Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Mendapat Bonus



Suasana hening, hanya terdengar suara alat makan saja. Anna jadi serba salah, matanya tidak lepas dari dua pria yang semakin memperlihatkan api permusuhan di antara mereka. Anna sedikit bertanya dalam hati, ada apa dengan Marco? Tidak seharusnya dia menunjukkan sikap tidak menyenangkan kepada Harry.


Jangan katakan jika Marco sengaja, padahal dia sudah memberi peringatan pada sahabatnya itu untuk tidak mengganggu dirinya. Nanti malam dia akan menegur Marco, awas saja dia.


Makanan sudah hampir habis, anggur juga sudah tersisa setengah botol. Sepertinya sudah saatnya meminta Marco pergi karena dia dan Harry sudah harus pergi.


"Marco, aku dan Harry sudah mau pergi," ucap Anna.


"Nanti aku pergi, kita keluar bersama!" jawab Marco.


"Ayolah, apa kau lupa dengan permintaanku semalam?" Anna menatapnya tajam dan memberikan isyarat padanya agar dia segera pergi.


"Aku tidak mau kau berduaan saja dengan laki-laki, Anna. Bagaimana jika dia lelaki tidak baik?" ucap Marco, matanya menatap Harry dengan tajam.


"Marco!" Anna berteriak, dia benar-benar kesal dengan sikap Marco.


"Aku tahu kau mengkhawatirkan aku sebagai teman tapi kau tidak boleh berprasangka buruk pada pria yang aku sukai!"


"Bukan begitu, Anna. Aku benar-benar mengkhawatirkan dirimu."


Harry tersenyum, dia menang. Matanya menatap Marco dengan tatapan kemenangan, sedangkan pria itu terlihat kesal.


"Aku tahu, Marco. Terima kasih,"  Anna beranjak, sambil membawa piring kotor ke tempat pencucian piring.


Harry juga beranjak, entah kenapa dia sangat ingin membuat pria bernama Marco itu semakin kesal. Harry menghampiri Anna dan meraih pinggangnya, hal itu membuat Anna terkejut dan mata Marco melotot.


"Ha-harry, ada apa?" Anna gugup, ini di luar dugaan tapi sesungguhnya dia sangat senang.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu," Harry mendekatkan wajah mereka. Anna melotot dengan napas tertahan saat Harry memberikan sebuah ciuman di pipinya.


"Itu sebagai ucapan terima kasihku," ucap Harry sambil memperlihatkan senyum menawannya.


Anna tampak linglung, dia sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja Harry lakukan. Harry tidak mungkin mabuk hanya karena anggur, bukan? Marco juga terkejut, hatinya di selimuti kemarahan. Beraninya pria itu mencium Anna di depan matanya? Rasanya ingin mendekati Harry dan memukulnya sampai babak belur tapi dia masih berusaha menahan diri karena dia tidak mau membuat Anna marah.


"Ha-Harry," Anna masih gugup dengan wajah memerah. Kenapa Harry menciumnya? Apa Harry cemburu pada Marco?


"Apa kau ingin aku mencium yang lainnya?" tanya Harry sengaja.


"Yes!" jawab Anna tanpa ragu.


"Hm!" Marco mendehem, apa mereka tidak menganggapnya ada?


"Lain kali, ada yang mengganggu!" Harry melepaskan Anna dan berlalu pergi, matanya melirik ke arah Marco saat dia melewati pria itu. Harry terlihat begitu puas, sedangkan Marco menahan api amarah.


Anna tersenyum sambil memegang pipinya. Lain kali? Itu berarti Harry akan menciumnya lagi, bukan? Entah kenapa dia jadi sangat menantikannya.


"Lain kali cium bibirku, ya," teriak Anna. Dia tidak peduli dengan Marco, lagi pula dia tidak tahu jika Marco menyukainya.


Kedua tangan Marco sudah mengepal dengan erat, tidak bisa. Anna tidak boleh menjadi milik orang lain. Anna hanya boleh menjadi miliknya saja jadi dia tidak akan kalah dari pria itu.


Marco beranjak, meninggalkan Anna yang sedang membereskan piring kotor. Anna meliriknya sejenak dan setelah itu dia kembali membereskan piring kotor.


Harry berada di luar saat Marco keluar. Langkah Marco terhenti, matanya menatap Harry dengan api permusuhan. Harry juga melakukan hal demikian, entah apa yang terjadi dengannya hari ini dia sendiri tidak tahu. Dia tidak menyangka akan mencium Anna hanya untuk memprovokasi seorang pria yang menyukai Anna. Dia juga tidak percaya dia merasa tersaingi oleh pria itu.


Sepertinya ada yang salah pada dirinya, seharusnya dia tidak membuat Anna berharap padanya karena dia tidak memiliki perasaan pada gadis itu. Sepertinya dia keracunan makanan yang dibuat oleh Anna, ya mungkin begitu.


"Aku tidak akan membiarkan dirimu, tunggu saja pembalasan dariku!" ucap Marco dan setelah itu dia keluar dari ruangan.


Harry hanya diam, melihat kepergiannya. Bagus, kini dia punya musuh. Semua ini gara-gara tindakan bodoh yang dia lakukan tapi rasanya tidak menyesal sama sekali. Dia bahkan merasa ingin melakukannya lagi. Melihat wajah Marco yang kesal, ternyata menyenangkan.


Anna keluar dari dapur setelah selesai, gadis itu tersenyum saat melihat Harry sedang berdiri di depan lemari untuk melihat sesuatu yang ada di dalam sana.


"Maaf membuatmu menunggu, Harry," ucap Anna basa basi.


"Tidak masalah, apa sudah selesai?" Harry memandanginya, entah kenapa sebuah perasaan aneh dia rasakan.


"Bolehkah aku bertukar pakaian terlebih dahulu? Bajuku basah," ucap Anna.


"Tentu saja, aku akan menunggu."


"Thanks," Anna berlalu pergi dengan perasaan gembira. Ternyata rencananya berhasil, tanpa dia duga sebuah ciuman dia dapatkan. Ini kemajuan yang sangat tidak dia duga. Dia harap Harry sudah memiliki perasaan untuknya walau sedikit.


Walau dia tidak tahu kenapa Marco bertingkah tidak seperti biasanya, tapi dia tidak menaruh curiga sama sekali.


Anna berganti pakaian dengan cepat, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Anna  keluar dari kamar setelah selesai, mata Harry tidak lepas dari gadis itu. Semakin dilihat, Anna semakin cantik. Ini hanya perasaannya saja atau ada sesuatu di matanya. Sepertinya dia harus pergi ke dokter mata untuk melakukan pemeriksaan.


"Aku sudah siap," ucap Anna sambil tersenyum manis.


"Hm," Harry memutar langkah, menuju pintu. Lagi-lagi dia merasa aneh, sepertinya dia sudah gila.


Anna senang luar biasa, tidak sia-sia usahanya hari ini. Padahal Harry mau datang saja sudah membuatnya begitu senang, tapi tanpa menyangka dia bisa mendapat bonus sebuah ciuman.


Pintu di kunci dengan rapat, Anna melangkah terburu-buru untuk mengejar Harry yang sudah berjalan menuju lift. Sketsa gambar sudah dia bawa, dia tidak boleh melupakan hal itu.


"Boleh aku menggandeng tanganmu?" tanya Anna.


Harry meliriknya sekilas dan tidak menjawab. Anna menganggap jika itu artinya dia boleh menggandeng tangan Harry jadi tanpa ragu dia melakukannya. Dia bahkan bersandar di lengan Harry tanpa ragu. Rasanya ingin memeluk pinggang pria itu lalu meraba ke bawah tapi dia belum cukup berani melakukan hal itu. Jangan sampai Harry tahu penyakit cabulnya sebelum dia mendapatkan hati pria itu.


Mereka keluar dari apartemen tapi sayangnya Anna lupa dengan kedua pengawal ayahnya yang selalu ada di bawah pohon untuk memantau keberadaannya. Mereka hendak mendekati Anna saat melihatnya tapi niat mereka terhenti karena Anna bersama dengan seorang pria.


Harry membawa Anna ke mobilnya di mana sang supir sedang menunggu. Anna tersenyum saat Harry membukakan pintu mobil untuknya, Harry bahkan meminta supirnya untuk pergi karena dia yang akan membawa mobil. Kebahagiaan yang Anna rasakan saat ini benar-benar membuatnya melupakan pengawal yang diutus sang ayah.


Mobil Harry bergerak pergi, salah satu pengawal sudah menghubungi ayah Anna saat itu untuk memberi laporan.


"Sir, Nona terlihat sedang bersama dengan seorang pria," sang pengawal memberi laporan.


"Apa dia bersama dengan Marco?" tanya ayah Anna.


"Bukan!"


"Jika begitu jangan ragu!" perintah ayah Anna.


"Yes, Sir!" jawab sang pengawal seraya mengakhiri pembicaraan mereka. Kedua pengawal itu berjalan pergi untuk melakukan sesuatu, sedangkan di atas sana, Marco juga sedang merencanakan sesuatu.