
Setelah kepergian Harry, Damian dan Ainsley pergi ke restoran untuk makan siang. Damian mengajak Ainsley ke sebuah restoran yang berada di pinggir pantai. Sebuah ruang privat yang menghadap laut sudah dia pesan sebelum dia datang menjemput Ainsley.
Dia ingin mereka menikmati setiap waktu yang mereka lalui berdua tanpa gangguan karena baginya kebersamaan mereka sangatlah spesial.
Ainsley sedang memandangi laut saat Damian berbicara dengan anak buah yang di utus untuk mencari kekasih Mayumi di Jepang. Tiga anak buah dia utus dan mereka baru tiba di bandar udara international Tokyo.
"Bergeraklah dengan hati-hati," Damian memberi peringatan kepada anak buahnya. Dia tidak mau mereka tertangkap dan mati di sana.
Mata Damian melirik ke arah Ainsley sesekali saat berbicara dengan anak buahnya. Ainsley terlihat menikmati angin yang berhembus sambil memejamkan mata. Rambutnya sedikit berantakan karena di tiup angin, rasanya sudah tidak sabar untuk bergabung bersama dengan Ainsley dan memeluknya.
"Terus beri aku informasi, aku tidak ingin kalian mati di sana dan menyamarlah selama kalian berada di sana!" ucap Damian lagi.
"Baik, Bos!" jawab salah satu anak buah yang sedang berbicara dengannya.
"Jika aku sudah mendapatkan lokasinya aku akan mengabari kalian agar kalian bisa menemukannya dengan cepat."
Sang anak buah kembali menjawab, mereka masih berbincang sejenak, membicarakan rencana yang harus anak buahnya lakukan selama di Jepang dan setelah selesai, Damian menghampiri Ainsley dan memeluknya dari belakang.
"Maaf membuatmu menunggu, Ainsley," ucapnya seraya mencium pipi Ainsley.
"Tidak apa-apa, apa sudah selesai?" Ainsley bersandar di bahu Damian dan memeluk lengannya yang sedang melingkar di tubuhnya.
"Yeah, kau tidak marah, bukan?"
"Tentu saja tidak, bagaimana dengan keadaan Mayumi? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik, tapi dari pada bahas Mayumi, bagaimana jika kita bahas soal Harry?" Jujur dia sangat ingin tahu tentang pria ini.
"Hei, untuk apa membahasnya?!" Ainsley terlihat tidak senang. Mendengar nama Harry saja sudah membuatnya muak apalagi membicarakan pria itu.
"Kau terlihat begitu membencinya?"
"Tentu saja Dam-Dam, dia selalu mengganggu aku tiada henti. Bagaimana mungkin aku tidak membencinya?"
"Jadi?" Damian memutar tubuh Ainsley dan menggendongnya.
"Apa kau tidak mau mengatakan padaku tentang pria itu? Kau mau bukan menceritakan padaku bagaimana kalian bisa bertemu dan kenapa dia mengejarmu tanpa henti?"
Ainsley tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di atas bahu Damian. Sebenarnya dia malas membahasnya tapi karena Damian ingin tahu jadi dia tidak akan keberatan.
"Tergantung bayaranmu, Tuan Maxton," godanya.
"Akan langsung aku bayar, Sweetheart!" Damian mendekatkan bibir mereka dan mencium bibir Ainsley sebagai bayaran yang dia maksud.
"Apa itu panggilan sayang untukku?" tanya Ainsley dengan wajah merona ketika Damian sudah melepaskan bibirnya.
"Kau tidak keberatan, bukan? Atau kau ingin aku memanggilmu Ainsley Chan."
"Ck, tidak mau!" tolak Ainsley.
"Kenapa, hm?"
"Panggilan itu tidak cocok untukku, aku lebih suka sweetheart."
"Seperti keinginanmu, Sweetheart."
"Tapi Tuan Max, bayarannya kurang!" ucap Ainsley seraya memainkan jari jemarinya di bibir Damian.
"Akan kau dapatkan lagi!" Damian menurunkan Ainsley dari gendongannya dan mencium bibirnya kembali. Ainsley memeluk leher Damian dengan erat, sepertinya ciuman adalah kegiatan yang akan sering mereka lakukan. Jantung Ainsley berdegup dan wajahnya tiba-tiba memerah, apakah setelah ciuman hubungan mereka akan melangkah lebih jauh?
Jantungnya semakin berdegup dengan kencang, apa mereka akan melakukannya nanti?
Damian melepaskan bibir Ainsley dan memandanginya dengan tatapan heran karena dia merasakan degupan jantung Ainsley yang semakin cepat bahkan wajah Ainsley terlihat memerah.
"Ada apa? Apa kau tidak enak badan?"
"Hm, ti-tidak ada apa-apa," jawab Ainsley. Menyebalkan, apa sih yang dia pikirkan?
"Sudah cukup belum bayarannya?" tanya Damian seraya mengusap wajah Ainsley.
"Memangnya kau mau membayar lebih?" tanya Ainlsey pula.
"Jika kau mau, maka aku tidak keberatan!"
Wajah Ainsley semakin memerah, apa dia akan keberatan saat Damian meminta hal itu?
"Makan, aku sudah lapar!" ucap Ainsley mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, setelah makan jangan lupa kau harus bercerita karena aku sudah membayar."
"Tenang saja Tuan Max, tapi kau harus membayar lebih jika aku minta!"
Mereka memesan banyak makanan laut, karena Damian besar di Jepang jadi dia suka dengan makanan laut, sedangkan Ainsley tidak begitu suka. Dia bahkan enggan menyentuh ikan yang ada di atas meja dan hanya menikmati salad udang saja.
Damian memperhatikannya sedari tadi, apa Ainsley tidak suka makanannya?
"Ainsley, apa kau tidak suka makanan laut?"
"Bukan begitu," jawab Ainsley sambil berusaha tersenyum.
"Lalu? Kenapa kau tidak menyentuh ikannya?"
"Aku malas makan ikan, aku malas menyingkirkan durinya!"
"Kenapa tidak bilang dari tadi!" Damian mengambil sumpitnya dan menjepitkan daging ikan untuk Ainsley.
"Makan ini, ikan lebih sehat dari pada ayam goreng dan burger!" ucapnya.
"Tapi ayam goreng lebih enak."
"Ya, sekarang buka mulutmu!"
Ainsley membuka mulutnya untuk menerima suapan demi suapan daging ikan yang dipilih oleh Damian dengan hati-hati. Entah sudah berapa kali Damian menyuapinya yang pasti makanan di atas meja sudah habis.
"Bagaimana, enak bukan?" tanya Damian seraya meletakkan sumpitnya.
"Hm," Ainsley mengangguk. Ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Jadi? Sudah siap bercerita?"
"Ya, walau sebenarnya aku malas membicarakannya!" jawab Aisley.
Damian mengajak Ainsley duduk di sebuah sofa panjang yang menghadap ke arah laut. Kursi itu memang disediakan untuk para pengunjung yang ingin menikmati matahari terbenam. Sebenarnya dia juga enggan menanyakan siapa Harry tapi dia ingin tahu, siapa pria itu? Entah kenapa ada sebuah perasaan aneh saat mereka saling menatap tadi.
"Dari mana aku harus memulai?" tanya Ainsley. Saat itu dia sedang berbaring di paha Damian sambil memandangi laut.
"Ceritakan dari mana kau bisa bertemu dengannya!" pinta Damian. Tangannya sedang memainkan rambut Ainsley dan matanya memandangi wajah cantik kekasihnya.
"Aku bertemu dengannya untuk membahas bisnis. Pertemuan pertama kami biasa saja tapi di pertemuan kedua kami Harry mulai menunjukkan ketertarikkannya padaku. Dia mengajak aku pergi berkencan waktu itu dan aku menyetujuinya tanpa pikir panjang."
"Wow, bagaimana kencan kalian berdua?" Damian jadi penasaran akan hal itu.
"Kami tidak jadi pergi kencan."
"Kenapa?"
"Aku membatalkannya karena saat itu Kak Marline sedang sakit. Dari sana aku tidak mau bertemu dengannya lagi tapi aku tidak menyangka, dia mengejar aku dengan gigih. Aku sudah berusaha menolak apalagi aku tahu dia sudah punya tunangan tapi dia tidak mau menyerah sampai sekarang."
"Apa dia mengejarmu demi suatu tujuan?"
"Entahlah, aku tidak peduli karena aku juga tidak tertarik dengannya tapi dia membuat aku dalam masalah. Tunangannya membenci aku dan menganggap aku merebut Harry darinya dan jika dia tidak berhenti juga, aku rasa sebentar lagi ibunya akan mencari aku dan memaki aku! Telur busuk waktu itu, telur itu aku dapatkan dari tunangannya yang cemburu."
"Tidak perlu khawatir, aku akan menjaga dan melindungimu. Mereka yang melemparmu juga sudah mendapat ganjarannya!" Damian menunduk dan mencium dahi Ainsley.
"Benarkah?" Ainsley memandangi Damian dengan penuh selidik, apa Damian telah melakukan sesuatu?
"Hm," Damian kembali mencium dahi Ainsley.
Orang-orang yang menembak Shelly dengan telur busuk waktu itu memang anak buah yang dia perintahkan untuk membalas perbuatan Shelly. Dia tidak akan membiarkan Ainsley dipermalukan, walau dia tahu keluarga Ainsley bisa membalasnya tapi dia ingin menjaga dan melindungi Ainsley.
"Jadi, siapa namanya?" tanya Damian.
"Harry Windstond," jawab Ainsley. Dia jadi heran, kenapa Damian menanyakan pria itu?
"Damian, apa kau tidak merasa aneh?" Ainsley mengangkat tangannya untuk mengusap wajah Damian.
"Merasa aneh bagaimana?"
"Wajah kalian sedikit mirip dan aku merasa kalian seperti kakak adik."
"Ck, mirip belum berarti bersaudara!"
"kau benar."
Damian kembali menunduk dan mengecup bibir Ainsley dengan mesra, "Bonus untukmu," godanya.
"Kurang!"
Mereka kembali berciuman dengan mesra tapi satu hal sudah Damian dapatkan, Harry Windston, akan dia ingat nama ini. Jika dia tidak keterlaluan mengganggu Ainsley maka dia akan memberikan peringatan ringan tapi jika Harry tidak juga berhenti mengganggu Ainsley, maka dia akan mendatangi pria itu tanpa ragu karena dia tidak suka ada yang mengganggu miliknya.