
Damian terlihat termenung, matanya tertuju pada ombak yang menerjang bibir pantai. Mereka berada di restoran pinggir laut saat itu. Ainsley sedang keluar sebentar karena ada yang ingin dia lakukan. Damian seperti itu karena dia sedang memikirkan banyak hal.
Keluarga Windstond benar-benar menggelikan, entah kenapa dia jadi malu memiliki hubungan darah dengan mereka. Jika ayahnya tahu dia yakin ayahnya pasti akan marah. Dia benar-benar tidak membutuhkan apa pun yang keluarga Windstond miliki.
Damian masih memandangi laut saat Ainsley kembali, gadis itu menghampirinya dengan es cream strawberry di tangan.
"Dam-Dam, apa kau mau es cream?" tanya Ainsley tapi Damian tidak menjawab dan diam saja.
"Dam-Dam," Ainsley semakin heran, tidak biasanya Damian termenung seperti itu.
"Hei!" Ainsley menepuk bahunya, sedangkan Damian terkejut.
"Kenapa kau melamun?" tanya Ainsley.
"Tidak, maaf. Kau begitu lama jadi aku melamun," jawab Damian seraya memeluk Ainsley dari belakang.
"Mau es cream?"
"Yes," Damian mengangkat dagu Ainsley untuk mengecup bibirnya.
"Manis," ucapnya.
"Apa kau melamun karena pembicaraan tadi?" Ainsley bersandar di dadanya dan memandangi laut sambil menikmati es creamnya.
"Tidak, aku tidak memikirkan hal itu."
"Lalu? Kenapa kau melamun? Kau tidak seperti biasanya."
"Aku hanya merasa malu memiliki hubungan dengan mereka," jawab Damian sambil menghela napas.
"Kenapa?" Ainsley mengangkat wajahnya sejenak untuk melihat ekspresi wajah Damian dan setelah itu dia kembali bersandar di dadanya dan memandangi laut.
"Mereka semua keluarga konyol, aku rasa mereka cocok menjadi pelawak atau pemain drama."
Ainsley tertawa, dia jadi ingin tahu apa yang mereka bicarakan saat dia pergi tadi. Damian bahkan tertawa saat itu, mungkin ada hal lucu yang mereka bahas.
"Apa yang kalian bicarakan tadi, Dam-Dam?"
"Ini pembicaraan memalukan, Ainsley."
"Tidak apa-apa, aku ingin mendengarkannya karena aku rasa memang ada yang lucu sampai membuatmu tertawa tadi," Ainsley bersandar dengan nyaman, dia ingin mereka berdua menghabiskan waktu di sana sambil berbincang.
"Si kakek tua itu, dia memberikan penawaran padaku."
"Penawaran apa? Apakah menarik?"
"Sangat, itulah yang membuat aku tertawa."
Ainsley kembali tertawa, pasti penawaran yang tidak masuk akal yang mereka berikan pada Damian.
"Semenarik apa? Aku jadi ingin tahu?"
"Yeah, dia bilang akan memberikan semua yang dia punya padaku tapi dengan syarat aku harus menikah dengan wanita yang dia pilihkan."
"Seriously?" Ainsley tampak tidak percaya.
"Luar biasa, bukan? Apa aku begitu menyedihkan, Ainsley?" lagi-lagi Damian menanyakan hal demikian karena dia merasa, keluarga Winsdtond hanya menganggapnya anak yang menyedihkan.
"No, kenapa kau berkata demikian lagi, Damian?" Ainsley memutar tubuhnya, matanya menatap Damian dengan lekat bahkan Ainsley memberikan usapan lembut di wajah Damian.
"Aku merasa seperti itu, mereka mencari aku demi tujuan mereka saja. Yang satu meminta aku untuk tidak menjadi penghalang Harry, sedangkan yang lain menganggap aku bagaikan orang yang haus akan kekuasaan. Apa mereka mengira aku menginginkan semua itu? Apa aku terlihat begitu menyedihkan di mata mereka?"
"Tidak Dam-Dam," Ainsley memeluknya, keluarga Harry memang sudah keterlaluan padahal Damian tidak pernah mengganggu mereka.
"Dari mana bagian darimu yang terlihat menyedihkan? Kau punya ayah yang luar biasa, bukankah sudah aku katakan padamu? Jangan hanya karena perlakuan mereka padamu maka kau menganggap jika kau menyedihkan. Jika sampai ayahmu tahu apa yang telah mereka lakukan padamu, aku yakin dia pasti tidak akan tinggal diam. Abaikan mereka, Damian. Mereka tidak berarti bagimu."
"Thanks, tolong rahasiakan hal ini pada ayahku," pinta Damian.
"Kenapa?"
"Aku membayangkan dia akan mendatangi rumah Windstond dengan sekelompok anak buahnya jika dia tahu," ucap Damian.
"Lalu?"
"Dia akan menghancurkan rumah mereka dengan bom yang dia dapatkan dari kedua kakakmu."
"Terdengar keren," ucap Ainsley.
"Bagaimana jika kita melakukannya?" ajak Damian.
"Melakukan apa?"
"Menakuti mereka, lepaskan dua ekor singa peliharaan keluargamu di rumah mereka. Biarkan mereka lari karena takut."
"Ha... Ha... Ha... ha!" Ainsley tertawa mendengar ide dari Damian. Tidak buruk, terdengar menyenangkan. Dia bahkan sedang membayangkan Harry lari ketakutan karena dikejar oleh singa.
"Apa yang kau pikirkan, eh?" Damian mengusap wajah Ainsley dengan lembut, gadis itu bisa mengubah suasana hatinya dengan mudah.
"Aku membayangkan Harry di kejar singa itu, mungkin dia harus ditakuti agar dia tidak mengejar aku lagi," Ucap Ainsley di sela tawanya.
Damian tersenyum dan mendekapnya kembali, dia tidak akan mengatakan pada ayahnya jika keluarga Windstond mencarinya dan memberikan penawaran padanya. Lebih baik ayahnya tidak tahu karena dia tidak mau ayahnya sakit karena emosi.
"Kita lupakan mereka dan sekarang katakan padaku, apa kau sudah menentukan tempat kita akan pergi?" tanya Damian.
"Tentu saja, aku yakin kau juga akan suka."
"Oh ya? Ke mana?"
"Jepang," jawab Ainsley tanpa ragu karena dia memang ingin pergi ke sana.
"Apa kau serius?" tanya Damian memastikan.
"Yes, apa kau keberatan?"
"Tentu tidak," jawab Damian. Ini akan menjadi kesempatan bagus baginya untuk mengenalkan Ainsley pada ibunya dan juga menemui anak buahnya yang dia tugaskan untuk mencari keberadaan kekasih Mayumi di sana.
"Aku tahu kau tidak akan menolak," Ainsley memandanginya sambil tersenyum manis.
"Aku tidak bisa menolak permintaan pacarku yang manis," Damian mengangkat dagu Ainsley dan mencium bibirnya dengan mesra.
Jalan-jalan berdua? Mereka belum pernah melakukannya dan dia jadi sangat menantikannya. Semoga saja tidak ada yang mengganggu waktu kebersamaan mereka selama di Jepang dan semoga di cicak besar tidak mengikuti secara diam-diam dan mengacaukan jalan-jalan romantis mereka.
(Sebenarnya bukan cicak yang musti di takuti Dam. Yang musti lu khawatirkan si E*i**r 😂🤣)
Setelah mencium bibir Ainsley, mereka berpelukan bahkan menikmati keindahan laut berdua. Mereka masih menghabiskan waktu di restoran itu, apalagi makanan yang mereka pesan baru datang. Mereka tidak boleh melewatkan waktu berharga mereka berdua, apalagi mereka jarang bisa berduaan seperti itu.
Di tempat lain, Aland kembali dengan perasaan marah dan kecewa karena usahanya sia-sia. Penawaran yang dia berikan tidak diterima. Aland terlihat marah, dia bahkan menyalahkan putranya karena memang semua itu terjadi akibat perbuatan putranya.
"Apa yang terjadi?" Renata bertanya pada Harry yang pada saat itu hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Mommy bisa lihat, penawaran itu gagal karena dia menolaknya!" jawab Harry.
"Bagus, akhirnya dia menolak. Aku kira dia akan menerima tawaran si tua bangka itu. Ternyata usahaku untuk menemuinya tidak sia-sia!" Renata terlihat puas, akhirnya tidak ada yang menghalangi langkah Harry.
"Mommy puas, tapi aku tidak!" ucap Harry karena dengan begini dia masih terikat dengan Sherly.
Harry masuk ke dalam kamar, kenapa dia harus bersaing dengan adiknya sendiri? Tidak bisa, dia harus pergi menemuinya dan memintanya untuk menjauhi Ainsley.