karena telah gagal membawa gadis itu ke Jepang.


"Sherly, siapa gadis itu?" tanya Katsuo. Sekarang dia harus tahu, siapa sebenarnya gadis yang diinginkan oleh Akira.


Dia tahu mereka tidak akan mengalami masalah besar jika mereka hanya menangkap Mayumi karena dia tahu, Mayumi tidak punya kekuatan apa pun. Dia merasa mereka menjadi seperti ini akibat mereka menangkap orang yang tidak seharusnya mereka tangkap.


Orang-orang yang menyerangnya, dia yakin mereka bukan orang-orang biasa. Dia yakin seperti itu karena orang biasa tidak mungkin bisa menjinakkan bom yang sulit di jinakkan.


"Aku tidak tahu!" jawab Sherly.


"Tidak mungkin kau tidak tahu jadi katakan padaku, siapa sebenarnya mereka?"


"Untuk apa kau tahu siapa gadis itu, Katsuo?" tanya Akira.


"Kau bodoh Akira, apa kau tidak tahu permasalahan ini menjadi rumit karena kau menangkap gadis itu?"


"Bukankah dia hanya gadis biasa?" ucap Akira.


"Aku rasa tidak! Dia bukan gadis biasa seperti yang kita duga jadi katakan padaku Sherly, siapa gadis itu?"


"Aku tidak tahu, aku menawarkan bantuan karena dia menginginkannya dan secara kebetulan aku mengetahui gadis itu. Yang aku tahu dia adalah orang yang telah menghancurkan hubunganku dengan Harry. Sebab itu aku dendam dengannya dan memanfaatkan situasi ini untuk melenyapkan dirinya!"


"Aku tidak peduli dengan dendammu jadi cepat katakan, siapa sebenarnya gadis itu?!" teriak Katsuo marah.


"Aku sungguh tidak tahu, yang aku tahu hanya namanya Ainsley Smith!"  Sherly juga berteriak.


"Siapa kau bilang?" tanya Katsuo. Firasat buruk memenuhi hati.


"Ainsley Smith, apa kau tuli?" Sherly memandangi katsuo dengan tatapan heran begitu juga dengan Akira.


"Sh*i*t!" umpat Katsuo\, pria itu tampak frustasi.


"Kita dalam masalah, kita tidak akan selamat," gumam Katsuo.


"Ada apa? Apa kau mengenalnya?" tanya Sherly.


"Ketahuilah Akira, kita dalam masalah karena kita menyinggung orang yang salah. Walau nama Smith itu banyak, tapi aku punya firasat buruk!" Katsuo benar-benar frustasi. Sial! Seharusnya dia mencari tahu siapa gadis yang diinginkan oleh Katsuo terlebih dahulu sebelum mereka memutuskan untuk menangkapnya.


"Katakan padaku, ada apa?" tanya Akira. Dia sangat ingin tahu kenapa Katsuo begitu ketakutan.


"Dengarkan aku, aku rasa kau juga tahu hal ini. Apa kau ingat organisasi Red Axe?"


Akira mengangguk, tentu saja dia tahu organisasi itu.


"Ketua mereka dibunuh oleh pembunuh bayaran bersama dengan ketua Black Dragon di kota ini. Kedua putra mereka bekerja sama untuk balas dendam atas kematian ketua mereka tapi apa kau tahu apa yang terjadi dengan mereka?" Katsuo bersandar di dinding sambil memegangi tangannya yang tertembak.


"Sial, kita benar-benar dalam masalah!" umpatnya.


"Apa yang terjadi?" teriak Sherly ketakutan.


"Hng, mereka membawa begitu banyak anak buah tapi tidak ada satu pun yang tersisa. Yang kembali hanya ketua mereka Hideaki dengan sebuah lengan yang sudah tidak ada. Dia berkata dia sangat beruntung karena dilepaskan dan dia berpesan agar tidak mencari perkara dengan Matthew Smith dan Michael Smith! Dia bahkan tidak tahu dengan nasib ketua Black Dargon tapi yang pasti, dia bisa selamat dan hal itu membuatnya bersumpah untuk tidak menginjakkan kakinya lagi di kota ini!"


"Oh, tidak!" Sherly menutup mulutnya, dengan tangan gemetar..


Umpatan Akira terdengar, dia tahu cerita itu. Bahkan cerita itu sudah menyebar luas dikalangan Yakuza yang ada di Jepang.


"Tapi kalian tidak bisa menyalahkan aku karena sejak awal kalian menginginkan gadis Jepang itu. Mau menangkap Ainsley Smith atau tidak, kalian tetap akan terlibat masalah dengannya karena Ainsey Smith adalah istri Damian Maxton, sahabat Mayumi! Dia pasti akan turun tangan untuk membantu suaminya menyelamatkan Mayumi." Sherly mencoba membela diri karena dia tidak mau disalahkan.


"Kau tahu Sherly? Jika kita hanya menangkap Mayumi maka kita hanya akan melawan organisasi Black King. Kita akan mati tertembak tapi sekarang?" Katsuo melihat ruangan itu dan kembali berkata, "Aku takut membayangkan apa yang akan kita alami di sini!"


"Ja-Jangan bercanda kau Katsuo, jangan bercanda!" Sherly gemetar, ketakutan.


Matanya melihat alat penyiksaan yang ada di sana, bulu roma kembali meremang mengingat mayat-mayat itu. Di saat Sherly dalam ketakutan, pintu ruangan itu terbuka. Mereka melihat ke arah pintu dengan napas tertahan.


James masuk ke dalam dengan beberapa anak buah sambil mendorong sebuah meja, tentu itu mainan yang akan diuji coba di mana kelinci percobaan sudah tersedia.


"Hei, lepaskan kami!" teriak Sherly sambil menarik rantai yang mengikat tangannya.


James tidak menggubris, dia memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan meja tidak jauh dari mereka bertiga. Sherly kembali berteriak, dia harap dia dilepaskan apa lagi dia seorang wanita.


James cuek saja dan mengambil ponselnya, sepertinya dia akan menyaksikan pertunjukan menarik besok.


"Bella Sayang, besok siapkan popcorn dan cola untukku karena aku ingin menonton pertunjukan spesial," ucapnya seraya melangkah pergi.


"Hei, lepaskan aku!" teriak Sherly lagi.


James keluar dan menutup pintu ruangan, tempat itu menjadi sepi dan mengerikan. Mereka bertiga saling pandang lalu melihat ke arah meja yang baru saja James bawa masuk. Sial, apa mereka tidak punya kesempatan sama sekali untuk melarikan diri?