
Harry masih tidak menyadari, dia terlihat begitu santai memasuki bar. Kedua orang suruhan Marco masih mengikuti, mereka harus memukul kepala pria itu sebelum Harry memasuki bar. Cukup satu pukulan dan setelah itu mereka akan membawa Harry ke tempat gelap untuk di eksekusi. Mematahkan tangan dan kaki, membutakan mata dan menghancurkan wajah Harry, itu tugas yang akan mereka jalani bahkan sebotol air keras sudah mereka bawa.
Air keras itu akan melelehkan kulit dan juga daging, saat wajah Harry sudah mereka rusak menggunakan pisau maka mereka akan menyiram air keras itu ke wajah Harry sehingga wajahnya tidak bisa diperbaiki walau dengan cara di operasi sekali pun.
Mereka masih terus mengikuti langkah Harry, target tidak boleh hilang tapi mereka juga tidak menyadari jika ada yang sedang mengawasi mereka dengan tatapan curiga. Pria itu baru tiba, dia curiga dengan dua orang yang mengikuti Harry dengan sebuah tongkat di tangan. Perkataan ibu Harry teringat, di mana Harry pulang denganĀ keadaan babak belur dan memang orang yang akan Harry temui adalah adiknya sendiri.
Damian mengajak kakaknya untuk bertemu bukan tanpa alasan, dia ingin mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan Harry sesuai dengan permintaan Renata. Dia mengajak Harry ke bar, berbincang di sana dan mencari tahu sedikit demi sedikit apa yang sedang Harry hadapi agar Harry tidak curiga dan tersinggung sesuai dengan saran istrinya.
Tapi setelah melihat dua orang yang mengikuti kakaknya, sepertinya Harry memang sedang menghadapi masalah yang berbahaya dan dia menebak, Harry tidak tahu sama sekali bahaya yang mengincarnya dan memang itulah yang sedang terjadi. Siapa pun tidak akan menyadari karena pengunjung yang hendak masuk ke bar hilir mudik dan terlihat begitu ramai.
Kedua penjahat itu saling pandang, mereka merubah sedikit rencana. Mereka berjalan dengan cepat karena mereka akan mencegat Harry lalu membawanya ke tempat sepi. Mereka hendak berpencar tapi mereka terkejut karena tiba-tiba saja, seseorang sudah berdiri di belakang mereka dan sepucuk pistol sudah berada di belakang mereka.
"Sebaiknya tidak melawan jika tidak ingin sebuah lubang berada di tubuh kalian!"
Tongkat terjatuh, kedua tangan mereka terangkat dan mereka juga saling pandang. Siapa yang ada di belakang mereka? Ini di luar rencana, orang yang membayar mereka tidak mengatakan jika pria yang harus mereka habisi memiliki pengawal. Mereka berdiri begitu dekat, sehingga orang-orang tidak melihat pistol yang sedang tertodong di pinggang dua penjahat itu.
"A-Apa maumu?" salah satu dari mereka bertanya demikian.
"Itu pertanyaanku, apa mau kalian?"
"Kami tidak mencari perkara denganmu!" yang lain berkata demikian.
"Kalian ingin melukai Harry Windstond maka kalian mencari perkara dengan bosku! Sekarang ikut aku baik-baik jika tidak peluru dalam pistol ini akan menebus tubuh kalian!" ancam anak buah yang diutus oleh Damian.
"Si-Siapa bosmu?"
"Jangan banyak bertanya, sekarang jalan!"
Kedua penjahat itu menelan ludah, sialan. Mereka dalam masalah. Seharusnya mereka mencari informasi lebih sebelum bergerak. Sebaiknya mereka mencari cara untuk melawan, dua lawan satu bukan hal yang sulit. Sekarang ikuti permintaan pria itu terlebih dahulu dan setelah itu, mereka akan menyingkirkannya sehingga mereka bisa melakukan tugas mereka.
Mereka berdua mengikuti anak buah Damian, mereka berencana melawan. Mereka di bawa ke suatu tempat yang sepi, mereka pikir mereka sudah bisa melawan tapi sayang lampu dari beberapa mobil tiba-tiba menyala dan menyilaukan mata mereka.
Mereka tampak terkejut melihat segerombolan orang yang berdiri di depan mobil dengan senjata laras panjang di tangan. Mereka menelan ludah dengan susah payah apalagi seorang pria yang mereka yakini jika pria itu adalah pemimpin dari kelompok itu sedang berjalan mendekati mereka.
Mereka bahkan dilumpuhkan, kedua tangan mereka diikat ke belakang dan mereka berdua sudah berlutut di atas aspal jalan. Tubuh mereka di geledah, beberapa senjata tajam ditemukan, sebotol air keras juga didapatkan. Benda-benda itu diletakkan tidak jauh dari hadapan mereka tapi air keras yang hendak mereka gunakan untuk menghancurkan wajah Harry sudah berada di tangan Damian.
Mereka semakin ketakutan saat Damian berdiri di hadapan mereka sambil memandangi air keras itu. Entah apa yang ingin mereka lakukan pada Harry yang pasti bukanlah hal baik.
"Kenapa kalian mengincar Harry?" tanya Damian.
"Ka-Kami tidak tahu apa maksudmu!" teriak salah satu dari mereka.
"Oh, ya? Apa kalian akan bicara setelah lidah salah satu dari kalian di siram menggunakan air ini?!" Damian sedang membuka penutup botol air keras itu.
"Semua ini tidak ada hubungannya denganmu? Untuk apa kau menahan kami dan tahu apa yang hendak kami lakukan?"
Kedua penjahat itu mengumpat dalam hati, sial. Seharusnya mereka tidak asal ambil pekerjaan tanpa tahu siapa yang harus mereka eksekusi. Mereka menyadari jika mereka dalam masalah besar saat ini apalagi mereka yakin, pria yang berdiri di hadapan mereka bukanlah orang biasa.
"Sepertinya kalian memang tidak sayang nyawa," ucap Damian. Dia mulai gusar, sepertinya mereka tidak akan buka mulut.
"Kalian, pegang dia. Sepertinya dia haus, air ini sangat cocok untuk melepas dahaganya!" Damian memerintahkan dua anak buahnya untuk memegangi salah seorang penjahat itu.
Sontak mereka ketakutan mendengarnya, apa pria itu sudah gila? Apa jadinya jika sampai mereka meminum air keras itu?
"Seseorang membayar kami untuk menyingkirkannya!" teriak salah satu dari mereka, selama karir mereka menjadi penjahat, baru kali ini mereka merasa ketakutan.
"Siapa?" tanya Damian.
"Kami tidak tahu, orang itu menyamar sehingga kami tidak bisa mengenalinya."
"Jika begitu hubungi orang itu dan ajak dia bertemu!" perintah Damian.
Ponsel mereka yang disita oleh anak buah Damian dikembalikan pada salah satu dari mereka, dengan tangan gemetar dia berusaha menghubungi Marco tapi sayangnya, Marco sudah membuang nomor telepon itu karena dia harus waspada. Setiap kali dia menghubungi kedua penjahat itu, dia memang menggunakan nomor yang berbeda-beda. Jangan sampai ada yang tahu identitasnya karena dia bisa gagal menjadi gubernur.
Kedua penjahat itu semakin ketakutan karena mereka sudah tidak bisa menghubungi ponsel Marco lagi, jangan sampai pria yang berdiri di hadapan mereka tidak percaya dengan apa yang mereka bicarakan lalu mereka benar-benar diberi minum air keras.
"Sialan, sialan!" mereka semakin ketakutan. Mereka tidak menyangka situasi akan berbalik dan mereka yang harus mengalami apa yang seharusnya Harry alami. Sekarang mereka yang harus menjalani eksekusi.
"Kalian ingin menipu aku?" Damian berusaha bersabar, bagaimanapun dia harus tahu siapa yang sedang mengincar Harry.
"Tidak! Seorang pria membayar kami untuk memberikan pelajaran pada Harry Windstond. Kami diminta untuk membuatnya cacat seumur hidup. Kami tidak berniat membunuhnya!" salah satu dari mereka berteriak demikian.
"Cacat seumur hidup? Coba jelaskan apa yang hendak kalian lakukan pada kakakku?"
"Ka-Kami harus mematahkan kedua tangan dan kakinya, kami juga harus membutakan matanya dan membuat wajahnya cacat dengan air keras itu!"
"Wow, rencana yang bagus. Bagaimana jika rencana itu kalian rasakan terlebih dahulu?"
"Jangan! Ampuni kami!" mereka berdua ketakutan, jika sampai rencana itu berbalik pada mereka maka sebaiknya mereka mati.
"Bawa mereka ke markas dan lakukan apa yang mereka rencanakan untuk melukai Harry. Buang lidah mereka dan setelah itu hancurkan wajah mereka. Jika mereka tidak juga mati maka bawa mereka ke tempat lain dan lemparkan mereka ke dalam kandang singa karena mereka memang cocok menjadi makanan binatang!" perintah Damian seraya memberikan air keras pada anak buahnya.
"Tuan, ampuni kami. Kami mengaku salah," mereka berteriak memohon, mereka bahkan semakin ketakutan saat mereka ditarik menuju sebuah mobil.
Mereka masih berteriak memohon sampai akhirnya mereka dipukul sampai pingsan dan dinaikkan ke atas mobil dan yang pastinya, mereka akan di eksekusi sesuai dengan rencana yang akan mereka lakukan pada Harry.
Damian melangkah pergi, menuju bar. Harry pasti sudah menunggu dan dia akan mencari tahu apakah Harry memiliki musuh atau tidak karena dia rasa orang yang mengincar Harry tidak akan berhenti hanya sampai di sini. Jangan sampai keluarga Harry juga terlibat sehingga kejadian lama terulang kembali.
Tanpa tahu apa yang terjadi di luar sana, Harry menunggu kedatangan adiknya. Entah apa yang hendak Damian bicarakan tapi dia penasaran karena Damian berkata ingin membahas masalah penting dengannya.