Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Kali Ini Tanpa Syarat



Aland Windstond mendatangi rumah Jager hari itu, tentu kedatangannya dengan tujuan yang berbeda. Setelah tahu kenapa Harry meninggalkan Sherly, dia tidak peduli lagi dengan cucu sahabat baiknya itu. Kali ini dia hanya ingin bertemu dengan Damian dan memintanya untuk kembali ke rumah. Kali ini tanpa syarat, bagaimanapun Damian adalah cucunya walaupun dia dilahirkan oleh seorang jal*ng.


Kedatangannya tanpa diduga, apalagi Damian sedang dalam perjalanan kembali. Aland tidak diperbolehkan masuk sesuai dengan perintah, tapi dia diam di depan pagar sampai membuat Jager Maxton gusar. Tidak ada hal yang baik jika mereka datang, entah penghinaan apalagi yang akan pria itu berikan tapi jujur dia iba pada si tau bangka itu.


Aland Windstond sudah berada di luar selama tiga jam, dia tidak akan pergi sebelum bertemu dengan cucunya. Dia tahu Jager Maxton tidak akan membiarkannya masuk tapi dia akan menunggu di sana sampai seseorang membiarkannya masuk.


Jager melihat keluar dari jendela, kenapa si tua bangka itu tidak juga pergi? Jager melangkah menjauhi jendela, omelannya juga terdengar.


"Dad, siapa pria tua itu? Kenapa Daddy tidak mengijinkannya masuk?" tanya Vivian seraya melihat keluar dari jendela.


"Keluarga kakakmu, siapa lagi?"


"Kakeknya Kak Damian?"


"Ya!" Jager duduk di kursinya dan mengambil gelas minuman.


"Lalu, kenapa Daddy tidak mengijinkannya untuk masuk?"


"Jika dia masuk maka penghinaan saja yang akan kita dengar!"


"Benarkah?" Vivian kembali melihat dari jendela, sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh pria tua itu sehingga membuatnya menunggu lama dan dia jadi iba dengan pria tua itu.


"Aku iba melihatnya," ucap Vivian.


"Abaikan saja Sayang, aku tidak suka mendengar pria tua itu menghina kakakmu!"


"Tapi Dad, biarkan dia masuk. Kita dengarkan apa yang ingin dia bicarakan."


Jager melihat ke arah putrinya, sedangkan Vivian mengangguk. Tidak baik memperlakukan orang tua seperti itu. Jager menghela napas, baiklah. Dia juga tidak ingin terlihat jahat di mata putrinya.


Pria itu keluar, awas saja si tua bangka itu berani menghina Damian. Akan dia perintahkan anak buahnya nanti untuk mengikuti si tua bangka itu lalu menakutinya. Yang pasti putrinya tidak boleh tahu.


"Kau begitu gigih rupanya!" ucap Jager saat dia sudah berdiri di depan pintu gerbang.


"Aku hanya ingin bertemu dengan cucuku," ucap Aland.


"Dia sedang pergi!"


"Jika begitu aku ingin bicara denganmu," ucap Aland.


"Hanya sebentar, aku tidak bisa lama-lama!" Jager memerintahkan anak buahnya membuka gerbang, sedangkan dia masuk ke dalam.


Vivian tersenyum saat ayah kembali, dia tahu ayahnya tidak mau kakaknya dihina tapi memperlakukan orang tua seperti itu juga tidak baik.


Aland masuk ke dalam, dan seorang mengantarnya di mana Jager sudah menunggu bersama dengan Vivian. Dia ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh pria tua itu dan dia juga ingin menenangkan ayahnya agar tidak emosi.


"Langsung saja, tidak perlu basa basi!" ucap Jager tanpa basa basi.


"Aku minta maaf karena kedatangan pertamaku tidak menyenangkan. Saat itu aku masih belum bisa menerima keberadaannya dengan benar." ucap Aland.


"Jadi, apa sekarang kau sudah bisa menerima keberadaannya?" tanya Jager, matanya tidak lepas dari Aland Windstond.


"Aku sudah memikirkan hal ini begitu lama. Bagaimanapun dia adalah cucuku, bagian dari keluarga Windstond walaupun dia dilahirkan oleh seorang jal*ng."


BRRRAAAKKK!!!


Meja digebrak dengan keras, Jager terlihat marah. Inilah yang tidak dia suka, mereka selalu menganggap Sayuri sebagai jal*ng.


"Lagi-lagi kau menyebut Sayuri seperti itu padahal kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Jager dengan penuh emosi.


"Itu memang kenyataannya!"


"Maaf Tuan Windston, jika kau hanya ingin menghina ibu dari kakakku, lebih baik kau pergi!" ucap Vivian.


Aland diam, Jager menatapnya dengan tatapan tajam. Rasanya dia ingin menakuti si tua bangka itu sampai mengompol di mobil.


"Maaf, aku tidak bermaksud," ucap Aland.


"Jadi katakan, apa yang kau inginkan?" tanya Vivian lagi.


"Aku ingin dia kembali ke keluarga kami dan tinggal bersama dengan kami."


"Tinggal dengan kalian, apa kalian bisa menerimanya?" tanya Jager dengan sinis.


"Mereka pasti bisa menerimanya cepat atau lambat!" jawab Aland.


"Cepat atau lambat? Itu berarti kak Damian tidak diterima, bukan? Kau ingin dia kembali ke rumahmu, apa Tuan Windstond ingin dia dihina dan dibenci? Kau masih menganggapnya sebagai anak seorang ja*ang lalu bagaimana dengan yang lain?" tanya Vivian.


"Walau cucu dan juga menantuku belum bisa menerimanya, tapi aku yakin mereka akan menerimanya setelah kami tinggal bersama," jawab Aland.


"Benarkah? Tapi kau harus tahu jika selama ini kakakku hidup dengan baik tanpa kekurangan apa pun. Kami menerimanya tanpa pernah menganggapnya sebagai seorang anak ja*ang seperti yang kau lakukan bahkan ucapan itu tidak pernah kami ucapkan tapi bagaimana dengan Tuan Windstond selaku kakek kandungnya?"


Aland diam saja, sedangkan Jager tersenyum sinis sambil berkata dalam hati, " Pertanyaan yang bagus."


"Kami menyayanginya, kami menganggapnya keluarga. Tidak sekalipun kami menghina dirinya. Tanpa perlu kembali ke keluargamu, kak Damian sudah memiliki semuanya. Dia selalu mendapatkan kasih sayang dari kami sebagai keluarga, dia juga mendapatkan materi yang diberikan oleh ayahku secara cuma-cuma tanpa perlu mendapatkan penghinaan. Jika kau ingin dia kembali ke rumahmu,  cobalah untuk menerima dirinya dengan tulus tanpa menganggapnya seorang anak ***** dan pastikan semua keluargamu menerima dirinya dan jika kalian masih belum bisa, sebaiknya tidak memintanya kembali dan jangan menganggap kakakku begitu menyedihkan karena tanpa kalian, dia sudah punya kami yang begitu menyayanginya!" ucap Vivian lagi.


"Kau dengar apa yang diucapkan oleh putriku? Damian tidak butuh kalian yang selalu menghina dirinya karena dia sudah memiliki kami sebagai keluarga. Jika kau masih menghina dia dilahirkan oleh jal*ng, sebaiknya kau pergi. Aku tidak akan mengijinkan Damian kembali pada keluarga yang tidak menginginkan dirinya!"


"Aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Aland Winstond.


"Tuan, kau sudah tua. Tidak seharusnya kau seperti ini. Bukankah kak Damian cucumu? Tapi kenapa kau menghina dirinya? Jika kau ingin kami perlakukan dengan baik, maka berlakulah dengan baik," pinta Vivian. Dia juga tidak terima kakaknya dihina seperti itu. Sekarang dia tahu kenapa ayahnya tidak mengijinkan pria tua itu untuk masuk.


Aland menghela napas\, ini karena dia tidak bisa menerima ibu Damian dan masih menganggap wanita itu sebagai ******* yang menggoda putranya. Sepertinya dia harus belajar untuk tidak menghina ibu Damian terlebih dahulu dan tidak menyebutnya sebagai *******.


"Baiklah, aku minta maaf. Jika dia sudah kembali, katakan padanya dia bisa kembali ke rumah kapanpun dia mau dan kali ini tanpa syarat," ucap Aland.


"Akan kami sampaikan saat kak Damian kembali," ucap Vivian.


Aland mengangguk dan pamit pergi, lain kali dia akan datang lagi dan dia harap selanjutnya dia bisa bertemu dengan cucunya agar dia bisa berbicara secara langsung dan memintanya untuk kembali.


"Apa mereka selalu menghina Kak Damian seperti itu, Dad?" tanya Vivian.


"Begitulah," jawab ayahnya.


"Apa maksudnya kak Damian bisa kembali tanpa syarat? Apa sebelumnya mereka meminta kak Damian kembali dengan sebuah syarat, Dad?" tanya Vivian ingin tahu.


"Daddy tidak tahu, mungkin mereka pernah bertemu secara pribadi."


Vivian diam saja melihat kepergian Aland Windstond, apa keluarga kakaknya semua seperti itu? Jika dia kakaknya, dia tidak akan pernah mau kembali pada keluarga yang hanya bisa menghina dan tidak bisa menerimanya dirinya.


"Jangan katakan pada kakakmu," pinta Jager.


"Kenapa, Dad?"


"Aku tidak ingin dia mendengar penghinaan ini lagi jadi sebaiknya dia tidak perlu tahu."


"Tapi bukankah dia harus tahu? Jangan sampai Kak Damian masih menganggap dia tidak diinginkan walaupun itu bukan permintaan dari ayahnya," ucap Vivian seraya menutup pintu.


Jager tampak berpikir, apa yang dikatakan oleh putrinya sangat benar. Sepertinya Damian memang harus tahu, mungkin dengan begitu hubungannya dengan keluarga ayahnya akan lebih baik. Akan dia katakan nanti, jika Damian ingin kembali ke rumah keluarga Windstond maka dia tidak akan melarang karena Damian berhak menentukan pilihannya sendiri.