Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Ide James



Sherly berusaha menghentikan tawanya karena pertanyaan konyol yang diberikan oleh Matthew. Dia kira akan mendapat pertanyaan yang begitu sulit sampai membuatnya tidak bisa menjawab tapi ternyata, hanya sebuah pertanyaan konyol anak-anak yang dia dapat.


Dia bahkan sudah menemukan jawaban dari pertanyaan konyol tersebut. Hanya pertanyaan anak-anak, siapa pun bisa menjawab. Sherly terlihat santai tapi tidak dengan Katsuo dan Akira, mereka tampak tegang dan berpikir. Mereka tidak meremehkan pertanyaan itu apalagi itu adalah kesempatan mereka agar mereka bisa pergi dari sana.


Jika mereka gagal menjawab maka mereka akan mendapat siksaan. Hidup mati mereka tergantung dari jawaban mereka sebab itu mereka tidak meremehkan pertanyaan sederhana itu seperti yang Sherly lakukan apalagi mereka sudah diperingatkan jika itu adalah pertanyaan menjebak.


Mereka berpikir dengan keras, mengenai jawaban dari pertanyaan sederhana yang diberikan oleh Matthew. Waktu lima belas menit yang mereka punya tidak boleh mereka sia-siakan.


Waktu terus berjalan, Sherly benar-benar santai. Dia bahkan sudah menemukan tombol yang akan dia tekan nanti tapi Katsuo dan Akira masih berpikir dengan keras. Di antara empat binatang yang disebutkan, yang mana mengambil boneka Marry?


Sungguh mereka tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada clue, tidak ada sedikit pun petunjuk mengenai jawaban pertanyaan tersebut. Bisa saja keempat binatang itu bukan pelakunya, bisa saja mereka tidak tahu apa-apa mengenai boneka Marry.


"Apa kalian sudah menemukan jawabannya, Guys?" tanya Matthew.


Sherly diam dengan senyum sinis menghiasi wajah, sebentar lagi dia akan menjawab.


"Waktu kalian tidak banyak sebaiknya kalian memikirkan jawabannya baik-baik karena nasib kalian tergantung dari jawaban kalian!" ucap Matthew. Matanya tidak lepas dari mereka.


"Cih, hanya pertanyaan mudah saja!" ucap Sherly dengan nada sombong.


"Jadi kau sudah tahu apa jawabannya?" Matthew memandangi Sherly, wanita itu punya kepercayaan diri yang tinggi tapi terkadang terlalu percaya bisa menjerumuskan pada kehancuran.


"Tentu saja, apa kau pikir aku anak kecil yang bisa kau takuti?" jawab Sherly seraya menekan tombol yang ada di dalam kotak dan jika dia bisa menjawab maka kotak itu akan terbuka dan kedua tangannya bisa dia keluarkan.


"Silahkan, Nona. Aku ingin mendengar jawabanmu. Siapa yang mengambil boneka domba milik Marry? Monyet, beruang, gajah atau kambing?" tanya Matthew.


"Tentu saja kambing!" jawab Sherly tanpa ragu karena dia yakin tidak mungkin salah dengan jawabannya.


"Bagus! Katakan padaku apa alasanmu memilih kambing?"


Akira dan Katsuo melihat ke arah Sherly yang saat itu begitu percaya diri. Mereka sangat ingin mendengar jawaban Sherly. Bisa saja jawaban yang Sherly berikan sama dengan jawaban yang mereka pikirkan saat ini dan jika sama dan ternyata salah maka mereka harus memikirkan jawaban yang lain.


"karena kambing dan domba adalah satu spesies jadi kambing mengira boneka domba itu adalah anaknya kadi yang mengambil boneka itu adalah kambing!" jawab Sherly dengan nada angkuh. Dia yakin jawabannya pasti benar dan dia yakin dia bisa bebas dari tempat itu. Setelah ini dia akan mengucapkan selamat tinggal pada kedua pecundang dari Jepang itu.


"Jawaban yang bagus," ucap Matthew.


Sherly tersenyum, sudah dia duga. Untungnya hidungnya tidak bisa memanjang seperti hidung Pinokio. Seandainya bisa, hidungnya pasti sudah memanjang saat ini.


"Tapi sayangnya bukan itu jawabannya!" ucapan Matthew seolah-olah mematahkan hidung Pinokio-nya.


"Apa? Tidak mungkin!" teriak Sherly tidak terima.


"Jika aku bilang salah, berarti salah! Nikmati hukumanmu dan sekarang giliran kalian berdua!"


Akira dan Katsuo saling pandang, mereka tampak menelan ludah dengan kasar. Mereka belum menjawab tapi saat itu Sherly mulai kesakitan dan berteriak karena kedua tangannya tiba-tiba merasa sakit di dalam kotak itu. Apa yang terjadi?


"A-Apa yang terjadi dengan tanganku?" teriak Sherly. Rasanya seperti sedang diiris, rasanya juga seperti sedang terbakar. Dia terus berteriak karena rasa sakit di kedua tangannya.


Akira dan katsuo semakin ketakukan, apalagi waktu mereka sudah hampir habis dan mereka juga mulai merasa ada sesuatu bergerak di dalam kotak. Mereka tidak punya pilihan dan mau tidak mau mereka harus menjawab.


"Monyet yang mengambilnya karena Monyet adalah binatang yang nakal!" teriak Katsuo. Jawaban untuk pertanyaan seperti itu pasti di luar akal sehat, mereka yakin itu.


"Kau? Apa jawabanmu?" tanya Matthew pada Akira.


Pria itu tampak gugup apalagi suara teriakan Sherly semakin nyaring terdengar. Kedua tangannya benar-benar terasa di bakar di dalam kotak. Mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi, sebab itu mereka semakin ketakutan.


"Beruang!" jawab Akira.


"Why? Kenapa kau menjawab beruang?"


"Karena beruang menginginkan boneka itu!" jawab Akira.


"Baiklah, tiga jawaban yang bagus tapi tidak ada yang menjawab dengan benar!" ucap Matthew.


Sherly sudah tidak bersuara, alat penyiksaan pun sudah berhenti karena game sudah berakhir.


"Sudah aku katakan, ini teka teki menjebak. Seharusnya kalian memperhatikan pertanyaannya dengan baik. Marry bermain dengan bonekanya sepanjang hari yang berarti selain Marry, tidak ada yang tahu di mana keberadaan boneka itu jadi yang mengambil boneka itu adalah Marry sendiri karena dia lupa menyimpan boneka kesayangannya entah ke mana!" jelas Matthew.


"Tidak mungkin!" teriak Katsuo.


"Ck ... Ck, kalian terlalu fokus dengan tokoh pendamping padahal tokoh utamanya adalah Marry.  Monyet, beruang, gajah dan juga kambing adalah boneka, lalu bagaimana mereka bisa mengambil boneka Marry? Jadi jawabannya adalah Marry dan keempat binatang itu hanya tersangka yang dituduh oleh Marry."


Popcorn yang ada di mulut James hampir tersembur keluar. Sudah dia duga jawabannya di luar dugaan dan sangat mudah.


"Tidak ... Tidak mungkin!" Akira dan Katsuo tampak frustasi, sedangkan Sherly ketakutan apalagi rasa sakit yang dia rasakan di tangan.


"Jadi? Siapa duluan yang akan menjalani hukuman?" tanya Matthew sambil menyeringai.


"Tidak! Aku tidak mau!" teriak Sherly.


"Jangan bercanda!" teriak Akira pula.


"James!" Matthew memanggil asistennya yang sedang asik sendiri.


"Yes, Master!" James meletakkan popcornya dan mendekati mereka.


"Menurutmu hukuman apa yang pantas untuk mereka?" tanya Matthew.


"Master, selama ini aku tidak pernah melihat kau menuang garam di atas luka musuh. Bukankah itu siksaan yang lebih menyakitkan setelah memutilasi tubuh mereka? Biarkan mereka merasakan rasa perih luar biasa selama mengikuti game kedua!"


"Pintar, dari mana kau dapat ide ini?"


"Popcorn-nya kebanyakan garam!" jawab James.


Matthew terkekeh, bukan ide buruk. Lagi pula dia tidak ingin mereka mati sebelum mereka mencoba alat penyiksaan yang sebenarnya.


"Jika begitu lakukan! Sekali-kali kita melakukan hal yang berbeda! Potong kaki mereka lalu bungkus dengan garam. Ini sebagai siksaan awal yang harus mereka rasakan!" perintah Matthew.


James mengangguk dan melangkah pergi. Sherly ketakutan saat membayangkan kakinya akan di potong dan di bungkus dengan garam. Tulangnya bahkan terasa ngilu saat membayangkannya.


"Jangan ... Jangan lakukan hal ini!" teriak Sherly.


"Tenang saja, Nona. Aku tidak akan memotong anggota tubuhmu, ini spesial untukmu!"


Sherly tampak lega. Dia pikir dia tidak akan mendapat hukuman tapi sayangnya pada saat itu, tangannya kembali terasa terbakar. Sherly berteriak, dia berusaha menarik tangannya tapi sayangnya sia-sia. Teriakannya nyaring terdengar, rasa panas semakin membakar kedua tangannya. Sepertinya di dalam sana ada bara.


"Sakit, sakit!" teriaknya.


"Bukankah kau begitu sombong tadi? Mana keangkuhan yang kau miliki?" tanya Matthew.


"Sialan, apa yang terjadi dengan tanganku?!' teriak Sherly kesakitan.


Tangannya bagai berada di atas bara, sakit luar biasa. Dia mengalami hal itu selama lima  belas menit. James sudah kembali dengan garam yang dia perlukan.


"Wanita itu dulu, James. Bungkus kedua tangannya menggunakan garam itu!" perintah Matthew.


"Yes, Master!" James mendekati Sherly, sedangkan wanita itu ketakutan.


Kotak dibuka, Sherly terkejut melihat kedua tangannya sudah melepuh akibat terbakar. Bahkan dia bisa melihat dagingnya yang matang. Katsuo dan Akira ketakutan, bagaimana mungkin kotak kayu yang kecil itu bisa memanggang tangan orang sampai matang dalam waktu singkat?


Mereka semakin ketakutan saat kedua tangan Sherly dibungkus dengan garam. Teriakan Sherly bergema, akibat rasa perih yang dia rasakan. Dia tidak bisa melawan, karena dia dipegang dengan erat. Kedua tangannya bagaikan daging steak yang dibakar lalu diberi garam.


Sherly terlihat tidak berdaya, sedangkan Katsuo dan Akira tampak ketakutan karena setelah ini giliran mereka!