
Harry terkejut ketika dia kembali dari kantor, dia mendapati ayah dan kakeknya bertengkar hebat. Entah apa yang mereka debatkan, sungguh dia ingin tahu dan yang membuatnya semakin penasaran adalah saat melihat wajah ayahnya yang babak belur. Wajah ayahnya seperti itu bukan karena perbuatan kakeknya, bukan?
Ibunya diam, dia tidak mau ikut campur, bahkan Shelly ada di sana. Mereka menatapnya, sementara Harry tampak tidak mengerti bahkan dia semakin tidak mengerti ketika mendengar ayah dan kakeknya berdebat.
"Apa yang terjadi?" Harry bertanya pada ibunya.
"Duduk di sini, lebih baik kita jadi penonton!" jawab ibunya.
Harry duduk di sebelah ibunya, dia benar-benar ingin tahu tetapi apa yang dikatakan ibunya benar juga, lebih baik dia jadi penonton sebelum dia mencari tahu lebih jauh apa yang sedang didebatkan oleh ayah dan kakeknya.
"Lihatlah akibat kebodohan yang kau lakukan? Kenapa hanya wajahmu yang babak belur, kenapa tidak kepalamu saja yang berlubang!" Aland berteriak keras saat mengatakan hal itu.
Dia benar-benar tidak menyangka putranya pergi menemui Jager Maxton. Sekarang dia rasa akan sangat sulit menemui pria itu lagi karena Jager Maxton pasti tidak mau menerima kedatangan mereka. Putranya benar-benar bodoh, menemui pria itu tanpa pikir panjang bahkan berkelahi dengannya.
"Ini semua gara-gara kau, Dad! Kau pasti sudah menyinggung perasaannya sampai-sampai dia memukulku untuk melampiaskan kekesalannya atas tindakanmu!" Carl juga tampak tidak diterima karena dia dipukuli secara tiba-tiba oleh Jager Maxton.
"Aku tidak menyinggungnya, apa yang aku katakan itu benar!" Aland tidak mau disalahkan dan membela diri.
Carl menatap ayahnya dengan tajam, begitu pula Aland. Rasa kecewa pada putranya, semakin besar dan rasanya dia ingin memukul wajah putranya agar lebam itu semakin bertambah.
“Daddy seharusnya memberitahu aku jika Daddy telah menemukannya. Kami seperti teman lama dan jika aku pergi menemuinya terlebih dahulu dengan cara yang baik maka semua ini tidak akan terjadi. Aku sangat yakin, jika aku bisa menemukan keberadaan Sayuri dan juga anak itu jika aku yang pergi menemuinya terlebih dahulu!" ucap Carl.
"Cih, lagi-lagi urusan Daddy dan anak haramnya!" Harry mencibir dengan sinis.
"Itu saja yang mereka bicarakan, Mommy muak mendengarnya! Kakekmu juga keterlaluan, dia selalu berbicara tentang anak haram itu tanpa mempedulikan perasaanmu!" ucap ibunya.
Harry menghela napas, hanya itu saja yang diperdebatkan oleh kakek dan ayahnya akhir-akhir ini. Dia sangat penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang mereka temui hari ini?
"Siapa yang sedang mereka bicarakan, Mom?" tanya Harry.
"Teman lama Ayahmu," jawab ibunya dengan enggan. Sebenarnya, dia tidak ingin membahas ini, terutama dengan Harry, tetapi dia tidak bisa menghindarinya lagi karena suami dan ayah mertuanya berdebat tentang hal itu tanpa henti.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Mom? Daddy dan Kakek selalu menyebut anak itu. Apa anak itu wanita, atau pria?" tanya seraya memandangi ibunya karena dia sangat ingin tahu.
"Kau bertanya padaku? Kau tanyakan saja pada mereka dan aku yakin mereka juga tidak tahu anak itu pria atau wanita!" jawab ibunya sinis.
"Jika begitu, kenapa harus berdebat? Aku muak melihatnya, setiap hari aku harus melihat perdebatan Daddy dan Kakek yang tak kunjung selesai!" Harry beranjak, mendekati ayah dan Kakeknya yang masih berdebat.
Ibunya hanya diam memperhatikan putranya. Terserah apa yang ingin dilakukan oleh putranya, dia juga sudah muak dan lelah. Shelly hanya duduk manis, menjadi pendengar yang baik. Dia tidak mau ikut campur tapi dia hanya ingin mendengar lebih banyak tentang permasalahan yang terjadi karena dia ingin memanfaatkan situasi.
"Sudah aku katakan jika anak itu bukan anakku, Jager sudah mengakuinya jika anak itu adalah anaknya!" ucap Carl pada ayahnya.
"Aku bertaruh dia berkata seperti itu karena dia muak padamu yang tidak mau mengakui anak itu!" jawab ayahnya pula.
"Dad, kenapa kau tidak pernah mau mempercayai aku!" ucap Carl sambil menahan emosinya.
"Hidup kita semula aman dan tentram saja sebelumnya tapi Daddy mengacaukannya karena tiba-tiba saja Daddy ingin mencari keberadaan anak itu. Untuk apa, Dad? Sudah ada Harry, apa Daddy tidak menganggap Harry sebagai cucu Daddy? Apa Daddy ingin mengambil anak itu lalu menyingkirkan Harry?" tanya Carl.
Harry menghentikan langkahnya, ketika mendengar ucapan ayahnya. Benar, kenapa kakeknya begitu gigih mencari anak yang belum jelas keberadaannya itu? Apa hanya karena dia tidak mau menikahi Shelly, lalu kakeknya benar-benar ingin menyingkirkannya?
"Aku mencarinya karena anak itu juga cucuku walaupun dilahirkan oleh seorang jal*ng! Jika saja kau hanya berselingkuh tanpa meninggalkan benihmu di rahim seorang wanita jal*ng maka aku akan menutup mata atas perselingkuhan yang kau lakukan!"
"Kakek, bisakah kau beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi?" Harry kembali melangkah mendekati ayah dan kakeknya.
"Kali ini aku ingin tahu secara rinci jadi katakan padaku, apa yang sedang kalian debatkan akhir-akhir ini karena aku muak melihat kalian berdebat tanpa henti!" ucap Harry lagi dengan nada kesal.
"Kau ingin tahu?" tanya sang kakek, sedangkan Harry mengangguk. Tentu dia sangat ingin tahu karena sampai sekarang, dia tidak tahu begitu rinci apa yang sedang diributkan oleh ayah dan kakeknya.
"Puluhan tahu lalu, ayahmu melakukan bisnis dan menjalin hubungan gelap dengan seorang model. Dan dari hubungan yang mereka lakukan, model itu hamil lalu ayahmu meninggalkannya begitu saja!"
"Jadi sekarang kalian mencari model itu dan mencari anak yang dia kandung?" tanya Harry lagi.
"Dengar Harry, waktu itu aku sudah meminta Sayuri menggugurkan bayi itu dan aku yakin dia melakukannya. Lagi pula anak itu belum tentu anakku!" ucap ayahnya.
"Jika memang begitu, kenapa Daddy dan kakek terus berdebat? Apa kalian tidak lelah? Kakek juga mengancam aku menggunakan anak yang tidak jelas ada atau tidaknya bahkan aku yakin kalian tidak tahu anak itu pria atau wanita jika memang ada!"
"Walaupun ayahmu berkata anak itu sudah digugurkan tapi aku tidak percaya, Harry! Aku yakin anak itu pasti ada!" ucap kakeknya seraya menatap putranya dengan tajam.
"Lihatlah, Daddy tidak pernah percaya padaku!" teriak Carl.
"Oke, hentikan! Bisakah kalian tidak berdebat lagi? Aku muak, sungguh muak! Sekarang katakan padaku, siapa yang kalian temui hari ini, apa dia tahu keberadaan anak itu?"
"Untuk apa kau tahu?!" tanya ayahnya dengan sinis.
"Sudah aku katakan, aku muak jadi biarkan aku menemui orang itu dan menanyakan anak Daddy yang dilahirkan oleh wanita lain! Aku akan membawa anak itu pulang jika memang ada agar kalian berdua berhenti berdebat dan kau kakek, sekali lagi kau mengancam aku menggunakan anak itu, maka aku akan menghancurkan perusahaan menggunakan kedua tanganku!" ucap Harry seraya mengancam kakeknya.
"Coba saja jika kau berani, Harry!" teriak kakeknya marah.
"Kakek menantangku? Kakek bisa lihat nanti jika kakek tidak percaya! Aku tidak akan membiarkan anak itu merebut apa yang sudah aku punya, jadi jangan harap aku akan diam saja. Jika aku tidak bisa mendapatkan perusahaan itu maka dia pun tidak!"
Harry melangkah pergi setelah berkata demikian, dia tidak akan menyerahkan apa yang sudah menjadi miliknya pada seorang anak haram yang tidak jelas keberadaannya. Harry menghentikan langkahnya saat melewati Shelly dan matanya menatap wanita itu dengan tajam. Shelly juga menatapnya, entah kenapa dia sangat berharap jika anak yang mereka maksud adalah laki-laki. Dia akan mendekati anak itu dan menggodanya. Dia akan mengajaknya bekerja sama untuk menghancurkan Harry. Jangan salahkan dia melakukan hal itu, salahkan Harry yang mencampakkan dirinya begitu saja!
Dia harus memanfaatkan situasi, anak haram yang tidak dianggap pasti mau bekerja sama dengannya apalagi dia akan membantu anak itu mendapatkan semua kekayaan Windstond. Mau Harry atau anak haram itu, baginya sama saja. Tunggu saja, dia pasti akan memanfaatkan situasi dengan baik dan Harry, akan menyesal telah mencampakkan dirinya demi gadis lain.
Harry melangkah pergi, dia harap ayah dan kakeknya tidak berdebat lagi. Setelah dia mandi, dia akan bertanya pada ayah atau kakeknya siapa yang mereka temui hari ini karena dia yang akan mencari tahu tentang anak haram ayahnya.
Dia harap bisa menemukan anak itu segera agar ayah dan kakeknya berhenti berdebat tapi ketika dia tahu, jika anak itu menjadi saingan cintanya, apa yang akan dia lakukan?