
Anna tampak gelisah di tempat persembunyiannya. Sungguh dia ingin tahu siapa yang membuat kekacauan di luar sana. Dia yakin pasti bukan Harry, pria itu tidak mungkin bisa membuat kekacauan seperti itu hanya untuk membawanya pergi tapi bukan berarti dia sedang meremehkan Harry.
Anna terlihat berpikir, entah kenapa dia jadi teringat dengan adik Harry dan juga istrinya. Tidak saja mengingat mereka, dia juga teringat dengan keluarga Ainsley yang dia kunjungi saat itu. Pesan sang ayah teringat, dia jadi ingin tahu apa benar tebakannya benar atau tidak. Jika benar maka tidak heran Harry yang berada di luar dan membuat keributan.
Anna mendekati ayahnya, walau kesal dengan sang ayah tapi dia ingin mencari tahu. Mungkin saja dia bisa menakuti sang ayah agar ayahnya tidak lagi mendukung Marco.
"Dad, bukankah dulu kau berkata padaku untuk tidak menyinggung sekelompok orang di kota ini?"
"Ya, memangnya ada apa?" tanya ayahnya sambil menatap putrinya dengan heran.
"Siapa mereka, Dad?"
"Untuk apa kau bertanya mengenai hal ini?"
"Jawab saja!" ucap Anna kesal.
"Bukan sekelompok," ucap ayahnya. Entah apa alasan putrinya menanyakan hal demikian tapi dia akan menjawab.'
"Lalu?" Anna semakin ingin tahu.
"Tapi satu keluarga! Jangan sampai menyinggung dan membuatnya marah jika tidak kau akan berakhir di tangannya!"
"Oh, ya? Apakah mereka bermarga, Smith?" tanya Anna.
Ayahnya terkejut, bagaimana Anna bisa tahu? Jangan katakan yang ada di luar sana adalah salah satu dari mereka. Jika benar maka habislah mereka.
"Kenapa kau bisa tahu?" tanya ayahnya dan dia punya firasat tidak baik.
"Selamat, Dad. Sebentar lagi kau akan kehilangan jabatanmu!" ucap Anna seraya menepuk bahu ayahnya. Dia melakukan hal itu hanya untuk menakuti ayahnya saja.
"Anna, apa maksudmu?"
Anna tidak menjawab, biarkan saja ayahnya ketakutan. Ayahnya memang harus mendapat shock terapi. Dia harap Harry baik-baik saja jika memang dia yang ada di luar tapi di luar sana, Marco masih mencoba menembak Harry yang masih bersembunyi dengan kemarahan di hati sedangkan penembak jitunya berusaha membidik kepala Harry.
"Keluar kau, aku akan melubangi kepalamu!" teriak Marco.
Dia berjalan semakin dekat, senjata api kembali di kokang. Sang penembak jitu sudah siap menembak karena target sudah terkunci. Tidak ada yang tahu si penembak jitu itu, Marco menembakkan senjata apinya lagi ke arah Harry karena dia juga tidak tahu jika anak buahnya sudah akan menembak jadi ketika dia menembak, dalam waktu yang bersamaan sang penembak jitu juga menembakkan senjata apinya. Harry terkejut karena tembakan yang diberikan Marco, refleks Harry menunduk dan pada saat itu peluru yang di tembakan oleh anak buah Marco meleset melewati kepala Harry.
Harry kembali terkejut, kini dia tidak berani bergerak. Marco kembali berteriak, sang penembak jitu mengumpat karena peluru meleset dan rencananya gagal akibat ulah bosnya. Marco masih terus menembak tanpa tahu jika dia juga sedang dibidik oleh Damian. Selama Marco menargetkan Harry saja, itu menjadi kesempatan untuk Damian. Damian dan anak buah lainnya merangkak dengan perlahan layaknya tentara di medan peran, dia meminta Harry untuk tetap diam di tempat persembunyian karena dia adalah target yang diincar.
Damian terus merangkak sambil bersembunyi sampai akhirnya dia bisa melihat keberadaan Marco dari balik persembunyiaannya. Senjata laras panjang sudah terangkat, target Damian adalah tangan Marco yang memegangi senjata. Anak buah yang tidak jauh darinya menunggu aba-aba, mereka akan menebak saat Damian menembak targetnya.
"Keluar kau Harry, hari ini aku akan memperlihatkan mayatmu pada Anna karena kau sudah berani menghancurkan pernikahanku dengannya!"
Harry menelan ludah dengan keringat yang mengalir, dua senjata api sudah dia pegang dengan erat. Dia jadi tidak berani bergerak karena dia tahu ada seorang penembak sedang mengincarnya. Langkah kaki Marco yang terdengar mendekat membuat jantungnya berdegup kencang. Dalam situasi seperti ini dia harap tidak mengompol di celana.
Marco masih juga berteriak, dia lupa selain Harry dia harus waspada dengan yang lainnya. Akibat kebencian yang memenuhi hati membuatnya tidak memikirkan sekitarnya tapi para anak buahnya tampak waspada. Senjata api kembali di kokang, kali ini dia akan menghancurkan tempat persembunyian Harry. Marco sudah siap menembak tapi pada saat itu terdengar suara letusan senjata api yang keras.
Harry terkejut dan menunduk karena dia pikir Marco kembali menembak tapi tidak lama kemudian terdengar suara teriakan Marco karena saat itu sebuah lubang besar berada di tangannya dan lubang itu dibuat oleh peluru dari senjata api yang di tembakan oleh Damian.
Begitu Damian menembak, otomatis para anak buah Damian juga menembak. Mereka masih dalam posisi tiarap saat menembaki musuh. Para anak buah Marco mulai panik, sang penembak jitu yang ada di dalam berusaha membidik untuk mencari target tapi dia tidak melihat siapa pun.
Para anak buahnya menembak sana sini dan semakin panik, sedangkan Damian dan anak buahnya kembali menembaki mereka. Letusan senjata api terus terdengar, apalagi suara senjata api yang ada di tangan Damian begitu nyaring terdengar dan anak buah Marco yang terkena senjata api itu akan langsung mati dengan sebuah lubang besar di tubuh mereka.
Marco mulai panik, semua anak buahnya sudah hampir tumbang. Tidak ada yang menembak dirinya setelah dia mendapat sebuah lubang besar di tangan karena Damian memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi anak buah Marco saja.
Harry juga membantu setelah tahu situasi sudah aman. Dia keluar dari persembunyian untuk menembaki anak buah Marco tapi itu adalah tindakan paling bodoh yang dia lakukan karena si penembak jitu bisa melihatnya dengan jelas. Kini target sudah terkunci, kali ini pasti tidak akan gagal apalagi si bos tidak akan mengganggu.
Damian dan para anak buahnya sudah keluar dari persembunyian, mereka mendekati Marco dengan senjata api yang mengarah ke arahnya. Anak buah Marco sudah tidak bersisa kecuali si penembak jitu. Harry juga melangkah mendekati adiknya, rasanya ingin berteriak karena tiba-tiba saja dia di ajak ke medan perang dengan tidak ada pengalaman sama sekali.
Harry mendekati Damian, kepalanya sudah terbidik tapi karena dia bergerak, si penembak sedikit kesulitan mengunci target. Harry berhenti tidak jauh dari adiknya, yeah, ini waktunya. Tanpa membuang waktu, pelatuk senjata api ditekan, peluru melesat dengan kecepatan tinggi ke arah kepala Harry. Peluru itu pasti akan membunuhnya dan kali ini tidak akan ada keajaiban lagi untuk pria itu untuk lolos dari peluru.
Peluru sudah semakin dekat, sebentar lagi sebuah lubang akan berada di kepala Harry. Si penembak melihat target dari persembunyian, dia harap peluru mengenai tepat sasaran tapi sayangnya, Harry kembali melangkah karena Damian memanggilnya.
Peluru kembali meleset melewati bagian belakang Harry, si penembak kembali mengumpat. Harry terkejut, begitu juga Damian. Ternyata masih ada yang lain. Dengan menggunakan isyarat jari, Damian memerintahkan sebagian anak buahnya untuk berpencar dan mencari keberadaan si penembak itu. Melihat situasi yang sulit, si penembak pun memutuskan untuk melarikan diri dari sana.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Damian pada kakaknya.
"Tentu, setidaknya aku tidak pingsan atau mengompol di celana!" ucap Harry.
Damian terkekeh, sepertinya kakaknya mengalami sedikit shcok. Mereka menghampiri Marco yang saat itu sudah di tahan oleh anak buah Damian dan tentunya dia tampak tidak berdaya karena sudah kalah. Damian meletakkan senjata apinya di atas kepala Marco dan menginjak bahu pria itu, dia akan melubangi kepalanya tapi Harry melarangnya melakukan hal itu.
"Jangan bunuh dia, Damian," ucap Harry.
"Kau yakin?" tanya Damian memastikan.
"Ya, dia teman Anna. Tidak baik membunuhnya begitu saja."
"Baiklah jika itu maumu!" ucap Damian seraya menarik senjata apinya.
Marco benar-benar kesal, dia tidak menyangka Harry mendapat bantuan untuk membawa Anna tapi dia tidak akan tinggal diam untuk hal ini. Tanpa ada yang tahu, Marco menarik sebuah pisau secara diam-diam. Matanya menatap ke arah Damian yang sudah berani membantu Harry sehingga rencananya gagal.
Dia melihat situasi dan ketika anak buah Damian lengah, Marco berlari ke arah Damian sambil berteriak, "Akan aku bunuh kau!" sontak teriaknya membuat mereka terkejut, Marco sudah dekat, pisau juga di ayun. Harry kaget karena Marco hendak menusuk adiknya. Refleks dia menarik senjata api yang sudah dia simpan dan menembakkan kaki Marco.
Marco berteriak tapi pisau yang sudah terayun menggores lengan Damian yang bisa menghindari pisaunya agar tidak mengenai bagian vital. Harry terlihat marah, entah dapat keberanian dan skil dari mana, dia menembaki kaki Marco sampai peluru yang ada di dalam pistol abis.
Harry terengah, pistol jatuh dari tangan. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang telah dia lakukan. Marco meringis kesakitan, kakinya sudah tidak bisa bergerak akibat banyaknya timah panas yang bersarang di sana.
"Sialan kau, sialan!" teriak Marco karena dia sudah kalah telak.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Harry seraya mendekati adiknya.
"Hanya luka gores, tidak perlu khawatir."
"Sialan, seharusnya aku membiarkan kau melubangi kepalanya saja!" ucap Harry dengan emosi tinggi.
"Sudahlah, ayo cari pacarmu!" Damian menepuk bahu sang kakak.
Harry mengangguk, Marco kembali diamankan dan kali ini semua senjata yang ada padanya di lucuti. Mereka pikir sudah berakhir tapi sayangnya, anak buah Damian keluar dari rumah dan tampak waspada karena saat itu, si penembak jitu sedang menyandera Anna supaya dia bisa pergi dari sana dalam keadaan hidup.
Harry mengumpat melihat, ternyata belum selesai sedangkan Marco tampak senang. Jika dia mati, maka Anna harus menemaninya mati.