
Anna sedang membuat makan siang saat itu. Dia berencana menemui Harry dan mengajaknya makan siang bersama tapi dia sangat heran mendengar suara berisik yang ada di luar sana. Karena penasaran, Anna keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar.
Dia tebak ada yang hendak menepati apartemen yang ada di samping apartemennya karena di sana kosong dan benar saja, di luar para jasa angkat barang tampak sedang sibuk mengangkat barang-barang masuk ke dalam apartemen yang ada di samping kamarnya.
Anna mengangkat bahu, bagus jika ada yang menghuninya. Semoga saja yang menghuni seorang wanita sehingga dia punya teman selama berada di sana walau sesungguhnya dia tidak lama. Anna kembali masuk ke dalam, lebih baik dia kembali menyelesaikan makanan yang sedang dia buat dan pergi. Jangan sampai Harry sudah makan siang saat dia datang. Jika sampai hal itu terjadi maka sia-sia makanan yang dia buat.
Anggap makanan yang dia bawa sebagai ungkapan terima kasihnya karena keluarga Harry sudah menyambut dan menjamunya dengan baik. Anna tersenyum, entah kenapa tiba-tiba kejadian di rumah Harry teringat. Matanya kini jatuh pada luka yang ada di tangan, tidak masalah mendapat luka yang penting dia bisa mencium pria yang dia sukai.
Anna benar-benar sudah tidak sabar, setelah makanan yang dia buat jadi dan siap, Anna bergegas untuk pergi ke kantor Harry. Saat keluar dia masih melihat apartemen yang hendak dihuni oleh penghuni baru. Anna berdiri beberapa menit untuk melihat jasa angkut barang tapi tidak lama kemudian dia bergegas pergi.
Dia tidak akan menyangka jika dia akan mendapatkan kejutan nanti, dan tentunya kejutan dari pria yang tidak terduga.
Anna mengendap keluar dari apartemen, dia tahu dua pengawal ayahnya pasti ada di bawah. Dia harus waspada agar tidak tertangkap, dia bahkan menyamar saat itu agar tidak ketahuan. Anna tetap waspada, dia berjalan dengan cepat sebelum kedua pengawal itu mencurigainya karena mereka sedang melihat ke arahnya saat itu.
Sebuah taksi bahkan Anna hentikan dengan cepat, hari ini dia tidak mau berlari. Tidak, karena dia tidak mau makanan yang sudah dia buat dengan susah payah hancur berantakkan. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang waktu dia tiba, Anna menghampiri resepsionis yang ada di sana.
Para karyawan sudah terbiasa, apalagi gosip mengenai penyakit impoten yang bos mereka derita masih menjadi perbincangan hangat dan mereka masih menganggap Anna sebagai dokter terapi spesial bos mereka untuk menyembuhkan penyakitnya.
Anna bahkan dibawa naik ke atas tanpa banyak ditanya seperti waktu itu. Walau tidak mengerti tapi Anna senang-senang saja karena tujuannya sampai sekarang berjalan mulus tanpa hambatan. Harry berada di dalam ruangannya ketika suara pintu diketuk, dia juga terlihat sibuk.
"Masuk!" perintah Harry tanpa melihat ke arah pintu karena dia pikir itu pasti sekretarisnya.
Mata Harry sibuk melihat dokumen saat Anna masuk ke dalam. Anna tersenyum melihat pria yang dia sukai. Terus terang saja, dia lebih suka pengusaha dari pada pejabat.
"Hai, apa aku mengganggu?"
Harry terkejut, matanya kini menatap Anna dengan tajam. Untuk apa gadis itu datang? Tapi ada baiknya, dia juga ingin berbicara pada Anna dan meminta Anna untuk berhenti mengejarnya karena dia tidak akan tertarik dengan gadis itu.
Dia sudah tidak mau terpikat dengan gadis yang memiliki kedudukan, yang dia inginkan sekarang adalah gadis sederhana yang bisa dia lindungi. Putri pejabat seperti Anna tidak jauh beda dengan Ainsley walau Anna tidak sebanding dengan Ainsley.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Anna lagi.
"Kenapa kau datang?" tanya Harry basa basi seraya meletakkan dokumennya ke atas meja.
"Aku membuat banyak makanan dan ingin mengajakmu makan siang. Anggap ini sebagai ucapan terima kasihku karena keluargamu sudah menyambut aku dan menjamu aku dengan baik."
Harry menghela napas, rasanya jadi terbiasa dengan kehadiran Anna. Pria itu beranjak, Anna terlihat senang karena Harry tidak menolak. Dia segera bergegas mengikuti langkah Harry yang menuju ke arah sofa.
Anna duduk tidak jauh daru Harry tanpa perlu dipersilakan, dia mulai mengeluarkan makanan yang dia buat dengan susah payah.
"Besok kau bisa mengantar aku ke rumah Ainsley, bukan?" tanya Anna sambil mengeluarkan makanan.
"Kenapa kau tidak pergi sendiri? Apa kau tidak bisa?"
"Ayolah, dia adik iparmu. Aku tidak tahu jalannya!" dusta Anna.
Harry diam saja, tidak mungkin Anna tidak tahu. Dia tahu ini akal-akalan Anna saja agar gadis itu bisa bersama dengannya.
"Tidak sepantasnya kau melakukan hal ini, Anna," ucap Harry.
"Maksudmu?" Anna memandanginya dengan tatapan tidak mengerti.
"Anna, berhentilah mengejarku. Seorang putri duta besar tidak layak melakukan hal seperti ini!"
"Memangnya kenapa jika aku putri duta besar? Kau tidak benci dengan aku, bukan?"
"Anna, kau putri seorang pejabat, tidak seharusnya kau mengejar aku! Seharusnya kau bersama dengan pejabat yang sederajat denganmu, bukan pengusaha seperti aku!"
"Ck, omong kosong! Walau aku putri seorang pejabat bukan berarti aku harus menikah dengan seorang pejabat juga. Lagi pula yang menjadi pejabat adalah ayahku, saat masa kepemimpinannya sudah selesai maka kami akan menjadi orang biasa bahkan kami bisa menjadi seorang pengusaha seperti dirimu atau kami bisa menjadi peternak di desa!" ucap Anna.
"Tapi saat ini kau putri seorang pejabat!"
"Lalu? Jangan katakan kau menolak aku karena hal itu?" tanya Anna sambil menatap ke arah Harry.
Harry diam saja, belum menjawab Anna. Anna menghampiri Harry dan duduk di sampingnya, dia jadi ingin tahu seperti apa wanita yang disukai oleh Harry.
"Katakan padaku, Harry. Wanita seperti apa yang kau sukai dan katakan padaku, apa kau tidak suka dengan pejabat?"
"Tidak, aku tidak benci pejabat," jawab Harry sambil menggeleng.
"Bagus, kau lihat aku? Aku hanya seorang desainer. Aku tidak mungkin mengikuti jejak ayahku karena aku tidak suka politik. Mengejarmu saja sulit bagaimana aku bisa memikirkan hal rumit!" ucap Anna karena dia memang tidak tertarik dengan dunia politik.
"Tapi saat ini ayahmu seorang pejabat, bukankah yang kau lakukan saat ini bisa mempermalukan dirinya?"
"Aku tahu batasanku, Harry. Coba ini, aku membuatnya dengan susah payah," Anna memberikan makanan yang dia sendok kepada Harry. Senyum menghiasi wajahnya saat memberikan makanan itu, dia senang ternyata Harry tidak punya niat untuk memanfaatkan kedudukan yang dimiliki ayahnya. Ternyata dia tidak salah pilih.
Anna semakin terlihat senang saat Harry menerima makanan yang dia berikan. Harry tidak berkata apa-apa lagi, dia mulai menikmati makanan yang dibuat oleh Anna. Tidak buruk, setidaknya makanannya lebih enak dari pada makanan yang dibuat oleh Ainlsey waktu itu.
"Harry, dulu aku dengar kau punya tunangan. Mana dia?" tanya Anna ingin tahu.
"Kau sudah tahu aku punya tunangan lalu kenapa masih mengejar aku?"
"Aku jatuh cinta padamu tanpa tahu akan hal ini tapi sekarang aku sudah tahu jika kau dan tunanganmu sudah berakhir sebab itu aku memutuskan untuk mengejarmu."
Harry diam saja, enggan membahas masalah Sherly. Harry beranjak, karena dia ingin mengambilkan air minum untuknya dan Anna.
Anna memperhatikan Harry dalam diam, walau Harry memintanya untuk berhenti tapi dia tidak akan berhenti. Anna kembali menyendok makanan dan hendak makan tapi niatnya terhenti karena ponselnya berbunyi. Anna meletakkan tempat makanan ke atas meja, itu pasti dari ibunya.
Ponsel diambil, Anna tampak mengernyitkan dahi ketika melihat nomor yang tidak dikenal. Mungkin itu dari klien baru jadi dia menjawab tanpa ragu.
"Hallo, Anna Cedric di sini," ucapnya basa basi.
"Anna, ini aku," terdengar suara pria.
"Kau, siapa?" tanya Anna heran.
"Kau lupa denganku?"
"Serius, yang aku kenal banyak dan kau siapa?" Anna semakin penasaran.
"Aku, Marco."
"Marco!" Anna hampir berteriak saat tahu jika yang menghubunginya adalah si teman lama.
Harry berpaling, melihat ke arahnya. Niatnya mengambil air bahkan tertunda. Anna terlihat senang, berbicara dengan seseorang yang dia panggil Marco. Entah kenapa dia jadi ingin tahu. Siapa Marco?