
Setelah keluarganya sudah bisa menerima pernikahannya dengan Anna, mereka masih berada di sana sampai akhirnya Anna mengajak Harry mengantarnya pulang ke rumahnya karena dia ingin mengambil barang-barang miliknya. Walau Harry berkata dia akan membelikan semua barang yang Anna butuhkan tapi Anna tetap membutuhkan barang-barang lamanya.
Dia ingin mengambil semuanya karena mulai sekarang dia akan ikut ke mana pun Harry pergi dan tinggal bersama dengan Harry. Sesungguhnya dia masih belum percaya jika dia sudah menjadi istri Harry melalui pesta pernikahan extream yang pernah ada tapi dia yakin semua ini bukanlah mimpi.
Barang-Barang Anna diturunkan dari mobil karena mereka sudah tiba. Anna memandangi rumah Harry sebelum turun dari mobil, mulai sekarang dia akan tinggal di sana bersama dengan lelaki yang dia cintai dan menghabiskan waktu bersama dengannya di rumah itu.
Mereka akan membangun keluarga kecil dengan beberapa orang anak tapi ngomong-ngomong mengenai hal itu, mereka belum melalui malam pertama mereka. Wajah Anna tiba-tiba memerah, apa malam ini mereka akan melalui malam pertama mereka? Semua ini gara-gara otak mesumnya. Jika dia tidak berpikiran mesum maka dia tidak akan mimisan. Malam ini dia harus menahan diri agar mereka bisa melewati malam pertama mereka.
Pintu mobil terbuka, Harry tampak heran karena istrinya tidak turun dari mobil sedari tadi. Anna terlihat memikirkan sesuatu dengan wajah memerah dan dia tahu si mesum itu sedang membayangkan sesuatu yang mesum. Dia menebak demikian karena saat itu Anna sedang memencet hidungnya.
"Mau melamun sampai kapan?"
Anna tersadar dari lamunan, wajahnya semakin memerah ketika melihat Harry. Dia jadi malu karena Harry memergokinya sedang berpikiran mesum. Sepertinya dia benar-benar harus pergi bertapa di air terjun.
"A-Aku?" Anna jadi gugup.
"Ayo keluar, apa kau mau menginap di dalam mobil?"
"Tidak," Anna menyambut uluran tangan Harry, dia semakin gugup saat mengikuti Harry masuk ke dalam rumah.
"Di mana semua barang-barangku?"
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, semua akan di bereskan oleh para pelayan!"
"Harry, apa dulu kau tidur di sana bersama tunanganmu dan kalian?" Anna menghentikan ucapannya.
"Seharusnya kau tahu, Anna. Aku bukan pria munafik, semua pria dewasa seperti aku pasti sudah pernah melakukannya. Apa kau keberatan?"
"Bukan begitu, aku gugup karena kau pria pertama bagiku."
"Anna," Harry menghentikan langkahnya dan mendekati sang istri yang sedang menatapnya.
"Tidak perlu memikirkan hal itu, aku tahu kau gugup walau otakmu cabul tapi kau tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting. Semua akan berjalan dengan sendirinya dan terjadi dengan sendirinya."
"Baiklah, maaf jika aku terlalu banyak berpikir."
"Tidak apa-apa," Harry mengusap wajah Anna sambil tersenyum.
"Jika begitu aku mau mandi dulu, sudah malam," ucap Anna. Memang saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Pergilah, aku akan membuatkan segelas teh hangat untukmu."
Anna mengangguk dan melangkah menuju kamar. Benar yang Harry katakan, semua itu akan terjadi dengan sendirinya. Sebaiknya dia mandi saja tanpa memikirkan apa pun tapi sayangnya otak cabulnya tidak berhenti berkelana selama dia mandi.
Anna bahkan mengusap hidungnya yang berdarah, semoga saja Harry tidak tahu. Dari pada berlama-lama lebih baik dia segera keluar. Sebuah handuk di ambil, Anna menggunakan handuk dan segera keluar tapi dia sangat kaget ketika dia melihat Harry sudah berada di dalam kamar.
Anna tersipu, dia melangkah dengan perlahan menuju lemari pakaian dan membuka pintunya. Jantung Anna berdegup kencang saat mendengar langkah Harry yang mendekatinya. Dia bahkan memejamkan mata saking gugupnya. Apa mereka akan langsung memulai pertempuran mereka?
Selama pikiran cabulnya berkelana, Anna terkejut saat Harry memeluknya dari belakang dan mencium lehernya. Jantung Anna hampir melompat keluar, kakinya pun terasa lemas. Tidak, jangan sampai dia pingsan hanya karena hal itu.
"Kenapa begitu lama?" Harry tidak menghentikan bibirnya.
"A-Aku," Anna merasa kesulitan bernapas, degupan jantungnya pun semakin nyaring terdengar.
"Rileks, Anna. Jangan banyak berpikir. Aku tidak akan memaksa jika kau belum bisa."
Anna mengangguk, matanya mulai terpejam untuk menikmati sentuhan bibir Harry yang bermain di belakang telinganya lalu bibir Harry pindah ke lehernya. Harry masih memberikan ciuman ringan, mencium bahu dan juga punggungnya, hal itu membuat kaki Anna semakin lemas.
Tangan Harry yang melingkar di tubuhnya mulai berpindah, naik ke atas dan meraih handuk yang masih melekat di tubuh Anna.
"Harry!" Anna menahan tangan Harry dengan napas memburu.
"Apa kau gugup?"
"Hm," jawab Anna sambil mengangguk.
"Apa kau masih mau melanjutkannya?" Harry bertanya demikian karena dia tidak mau memaksa Anna.
"Tentu, aku masih sanggup!"
"Jika begitu buka bajuku," pinta Harry.
"What?" Anna terkejut mendengar permintaan suaminya.
"Kau harus bisa, Anna. Kita akan melakukannya pelan-pelan dan kau harus melihat tubuhku terlebih dahulu!"
Anna mengangguk sambil menelan ludah, dia mulai memberanikan diri. Dengan tangan gemetar Anna melepaskan kancing kemeja yang digunakan oleh Harry.
"Rileks, Anna," Harry berbisik dan mencium pipinya.
Anna mengangguk, kancing kemeja sudah terbuka satu persatu. Anna menelan ludah saat kancing terakhir sudah terbuka. Kini dia menatap Harry, sedangkan pria itu membuka kedua tangannya agar Anna melepaskan kemejanya.
"Bertahanlah, Anna," ucap Anna dalam hati dan tanpa membuang waktu Anna melepaskan kemeja suaminya.
Mata Anna melotot melihat tubuh Harry yang sudah tidak memakai baju, tangannya mulai meraba. Oh, dia akan meraba semuanya.
"Kau belum selesai, Anna," ucap Harry.
"Masih ada lagi?" tanya Anna heran.
"Kau tidak lupa yang lain, bukan?" Harry melihat ke bawah, begitu juga Anna.
"Ya-Yang itu juga?" tanya Anna gugup.
"Hm, semuanya!"
Anna terdiam, matanya melihat ke bawah sana. Otak cabul hendak bekerja tapi Harry memegangi wajahnya dan menatap matanya.
"Jangan banyak berpikir!" ucap Harry.
Anna mengangguk dan menelan ludah. Tangannya kembali meraba otot dada Harry dan turun ke bawah, dengan jantung berdebar, Anna membuka ikat pinggang yang dikenakan oleh Harry. Sial, dia benar-benar berusaha untuk tidak berpikir cabul walau sesungguhnya dia sudah sangat ingin membayangkan isinya.
Ikat pinggang sudah terbuka, tangan Anna sibuk dengan yang lain. Agar Anna tidak memikirkan apa pun, Harry meraih pinggang istrinya dan mencium bibirnya. Biarkan tangan Anna bekerja di bawah sana, dia benar-benar harus terbiasa agar tidak mimisan.
Pikiran Anna kosong karena ciuman yang Harry berikan, dia bahkan tidak sadar handuknya sudah terjatuh di atas lantai. Anna fokus pada apa yang dia lakukan, celana yang dipakai oleh Harry sudah terlepas. Anna mendesah saat Harry menikmati tubuhnya, persetan dengan semua pikiran cabulnya karena sekarang dia sedang sibuk menikmati sensasi nikmat yang Harry berikan.
Anna sudah berada di dalam gendongan Harry, dia bahkan sudah dibaringkan di atas ranjang. Anna menutup rapat matanya saat Harry membuka satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Karena penasaran dengan bentuknya, Anna mengintip dari sela jari dan teriakannya terdengar saat melihat sesuatu yang sudah, Hm. Kenapa bentuknya seperti belalai gajah? Oh, tidak. Dia ingat sebuah kerang dengan bentuk yang tidak jauh berbeda.
"Anna!"
"Ya," Anna menjawab dengan cepat.
"Bukankah sudah aku katakan jangan banyak berpikir!" Harry mengelap darah yang mengalir dari hidung Anna.
"Maaf, aku tidak bermaksud," Anna memencet hidungnya dengan cepat.
"Jadi, apa kau masih mau melanjutkannya?" Harry kembali bertanya demikian.
"Hm, aku tidak mau mengecewakanmu," jawab Anna karena dia tidak mau malam pertama mereka gagal sehingga Harry kecewa.
"Baiklah, jika kau sudah tidak sanggup maka katakan padaku!"
Anna mengangguk, Harry melanjutkan kegiatan panas mereka. Anna menekan hidungnya, semoga tidak mimisan lagi. Erangannya terdengar saat Harry menikmati tubuhnya, pikiran Anna kembali kosong, dia melayang karena sensasi nikmat yang dia rasakan dan rasa nikmat itu membuat otak cabulnya tidak bisa memikirkan apa pun.
Ternyata dia tidak pingsan, walau mimisan seperti biasanya. Akhirnya mereka bisa melewatkan malam pertama mereka tanpa adanya tragedi pingsan dan tentunya setelah ini, si otak cabul memikirkan hal lain. Karena sudah merasakan jadi Anna berpikir, posisi apa yang akan mereka lakukan nanti dan tentunya hal itu membuatnya kembali mimisan. Sepertinya otak cabulnya tidak akan berhenti memikirkan hal cabul.
Seadanya Guys, baca di depan kompor biar hot. wkwkwwk....karena udah tau gak bakal naik jadi aku ngak mau buang waktu. Use your imagination. Selamat mencoba 😂