Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Aku Hanya Ingin Minta Maaf



Ainsley hendak masuk ke dalam kamar saat terdengar suara pintu diketuk dari luar. Langkahnya terhenti, matanya melihat ke arah pintu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, entah siapa yang datang tapi sebaiknya dia melihat apalagi pintu kembali terdengar diketuk dari luar sana.


Ainsley melangkah menuju pintu dan membukanya tanpa ragu, dia terlihat terkejut ketika melihat Harry berdiri di luar dengan sebuah paper bag di tangan.


"Harry, ada apa?" tanya Ainsley.


"Sorry mengganggu, apa Damian ada?"


"Tentu saja, ayo masuk," pintu dibuka, Harry melangkah masuk kedalam sedangkan Ainsley mengikuti langkahnya setelah menutup pintu.


"Duduklah, aku akan memanggilnya," ucap Ainsley ketika mereka sudah berada di ruang tamu.


Harry mengangguk tapi matanya tidak lepas dari Ainsley. Ainsley terlihat semakin cantik setelah menikah, apalagi keadaannya yang sedang hamil membuatnya semakin cantik. Tapi sekarang dia sudah menyingkirkan perasaan suka yang ada di hati karena Ainsley adalah adik iparnya.


"Boleh aku berbicara sebentar denganmu?" tanya Harry saat Ainsley hendak beranjak pergi untuk memanggil suaminya yang saat itu berada di kamar ayahnya.


"Tentu saja," Ainsley kembali mendekatinya dan duduk tidak jauh darinya.


"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan?"


Sebelum mulai berbicara, Harry tersenyum. Kenangan saat dia mengejar Ainsley kembali teringat. Rasanya sangat lucu, dulu dia yang mengejar Ainsley tapi kini dia yang dikejar. Jika Ainsley tahu dia pasti akan tertawa.


"Aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu waktu aku selalu mengejarmu?"


Ainsley mengernyitkan dahi dan menatapnya dengan heran. Kenapa Harry bertanya seperti itu? Jangan katakan dia belum menyerah dan masih ingin mengejarnya.


"Jangan salah paham, aku hanya ingin tahu," ucap Harry lagi karena Ainsley melihatnya dengan tatapan heran.


Ainsley tersenyum, untungnya tebakannya salah. Hubungan mereka sudah begitu baik, dia tidak mau hubungan yang sudah terjalin dengan susah payah menjadi hancur berantakan apalagi hubungan Damian dengan keluarga barunya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Yeah, seharusnya kau tahu. Waktu itu aku kesal dan benci denganmu!" jawab Ainsley tanpa ragu.


"Benarkah?"


"Hei, apa kau tidak sadar? Aku selalu memintamu untuk berhenti tapi kau tidak juga berhenti. Hal itu membuat aku muak, kau selalu mengganggu aku, tidak pernah peduli bagaimana perasaanku saat kau kejar dan yang paling membuat aku kesal adalah ketika tunanganmu itu melempari aku dengan telur busuk!"


"Aku minta maaf untuk hal itu," Harry terlihat menunduk, setelah dia pikir ternyata dia memang sudah keterlaluan dan sekarang, dia mendapatkan balasan yang setimpal.


"Maafkan aku, Ainsley. Sekarang aku menyadari jika selama ini aku sudah keterlaluan."


"Ada apa denganmu?" Ainsley melihatnya dengan ekspresi heran.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin minta maaf."


"Baiklah, tidak perlu dipikirkan. Yang berlalu, biarkan berlalu apalagi sekarang kita sudah menjadi keluarga."


"Kau benar, aku memang tidak pantas untukmu. Selama ini aku yang terlalu percaya diri dan mengatakan jika Damian tidak pantas padahal yang tidak pantas adalah aku."


"Sudahlah, lupakan! Lebih baik kau mulai cari pacar," ucap Ainsley.


"Aku sedang berusaha," jawab Harry.


"Semoga berhasil, aku akan memanggil Damian."


Ainsley beranjak, sedangkan Harry mengangguk. Mencari pacar? Dia bahkan tidak punya kandidat gadis yang dia sukai. Seandainya ada pun dia akan mengalami kesulitan karena si pengganggu Anna Cedric.


Ainsley memanggil suaminya yang saat itu sedang mengambilkan obat untuk ayahnya. Itu rutinitas yang Damian lakukan setiap malam karena Jager memang harus mengkonsumsi obat setiap hari.


"Dam-Dam, Harry menunggumu di luar."


"Harry?" tanya Damian seraya memberikan obat untuk ayahnya.


"Yes, pergilah temui. Dia menunggu di ruang tamu."


"Pergilah, aku bisa sendiri," ucap ayahnya.


"Baiklah," setelah obat diberikan, Damian mengajak Ainsley keluar dari kamar ayahnya.


"Temuilah dia sendiri, aku mau berbaring," ucap Ainsley.


"Tunggulah aku di kamar," Damian memberikan sebuah ciuman di dahi sebelum istrinya pergi ke kamar. Ainsley tidak ingin mengganggu, apalagi dia sudah sangat ingin berbaring.


Damian menghampiri Harry di ruang tamu, mereka tampak berbincang, Harry memberikan paper bag yang dia bawa pada Damian dan itu barang yang dititipkan oleh ibunya.


"Bagaimana kehidupan rumah tanggamu?" tanya Harry.


"Ada apa? Apa kau sudah mau menikah?" tanya Damian asal.


"Tidak, aku hanya bertanya!"


"Baiklah, katakan pada Kakek aku akan pulang bersama Ainsley akhir pekan untuk melihat keadaannya."


"Akan aku sampaikan," ucap Harry.


Mereka berdua masih berbincang dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Harry pamit pulang. Damian mengantar kakaknya itu sampai di depan pintu dan setelah itu, Damian masuk ke dalam kamar di mana Ainsley sudah menunggu.


Selain membicarakan keadaan kakek mereka, mereka juga membuat janji akan bertemu nanti untuk membahas pekerjaan karena mereka berencana untuk bekerja sama.


"Apa dia sudah pulang?" Ainsley meletakkan ponsel yang ada di tangan untuk mengusir bosan.


"Yeah," Damian mendekati istrinya dan memijat kakinya dengan lembut.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ainsley ingin tahu.


"Tidak ada yang penting. Dia bilang Kakek sedang sakit dan ingin bertemu dengan kita berdua."


"Apa sakit kakekmu parah?" Ainsley terlihat khawatir.


"Tidak, hanya sakit biasa."


"Syukurlah," Ainsley berbaring dengan perasaan lega.


Damian mendekati Ainsley dan berbaring di sampingnya. Ainsley tersenyum saat Damian mengusap wajahnya dengan lembut.


"Akhir pekan aku ingin mengajakmu pergi menjenguknya, apa kau punya waktu?"


"Tentu saja, Dam-Dam. Aku tidak pergi ke mana pun."


"Bagus!"


Damian menunduk, untuk mencium dahi istrinya. Bibirnya bermain bermain di wajah Ainsley, memberikan kecupan-kecupan ringan di sana.


"Harry agak aneh, apa dia menyukai seseorang?" tanya Ainsley karena dia penasaran dengan sikap Harry yang aneh.


"Aku rasa tidak, kenapa kau bertanya demikian?"


"Tiba-Tiba dia bertanya bagaimana perasaanku ketika dia mengejarku. Ini aneh, bukan?"


"Mungkin ada yang mengejarnya jadi dia ingin tahu bagaimana perasaanmu waktu itu," ucap Damian.


"Benarkah?" Ainsley tampak tidak percaya.


"Bisa saja, bukan? Tidak ada yang tahu."


"Kau benar, semoga saja agar dia tahu bagaimana perasaanku waktu itu!"


"Wow, kau seperti menyimpan dendam!"


Ainsley tertawa, dia tidak dendam tapi dia ingin Harry merasakan apa yang dia rasakan waktu itu dan memang Harry sudah merasakannya tanpa sepengetahuan mereka.


"Sebaiknya kita tidur."


"Hm," Ainsley mengangguk, sedangkan Damian mencium bibirnya.


Semoga saja Harry segera punya pacar, itu harapan mereka berdua.


Ciuman Damian semakin dalam, tangannya bahkan sudah masuk ke dalam baju Ainlsey untuk mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Aku sudah tidak sabar bayi kita segera lagi," ucapnya seraya memberikan ciuman ringan di wajah istrinya.


"Aku juga, apa kita akan membawanya pulang ke Jepang dan mempertemukannya dengan ibumu?"


"Tidak, Mommy pasti melihatnya dari surga."


"Kau benar!"


Mereka kembali berciuman, tangan Damian tidak henti memberikan usapan lembut di perut istrinya bahkan tangannya sudah naik ke atas. Sebentar lagi mereka akan menyambut kehadiran buah cinta mereka berdua. Rasanya sudah tidak sabar hari itu tiba, menyambut kehadiran buah hati sehingga kehidupan mereka semakin sempurna.


Sementara itu, Harry sudah tiba di rumah. Keluarganya sudah berada di kamar mereka masing-masing. Rumah terlihat begitu sepi, entah kenapa rasanya hidupnya juga sepi. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, mungkin dulu dia sibuk mengejar Ainsley. Ck, sepertinya dia harus segera mencari pacar agar dia tidak merasa sepi tapi dia tidak akan menyangka, jika gadis yang sangat ingin dia hindari akan datang saat akhir pekan nanti di rumahnya.