Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Gadis Yang Pura-Pura Buta



Harry berada di sebuah cafe saat itu karena dia sedang menunggu klien untuk membahas bisnis bersama. Setelah Sherly hilang entah ke mana, tidak ada lagi yang mengganggu harinya. Dia tidak peduli dengan wanita gila itu, dia bahkan tidak menanyakan keberadaannya pada Damian dan Ainsley. Dia menebak Sherly pasti sudah berada di dalam penjara saat ini.


Dia juga sudah bisa melupakan Ainsley dan menerimanya sebagai adik ipar. Lagi pula sejak awal dia mendekati gadis itu dengan tujuan tidak baik. Mungkin karena itulah dia tidak berjodoh dengan Ainsley. Tapi tidak masalah, ini akan menjadi pelajaran untuknya.


Sekarang hubungannya dengan Damian sudah terbilang baik, mereka bahkan sudah seperti saudara pada umunya. Mereka bahkan akan makan malam bersama nanti malam di rumahnya. Tentu Damian akan datang bersama dengan Jager Maxton juga istrinya.


Jager tidak menolak permintaan putranya, lagi pula dia niat mereka baik. Jika mereka hendak meminta maaf dengan bersungguh-sungguh, maka dia tidak akan menolak. Dua keluarga menjadi satu, lebih baik hal itu terjadi dari pada mereka bermusuhan hanya karena kesalahan satu orang di masa lalu. Lagi pula kesalahan yang diperbuat oleh orangtua, tidak pantas ditanggung oleh anaknya.


Sekarang Harry bisa menerima hal itu, dia juga sudah memaafkan perbuatan ayahnya. Tidak ada salahnya saling memaafkan, semua sudah jauh lebih baik saat ini.


Rekan kerja yang dia tunggu sudah datang, Harry tampak sibuk berbincang dengan si rekan bisnis. Dia tidak pernah menyadari jika seorang gadis melihatnya secara diam-diam dari jauh. Gadis itu sudah lama memperhatikan Harry, dia bahkan sudah bagaikan seorang stalker yang mengikuti sang idola.


Dia tidak peduli dengan julukan seperti itu karena yang terpenting, dia bisa melihat orang yang dia sukai. Cukup dengan melihat saja sudah membuatnya senang tapi sepertinya dia harus bertindak, dia sudah mengikuti pria itu begitu lama, jangan sampai dia tidak bisa mendekati pria yang dia sukai sama sekali.


Sepertinya dia harus membuat sebuah gebrakan. Sang gadis sudah bertekad, matanya tidak lepas dari sosok pujaan hati. Harry masih serius berbincang dengan si rekan bisnis, dia benar-benar tidak tahu jika ada yang memperhatikan dirinya.


Setelah selesai membahas pekerjaan dan rekan bisnisnya pergi, Harry kembali duduk. Dia bahkan mengambil ponselnya karena saat itu sang ibu menghubunginya.


"Ada apa, Mom?" tanya Harry sambil merapikan kertas-kertas yang masih berserakan dia atas meja.


"Adikmu sudah mau datang bersama keluarganya, jam berapa kau akan kembali?" tanya sang ibu.


Harry melihat jam sebentar lalu dia berkata, "Aku akan segera kembali tapi aku harus kembali ke kantor sebentar," dia kembali merapikan berkasnya.


"Segeralah bergegas, kita harus menyambut mereka dengan baik, bukan?"


"Oke, aku akan segera kembali setelah dari kantor."


Pembicaraan mereka berakhir, Harry merapikan berkasnya dengan terburu-buru. Setelah selesai, dia melangkah dengan cepat untuk keluar dari cafe itu tapi sayangnya, seorang gadis menabrak dirinya. Gadis itu berteriak karena dia terjatuh di atas lantai, begitu juga dengan Harry.


Harry sangat kesal dan marah, berkas yang sudah dia rapikan jadi berhamburan di atas lantai.


"Apa kau buta?!" teriak Harry marah.


"Ma-Maaf, Tuan. Aku memang buta," gadis itu meraba lantai, berusaha mencari tongkatnya.


Harry terpaku, sial. Ternyata gadis itu benar-benar buta. Bisa dia lihat dari kaca mata hitam yang dia gunakan, dia bahkan sudah memarahinya.


"Aku benar-benar minta maaf," gadis itu mulai mengumpulkan apa saja yang dia raba.


Harry menghembuskan napasnya, dia jadi merasa bersalah. Harry berjongkok dan memunguti kertas-kertas miliknya yang berantakan. Dia juga mengambilkan tongkat gadis itu dan memberikannya di tangan.


"Maaf, aku yang tidak melihat," ucapnya.


"Tidak, aku yang minta maaf karena telah menabrakmu," gadis itu masih meraba. Dia ingin mencari pegangan agar dia bisa berdiri.


Harry kembali menghembuskan napas, mau tidak mau dia membantu gadis itu. Yeah, lagi pula dia yang salah, seharusnya dia lebih berhati-hati lagi.


"Tidak perlu di pikirkan, aku yang salah," Harry kembali memungut kertasnya.


Semoga saja dia tidak terlambat, sebaiknya dia segera pulang saja. Dia akan meminta asisten pribadinya membawakan barang yang dia inginkan nanti.


Harry berlalu pergi, begitu juga dengan gadis buta itu. Gadis itu terlihat tersenyum, kesan pertama yang tidak akan dia lupakan. Lain kali dia akan menunggu pria itu lagi di sana, karena dia tahu Harry selalu menghabiskan waktunya di sana.


Kaca mata di buka, dia melangkah pergi dengan santai. Senyumnya masih tampak mekar tapi sayangnya, senyum itu hilang saat suara ponsel berbunyi. Dengan tidak niat, gadis yang pura-pura buta itu menjawab panggilan dari ayahnya.


"Anna, berhenti bermain-main dan pulang sekarang!" teriak ayahnya lantang.


"Aku tidak mau!" gadis yang dipanggil Anna berteriak, tidak mau kalah.


"Anna, jangan bermain-main. Kami sudah menyetujui pernikahan itu," kini sang ibu yang berbicara.


"Aku tidak sudi. Mom. Sudah aku katakan aku akan menemukan cintaku sendiri dan aku akan membawa calon suamiku pulang dan mengenalkan kalian padanya!"


"Ayolah, jangan seperti ini. Kami sudah tidak bisa membatalkan pernikahannya!" ucap sang ibu lagi.


"Aku tidak peduli, kalian yang memutuskan seenaknya. Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai jadi aku tidak akan pulang dan menikah dengan pria itu!"


"Jangan menguji kesabaranku, Anna!" teriak ayahnya marah. Istrinya berusaha menenangkan, sepertinya mereka tidak bisa memaksa Anna untuk kembali begitu saja. Sepertinya mereka harus membiarkan putri mereka melakukan apa yang dia mau. Saat waktu yang mereka berikan sudah habis, maka Anna harus kembali dan menerima apa pun yang sudah mereka putuskan.


"Baiklah, kami akan memberi kau waktu satu bulan," ucap sang ibu.


"Apa maksud Mommy?"


"Satu bulan, Sayang. Jika kau bisa membawa pria yang kau cintai pulang dalam waktu satu bulan maka kami akan membatalkan pernikahan itu."


"Uh, dua bulan, Mom," pinta Anna.


"Tidak ada tawar menawar! Satu bulan, jika tidak maka kau harus pulang dan menikah!" ucap ibunya kesal. Sudah diberi kesempatan tapi masih menawar.


"Baiklah, satu bulan. Aku pasti bisa membawa pria pujaan hatiku!" tantang Anna.


"Kami tunggu!" sang ibu mengakhiri pembicaraan mereka.


Satu bulan, dia yakin putri mereka tidak akan bisa membawa pria mana pun menjadi kekasihnya. Biarkan putri mereka berusaha, karena mereka yakin Anna tidak akan bisa.


Setelah berbicara dengan ibunya, Anna menyimpan ponsel-nya kembali ke dalam tas. Dia bahkan terlihat bersemangat. Dia tidak akan menyerah, walau waktu yang diberikan hanya satu bulan tapi dia rasa cukup untuk mendekati pria itu.


"Oke, Anna! Satu bulan, kau pasti bisa mendapatkan pria itu dan jika tidak, culik saja dan bawa dia pulang!" ucap gadis itu asal sambil melangkah pergi.


Dia yakin pasti bisa, pria itu akan dia dapatkan!