Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Menakuti Mayumi



Ainsley sedang menyiapkan sarapan pagi itu. Setelah melewati malam panas tanpa keluar dari kamar, sekarang mereka butuh makan untuk mengisi tenaga.


Hari ini mereka berencana menghabiskan waktu berdua saja di rumah tapi sayangnya, Damian mendapat panggilan dari rumah sakit dan terlihat serius.


Sepertinya keinginan mereka untuk menghabiskan waktu berdua saja di rumah tidak akan terwujud karena dia diminta untuk datang ke rumah sakit. Semoga saja Ainsley tidak marah dan kecewa.


Setelah selesai berbicara, Damian menghampiri istrinya yang belum selesai.  Ainsley masih sibuk dan terkejut ketika Damian memeluknya dari belakang dan mendaratkan sebuah ciuman di pipinya.


"Apa belum selesai?" Damian berbisik sambil memberikan ciuman-ciuman lembut.


"Sedikit lagi. Bagaimana keadaan mereka?"


"Baik, tapi sepertinya kita harus pergi ke rumah sakit hari ini. Kau tidak keberatan, bukan?"


"Apa situasinya sedang gawat?" Ainsley berbalik dan memandangi Damian dengan ekspresi ingin tahu.


"Tidak, Sayang," jawab Damian seraya menggendong istrinya dan mendudukkannya ke atas meja.


"Mereka hanya meminta aku menandatangani beberapa berkas sebagai keluarga Harry dan kenalan Mayumi."


"Baiklah, jika begitu."


Mereka saling pandang dengan senyum di wajah, mereka berdua terlihat begitu bahagia. Setelah melewati malam panjang setelah pertempuran, sekarang mereka bisa menikmati waktu mereka berdua.  Mereka akan pergi ke rumah sakit nanti untuk melihat yang lain walaupun rasanya enggan pergi.


"I love you," Damian mengusap pipi Ainsley, dan setelah itu sebuah ciuman dia berikan.


Kedua tangan Ainsley sudah melingkar di leher Damian, bibir mereka juga sedang sibuk. Mumpung tidak ada orang, mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau tanpa ada yang melihat. Nikmati waktu mereka berdua selama Jager Maxton mengungsi karena saat dia sudah kembali, mereka harus waspada dan hati-hati. Jangan sampai apa yang mereka lakukan dilihat oleh pria tua itu.


"Dam-Dam,aku jadi ingin tahu sesuatu," ucap Ainsley saat dia berada di dalam pelukan suaminya.


"Apa yang ingin kau ketahui?"


"Jika keluargamu meminta maaf, apa kau mau memaafkan mereka?"


"Itu tergantung dari sikap mereka, Sayang. Walau aku membenci ayahku yang telah mencampakkan ibuku dan tidak menginginkan aku, tapi aku tidak membenci yang lainnya bahkan aku tidak membenci Harry."


Ainsley tersenyum, dia senang mendengarnya. Dia sangat berharap Harry dan Damian bisa menjadi saudara. Bagaimanapun yang melakukan kesalahan adalah ayah mereka dan seharusnya, mereka bisa menjadi saudara apalagi mereka memiliki ikatan darah.


"Aku harap kau dan Harry bisa menjadi saudara," ucapnya.


"Apa yang kau katakan?" Damian melepaskan pelukannya dan memegangi wajah istrinya.


"Kami memang saudara, sekalipun kami mau memutuskan tali persaudaraan di antara kami, tapi darah yang mengalir di dalam tubuh kami ini tidak bisa kami putuskan. Hubunganku dengan Harry tidak seperti hubunganku dengan Vivian tapi yang paling aku anggap sebagai saudaraku adalah Vivian karena perlakuannya yang berbeda padaku. Jika Harry memperlakukan aku sebagai saudaranya, maka aku juga akan memperlakukan dirinya sebagai saudara."


"Baiklah, aku tidak memaksamu tapi aku harap mereka mau meminta maaf padamu dan menyesali kesalahan mereka terutama ayahmu."


"Tidak perlu dipikirkan. Mereka mau minta maaf atau tidak, aku tidak peduli!"


Ainsley tersenyum dan memeluk suaminya kembali, semoga saja semua berubah setelah kejadian ini.


"Bagaimana ketiga orang yang kalian tangkap, Ainsley?" tanya Damian ingin tahu.


"Entahlah, biarkan saja kakakku yang menangani mereka."


"Hm, baiklah. Sebaiknya aku tidak tahu."


Ainsley tertawa, memang sebaiknya mereka tidak perlu memikirkan ketiga tawanan yang tertangkap apalagi nanti siang, Matthew akan pergi mengeksekusi mereka. Sebelum mereka dilemparkan ke dalam kandang binatang untuk menjadi makanan para binatang peliharaan, mereka harus melewati sebuah percobaan yang menegangkan.


Ya, sebuah alat penyiksaan sudah menanti mereka dan entah apa yang akan terjadi dengan mereka. Semoga tubuh Sherly masih utuh sebelum di lempar ke dalam kolam buaya agar para buaya itu tidak kecewa dan protes karena mendapat makanan yang mengalami sedikit cacat.


Setelah sarapan, mereka mandi dan pergi ke rumah sakit. Mayumi sudah sadar saat itu, dia sangat senang melihat Ken terbaring di sampingnya dan terlihat baik-baik saja walaupun kekasihnya masih belum sadar. Tapi di balik rasa senang yang dia rasakan, ada rasa sedih karena dia sudah mengecewakan persahabatannya dengan Damian.


Dia rasa Damian akan marah karena perbuatan fatal yang telah dia lakukan. Selama ini Damian sudah begitu baik padanya tapi dia membawa istrinya sebagai sandera di malam pernikahan mereka. Satu harapannya saat ini, dia harap Damian mau memaafkan dirinya.


Di saat dia berpikir demikian, pintu ruangan terbuka. Mayumi melihat ke arah pintu dan terkejut ketika melihat Damian dan Ainsley masuk ke dalam ruangan dan menghampiri dirinya.


"Hai, bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Ainsley sambil melambaikan tangan.


"Untuk apa aku membencimu?" tanya Ainsley heran. Yang mau mengikuti Mayumi adalah dirinya, dia memang sudah berjanji akan membantu maka dia akan membantu.


"A-Aku sudah mengorbankan dirimu untuk keselamatan kekasihku, apa kau tidak marah?" mata Mayumi melihat ke arah Damian yang diam saja sedari tadi.


"Kenapa kau melakukan hal ini, Mayumi?" tanya Damian. Matanya menatap gadis itu dengan tajam.


"Aku terpaksa, Damian."


"Bukankah sudah aku katakan padamu, kau harus mengatakan apa yang sedang terjadi padaku karena aku bisa membantumu tapi kenapa kau bertindak sendiri dan mengorbankan istriku?" Damian tampak kecewa, seandainya tidak melibatkan Ainsley maka dia tidak akan seperti itu.


"Aku minta maaf, Damian. Aku takut mengatakan padamu karena mereka mengancam akan membunuh Ken jika aku mengatakan padamu apa yang sebenarnya terjadi."


Damian diam, sedangkan Aisnley memegangi tangannya dan menatapnya sambil tersenyum.


"Dam, dia hanya tidak punya pilihan. Aku tahu kau kecewa, tapi dia sedang dalam keadaan terdesak. Lagi pula aku yang mau mengikutinya tanpa paksaan. Jadi maafkanlah dia," pinta Ainsley.


Damian menghela napas, baiklah. Dia tidak bisa menolak permintaan istrinya. Lagi pula dia memang sudah berjanji akan membantu Mayumi jadi anggaplah impas.


"Baiklah, aku memaafkan dirimu tapi setelah ini kau harus meminta maaf pada Ainsley dan keluarganya. Aku mungkin memaafkan dirimu, tapi mereka? Aku tidak bisa membantumu jika mereka tidak mau memaafkan dirimu jadi sebaiknya persiapkan dirimu, mungkin kau akan menemani wanita itu berenang dengan buaya yang lapar!"


Ainsley tersenyum, sedangkan wajah Mayumi terlihat pucat. Apa maksud perkataan Damian?


"A-Apa maksud ucapanmu?" tanya Mayumi tidak mengerti.


"Asal kau tahu Mayumi, keluarga Ainsley tidak akan melepaskan orang yang telah berani mengganggu mereka!" Damian mengucapkan perkataan itu dengan wajah serius.


Mayumi semakin ketakutan, dia rasa Damian tidak bercanda apalagi Ainsley tidak membantah ucapan Damian sama sekali. Sebaiknya dia segera meminta maaf.


"A-Ainsley, aku minta maaf," ucap Mayumi ketakutan.


"Aku memaafkanmu, Mayumi. Jangan dipikirkan," ucap Ainsley dengan santai.


"Tolong sampaikan maafku pada keluargamu," pinta Mayumi lagi.


"Hm, bagaimana ya?" Ainsley memainkan jari di rambut, matanya melihat ke arah sang suami yang memberinya sebuah kode.


"Please, sampaikan maafku pada mereka karena sudah membawa kau pergi. Aku Ingin kembali ke jepang dengan Ken dan tidak mau mati di dalam perut buaya!" ucap Mayumi, jujur dia takut.


Ainsley ingin tertawa, tapi dia harus menahannya sebentar.


"Aku tidak bisa memutuskannya, Mayumi. Biasanya orang yang melawan kami memang akan berakhir di kolam buaya, apalagi wanita!"


Wajah Mayumi semakin pucat, apa dia akan mati di makan oleh buaya karena sudah menculik Ainsley?


"Tapi tenang saja, aku akan membujuk mereka. Semoga kedua kakakku dan ayahku mau melepaskan dirimu."


"Please, aku mohon," Mayumi memandangi Ainsley dengan tatapan memelas dan ketakutan.


"Berdoalah, semoga mereka memaafkan dirimu!" ucap Damian dan setelah itu dia mengajak Ainsley pergi, meninggalkan Mayumi yang ketakutan.


"Ainsley, tolong bujuk mereka agar mereka mau memaafkan diriku!" teriak Mayumi.


Ainsley dan Damian tidak menjawab, mereka keluar dari ruangan itu dengan santai. Mayumi ketakutan di dalam sana, semoga keluarga Ainsley mau memaafkan dirinya.


"Kenapa kau menakutinya, Dam-Dam?" tanya Ainsley.


"Biarkan saja, dia memang harus diberi shock terapi agar dia tidak mengulangi kesalahan yang dia lakukan!"


"Tapi dia benar-benar ketakutan."


"Dia memang harus takut, aku rasa dia memang perlu di gantung di atas kolam para buaya itu dua hari dua malam agar dia benar-benar menyesal."


Ainsley tertawa, dia tahu suaminya hanya bercanda tapi tidak dengan Mayumi. Dia tampak ketakutan setelah di tinggal pergi. Matanya melihat ke arah Ken, apa dia harus mengajak Ken melarikan diri? Tidak, dia harus meminta maaf pada keluarga Ainsley nanti, bagaimanapun dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dia akan memohon pada keluarga Ainsley agar mereka mau memaafkan dirinya tapi sayangnya, dia hanya ditakuti oleh Damian dan Ainsley saja.