
Jager melihat sana sini, dia sedang menikmati tehnya pagi itu tapi matanya melihat pintu kamar Damian dan juga melihat pintu kamar Vivian. Dia sungguh penasaran, apa mereka tidur berdua? Dia harap demikian karena putranya harus banyak belajar apalagi kesempatan itu jarang didapatkan. Kapan lagi Ainsley akan menginap di rumah mereka?
Dia bahkan berharap mereka tidak perlu terburu-buru keluar dari kamar dan menghabiskan waktu berdua di dalam sana jika mereka tidur bersama. Ternyata tidak Jager saja yang penasaran, Mayumi juga terlihat penasaran. Matanya bahkan melihat ke arah pintu kamar Damian, ingin rasanya mengetuk pintu itu dan mencari tahu, apa Damian dan Ainsley berduaan di dalam sana?
Dia sungguh tidak rela jika hubungan Ainsley dan Damian semakin dekat karena dengan begitu, Damian tidak akan mempedulikannya lagi. Semua perhatian Damian pasti akan tercurahkan untuk Ainsley seorang. Mayumi berlalu pergi, sebelum ada yang curiga. Dia takut ayah Damian tahu jika dia mulai cemburu, jangan sampai dia diusir karena dia tidak punya tempat lagi.
Di dalam kamar, Ainsley masih tidur. Karena hari ini akhir pekan sehingga tidak perlu pergi ke kantor jadi Damian tidak membangunkannya. Damian memandangi wajah Ainsley sambil tersenyum, ini pertama kali dia melihat wajah Ainsley saat bangun tidur, manis seperti biasanya.
Dengan perlahan, Damian mengusap wajah Ainsley. Sebuah ciuman juga dia berikan di dahi, dia enggan meninggalkan Ainsley karena dia tahu, tidak mudah untuk bersama seperti itu lagi. Ainsley tidak mungkin menginap lagi, selain rumah mereka dekat, Ainsley juga tidak punya alasan untuk menginap di rumahnya.
Mata Damian tidak lepas dari wajah Ainsley, hidungnya, bibirnya dan terus kebawah. Pada akhirnya pandangannya jatuh ke dada Ainsley. Sial! Benda kenyal nan lembut yang dia sentuh dan remas semalam kembali teringat. Rasanya ingin menyentuhnya lagi, menikmatinya lebih lama. Akan dia lakukan nanti jika ada kesempatan dan tentunya jika Ainsley mengijinkan.
Ainsley masuk ke dalam pelukannya saat itu, mencari kehangatan. Damian kembali tersenyum dan mencium dahi Ainsley juga memberikan pelukan di tubuhnya.
"Morning, Sweetheart."
"Hm, jam berapa sekarang?"
"Jam tujuh, maybe jam delapan," jawab Damian.
"Masih pagi, aku malas bangun!"
"Jika begitu tidurlah lagi, tidak ada yang melarangmu!"
"Dam-Dam, aku haus," ucap Ainsley dengan manja.
"Oke, tunggu di sini," Damian mencium dahi Ainsley kembali sebelum beranjak pergi.
Ainsley memejamkan mata, dia jadi tidak mau Damian meninggalkannya karena dia ingin menikmati kebersamaan mereka pagi itu yang sulit terulang kembali. Damian juga enggan beranjak, bibirnya masih bermain di wajah Ainsley.
"Dam, minumannya?" pinta Ainsey karena dia sudah haus.
"Hm, akan segera aku ambilkan."
Mau tidak mau, Damian beranjak meninggalkan Ainsley, sedangkan gadis itu pergi ke kamar mandi. Damian keluar dari kamar dan ketika melihatnya, Jager terlihat begitu senang. Tidak perlu ditanya, dia yakin seratus persen jika mereka tidur bersama.
Dia ingin memanggil Damian tapi putranya masuk ke dalam kamarnya untuk mencuci muka dan ketika Damian mengambil air hangat yang diminta oleh Ainsley, Jager memanggilnya karena dia ingin tahu apa yang mereka lakukan semalam.
"Hei, katakan pada Daddy, apa yang kalian lakukan semalam?" tanya Jager sambil berbisik.
"Daddy selalu saja penasaran," jawab Damian.
"Ayolah, itu karena kau tidak pernah pacaran sebab itu Daddy ingin tahu."
"kau tahu, Dad?" Damian meneguk air yang dia ambil dan setelah itu dia berbisik pada ayahnya, "Aku rasa Daddy akan punya cucu lagi!" ucapnya asal.
"Apa? Kau serius?" Jager tampak sedikit terkejut dan memandangi putranya dengan tatapan tidak percaya.
Damian tersenyum sambil mengangguk, dia sangat senang menggoda ayahnya. Damian mengambil air hangat yang akan dia berikan pada Ainsley, sebelum pergi dia kembali berkata pada ayahnya, "Jangan remehkan pria tidak berpengalaman ini, Dad. Aku mau melanjutkan pagi panasku, sebaiknya Daddy tidak mengintip dan menguping!" ucapnya.
"Nah, ini baru putraku! Jangan terlalu lama jadi perjaka tua jadi jangan lepaskan dan buat dia mengeluh sampai sakit pinggang!"
Damian melangkah pergi sambil tertawa, begitu juga Jager Maxton. Pria tua itu masuk ke dalam kamarnya dan terlihat sangat senang. Sebaiknya dia menghubungi putrinya dan mengatakan jika kakaknya sudah melepaskan keperjakaannya dan tentunya Vivian tertawa terbahak-bahak saat ayahnya mengatakan jika kakaknya sudah tidak perjaka lagi.
"Apa? Tidak mungkin!" ucap ayahnya tidak percaya.
"Percayalah, Dad. Mereka tidak mungkin melakukannya secepat itu apalagi ini pertama kalinya mereka tidur bersama."
"Ck, sepertinya kau benar!" ucap ayahnya dengan nada kecewa.
"Tidak perlu terburu-buru, Dad. Biarkan saja mereka menikmati kebersamaan mereka apalagi mereka baru menjalin hubungan. Jika sudah waktunya maka akan terjadi juga."
"Baiklah, kau benar. Dasar perjaka tua itu beraninya menipu aku!" gerutu Jager kesal, sedangkan Vivian kembali tertawa.
Tidak saja Vivian yang tertawa, Damian juga tertawa di dalam kamar sampai membuat Ainsley heran.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Ainsley penasaran.
"Tidak, tidak ada apa-apa!"
"Lalu kenapa kau tertawa?"
"Tidak ada, kemarilah!" Damian menepuk kedua pahanya. Dia ingin Ainsley bermanja dengannya hari ini.
Ainsley mendekatinya dengan ragu, dan memberanikan diri untuk duduk di atas pangkuan Damian. Dia bahkan tersenyum canggung karena dia malu. Damian tersenyum, rambut Ainsley diselipkan di belakang telinga dan setelah itu Damian mencium pipi Ainsley dengan lembut.
"Jam berapa kau akan pulang?" tanya Damian sambil berbisik, sedangkan bibirnya bermain di pipi Ainsley.
"Apa kau ingin aku cepat pulang?"
"No!" Damian mendekatkan bibir mereka dan mencium bibir Ainsley dengan mesra.
Mereka berciuman cukup lama dan pada saat itu, terdengar suara Mayumi di depan pintu memanggil Ainsley. Gadis itu beranjak dengan terburu-buru dan membuka pintu, Mayumi tersenyum dengan manis ketika melihat Ainsley.
"Maukah lari pagi denganku?" ajak Mayumi.
"Boleh, tunggu sebentar. Aku bersiap-siap terlebih dahulu," jawab Ainsley sambil tersenyum.
Mayumi mengangguk dan mengintip ke dalam, dia melihat Damian duduk di sisi ranjang. Sungguh dia sangat pensaran, apa yang sebenarnya mereka lakukan di dalam kamar? Ainsley memintanya untuk menunggu dan setelah itu pintu di tutup. Walau merasa kesal tapi Mayumi berjalan pergi.
"Aku mau pergi lari pagi dulu dengan Mayumi," ucap Ainsley seraya mengikat rambutnya ke atas.
"Pergilah," Damian bangkit berdiri, dia tidak akan melarang Ainsley.
"Apa kakak ipar punya baju olahraga?"
"Sepertinya punya."
Ainsley mengangguk dan berjalan menuju lemari. Ternyata benar, beberapa potong baju olahraga ada di sana karena Vivian memang suka berolahraga. Tidak saja baju, sepatu olahraga juga ada. Untung saja ukuran yang mereka pakai sama. Setelah mendapatkannya, Ainsley mengganti bajunya dengan cepat karena dia tidak mau membuat Mayumi menunggu.
Lari pagi bukan ide yang buruk, mungkin dengan demikian persahabatannya dengan Mayumi akan semakin dekat. Damian dan Ainsley keluar dari kamar. Damian mencari ayahnya bersama dengan Ainsley. Setelah berpamitan padan Jager Maxton, Ainsley dan Mayumi pergi lari pagi berdua. Mereka menikmati waktu mereka tanpa ada yang menduga sama sekali jika Harry akan datang ke sana hari ini.
Naskah pertama di tolak All, jadi aku tidak akan nulis adegan dewasa apa pun bentuknya di apk ini. Maaf. Aku udah tulis capek-capek tapi ditolak. Ini aku tulis ulang, jangan mengeluh karena pendek, aku udah ngak bersemangat. Hari ini satu ya, aku down karena di tolak naskah awal.