Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Malam Panjang Yang Melelahkan!



Michael semakin fokus, jarak antara kawat dan lempengan besi semakin dekat. Dia hanya punya satu kesempatan, jika gagal maka semua akan mati karena daya ledak bom yang lumayan dahsyat.


Dalam hitungan ketiga, Michael siap menjatuhkan potongan kawatnya tapi sayangnya pada saat itu Katsuo keluar dari persembunyiannya sambil berteriak.


"Mati kalian semua!"


Mereka terkejut dan tanpa membuang waktu, Katsuo menekan tombol pemicu bom sambil tertawa terbahak-bahak. James dan Marline berpaling dengan cepat, melihat ke arah bom. Mata mereka bahkan melotot, begitu juga dengan Vivian.


Mereka takut Michael gagal tapi suasana hening. Katsuo sangat kesal dan menekan pemicu kembali tapi bom itu tidak meledak karena kawat yang dijatuhkan oleh Michael tepat sasaran bersamaan dengan ketika Katsuo berteriak keluar. Potongan kawat yang dia jatuhkan menahan kedua lempengan besi itu agar tidak bisa saling bersentuhan.


"Sialan, kenapa tidak meledak?!" Katsuo mengumpat marah dan kembali menekan pemicu tapi pada saat itu, Marline menembakkan senjata apinya. Sebuah peluru kembali membuat sebuah lubang di tangan katsuo sehingga pemicu bom kembali terpental.


Pria itu berteriak, James memberikan sebuah tembakan di kaki Katsuo tanpa membuang waktu dan setelah itu, dia menghampiri Katsuo dan memukul kepalanya dengan keras sampai pria itu pingsan.


Vivian mengambil napas yang sudah dia tahan sejak tadi. Benar-benar situasi yang menegangkan. Seharusnya dia ke kapal yang satunya saja, di sana pasti akan lebih mudah karena tidak ada sandera tapi ini adalah tantangan yang dia suka dan entah kapan dia akan beraksi lagi.


"Bantu aku melepaskan bom ini Kakak ipar, kita hanya punya waktu lima menit karena bom ini akan meledak!" pinta Michael.


Mereka bergerak cepat, membuka bom yang ada di tubuh Mayumi dengan hati-hati. Beberapa kabel kembali Michael potong, itu dilakukan agar mereka bisa melepas bom itu dari tubuh Mayumi dan akibatnya waktu yang mereka punya semakin tidak banyak. Mereka mengangkat bom itu dengan hati-hati dan meletakkannya ke atas lantai dengan hati-hati pula.


"Ayo kita segera keluar, bom ini akan segera meledak!" ucap Michael.


James bergerak cepat, membawa Mayumi dan menggendongnya di atas bahu, sedangkan Katsuo di bawa oleh anak buah yang lain. Mereka berlari keluar dari ruangan, mereka harus menjauhi ruangan itu sejauh mungkin.


Mereka sudah melewati dua ruangan dan pada saat itu, DUUUAAARRRR....!!! Bom meledak dengan dahsyat, menghancurkan ruangan itu dan tidak hanya itu saja, dua ruangan yang telah mereka lalui ikut meledak. Mereka semua bahkan terpental akibat gelombang ledakan yang dahsyat. Itu sebabnya Matthew tidak bisa berkomunikasi dengan mereka akibat ledakan yang terjadi.


Sebagian kapal hancur dan terbakar akibat ledakan itu, puing bangunan terus berjatuhan. Matthew terus memanggil mereka, dia bahkan memanggil adiknya tapi tidak ada yang menjawab. Matthew jadi khawatir, seharusnya dia yang pergi menyelamatkan sandera.


Dia harap istrinya baik-baik saja, begitu juga dengan yang lain. Dia segera mengajak adiknya dan Damian untuk keluar dari kapal itu karena dia mengkhawatirkan yang lain.


"Babe, apa yang terjadi?" Matthew masih berusaha mencari tahu tapi tidak ada jawaban.


"Mich, apa kau mendengarku?" kini dia bertanya pada adiknya.


"Ada apa, Kak?" tany Ainsley.


"Entahlah, kita harus segera melihat apa yang  terjadi dengan mereka!" Mereka berlari dengan cepat, dengan harapan tidak terjadi apa pun.


Sementara itu, Michael dan yang lain membentur dinding akibat terkena gelombang ledakan yang dahsyat. Ringisan terdengar dari mereka dan mereka berusaha bangkit berdiri sambil memegangi bagian tubuh mereka yang sakit.


"Guys, are you oke?" tanya Vivian.


"Yes,!" jawab Marline, begitu juga yang lain.


"Sial! Jika dia dalam keadaan sadar sudah aku pukul dia sampai babak belur!" ucap Vivian sambil melihat ke arah Mayumi yang saat itu sudah hampir kehabisan darah.


"Kau bisa melakukan hal itu nanti, Kakak Ipar. Tapi jika kita tidak bergegas maka dia akan mati!" ucap Matthew.


"Cih, gadis menyusahkan!" umpat Vivian. Rasanya sangat ingin memukulnya, kakaknya begitu baik tapi gadis itu justru mengkhianati persahabatan mereka dan mengacaukan malam pernikahan mereka. Semoga setelah ini kakaknya tidak menaruh simpati lagi pada gadis itu.


Mereka kembali bergerak, keluar dari kapal itu. Matthew sungguh mengkhawatirkan mereka apalagi helikopter yang dinaiki oleh adiknya mendarat di dek kapal.


Ainsley juga terlihat cemas, mata mereka tidak lepas dari beberapa orang yang menghampiri helikopter. Semoga saja itu Michael dan yang lain. Jarak kapal yang cukup jauh dan laut yang gelap, membuat mereka tidak bisa melihat orang-orang itu dengan jelas.


"Kak Matth, apa kalian sudah selesai?" tanya Michael.


Matthew tampak lega begitu mendengar suara adiknya, dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan mereka.


"Bagaimana dengan keadaan kalian?" tanya Matthew.


"Kami baik-baik saja, hanya luka ringan akibat ledakan. Sandera juga sudah kami dapatkan, Kakak tidak perlu khawatir."


"Aku senang mendengarnya, segera jemput kami dan kita pergi dari sini!"


Setelah berbicara dengan kakaknya, Michael memerintahkan James dan anak buahnya membawa Katsuo dengan yang lain menggunakan kapal dan mereka akan di bawa ke markas, begitu juga yang Matthew lakukan. Mereka akan segera kembali ke rumah tapi sayangnya, sesuai dengan perkataan Ainsley, malam pernikahan mereka masih panjang.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Helikopter sudah mendarat untuk menjemput mereka. Mereka terlihat senang karena semua baik-baik saja. Malam panjang yang melelahkan, tapi mereka berhasil menyelamatkan sandera dan yang pasti, Damian dan Ainsley sudah menepati janji mereka pada Mayumi bahwa  mereka akan membantu gadis itu.


"Bagaimana denganmu Ainsley, apa kau sudah bersenang-senang?" tanya Michael.


"Tentu saja, Kak," jawab Ainsley tapi masih ada satu permasalahan yang harus mereka selesaikan.


"Jika begitu ayo kita pergi, mereka harus segera dibawa ke rumah sakit!" ucap Matthew karena Mayumi dan Ken memang bersama dengan mereka saat itu dan mereka sedang ditangani oleh anak buahnya.


Helikopter sudah mulai terbang naik, Damian merangkul bahu istrinya. Setelah ini dia akan membawa istrinya pulang tapi sayangnya, mereka masih belum bisa menikmati malam pernikahan mereka


Helikopter sudah menjauh dari kapal dan pada saat itu, James yang berada di kapal mendapatkan perintah.


"Sekarang James, hancurkan!"


Tanpa membuang waktu, James menekan pemicu bom dan tidak lama kemudian, Duuuaaarrr!!! Dua ledakan dahsyat terjadi, helikopter bahkan berguncang akibat ledakan  itu.


Kedua kapal hancur akibat ledakan dari bom yang mereka letakkan. Api membumbung tinggi akibat ledakan, kapal terbakar dan hancur berantakan. Matthew dan Michael melihat kapal itu dan tampak puas, uji coba bom yang baru saja mereka ciptakan berhasil.


"Patrik pasti akan sibuk malam ini," ucap Vivian sambil menghela napas.


"Tidak perlu khawatir, kedua kapal itu akan segera tenggelam," ucap Matthew.


Vivian dan Marline menggeleng, mainan mereka sungguh mengerikan. Helikopter terbang pergi menuju rumah sakit karena Mayumi dan Ken akan mati jika mereka tidak bergegas.


"Dam-Dam, setelah ini kita harus pergi lagi," ucap Ainsley,


"Ke mana?" tanya Damian tidak mengerti.


"Aku lupa mengatakannya padamu, Dam-Dam. Keluarga ayahmu sedang disandera saat ini."


"What?" Damian tampak tidak percaya.


"Sorry, seharusnya aku mengatakan hal ini padamu tadi."


"Tidak apa-apa," jawab Damian. Tapi kenapa keluarga Windstond bisa terlibat? Haruskah dia pergi menyelamatkan orang-orang yang tidak pernah menginginkan dirinya?


Dia ingin menutup mata dan tidak peduli tapi dia tidak bisa. Damian mengusap wajah, sial! Ternyata dia belum bisa menikmati malam pernikahan mereka dan harus kembali berperang.