
Pakaian Damian dan Ainsley sudah berserakan di atas lantai, sedangkan mereka berdua terlihat sibuk di atas ranjang.
******* Ainsley terdengar setiap Damian menghentakkan tubuhnya. Entah berapa lama mereka seperti itu, mereka tidak mau memikirkannya karena mereka hanya ingin menikmati permainan mereka.
Begitu kembali dari makan malam, Damian tidak melepaskan Ainsley. Damian menghimpit Ainsley di daun pintu lalu mencium bibirnya dengan buas.
Ainsley tidak menolak sama sekali, lagi pula mereka sudah melakukannya jadi tidak ada alasan untuk menolak.
Mereka bahkan melangkah menuju ranjang sambil berciuman dan tentunya tangan mereka sibuk melepaskan pakaian yang mereka kenakan.
Damian melakukan apa yang dia mau, menikmati tubuh Ainsley dengan jari dan lidahnya, memberikan rasa nikmat yang membuat tubuh Ainsley bergetar.
"Dam, please faster!" pinta Ainsley memohon, tangannya sedang mencengkeram sprei dengan kuat saat itu.
Damian menunduk, memberikan ciuman di bahu. Tangannya merayap naik, memberikan remasan dari balik bahu Ainsley.
Kecepatannya tidak berkurang, sedangkan erangan Ainsley kembali terdengar apalagi permainan mereka semakin panas. Napas Damian memburu, kedua tangannnya sedang memegangi bokong Ainsley karena puncak kenikmatan dari permainan mereka akan datang.
Damian semakin berpacu dengan cepat dan tidak lama kemudian, erangan mereka berdua terdengar saat gunung berapi memuntahkan larvanya. You know what i mean 😂.
Ainsley terengah-engah, begitu juga dengan Damian. Mereka berbaring bersama sambil mengatur napas mereka yang memburu.
Ainsley tersenyum, saat Damian mengusap wajahnya dan memberikan kecupan lembut di sana.
"Kita jadi sering melakukannya," ucap Ainsley di sela napasnya yang masih berat.
"Apa kau keberatan?"
"Tidak, bagaimana jika aku hamil sebelum kita menikah?"
"Itu tidak akan terjadi karena kita akan menikah begitu kita kembali."
"Benarkah?" Ainsley pura-pura tidak percaya.
"Yes, Sweetheart. Bagaimana jika kita kembali minggu depan?" ajak Damian.
"Hei, bukankah kita akan liburan selama dua minggu?"
"Yes, tapi aku ingin segera menjadikanmu sebagai milikku. Lagi pula setelah menikah, kita akan pergi berbulan madu, bukan?"
"Kau benar," Ainsley tersenyum dan masuk ke dalam pelukan Damian.
Walau hanya satu minggu dia rasa liburan mereka sudah cukup apalagi mereka akan pergi berbulan madu setelah menikah.
Damian mencium dahinya sesekali, tangannya tak henti memberikan usapan lembut ke punggung Ainsley bahkan tangannya sudah berpindah ke perut Ainsley.
Entah kenapa dia jadi ingin Ainsley segera hamil anaknya, dia sangat ingin memberikan cucu pada ayahnya. Walaupun ayahnya sudah punya enam cucu tapi dia juga ingin memberikan ayahnya cucu.
"Aku ingin kau segera hamil," ucap Damian.
"Apa? Hei, kenapa tiba-tiba?"
Damian memeluk Aisley dengan erat, bahkan ciuman-ciuman lembut dia berikan.
"Dan aku ingin punya banyak anak seperti adikku," ucapnya lagi.
"Tapi aku belum tentu bisa melahirkan anak kembar untukmu."
"Tidak apa-apa, setahun satu."
"Enak saja!" Ainsley memukul bahu Damian dengan pelan, sedangkan Damian terkekeh karena dia hanya bercanda.
"Kenapa kau ingin punya banyak anak?" tanya Ainsley ingin tahu.
"Ya, karena dari kecil aku hanya sendiri, tidak memiliki saudara jadi aku tidak ingin anakku nanti mengalami apa yang pernah aku alami."
"Apa kau kesepian?" Ainsley mengusap kepala Damian, dia punya dua kakak jadi dia tidak merasa kesepian sama sekali walau kedua kakaknya selalu mengajaknya memainkan permainan unik buatan mereka.
"Ya, begitulah. Saat ibuku pergi bekerja, hanya aku sendirian di rumah."
"Belajar, lalu membantu ibuku, memasak dan membersihkan rumah. Aku selalu melakukan hal itu setiap hari karena aku ingin ibuku senang."
"Wow, kau anak yang sangat berbakti."
"Tentu saja," ucap Damian.
"Suatu hari nanti, ayahmu pasti akan menyesal karena telah membuangmu."
"Aku rasa tidak, dia tidak menginginkan aku jadi buat apa dia menyesal?"
"Dam-Dam," Ainsley mengusap wajah Damian dan memandangi wajahnya.
"Ayahmu pasti akan menyesal karena telah menyia-nyiakan dirimu. Mungkin saat ini tidak, tapi dia akan merasakan hal itu seiring berjalannya waktu."
"Baiklah, tapi aku tidak peduli!" Damian mengankat dagu Ainsley dan memberikan kecupan lembut di bibir.
"Bagaimana jika kita berendam dan setelah itu kita duduk di balkon, menikmati segelas wine sambil memandangi indahnya kota Tokyo," ajaknya.
"Terdengar menyenangkan tapi aku ingin makan anggur Ruby Roman," pinta Ainsley.
"Wow, di mana aku harus mendapatkannya, Nona?" tanya Damian karena anggur yang diminta oleh Ainsley adalah anggur langka dengan harga fantastis bahkan untuk membeli anggur itu harus melalui sebuah lelang dengan harga dua belas ribu dolar untuk satu tandan kecil anggur.
"Ck, bagaimana jika besok kita pergi ke kebunnya?" ajak Ainsley.
"Ide bagus tapi kau akan kehilangan satu helikopter hanya untuk makan anggur itu."
"Tidak apa-apa, aku penasaran dengan rasanya!!" ucap Ainsley.
"Baiklah, ayo kita berendam," ajak Damian.
Ainsley mengangguk, tanpa perlu dia minta, Damian sudah menggendongnya dan membawanya menuju kamar mandi. Mereka akan berendam lalu menikmati waktu mereka berdua di balkon kamar untuk melihat keindahan kota Tokyo.
Selagi mereka menikmati waktu mereka, di tempat lain yang ada di Jepang, teriakan seorang pria terdengar. Tidak akan ada yang mendengarnya, tidak akan ada yang tahu keberadaannya karena pria itu disekap di sebuah bangunan kecil yang ada di tengah hutan.
Entah sudah berapa lama dia berada di sana, dia sendiri tidak tahu. Setiap hari hanya ancaman yang dia dengar, hanya siksaan saja yang dia dapatkan.
"Katakan, ke mana Mayumi pergi?" teriak salah satu pria yang ada di ruangan itu dan pria itu adalah Akira.
"A-Aku tidak tahu!" pria itu menjawab lemah dan pria itu adalah kekasih Mayumi yang hilang.
"Sebaiknya kau katakan jika tidak?" sebuah pisau bermain di bawah dagu kekasih Mayumi.
"Kami sudah mencari tahu semua tentangmu, punya dua orangtua dan juga seorang adik perempuan."
"Jangan sentuh mereka!!" teriak kekasih Mayumi.
"Kau sudah membuang waktuku dan jika kau tidak mau mengatakan pada kami di mana Mayumi bersembunyi maka adikmu yang manis bisa menggantikan posisi Mayumi menjadi pemuas na*su kami semua!" ucap Akira.
"Tidak, jangan sentuh adikku. Jangan sentuh mereka!"
"Jika begitu katakan, di mana Mayumi bersembunyi dan ini kesempatan terakhir yang kau milikki!"
Kekasih Mayumi diam, sepertinya dia tidak punya pilihan. Dia sungguh tidak mau keluarganya terlibat, padahal dia sudah berusaha untuk tidak mengatakan di mana Mayumi berada pada para yakuza itu tapi kali ini, dia tidak bisa menyembunyikannya lagi karena dia tidak punya pilihan.
"Cepat, katakan!!" bentak Katsuo.
"Ca-California."
"Apa?" tanya Akira tidak mengerti.
"Mayumi berada di California dan bersama Damian Maxton. Dia bersembuyi di sana dan lindungi oleh Damian Maxton," ucap kekasih Mayumi yang tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan di mana Mayumi berada.
"Sial! Pantas tidak bisa aku temukan!! Segera cari tahu siapa Damian Maxton!" perintah Akira pada anak buahnya.
Mereka pergi setelah mendapat informasi. Damian Maxton? Pria itu berani menyembunyikan Mayumi maka dia tidak akan melepaskannya.