
Tirai gorden terbuka, Anna berdiri di depan jendela sambil merenggangkan otot tangannya. Akhirnya setelah beberapa hari mengurung diri untuk menggambar, akhir pekan yang dia tunggu pun datang. Tidak sia-sia dia mengurung diri, selain bisa menghindari kejaran dari kedua pengawal sang ayah, dia juga menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.
Sekarang dia bisa fokus mengejar Harry lagi, semoga saja pria itu merindukan dirinya setelah tidak melihatnya beberapa hari. Walau Anna berharap demikian tapi dia tahu jika hal itu tidak mungkin terjadi dan dia yakin Harry senang karena dirinya tidak muncul.
Rasanya sedikit sulit, dia tahu tidak mudah. Dia bahkan rela melakukan hal yang memalukan tapi dia tidak boleh menyerah karena dia juga tidak mau menikah dengan orang yang tidak dia kenal. Jaman sudah modern, dia juga hidup di negara bebas di mana perjodohan adalah hal tabu di negara itu.
Ini pasti akal-akalan sang ayah saja agar dia cepat menikah tapi apa pun itu, dia harus mengejar Harry sampai dapat.
Anna melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Sekarang saatnya bersiap-siap, dia tidak boleh terlambat dan tidak boleh membuat calon mertua menunggu. Dia harus memberikan kesan baik pada keluarga Harry.
Saat itu, Renata sedang sibuk menyiapkan makanan untuk menyambut sang desainer yang sebentar lagi akan datang. Bukan karena Anna seorang desainer tapi karena Anna bukan putri orang biasa jadi dia harus menyambutnya dengan baik.
"Mom, untuk apa semua makanan ini?" tanya Isabel yang sedang membantu ibunya.
"Bukankah sudah Mommy katakan, ada tamu yang akan datang. Lagi pula kakakmu dan istrinya juga mau datang, jadi kita harus menyambut mereka dengan baik," jawab sang ibu.
"Desainer yang Mommy ceritakan waktu itu?"
"Yes," jawab sang ibu dan dia kembali sibuk.
"Hanya seorang desainer, aku rasa Mommy terlalu berlebihan!" ucap Isabel.
"Bella, bukan karena dia seorang desainer Mommy melakukan hal ini, statusnya yang tidak biasa itu jadi kita harus menyambutnya dengan baik."
"Memangnya kenapa dengan statusnya? Hanya desainer saja, bukan?" Isabela menatap ibunya dengan tatapan heran.
"Tidak, dia bukan desainer biasa."
"Ck, aku tebak dia hanya desainer artis saja!"
Renata tersenyum, mungkin orang akan berpikir demikian tapi Anna bekerja sendiri tanpa terikat dengan siapa pun dan menurut kabar, dia menjadi desainer hanya untuk menyalurkan hobinya saja.
"Dia bukan desainer artis saja, dia akan membuatkan rancangan untuk siapa saja tapi bukan itu yang jadi soal."
"Jadi?" Isabel jadi ingin tahu.
"Dia putri duta besar Briant Cedric."
"Wow, Mommy serius?" tanya Isabel tidak percaya.
"Tentu saja, Mommy bahkan tidak percaya saat mendengarnya tapi dia gadis yang ramah, dia bahkan mau datang ke rumah saat Mommy memintanya."
"Baiklah, aku akan membantu. Aku juga sudah tidak sabar melihat hasil rancangannya."
Mereka berdua sibuk, sedangkan Harry berada di dalam sebuah ruangan untuk melihat pekerjaannya. Dia tidak tahu jika Anna akan datang ke rumahnya hari ini, dia bahkan tidak bertanya saat melihat ibunya sedang sibuk. Dia pikir ibunya membuat banyak makanan untuk menyambut kedatangan Damian dan Ainsley.
Anna sudah siap, sketsa yang dia buat juga sudah berada di dalam tas. Dia harus mampir sebentar di toko roti, dia tidak mau pergi dengan tangan kosong. Sudah beberapa hari tidak melihat Harry, dia jadi merindukan pria itu.
Anna keluar dari apartemen dengan mengendap-endap, dia harus melihat situasi karena dia khawatir pengawal sang ayah sudah tahu keberadaannya dan benar saja dugaannya, si pengawal yang harus siap siaga di segala kondisi dan situasi karena sudah terlatih untuk melindungi ayahnya berdiri di bawah pohon.
Kedua pengawal itu melihatnya, Anna mengumpat dalam hati.
"Time to run, Anna!" ucapnya dan setelah itu Anna mengambil langkah seribu.
"Kejar!" salah satu dari mereka berteriak, salah satu dari mereka bahkan sudah mengeluarkan sebuah pistol yang akan menembakkan jarum bius. Mereka diijinkan untuk menggunakan senjata itu untuk menangkap Anna dan membawanya pulang dari sang ayah.
Anna berlari dengan sekuat tenaga, dia terkejut ketika melihat salah satu pengawal mengarahkan sebuah pistol ke arahnya.
"Daddy, kau keterlaluan!" teriak Anna sambil berlari ke sisi jalan lain agar dia tidak tertembak. Dia tahu pistol itu pasti pistol bius, sepertinya ayahnya benar-benar serius.
"Kepung!" kedua pengawal itu berpencar, Anna panik setengah mati. Dia berlari ke arah kerumunan orang, setidaknya pengawal ayahnya tidak akan berani menembakkan senjata bius itu.
Sepertinya dia benar-benar harus melarikan diri dari kejaran pengawal ayahnya selama tiga puluh hari, tidak. Waktu yang dia punya tinggal dua puluh hari lagi tapi dia belum bisa mendapatkan hati Harry.
Anna berlari melewati kerumunan dengan cepat, beruntungnya saat itu sedang ramai karena ada parade. Kedua pengawal mulai mencari dirinya di dalam kerumunan, mereka bahkan kesulitan melewati kerumunan yang semakin ramai. Dengan gerakannya yang lincah, Anna bisa meloloskan diri dengan mudah bahkan dia sudah berada di dalam taksi sambil mengatur napasnya yang hampir putus.
"Cari jika kalian bisa!" ucapnya sambil tersenyum lebar sambil melihat ke arah dua pengawal ayahnya.
Dua pengawal itu tidak menemukannya setelah mencari sekian lama di dalam kerumunan, mau tidak mau mereka harus menghubungi ayah Anna untuk memberi laporan.
"Sorry, Sir. Kami gagal menangkapnya," sang pengawal memberi laporan.
"Apa? Kalian pengawal terlatih, bagaimana bisa menangkap satu wanita saja tidak bisa?" ayah Anna terdengar marah.
"Maaf, Nona Anna sedikit cerdik dan kami tidak bisa mengambil tindakan sembarangan yang bisa melukai orang sipil," jawab si pengawal.
"Baiklah, lakukan semampu kalian dan aku ingin kalian juga melindunginya. Aku khawatir ada yang hendak berbuat jahat, jadi kalian harus menjaganya."
"Yes, Sir!" jawab sang pengawal.
Ayah Anna menghembuskan napas, sesungguhnya sangat berbahaya Anna berada di luar sana. Tapi karena Anna tidak pernah mau muncul di televisi sehingga tidak banyak orang tahu bagaimana rupa putrinya. Sebagai duta besar, tentu dia memiliki beberapa musuh yang tidak suka dengan dirinya. Semoga saja Anna baik-baik saja di luar sana.
Saat itu, Anna sudah tiba di rumah Harry. Sebelum turun dari taksi, Anna merapikan penampilannya. Jangan sampai keluarga Harry melihat penampilannya yang kacau dan menganggapnya orang gila. Ongkos taksi di bayar, Anna tersenyum melihat rumah dua lantai yang ada di hadapannya. Semoga saja Harry senang melihat kedatangannya.
Anna sudah berdiri di depan pintu, dia kembali melihat penampilannya sebelum mengetuk pintu. Sekarang sudah siap, jadi dia mengetuk pintu tanpa ragu.
Tidak perlu menunggu lama, pintu rumah terbuka karena Renata memang sudah menunggu kedatangannya. Anna tersenyum melihat wanita paruh baya itu.
"Maaf jika aku terlambat, Nyonya," ucap Anna basa basi.
"Tidak, kau datang tepat waktu. Masuklah," ucap Renata.
Anna mengangguk dan tersenyum, dia melangkah masuk mengikuti langkah Renata.
"Isabel, tamu kita sudah datang," Renata memanggil sang putri.
Isabel keluar dari dapur, dia segera menghampiri Anna dan menyapanya. Harry juga berada di dapur saat itu, dia sangat ingin tahu siapa yang ditunggu ibunya padahal dia mengira ibunya menyiapkan semua makanan itu untuk menyambut kedatangan Ainsley dan Damian.
Dia pikir dia akan keluar nanti setelah meneguk segelas air tapi tanpa dia duga, sang ibu membawa Anna ke dapur.
"Harry, ini Anna Cedric. Perancang yang Mommy tunggu," Renata memperkenalkan Anna pada putranya.
Anna melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum, sedangkan Harry terkejut melihatnya. Air bahkan menyembur keluar dari mulut Harry, dia bahkan tersendak air karena melihat gadis itu.
Renata melihat mereka berdua dengan tatapan heran. Anna masih tersenyum sedangkan Harry terlihat kesal. Apa ini tindakan seorang stalker?
Tapi dia rasa tidak mungkin karena dia tahu jika Anna memang seorang perancang. Kebetulan macam apa ini? Apa Anna sengaja mendekati ibunya? Sepertinya dia harus mencari tahu nanti. Anna masih tersenyum, sedangkan mata Harry terlihat mengincarnya, awas saja gadis itu nanti.