
Siang itu, Ainsley terlihat berbaring di sofa yang ada di ruangannya dan terlihat bosan. Pekerjaannya sudah selesai, sebuah dokumen sudah dia periksa jadi tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Rasanya ingin pergi ke suatu tempat dan melakukan hal menyenangkan, bagaimana jika dia mengajak Damian pergi jalan-jalan?
Ainlsey menatap langit kamar dan diam saja, pikirannya melayang jauh dan tiba-tiba saja wajahnya memerah karena dia teringat dengan piknik yang dia lakukan dengan Damian. Dia sangat ingin tahu, Damian menganggapnya sebagai apa? Apa pria itu menganggapnya teman? Atau keluarga? Atau dia memandang dirinya sebagai wanita spesial?
Hubungan mereka memang seperti biasanya tapi ada beberapa hal yang tidak pernah mereka lakukan seperti pelukan dan ciuman, walau hanya sebuah ciuman di dahi dan pipi tapi mereka baru melakukan hal seperti itu akhir-akhir ini. Apa Damian menganggapnya spesial? Dia sangat ingin tahu tapi apa dia yang harus bertanya terlebih dahulu?
Ainsley mengambil ponsel-nya dan memutar benda itu di tangan, dia terlihat ragu dan berpikir. Haruskah dia yang melakukannya terlebih dahulu?
"No, Ainsley, No!" ucapnya seraya meletakkan ponsel-nya kembali.
Ainsley kembali menatap langit ruangan, entah kenapa dia jadi berharap Damian menghubunginya dan mengajaknya makan siang. Mungkin dia harus memancing pria itu, awas saja jika tidak mengerti maksudnya. Ainsley mengambil ponsel-nya kembali dan menulis sebuah pesan di sana, dia harap Damian segera mengubunginya tapi sayangnya tidak.
Lima menit telah berlalu, Ainsley terlihat gelisah. Terkadang dia melihat ke arah ponsel dan terkadang dia melihat ke langit ruangan. Jari jemarinya tampak bermain, dia terlihat semakin gelisah tapi dua puluh menit telah berlalu, Damian tidak juga menghubunginya.
"Dasar tidak peka dan membosankan!" gerutu Ainsley kesal. Ternyata yang dikatakan oleh ayah Damian sangat benar, pria itu tidak peka.
Ainsley meraih ponsel-nya dan menegakkan duduknya. Dia mulai mencari nomor ponsel Damian dan setelah itu dia menghubungi pria itu tanpa ragu. Padahal dia sangat berharap Damian menghubunginya terlebih dahulu tapi sepertinya hal itu tidak mungkin.
Ketika ponsel-nya berbunyi, Damian sedang sibuk. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Itu sebabnya dia tidak melihat pesan yang dikirimkan oleh Ainsley. Ponsel di raih dan tanpa melihat lagi, DamianĀ menjawab teleponnya.
"Hallo?"
"Dam-Dam."
"Ainsley?"
"Aku mau mengajak Mayumi makan siang dan jalan-jalan, apa boleh?" tanya Ainsley dengan nada kesal sampai membuat Damian heran. Ada apa dengan gadis itu?
"Boleh tidak?!" tanya Ainsley lagi dengan nada kesal karena Damian belum menjawab.
"Tentu saja boleh, tapi apa kau hanya akan mengajaknya saja?" tanya Damian seraya melihat jam tangannya. Ternyata sudah waktunya makan siang dan dia tidak menyadari hal itu.
"Ya, aku mau mengajaknya makan, jalan-jalan dan cari pacar!" Jawab Ainsley dengan nada ketus.
"Apa? Hei!" Damian hendak protes tapi sayangnya Ainsley sudah mematikan ponsel-nya.
Damian memandangi ponsel-nya sambil mengernyitkan dahi, dia baru sadar Ainsley mengirimkan sebuah pesan untuknya. Damian membaca pesan itu sehingga dia jadi tahu kenapa Ainsley terdengar kesal.
Setelah mematikan ponsel-nya, Ainsley bergegas karena dia mau mengajak Mayumi jalan-jalan. Lagi pula dia sudah tidak ada kerjaan, kesempatan ini bisa dia gunakan untuk menjalin persahabatan dengan Mayumi dan juga mengajak Mayumi menikmati keindahan kota San Francisco.
Begitu dia tiba, Mayumi sudah siap. Mayumi sangat senang karena ini pertama kali dia diajak jalan-jalan selama dia berada di kota itu. Dia bahkan terlihat tidak sabar dan menghampiri Ainsley dengan terburu-buru ketika dia melihat Ainsley. Tidak dia saja yang menunggu, ternyata Damian juga sedang menunggu.
Dia juga menghampiri Ainsley tapi gadis itu membuang wajah ketika melihatnya sampai membuat Damian heran. Apa Ainsley sedang marah?
"Apa kau sudah siap pergi, Mayumi?" tanya Ainsley.
"Tentu, aku sudah tidak sabar," jawab Mayumi.
"Ayo, kita jalan-jalan sampai sore dan cari pria tampan!" ucap Ainsley sambil melirik ke arah Damian.
"Hei... Hei, jangan sembarangan!" ucap Damian.
"Bye, Tuan tidak peka dan membosankan!" ucap Ainsley seraya menarik tangan Mayumi pergi.
"Apa?" Damian tertegun, apa dia membosankan?
Mayumi menoleh ke belakang dan terkekeh ketika melihat ekspresi Damian. Pria itu bahkan tidak bergeming dan masih melihat ke arah mereka.
"Hei, kau baru saja menyinggungnya!" ucap Mayumi.
"Biarkan saja, aku hanya bercanda. Jika kau mengkhawatirkannya kau bisa menghiburnya."
"Jangan salah paham padaku, Ainsley."
"Maksudmu?" tanya Ainsley tidak mengerti.
Pembicaraan mereka terhenti saat mereka masuk ke dalam mobil melalui pintu yang berbeda. Ainsley meminta supir pribadinya membawa mereka ke restoran dan selama di perjalanan mereka kembali berbincang.
"Tenang saja Ainsley, aku tidak akan merebut Damian darimu,'" jawab Mayumi.
"Apa? Jangan sembarangan bicara!" wajah Ainsley memerah karena ucapan Mayumi.
"Aku serius, kami hanya teman jadi jangan salah paham karena kedekatan kami."
"Baiklah, tapi kenapa kau ada di kota ini, Mayumi? Apa kau dalam masalah?"
Mayumi tersenyum tipis dan setelah itu dia menunduk, wajahnya bahkan terlihat sedih karena dia teringat dengan ayahnya.
"Mayumi, what's wrong?" Ainsley jadi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku jadi teringat dengan ayahku," jawab Mayumi.
"Jadi? Kau benar-benar sedang dalam masalah?" tanya Ainsley, sedangkan Mayumi mengangguk.
"Katakan padaku, apa yang telah terjadi padamu?"
Mayumi terlihat ragu karena dia tidak mau ada yang tahu permasalahan yang sedang dia alami apalagi dia harus waspada.
"Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan pada siapa pun apa yang sedang kau alami. Trust me," ucap Ainsley saat melihat keraguan Mayumi.
"Baiklah, aku akan mempercayaimu."
"Jika begitu katakan padaku, apa yang terjadi?"
"Aku sedang dikejar oleh dua yakuza Ainsley, jadi Damian membawaku dan menyembunyikan aku di sini."
"Benarkah?" Ainsley jadi iba dengan Mayumi.
"Kau tidak terkejut?" tanya Mayumi.
"Tentu tidak, katakan padaku kenapa mereka mengejarmu? Sebagai teman aku pasti akan membantumu."
"Thanks Ainsley, tapi aku tidak mau melibatkan dirimu," Mayumi tersenyum. Sepertinya wanita yang disukai oleh Damian bukan orang biasa. Dia tahu siapa yang disukai oleh Damian selama ini, sebagai teman dia sangat tahu.
"Tidak perlu khawatir dan katakan padaku semua yang kau alami," Ainsley menyentuh tangan Mayumi. Dia pasti akan membantu Mayumi jika dia bisa.
"Ayahku membuat janji dengan Akira dan dia adalah pemimpin sebuah kelompok di Jepang. Ayahku berjanji akan menikahkan kami tapi aku menolak dan karena penolakan yang aku lakukan, kami diserang secara tiba-tiba sehingga ayahku memilih bunuh diri secara terhormat dari pada di tangkap lalu dijadikan sandera."
"Oh ya ampun," Ainsley tidak percaya mendengarnya tapi dia kembali bertanya karena dia penasaran, " Kenapa kau menolaknya, Mayumi?"
"Karena sudah ada pria lain di hatiku!" jawab Mayumi tanpa ragu.
"Oh ya?"
"Jangan salah paham, tolong," pinta Mayumi dengan cepat karena dia takut Ainsley salam paham.
"Yang aku cintai bukan Damian, dia temanku yang paling baik dan dia juga tahu siapa yang aku sukai."
"Jadi sebab itu kau bilang tidak akan lama karena kau sedang menunggu pria yang kau cintai di sini?" tanya Ainsley.
"Benar, dia sudah berjanji akan menjemput aku dan membawa aku pergi yang jauh agar para yakuza itu tidak bisa menemukan keberadaanku. Oleh sebab itu Damian menyembunyikan aku di sini untuk sementara hingga kekasihku datang menjemput."
"Kau tidak perlu takut Mayumi, selama kau berada di sini, kau akan aman."
"Benarkah?"
"Yes, karena kau teman baik Damian jadi aku pasti akan membantumu."
"Thanks, Ainsley," Mayumi memeluknya, dia tidak menyangka masih ada orang yang peduli padanya di saat dia sedang mengalami masalah. Orang yang baru dia kenal begitu peduli, sedangkan sahabatnya yang ada di Jepang tidak mau terlibat. Jika tidak ada Damian, mungkin saat ini dia sudah berada di tangan Akira dan Katsuo dan dipermainkan oleh mereka sampai mati.
Mereka kembali berbincang dan mereka akrab dengan cepat. Ainsley mengajak Mayumi makan sampai puas, jalan-jalan dan membeli banyak barang. Mereka menikmati waktu mereka layaknya sudah berteman lama tapi seorang pria tampak berpikir dengan keras, apa benar dia begitu membosankan? Sepertinya dia harus mencari tahu masalah ini pada ahlinya.