Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Sindrom Si Calon Ayah



Harry terlihat kusut, padahal sebentar lagi dia harus pergi untuk memberikan ucapan selamat pada Damian dan Ainsley. Semua ini gara-gara gadis gila yang muncul secara tiba-tiba dan yang memberikannya kesan yang tidak akan pernah dia lupakan.


Dia tidak akan lupa bagaimana gadis itu menyeruduk si junior, dia bahkan tidak lupa dengan rasa sakitnya. Jika sampai terjadi sesuatu dengan si junior, maka dia akan mencari gadis itu dan memintanya untuk bertanggung jawab.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, walau enggan tapi sebaiknya dia segera mandi. Dia sangat berharap tidak bertemu dengan gadis gila itu lagi besok tapi sayangnya, Anna sedang dalam rencana gilanya. Semoga dia bisa menghadapi gadis itu besok.


Di tempat lain, para pelayan yang bekerja di rumah Jager Maxton sedang sibuk menyiapkan perjamuan untuk menyambut kedatangan keluarga baru Damian. Walau itu bukan pertama kali mereka datang ke rumah itu tapi kali ini mereka datang dengan maksud baik jadi Jager dan Damian akan menyambut mereka dengan baik pula.


Ainsley dilarang melakukan apa pun semenjak dia hamil. Semua yang dia inginkan akan diambilkan bahkan Damian melarangnya ke kamar mandi sendirian karena dia takut, Ainsley terpeleset dan terjatuh di kamar mandi. Ainsley tampak cemberut, itu karena Damian tidak mengijinkannya pergi ke mana pun selain berbaring di atas tempat tidur.


Dia benar-benar tidak menyangka Damian begitu overprotektif bahkan apa yang hendak dia makan dicicipi terlebih dahulu oleh Damian. Dia tahu Damian mengkhawatirkan dirinya dan janin yang ada di rahimnya tapi tiba-tiba diperlakukan seperti itu membuatnya sangat tidak nyaman.


Damian masuk ke dalam kamar dengan semangkok sup yang dia buat sendiri. Sup itu bahkan sudah dia cicipi terlebih dahulu. Wajah Ainsley terlihat cemberut, entah kenapa dia jadi malas melihat wajah suaminya sendiri.


"Dam-Dam, besok aku mau pulang!"


"Apa maksudmu?" tanya Damian tidak mengerti.


"Aku bosan melihatmu jadi aku ingin pulang selama aku hamil!"


"What? Hei, kenapa begitu?" Sup diletakkan, Damian naik ke atas ranjang dan menghampiri istrinya yang sedang kesal.


"Kau terlalu overprotektif, aku tidak suka!"


"Tapi aku melakukan hal itu karena aku mengkhawatirkan dirimu, Sayang. Aku tidak mau terjadi apa pun padamu dan bayi kita!"


"Tapi kau tidak perlu berlebihan! Aku mau makan ini kau melarang, aku mau itu kau juga melarang. Sebaiknya aku pulang saja!" Ainsley membuang wajah, sebal.


"Aku tidak mau?" ucapan Damian terhenti karena Ainsley meletakkan jarinya di bibirnya.


"Aku tahu kau khawatir, tapi aku tidak suka kau seperti ini. Jika keadaanku membuatmu khawatir, maka lebih baik aku pulang dan berada di rumah sampai sindrom yang kau alami saat ini hilang!"


"Sindrom?" Damian memandangi istrinya dengan ekspresi heran.


"Yes, aku rasa kau mengalami sindrom sebagai calon ayah baru. Kau terlalu takut dengan keadaanku padahal perutku belum membesar dan aku baik-baik saja. Kau selalu melarang aku melakukan apa pun, kau bahkan tidak mengijinkan aku makan makanan yang dibeli di luar. Aku tidak suka dengan apa yang kau lakukan saat ini, Dam-Dam," Ainsley mengusap wajah suaminya, dia tidak mau suaminya terlalu berlebihan karena kehamilannya.


"Aku ingin kita seperti biasanya, melakukan kegiatan seperti biasanya sambil menjaga buah hati kita. Aku tidak ingin kita terlalu berlebihan. Kau lihat kakak ipar? Dia hamil anak kembar enam tapi dia baik-baik saja dan kakakku tidak mengkhawatirkan keadaannya terlalu berlebihan bahkan selama hamil kakak ipar masih melakukan olah raga seperti yang biasa dia lakukan."


Damian berpikir, sepertinya yang diucapkan oleh Ainsley sangat benar.


"Baiklah, sepertinya kau benar. Aku terlalu berlebihan," ucapnya.


"Aku berjanji akan melakukan apa pun yang kau mau," ucapnya lagi.


"Benarkah?"


"Yes, tapi jangan tinggalkan aku!" pinta Damian.


Ainsley tersenyum, dia tahu Damian khawatir tapi semoga setelah ini suaminya tidak terlalu berlebihan lagi.


"Apa keluargamu sudah datang?"


"Aku rasa sebentar lagi, makan sup ini. Perutmu tidak boleh kosong," Damian memberikan sup yang dia bawa pada istrinya. Dia tidak menyangka apa yang dia lakukan telah membuat istrinya tidak nyaman. Tapi dia senang Ainsley mau mengatakan hal itu dan terbuka dengannya, setidaknya dia jadi tahu kenapa istrinya cemberut akhir-akhir ini.


Komunikasi memang dibutuhkan dalam sebuah hubungan, jika Ainsley tiba-tiba pergi karena perlakuannya maka drama baru akan tercipta dan kisah ini tidak akan selesai. Wkwkwkwkwk....


"Maafkan aku Ainsley, aku tidak tahu telah membuatmu tidak nyaman dengan perhatian berlebihan yang aku berikan," ucap Damian, dia mengatakan hal itu karena dia merasa bersalah.


"Hei, tidak perlu dibahas! Aku tahu kau melakukan hal itu karena kau sayang padaku dan calon anak kita tapi tidak perlu terlalu berlebihan, oke?"


"Baiklah, aku akan mendengarkan perkataan istriku! Bagaimana jika kita mandi bersama?" Damian mencium pipi istrinya dan memainkan bibirnya di sana.


"Mandi atau?" goda Ainsley.


"Dua-Duanya!" jawab Damian seraya mencium bibir istrinya. Karena takut menyakiti calon bayi mereka, dia bahkan tidak berani menyentuh istrinya. Sekarang dia tidak akan menahan diri lagi, dia akan bersikap seperti biasa agar istrinya nyaman.


Ainsley sudah berada di dalam gendongannya. Selama menuju kamar mandi bibir mereka berdua tampak sibuk. Tangan mereka juga sudah sibuk saat mereka sudah berada di kamar mandi. Setelah pintu tertutup, hanya mereka yang tau apa yang mereka lakukan yang pasti mereka menikmati kebersamaan mereka di dalam sana sebelum Harry dan yang lainnya datang.


Semua hidangan sudah siap, Jager juga berada di rumah saat itu untuk menyambut kedatangan keluarga Windstond. Kali ini mereka datang dengan niat baik. Buah tangan yang akan diberikan untuk Ainsley sudah dibawa, mereka disambut dengan sangat baik oleh Jager Maxton, tidak seperti yang sudah-sudah.


"Apa kami mengganggu?" tanya Aland basa basi.


"Tidak, ayo masuk!" Jager mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumahnya. Sesuai dengan ucapannya, dia akan memperlakukan mereka dengan baik jika mereka memperlakukan Damian dengan baik dan sejak kejadian itu, hubungan mereka memang jauh lebih baik.


Damian dan Ainsley keluar dari kamar dan bergabung dengan mereka. Renata mengucapkan selamat dan memberikan buah tangan yang dia bawa. Harry memperhatikan Ainsley dan entah kenapa dia jadi teringat dengan gadis gila yang hampir membuatnya menjadi imp*oten.


Dia mengingat gadis itu bukan tanpa sebab, dia ingat bagaimana dulu dia mengejar Ainsley sampai membuat Ainsley kesal dan muak. Entah kenapa dia jadi merasa ini bagaikan sebuah balasan untuknya karena dulu dia mengganggu Ainsley.


Dia harap tidak bertemu dengan gadis itu lagi tapi tanpa dia tahu, Anna sedang pergi ke suatu tempat dan dia akan menemui Harry di kantor besok. Semoga saja Harry bisa tahan dengan gadis itu. Seperti yang dia lakukan dulu pada Ainsley, begitulah yang dia alami saat ini tapi gadis yang mengejarnya benar-benar menyukainya tanpa melihat statusnya.