Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Menangkap Cicak



Wajah Ainsley tersipu saat Damian mengeringkan rambutnya yang basah. Mereka baru saja keluar dari kamar mandi saat itu. Walau mandi bersama adalah ide paling buruk bagi Damian, tapi dia menikmati kebersamaan mereka berdua di dalam bathtub.


Ainsley masih menggunakan handuk, dia ingin berganti pakaian tapi Damian sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Sesungguhnya Damian tidak mau kebersamaan mereka cepat berlalu karena Ainsley sudah mau pulang setelah ini. Entah kapan mereka bisa menghabiskan waktu seperti itu lagi dia sendiri tidak tahu.


"Kapan kau akan menginap lagi?" tanya Damian seraya mendaratkan ciumannya di tengkuk Ainsley.


"Sepertinya kau begitu senang aku menginap?"


"Tentu saja, aku ingin kita mandi bersama lagi!"


"Itu sih maumu!" Ainsley memukul bahu Damian, sedangkan Damian terkekeh.


"Dam-Dam, " Ainsley memeluk Damian dan membelai rambutnya.


"Kenapa? Sekarang kau jadi tidak mau melepaskan aku? Apa yang di kamar mandi kurang?" goda Damian. (Silahkan imajinasi sendiri 😁)


"Bukan begitu, menyebalkan!" Ainsley memukul punggung Damian. Wajahnya memerah karena adegan di kamar mandi kembali teringat.


Damian terkekeh, dan memberikan ciuman-ciuman lembut ke wajah Ainsley. Rasanya tidak mau melepaskan gadis itu, bolehkah dia menggendong Ainsley ke atas ranjang dan melanjutkan kegiatan panas mereka yang tertunda?


"Ainsley," Damian berbisik dan memberikan kecupan lembut di pipi.


"Hm," Ainsley memejamkan mata, menikmati sentuhannya. Jujur dia juga ingin mereka seperti itu lebih lama.


"Dam-Dam, jika kau bertemu dengan Harry lagi apa yang akan kau lakukan?" tanya Ainsley karena inilah yang ingin dia tanyakan sedari tadi.


Damian memandanginya sejenak, jujur dia tidak pernah memikirkan hal ini. Sesungguhnya dia juga tidak mengira jika dia akan bertemu dengan saudaranya bahkan dia merasa, dia akan bertemu dengan ayahnya tidak lama lagi.


"I don't know!" jawab Damian seraya berjalan ke arah ranjang dan duduk di sisinya.


Ainsley berjalan menuju lemari, mengambil baju dari sana dan memakainya. Sepertinya setelah ini akan berat bagi Damian karena dia harus menghadapi keluarga kandungnya. Setelah memakai baju, gadis itu menghampiri Damian dan duduk di sisinya.


"Dam-Dam, kau tidak akan sendirian!" Ainsley bersandar di bahu Damian saat mengatakan hal itu.


"Kau punya aku, kakak ipar dan kau punya ayah yang luar biasa. Percayalah, kami tidak akan meninggalkan dirimu seperti ayah kandungmu yang tidak menginginkan dirimu," ucap Ainsley lagi.


"I know, thanks Ainsley," Damian memberikan ciuman di dahi.


"Baiklah, sebaiknya kita keluar jika tidak ayahmu akan berpikir yang tidak-tidak," ajak Ainsley.


"Biarkan saja, aku suka membuatnya penasaran!"


"Hei, kenapa kau begitu?"


"karena menyenangkan!" jawab Damian seraya mendaratkan ciuman di bibir Ainsley.


Ainsley memeluk Damian dan membalas ciumannya. Mereka masih menikmati waktu mereka, sedangkan di luar sana, Jafer tampak gelisah. Matanya tidak lepas dari pintu kamar putrinya. Lama sekali, apa yang sedang mereka lakukan berdua di dalam kamar?


Seharusnya sewaktu dia pergi ke Jepang, dia belajar jurus menghilang. Jika dia lakukan, mungkin sudah dia gunakan untuk mengintip apa yang putranya lakukan di dalam sana bersama dengan Ainsley. Jager beranjak dari tempat duduknya, jika Ray masih hidup, dia pasti akan menertawakan dirinya saat ini. Entah kenapa dia begitu penasaran apa yang sedang dia lakukan oleh putranya. Sepertinya ini akibat dia tidak memiliki kegiatan.


Jager melangkah mendekati kamar putrinya, tentu dia melangkah dengan hati-hati layaknya pencuri yang takut ketahuan. Para pelayan yang melihatnya terlihat heran, tapi tidak ada yang berani mencegah dan bersuara.


Jager sudah mencapai pintu, telinganya bahkan sudah menempel di daun pintu. Seharusnya dia meminta alat penyadap pada putrinya agar dia tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana. Jager memasang telinganya, dia harap mendengar sesuatu. Para pelayan hanya menggeleng, apa yang sedang dilakukan oleh majikan mereka?


Rasa penasaran Jager semakin tinggi, telinganya semakin ditempelkan di daun pintu tapi naas tanpa dia sadari, pintu terbuka dan tubuhnya terdorong ke dalam bahkan jatuh di hadapan putranya.


GUBRRAAKKK!!


Jager jatuh dengan keras, Ainsley berteriak karena terkejut, begitu juga Jager Maxton,. Dia terkejut dan tidak menyangka akan ada yang membuka pintu. Damian menggeleng, apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya?


"Dad, apa yang kau lakukan?!" tanya Damian.


Jager memutar otak, sialan! Ini sangat memalukan karena Ainsley melihat.


"Daddy menangkap cicak! Kenapa kau membuka pintu tiba-tiba? Padahal aku sudah mau mendapatkannya!" ucapnya.


"Bukankah sudah aku katakan pada Daddy? Aku akan memanggil pembersih serangga untuk membersihkan cicak-cicak itu!"


"Hm, kau begitu lama jadi aku tidak tahan melihatnya!" Jager melangkah pergi sambil mengusap pinggangnya yang nyeri.


Untuk kesekian kali Damian menggeleng, sepertinya pacaran di rumah bukan ide yang bagus. Selain berisiko ketahuan tapi dia semakin membuat ayahnya penasaran.


"Apa benar banyak cicak?" tanya Ainsley.


"Ya, Daddy benci dengan binatang itu jadi setiap kali melihatnya dia ingin membasminya!" dusta Damian. Semoga Ainsley percaya.


"Jika begitu kau harus segera memanggil pembersih serangga. Jangan sampai ayahmu jatuh dari tempat tinggi karena ingin menangkapnya!" ucap Ainsley.


"Pasti," jawab Damian dan sesungguhnya dia ingin tertawa terbahak-bahak. Ayahnya benar-benar konyol, untungnya Ainsley percaya. Semoga ayahnya tidak melakukan hal itu lagi.


Mereka menghampiri Jager Maxton yang sedang mengeluh pinggangnya karena terasa nyeri. Benar-benar berbahaya. Sebaiknya dia tidak melakukannya lagi karena memalukan.


"Uncle, di mana Mayumi?" tanya Ainsley.


"Dapur, sedang membuat makanan," jawab Jager sambil meringis.


"Jika begitu aku akan membantunya," Ainsley berlalu pergi ke dapur.


Damian duduk di samping ayahnya, dan tentunya dia langsung mendapat pertanyaan dari sang ayah yang penasaran.


"Hei, apa yang kalian lakukan di dalam sana? Kenapa begitu lama?" tanya Jager dengan ekspresi ingin tahu.


"Ck, selalu pensaran!" ucap Damian.


"Ayolah, Daddy ingin tahu!"


"Sebab itu Daddy menguping di depan pintu?"


"Stttss!" Jager meletakkan jari ke bibir dan matanya melihat ke arah dapur, dia khawatir Ainsley tiba-tiba menghampiri mereka.


"Apa dia percaya dengan cicak itu?" tanyanya dengan suara pelan.


Damian terkekeh, dia sudah memiliki ayah yang begitu luar biasa seperti ini. Lalu untuk apa dia kembali pada ayah kandung yang tidak menginginkannya sama sekali? Apa yang dikatakan oleh Ainsley sangat benar, dia sudah memiliki orang-orang yang begitu luar biasa mencintainya.


"Thanks, Dad," ucap Damian.


"For what?" tanya Jager seraya meraih gelas tehnya.


"Sudah menangkap cicaknya," jawab Damian asal, sedangkan Jager terkekeh.


"Tidak perlu berterima kasih, Damian," Jager menyeruput tehnya dan meletakkan kembali ke atas meja.


"Karena ada dirimu, aku bisa melewati hariku saat aku terpuruk kehilangan istri dan juga adikmu. Aku benar-benar sudah menganggap kau sebagai putraku. Itu sebabnya aku memberikan semua yang aku punya padamu! Kau punya kebebasan sendiri, aku tidak mengekang tapi kau harus tahu, mereka mencarimu pasti demi suatu tujuan. Putraku Damian Maxton, tidak boleh tergoda oleh harta benda yang mereka tawarkan!"


"Tentu!" Damian tersenyum, "Lebih dari apa pun, Daddy dan Vivi adalah yang paling terpenting bagiku. Aku bersumpah akan menjaga kalian baik-baik!" ucapnya lagi.


"Bagus! Aku hanya ingin kau selalu menjaga dan menyayangi adikmu jika aku sudah mati dan ingat, kau harus selalu mencintai Ainsley. Jangan pernah mengkhianatinya dengan menjalin hubungan dengan wanita lain. Aku tidak mau kau mengikuti jejak buruk ayahmu dan menyakiti wanita yang kau cintai sehingga wanita itu mengalami apa yang ibumu alami!" pinta Jager Maxton karena dia tidak ingin Damian seperti Carl, ayahnya.


"Aku berjanji, Dad. Aku bahkan bersumpah, aku tidak akan melakukan hal itu. Walau darahnya mengalir dalam darahku tapi kau yang mendidik aku sejak kecil jadi aku tidak akan mengikuti jejak buruknya," jawab Damian.


"Bagus, aku senang mendengarnya," Jager kembali mengambil gelas teh dan menyeruput isinya.


Dia benar-benar bangga dengan Damian. Memang tidak sia-sia dia membesarkan Damian dan menjadikan Damian sebagai putranya. Walau ayahnya tidak menginnginkan, tapi dia menginginkan bahkan dia sangat menyayangi Damian.


Saat itu, Ainsley keluar dari dapur dan mengajak mereka untuk makan. Damian menuntun ayahnya yang masih mengeluh sakit pinggang, itu akibatnya jika terlalu penasaran dan ingin tahu. Sepertinya setelah ini, ayahnya tidak akan melakukan hal itu lagi.


Ainsley dan Mayumi menyiapkan makanan ke atas meja saat mereka masuk ke dalam dapur. Mereka menikmati makanan yang terhidang sambil berbincang dan terkadang bercanda.


Jager mengelus dada, syukurlah Ainsley percaya tragedi cicak itu karena sebenarnya tidak ada cicak di rumahnya.