Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Princess Smith In Action



Ainsley keluar dari ruangan sambil mengendap. Pisau sudah terangkat di tangan, matanya tampak waspada melihat sekitarnya. Dia akan menghabisi setiap musuh yang terlihat tapi dia harus waspada karena dia tidak tahu berapa jumlah musuh yang ada di kapal itu.


Gadis itu mengintip dari balik dinding, untuk melihat musuh. Karena situasi aman, dia kembali melangkah mendekati sebuah ruangan yang tidak jauh darinya. Ainsley mengendap dengan perlahan, mendekati pintu. Dia berdiri di balik pintu, dan mengintip ke dalam ruangan dari kaca yang ada di pintu.


Di dalam sana, ada tiga anak buah akira. Mereka sedang bermain judi sambil menikmati sake yang mereka bawa. Mata Ainsley melihat ruangan itu dengan teliti, senyum menghiasai wajah ketika melihat senjata api ketiga musuh yang ada di atas meja. Sepertinya sebentar lagi dia akan berpesta.


Tanpa membuang waktu, gagang pisau di ketukan di daun pintu. Suara ketukan yang dia buat, menarik perhatian tiga orang yang ada di dalam sana.


"Siapa?" seseorang dari mereka bertanya sambil berteriak.


Ainsley diam saja, dia kembali mengetukan gagang pisaunya karena dia ingin mereka keluar dari ruangan itu. Anak buah Akira kembali berteriak tapi lagi-lagi tidak ada yang menjawab.


"Pergi, lihat siapa yang ada di luar!" salah satu dari mereka memberi perintah.


"Awas jika kalian curang!" salah satu dari mereka mengambil pistol dan setelah itu, dia melangkah keluar.


Ainsley bersiap dengan pisau di tangan, apalagi suara langkah kaki semakin mendekati pintu. Gadis itu sudah berada di posisi, sedangkan anak buah Akira membuka pintu tanpa curiga.


Pria itu melangkah keluar tapi tiba-tiba saja, CRAAAASSHHH...! Lehernya sudah di tebas oleh pisau sebelum dia melihat siapa yang ada di luar sana.


Pria itu terkejut sambil memegangi lehernya yang terus mengeluarkan darah, dia bahkan jatuh terduduk dan tidak lama kemudian tubuhnya ambruk ke atas lantai. Suara tubuhnya yang jatuh, menarik perhatian kedua orang yang masih ada di dalam sana.


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya mereka.


Ainsley hendak mengambil senjata musuh tapi niatnya terhenti karena dua musuh yang ada di dalam sana sudah mengambil senjata api mereka karena mereka merasa ada yang tidak beres.


Mau tidak mau, dia menarik mayat musuh dengan susah payah agar kedua musuh di dalam tidak langsung melihat mayat itu begitu mereka keluar. Mayat ditarik ke samping dan setelah itu, Ainsley kembali berdiri di balik pintu dengan cepat sebelum kedua orang keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Hei, apa yang terjadi?" mereka kembali bertanya dan terlihat waspada.


Ainsley juga waspada, pisau yang sudah berlumuran darah kembali diangkat. Dia harus menghabisi mereka berdua sekaligus agar tidak menarik perhatian yang lain begitu cepat sebelum dia mendapatkan senjata api agar dia bisa melawan, sepertinya dia harus langsung menantang musuh.


Kini dia berdiri di depan pintu, siap menghadapi musuh. Pisaunya disembunyikan di belakang, agar musuh tidak melihatnya.


Pintu terbuka, Ainsley tersenyum dengan manis saat anak buah Akira muncul dari balik daun pintu.


"Bagaimana kau bisa keluar?" tanya salah satu musuh tanpa menaruh curiga sama sekali pada gadis cantik itu tapi sayangnya tiba-tiba saja, Ainsley menyabetkan pisaunya ke arah leher lawan sebelum mereka melihat darah di lantai.


Pria itu terkejut, begitu juga dengan rekannya yang berdiri di belakang. Musuh yang sudah terluka jatuh, sedangkan yang lain mengangkat senjata apinya.


"Kurang ajar, akan aku bunuh kau!" teriaknya. Senjata sudah hendak ditembakan tapi Ainsley lebih cepat darinya, gadis itu berputar dan menebaskan lehernya ke leher musuh.


Ainsley berlutut di atas lantai dengan pisau berlumuran darah, sedangkan musuh jatuh sambil memegangi lehernya yang berdarah.


"Jika ingin membunuh musuh, langsung bunuh tanpa perlu banyak bicara!" ucap Ainsley. Matanya menatap tajam lurus ke depan.


Ketiga anak buah Akira bersimbah darah di atas lantai, Ainsley terlihat puas saat melangkah melewati mayat mereka. Ainsley mengambil senjata yang mereka punya. Dia akan mencari pria yang telah menatapnya dengan tatapan mesum dan menyentuhnya karena tangan dan bola mata pria itu adalah miliknya.


Dia kembali mengendap, mendekati ruangan lain. Ainsley kembali mengintip, untuk melihat musuh tapi kini bukan pisau lagi senjatanya karena dua senjata laras panjang sudah berada di tangan.


Matanya melihat ke dalam ruangan, dia harus mencari cara agar dia bisa menyelamatkan Mayumi.  Bagaimanapun dia sudah berjanji jadi dia akan menepati janjinya.


Sepertinya dia harus mencari sekoci penyelamat agar dia bisa pergi dari kapal itu untuk menyelamatkan Mayumi tapi sebelum itu dia harus mendapatkan tangan dan bola mata yang dia inginkan terlebih dahulu.


Karena ruangan yang dia intai sepi, Ainsley kembali melangkah dengan dua senjata api yang diletakkan di atas bahu. Tidak ada rasa takut sedikitpun bahkan ketika anak buah Akira menyergapnya dari belakang, Ainsley hanya diam dan berhenti di tempat.


"Siapa kau? Apa yang kau lakukan?" empat anak buah Akira menghampiri Ainsley dari belakang dengan senjata mereka yang sudah mengarah ke arah Ainsley.


"Turunkan senjatamu dan angkat tangan!" pinta salah satu dari mereka.


Ainsley tersenyum, tapi dia tidak juga bergeming sehingga musuh menghentikan langkah dan mengangkat senjata api mereka, siap menembaki Ainsley.


"Buang senjata itu dan angkat tangan!" teriak salah satu dari mereka.


"Sudah aku katakan," Ainsley tidak melepaskan senjata apinya.


"Bunuh musuhmu tanpa banyak bicara!" gadis itu mengangkat senjata apinya, dia hendak berbalik tapi keempat anak buah akira sudah menghujaninya dengan timah panas.


Ainsley berlari, dia bahkan berguling ke atas lantai untuk menghindari peluru yang ditembakkan ke arahnya. Keempat musuh terus menembaki gadis itu, suara tembakan menarik perhatian musuh yang lain.


"Apa yang terjadi?" tanya Akira yang saat itu berada di dalam ruangannya.


"Kami akan pergi melihatnya," jawab sang anak buah.


Mereka bergerak, menuju tempat di mana baku tembak sedang terjadi. Di luar sana, kapal yang membawa Matthew dan Damian sudah tiba, mereka juga sedang menaiki kapal musuh menggunakan tali yang mereka tembakan ke kapal.


"Sepertinya dia sangat tidak sabar," ucap Matthew.


Damian tidak menjawab karena dia mengkhawatirkan istrinya yang saat itu tanpa dia tahu, sedang bersenang-senang.


Mereka sudah naik ke atas kapal dan mengambil senjata api mereka.


"Aku pergi ke ruang control dan kau cari Ainsley," ucap Matthew.


"Aku pasti menemukannya," jawab Damian.


"Kita bertemu lagi di sini setelah selesai!"


Damian mengangguk, dan setelah itu mereka bergerak berpisah, menyerang dan menembaki anak buah musuh yang ada di atas dek kapal. Keributan yang mereka buat membuat anak buah Akira panik karena mereka dapat serangan dari luar dan dalam. Tidak saja mereka, Marline dan Vivian juga sudah mulai bergerak di kapal yang lain.


"Bos, kita diserang!" salah satu anak buah Akira masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru.


"Sial, siapa yang melakukannya?" teriak Akira marah.


"Gadis yang kau sandera, dia membunuh beberapa anak buah yang ada di dalam."


"Apa?" Akira terkejut. Bagaimana mungkin?


Suara tembakan terus terdengar, para anak buahnya sibuk menembaki Ainsley yang terus bergerak dengan lincah.


"Ha ... Ha ... Ha ... Ha!" Ainsley tertawa saat menghujani musuh dengan timah panas. Ups, mumpung tidak ada yang melihat sisi gilanya, lanjutkan saja.


Dia terus melangkah maju, menembaki musuh yang ada di depan dan belakang.


Dua senjata api yang ada di tangan, terus mengeluarkan timah panas. Ainsley melangkah maju, tidak memberikan kesempatan musuh untuk menembak tapi sialnya, kesenangannya selesai karena peluru senapannya habis.


"Sial!" Ainsley mengumpat seraya melempar senjata apinya.


Melihat gadis itu tidak memiliki senjata api lagi, kini anak buah Akira menghujani dengan timah panas. Ainsley berlari menuju sebuah ruangan untuk menghindari peluru yang terus menghujaninya.


Anak buah Akira bergerak maju, mengepung ruangan itu. Ainsley mengumpat, kini senjatanya hanya pisau saja.