
Anna duduk di meja makan dan terlihat tersenyum. Matanya tidak lepas dari Harry yang sedang membuatkan makan malam untuk mereka. Dia jadi ingin tahu, apa Harry selalu melakukan hal ini?
Sesungguhnya Harry tidak mengijinkannya untuk duduk di sana, dia meminta Anna untuk berbaring tapi Anna bosan karena dia sudah lelah berbaring sedari tadi.
Mata Anna tidak lepas dari bokong Harry, astaga, semoga air liurnya tidak menetes. Anna memukul kepalanya, sial. Bagaimana cara menghilangkan pikiran cabulnya? Sepertinya dia benar-benar harus pergi betapa di gua. Mungkin otak kotornya akan bersih setelah terkena kotoran kelelawar tapi bagaimana jika dia tergigit oleh binatang itu? Jangan katakan dia akan menjadi Batwoman agar Batman punya pasangan hidup yang sepadan dengannya.
Anna kembali memukul kepalanya, hal itu membuat Harry heran. Apa kepala Anna masih sakit? Harry menghampiri Anna dengan terburu-buru, dia juga berjongkok di hadapan Anna dan memandanginya dengan lekat.
"Ada apa? Apa kepalamu sakit?"
Anna mengangguk sambil tersenyum, jangan sampai Harry tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Jika begitu kembalilah ke kamar, aku akan membawakan makanannya untukmu jika sudah selesai."
"Maaf, aku jadi selalu merepotkan dirimu," ucap Anna tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa semenjak mengenal dirimu," jawab Harry sambil beranjak.
"Apa kau sudah memiliki perasaan untukku, Harry?"
Harry tidak menjawab, dia lebih memilih menggendong Anna dan membawanya ke dalam kamar. Anna diam saja, dia tidak bertanya lagi. Jika Harry diam saja bisa dia simpulkan jika belum ada perasaan cinta di hati pria itu untuknya. Dia tahu tidak akan mudah, tapi dia tetap akan berusaha.
"Apa semenjak mengenalku kau jadi terganggu, Harry?" tanya Anna ingin tahu.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Aku ingin tahu, apa aku mengganggu harimu?"
"Hm, yeah," jawab Harry. Anna tersenyum pahit, ternyata dia hanya bisa mengganggu Harry saja.
"Awal bertemu denganmu kau memang mengganggu aku tanpa henti dengan cara berpura-pura buta! Aku tidak suka tapi semakin hari, aku jadi terbiasa dengan keberadaanmu dan tanganmu yang sedang meraba tubuhku ini!" Harry tampak kesal karena Anna sedang meraba tubuhnya.
Anna terkekeh, awalnya dia kecewa tapi setelah mendengar ucapan Harry yang mulai terbiasa dengan keberadaannya membuatnya ingin menggoda pria itu.
"Apa kau memperlakukan aku seperti ini hanya karena sudah terbiasa dengan keberadaanku saja atau kau sudah memiliki perasaan padaku?"
Harry belum menjawab, kenapa Anna bertanya seperti itu lagi?
"Kenapa lagi-lagi kau diam, Harry?" Anna memeluknya erat, sungguh dia sangat ingin tahu.
"Apa jawabanku sangat penting untukmu, Anna?"
"Tentu saja sangat penting, aku ingin tahu usahaku untuk menjerat dirimu berhasil atau tidak!"
"Tidak perlu memikirkan hal itu, Anna," Harry menurunkan Anna dari gendongannya, "Nikmati saja waktu kebersamaan kita saat ini, jika aku sudah menyukaimu aku pasti akan mengatakannya padamu!" ucap Harry lagi.
"Benarkah?"
"Tidak percaya?" tanya Harry pula.
"Bukan begitu, aku sangat menantikannya saat kau mengatakan padaku jika kau sudah menyukai aku."
"Aku akan mengatakannya nanti jadi tunggu saja. Sekarang sebaiknya kau berbaring, jangan sampai sakitmu semakin parah," ucap Harry.
"Terima kasih, Harry. Kau benar-benar baik."
"Tidak!" ucap Harry dengan cepat, "Aku tidak sebaik yang kau lihat!"
Anna sangat heran, kenapa Harry berkata demikian? Memang dia belum begitu mengenal Harry dan tidak tahu masa lalunya. Dia bahkan tidak tahu kenapa Harry bisa berpisah dengan tunangannya.
"Harry, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Apa yang ingin kau tahu?"
"Aku hanya ingin tahu, kenapa kau berpisah dengan tunanganmu? Apa dia tidak akan kembali suatu saat nanti dan memintamu untuk memperbaiki hubungan kalian?"
Harry memandangi Anna, begitu juga dengan yang Anna lakukan. Dia harap Harry mau menjawab agar dia bisa tahu sedikit tentang hubungan Harry dengan mantan tunangannya. Harry menghela napas, dia enggan membahas hal ini tapi dia tahu Anna tidak akan berhenti sampai dia tahu.
"Ck, kau mengejarku tanpa tahu apa-apa tentang aku!"
"Sekarang aku sedang mencari tahu," ucap Anna sambil tersenyum manis.
"Sebenarnya aku enggan mengingatnya," Harry duduk di samping Anna, "Tapi aku tahu kau tidak akan berhenti untuk mencari tahu!"
"Jadi, apa yang terjadi dengan kalian?" Anna bersandar di bahunya.
"Ya, dia tidur dengan seorang pria asing saat sedang mabuk. Aku tidak bisa menerimanya dan tidak bisa memaafkan dirinya sekalipun dia meminta maaf."
"Astaga, benarkah?" Anna terlihat tidak percaya.
"Jika aku adalah dia, maka aku tidak akan melakukan hal itu," ucap Anna sambil memeluk Harry.
"Kau berani menjamin?"
"Tentu saja, aku ini setia. Setiap Pria yang aku sukai tidak akan rugi!" ucap Anna penuh percaya diri.
"Oh, ya? Jadi selain aku kau sudah pernah mengejar pria lain?"
"Tentu, oh tidak! Aku hanya mengejarmu saja!" jawab Anna dengan cepat tapi tanpa dia duga, Harry menarik tangannya dan mencium bibirnya karena dia kesal.
Anna terkejut, matanya melotot karena Harry menciumnya dengan penuh naf*su. Tangan Anna tidak tinggal diam, tangannya sudah meraba bagian belakang tubuh Harry. Dia bahkan sudah berbaring di atas ranjang. Harry masih menciumnya bahkan tangan Harry mulai masuk ke dalam bajunya. Harry melepaskan bibir Anna, kini bibirnya mencium wajah Anna dan semakin ke bawah.
"Oh, Harry, Akh!"
Harry diam saja mendengar ******* Anna, dia hanya mengusap perut Anna dan mencium lehernya tapi gadis itu terlalu berlebihan dan dia menebak Anna tidak memiliki pengalaman sama sekali tentang hal itu.
"Oh, Harry. Jangan, jangan ragu-ragu!" racau Anna lagi.
"Jangan ragu-ragu kepalamu!" ucap Harry seraya menyentil dahi Anna. Anna berteriak, tangannya sudah berada di dahi, sedangkan Harry mengambil tisu yang ada di samping ranjang.
"Dasar gadis cabul amatiran! Lap dulu darah yang mengalir di hidungmu!" ucap Harry seraya memberikan tisu pada Anna.
"Apa?" Anna mengusap hidungnya dan melihat darah yang berada di tangan.
"Oh, sial!" ucapnya seraya mengambil tisu yang Harry berikan.
"kenapa kau suka mimisan? Apa kau sakit?"
"A-Aku?" Anna menunduk, semua ini gara-gara otak cabulnya.
"Sudahlah, sebaiknya kau istirahat. Mungkin keadaanmu yang sedang tidak sehat membuatmu mimisan."
"Benar, kau benar!" jawab Anna dengan cepat.
Setelah darah yang mengalir dari hidung berhenti, Anna berbaring di atas ranjang. Sial, padahal mereka sedang bermesraan tapi semua jadi gagal karena mimisan. Lain kali dia tidak boleh mimisan, sepertinya dia harus banyak latihan.
"Beristirahatlah, aku akan kembali setelah makanan sudah jadi."
Anna mengangguk dengan wajah memerah, Harry mengusap kepalanya sebelum keluar dari kamar. Anna mengumpat pelan saat Harry sudah keluar dari kamar, dia benar-benar gadis cabul amatiran. Anna berbaring sambil tersenyum, walau Harry tidak mengatakan dia sudah menyukainya tapi dia yakin Harry sudah menyukainya. Hanya menunggu waktu untuk mendengar ungkapan perasaan pria itu
Dia harap dia bisa mendengar ungkapan perasaan Harry sebelum waktunya habis tapi sayangnya, sang ayah tidak memberinya waktu lagi dan Marco sudah memiliki rencana untuk membawa Anna kembali dan menikah dengannya.
Anna masih tersenyum saat ponsel-nya berbunyi. Anna mengambil benda itu, dia tampak enggan menjawab karena yang sedang menghubunginya adalah Marco. Anna meletakkan ponsel-nya kembali tapi Marco tidak menyerah karena dia ingin tahu apa yang sedang Anna lakukan saat ini.
Anna tampak kesal, mau tidak mau ponsel kembali diambil dan dia segera menjawab panggilan dari Marco.
"Jangan mengganggu aku, Marco!" ucapnya sinis.
"Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau lakukan, Anna?"
"Aku sedang bermesraan dengan Harry!" dusta Anna.
"Apa?" Marco terkejut dan terdengar tidak terima.
"Harry, oh. Jangan bagian itu!" ucap Anna sengaja dengan suara nakal yang dia buat-buat sampai dia sendiri merinding mendengar suaranya sendiri. Semoga saja Harry tidak mendengar.
"Jangan main-main denganku, Anna! Aku tahu kau tidak akan melakukan hal itu!" teriak Marco marah.
"Akh, Harry. Kau sangat pandai!" Anna kembali mengeluarkan suara menjijikkannya. Marco benar-benar marah, dia tidak ingin percaya tapi sepertinya Anna sedang bersungguh-sungguh.
"Aku tidak akan memaafkan pria itu!" teriak Marco lantang seraya mematikan ponselnya.
"Dasar bodoh, begitu mudahnya kau tipu!" ucap Anna seraya melemparkan ponselnya.
"Aku pandai dalam hal apa, Anna?" Tiba-tiba Harry masuk ke dalam, Anna terkejut dan matanya melotot memandangi pria itu. Apa Harry mendengar suara memalukan yang dia keluarkan?
"Katakan, aku pandai dalam hal apa?" tanya Harry lagi seraya mendekatinya.
Wajah Anna merah padam, dia malu luar biasa. Dia jadi serba salah, apalagi Harry kembali bertanya.
"Kenapa kau tidak menjawab?"
"Aku hanya asal bicara!" teriak Anna seraya menyembunyikan dirinya salam selimut dengan secepat kilat. Padahal dia ingin berpura-pura agar Marco berhenti mengejarnya.
Harry hanya tersenyum dan duduk di sisi Anna, sedangkan Anna malu setengah mati. Semua gara-gara Marco tapi tanpa dia tahu, Marco begitu marah karena dia berpikir Anna benar-benar sedang bermesraan dengan Harry saat ini.