
Damian sedang menunggu Ainsley saat itu karena Ainsley sedang mencoba memakai Yukata. Sudah berada di Jepang jadi dia harus mencoba memakai pakaian itu sekali-kali. Jika memakai Yukata di Amerika, mungkin dia akan ditertawakan oleh kedua kakaknya.
Sepertinya dia juga harus cosplay beberapa kostum seperti gadis-gadis Jepang, mungkin akan menyenangkan memakai baju dari karakter anime. Sepertinya dia harus mengajak Damian melakukannya walau sepertinya dia tidak akan mau.
Selama menunggu Ainsley memakai yukata, Damian menghubungi ayahnya karena dia ingin tahu apa yang sedang ayahnya lakukan. Dia juga ingin tahu apa keluarga Windstond mendatangi ayahnya atau tidak karena dia tidak mau ayahnya sakit tapi yang paling ingin dia lakukan adalah, dia ingin ayahnya tahu jika dia sudah melamar Ainsley. Ibunya sudah tahu dan sekarang, ayahnya juga harus tahu.
Ponsel Jager berbunyi ketika dia sedang bermain bersama dengan cucunya. Jager terlihat bersemangat ketika melihat nama putranya. Jujur dia sudah begitu penasaran dengan apa yang si tidak peka itu lakukan. Jangan katakan dia tidak melakukan apa pun padahal mereka sudah berdua dan bisa melakukan apa saja.
"Bagaimana?" tanya Jager tanpa basa basi.
Damian mengernyitkan dahi, apa maksud ayahnya yang bagaimana?
"Apanya yang bagaimana?" tanya Damian.
"Hubungan kalian berdua bagaimana, oh astaga!"
"Baik-baik saja, apanya yang bagaimana?" Damian jadi mengerti tapi dia pura-pura tidak tahu apa yang ingin ayahnya tahu, biarkan saja ayahnya penasaran.
"Dad, apa keluarga Windstond ada datang mencarimu?"
"Tidak, kau tidak perlu khawatir. Jika salah satu dari mereka ada yang datang maka aku dan adikmu akan menendang mereka sebelum mereka menghina dirimu!"
Damian terkekeh, dia percaya ayah dan adiknya akan melakukan hal itu tapi dia tetap berharap tidak ada yang datang terutama istri ayahnya. Mulut wanita itu bagaikan ular berbisa yang bisa mengucapkan apa saja yang dia mau. Jangan sampai ayahnya masuk rumah sakit akibat emosi mendengar perkataan wanita itu.
"Baiklah, aku hanya tidak mau Daddy sakit karena emosi saat menghadapi mereka. Aku juga ingin mengatakan pada Daddy jika aku sudah melamar Ainsley di depan makam Mommy jadi aku ingin Daddy juga tahu akan hal ini."
"Jadi kau sudah melamarnya?" Jager terlihat senang, dia tidak menyangka putranya akan melakukan hal itu begitu cepat. Tapi itu kabar bagus, lebih cepat lebih baik.
"Yes, setelah kembali aku dan Ainsley akan mempersiapkan pernikahan kami."
"Bagus, Daddy senang mendengarnya. Semakin cepat kalian menikah maka akan semakin baik," ucap Jager dengan wajah berseri.
Dia benar-benar senang tapi tidak dengan seseorang yang tampak murung ketika mendengar kabar itu. Jadi Damian dan Ainsley akan segera menikah? Entah kenapa rasa iri memenuhi hati. Tidak saja rasa iri, rasa sedih juga takut kehilangan memenuhi hati.
Sepertinya dia akan kehilangan orang yang dekat dengannya satu persatu, mulai dari ayah, kekasih lalu sekarang sahabat. Kenapa semuanya meninggalkan dirinya?
Mayumi masuk ke dalam kamar, dia benar-benar butuh waktu sendirian. Kekasihnya belum juga ditemukan dan sekarang dia akan kehilangan sahabat baiknya sebentar lagi. Sebaiknya dia pergi ke kantor, mungkin perasaannya akan jauh lebih baik jika berada di sana. Lagi pula dia tidak mau Jager dan Vivian mencurigainya. Seharusnya dia senang dengan kabar itu, tapi kenapa takut kehilangan yang dia rasakan?
Jager masih berbicara dengan Damian saat Mayumi hendak pamit pergi ke kantor, gadis itu tersenyum manis untuk menyembunyikan kesedihan hatinya. Dia harap bisa melupakan kesedihan hatinya dengan cara menyibukkan diri. Sepertinya tidak lama lagi dia akan kesepian.
"Uncle, aku mau pergi ke kantor," ucapnya.
"Baiklah, hati-hati," jawab Jager sambil melirik ke arahnya sejenak.
"Siapa, Dad?" tanya Damian.
"Mayumi, dia ingin pergi ke kantor."
"Baiklah, nanti aku hubungi lagi karena Ainsley sudah selesai."
"Oke, nikmati waktu kalian baik-baik di sana dan jangan khawatirkan aku."
"Oke," jawab Damian, dia sudah beranjak dan mendekati Ainsley yang terlihat begitu cantik dalam balutan yukata.
Pembicaraan mereka selesai, Damian menghampiri Ainsley sambil tersenyum. Ainsley terlihat luar biasa, apalagi rambutnya sudah dijepit dan diberi hiasan yang begitu cantik.
"Bagaimana?" tanya Ainsley seraya memutar tubuh agar Damian bisa melihat yukata yang dia pakai.
"Kau terlihat luar biasa," puji Damian.
"Yes," Damian meraih pinggang Ainsley dan merapatkan tubuh mereka berdua.
"Bagaimana jika sekarang juga kita kembali ke hotel?" tanyanya.
"Kenapa harus kembali ke hotel?" Ainsley tampak mengernyitkan dahi.
"Karena aku sudah tidak sabar untuk membukanya!"
"Mesum!" Ainsley memukul bahu Damian sedangkan Damian terkekeh dan memberikan ciuman di pipi.
"Apa lagi yang mau kau lakukan setelah ini?"
"Cosplay!" jawab Ainsley sambil tersenyum lebar.
"What?" Damian memandangi Aisnley, apa Ainsley serius?
"Kita ke Harajuku lalu kita melakukan cosplay di sana."
"Oh No, jangan katakan kau mau bergaya lolita!" ucap Damian.
"Ide bagus, sepertinya aku cocok."
"Tidak!" tolak Damian. Demi apa pun dia tidak mau melihat Ainsley bergaya seperti itu. Memakai baju yang minim lalu rambutnya dia blow mengembang, memakai kostum pelayan dan kostum anime terkenal di Jepang atau memakai seragam dengan rok super pendek? Walau dia besar di Jepang tapi dia tidak mau melihat gadis yang dia sukai bergaya seperti itu.
"Ayo kita ke Harajuku!" ajak Ainsley dengan penuh semangat.
"Tidak, hei!" tangan Damian sudah ditarik oleh Aisnley, gadis itu semakin terlihat bersemangat.
Damian tidak berdaya, semoga saja mereka tidak cosplay menjadi Sakura dan Sasuke atau semacamnya! Oh tidak, dia bahkan tidak berani membayangkannya.
Sementara itu di tempat lain, Mayumi sudah tiba di kantor, Mayumi melangkah dengan terburu-buru tapi sayangnya langkah Mayumi harus terhenti karena Sherly memanggilnya. Mayumi melihat ke arah wanita itu dan tampak tidak mengerti, untuk apa Sherly memanggil dirinya?
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Sherly.
"Kau?" Mayumi memandangi Sherly dengan lekat.
"Masih ingat denganku, bukan?" tanya Sherly.
"Ya, tapi Damian sedang tidak ada."
"Aku tidak mencarinya tapi aku ingin berbicara denganmu. Apa kau punya waktu?" tanya Sherly.
"Tidak!" tolak Mayumi.
"Hei, aku hanya ingin tahu tentang Damian."
"Jika kau ingin tahu, temui dia dan cari tahu sendiri!" jawab Mayumi ketus, moodnya lagi tidak bagus sehingga dia malas berbasa basi dengan Sherly.
"Sebentar saja, aku hanya ingin menanyakan beberapa hal tentang Damian."
"Aku tidak punya waktu!" Mayumi melangkah masuk.
"Hei, kembali. Aku hanya ingin bicara sebentar!" teriak Sherly tapi Mayumi tidak mempedulikannya.
Sherly mengumpat marah, dia hanya ingin bicara saja tapi kenapa wanita itu begitu menyebalkan dan sombong? Awas saja nanti, dia akan balas jika ada kesempatan. Sherly berlalu pergi dengan kekesalan di hati, padahal dia hanya ingin bertanya sedikit tentang Damian tapi dia tidak berhasil.
Mayumi merasa tidak kenal dengan Sherly, dia juga merasa tidak perlu berbicara dengan Sherly tapi sayangnya, dari sanalah permasalahan itu akan terjadi nantinya sehingga Mayumi harus mengambil keputusan sulit.