
Harry berlari menghampiri Anna yang sedang mengalami shock dengan darah yang memenuhi wajahnya. Anna bahkan gemetar ketakutan, dia sungguh tidak menyangka akan mengalami hal seperti itu. Semua gara-gara Marco, rasanya ingin sekali memukulnya tapi Marco sudah tidak sadarkan diri akibat luka tembakan di kaki.
Briant Cedric juga masih shock setelah melihat siapa yang datang kemudian. Dia sungguh tidak menyangka jika ucapan putrinya ternyata benar tapi dari mana Anna mengenal mereka? Apa dia sudah meremehkan pria yang dikejar oleh putrinya?
"Apa kau baik-baik saja?" Harry berusaha membantu Anna untuk berdiri karena dia sudah jatuh terduduk sedari tadi akibat kakinya yang tidak kuat menopang.
"Te-Tentu!" jawab Anna dengan suara gemetar.
"Semua sudah berakhir, kau tidak perlu khawatir."
"Si-Siapa sebenarnya mereka, Harry?" Anna mencengkeram lengan Harry dengan erat agar dia bisa berdiri.
"Yeah, itulah adikku dan keluarganya."
"Sial, aku benar-benar takut!"
"Sudah tidak apa-apa," Harry memeluk Anna dan mengusap punggungnya untuk menenangkan dirinya. Anna memejamkan mata, dia merasa lebih baik setelah mendapat pelukan dari Harry. Walau dia tidak menyangka akan mengalami hal seperti itu tapi dia bersyukur tidak jadi menikah dengan Marco.
"Harry, apa yang hendak kita lakukan padanya?" Damian bertanya karena dia ingin tahu apa yang hendak Harry lakukan pada Marco. Jika Harry berkata terserah maka dia akan memerintahkan anak buahnya untuk membawa Marco dan melemparkannya pada para buaya tua.
"Entahlah, masukkan dia ke dalam penjara," ucap Harry.
"Tidak, tolong jangan lakukan hal itu!" pinta Anna.
"Kenapa, Anna? Dia sudah menculik dan memaksamu jadi dia harus di jebloskan ke dalam penjara!" Harry memandangi Anna dengan tatapan tidak mengerti.
"Aku tahu, Harry. Tapi Marco adalah sahabatku sejak lama. Tolong berikan kesempatan, aku ingin berbicara dengannya nanti. Jika dia masih tidak menyerah dan bersikeras maka aku akan menyerahkan dirinya pada kalian."
"Baiklah," ucap Damian seraya melangkah mendekati Marco, "Dia juga akan menjadi cacat. Satu kakinya pasti harus di amputasi jadi nanti sekalian amputasi kedua kakinya!"
"Ya, itu lebih adil!' ucap Anna. Dia rasa hukuman seperti itu sudah cukup untuk Marco, pria itu pasti akan jera dengan kedua kakinya yang sudah tidak ada dan yang pasti karirnya akan hancur. Dia akan berbicara baik-baik dengan Marco, walau benci tapi Marco adalah sahabatnya yang gelap mata karena cinta.
"Ck, kalian terlalu baik!" sela Ainsley, "Lemparkan saja ke kandang buaya maka semuanya akan beres!" ucapnya lagi.
"Hei, Nyonya. Aku akan menghukummu setelah ini!" ucap Damian karena istrinya tidak mau menurutinya.
"Guys, jika sudah selesai ayo kita pulang! Aku akan memerintahkan James untuk membereskan semua kekacauan ini nanti!" ucap Michael pula.
"Tidak perlu, Mich. Anak buahku yang akan membereskannya!" tolak Damian. Dia tidak mau merepotkan kakak iparnya lebih dari pada itu.
"Baiklah, ayo pergi!"
Mereka sudah melangkah menuju helikopter, Harry hendak mengajak Anna tapi Anna teringat dengan kedua orangtuanya yang saat itu, wajah si ayah masih pucat.
"Mommy, Daddy!" Anna berlari menghampiri mereka yang ada tidak jauh dari mereka.
"A-Anna, mereka?" sang ayah tampak kesulitan bicara karena dia shock dan merasa karirnya sudah habis.
"Apa Daddy baik-baik saja?" Anna terlihat khawatir.
"Ayahmu mengalami shock, Anna. Sebentar lagi dia akan baik-baik saja," ucap sang ibu.
"Daddy tidak perlu takut, mereka tidak akan melakukan apa pun. Aku mengenal Ainsley jadi mereka tidak akan melakukan apa pun pada kita."
Brian terlihat sedikit lega, hampir saja dia gagal jantung. Sebaiknya lain kali dia tidak memaksa putrinya lagi karena dia merasa keberuntungan tidak akan memihaknya lagi.
"Maafkan Daddy, Anna. Daddy kira masa depanmu akan cemerlang setelah menikah dengan Marco."
"Ck, Daddy lihat sendiri seperti apa Marco. Dia tidak lebih dari psikopat yang suka memaksa. Aku hanya menganggapnya teman, Dad. Tidak ada sedikitpun perasaan spesial di hatiku untuknya. Daddy lihat pria yang ada di sana?" Anna menunjuk ke arah Harry, ayahnya harus tahu siapa pria yang dia sukai selama ini.
"Walau dia hanya seorang pengusaha yang tidak bisa memegang senjata tapi dia mau datang menolong aku," ucap Anna lagi.
"Baiklah, Daddy salah. Daddy mengira kau akan bahagia jika menikah dengan politikus."
"Sudahlah, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Anna.
Anna dan ibunya berusaha memapah Briant Cedric, tapi pada saat itu pintu rumah terbuka. Mereka berteriak dan hal itu membuat anak buah Damian mengarahkan senjata api mereka ke arah pintu di mana seorang pria keluar dari dalam rumah.
"Jangan tembak!" pria itu berteriak dan pria itu tak lain dan tak bukan adalah pendeta yang akan menikahkan Anna dengan Marco.
Semua melihat ke arahnya, sang pendeta masih ketakutan. Saat keributan terjadi, pendeta itu bersembunyi dan setelah merasa aman dia memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya dan kini dia mendapat sambutan senjata api yang mematikan.
"A-Apa pernikahannya jadi dilanjutkan?" tanya pendeta itu ketakutan.
Harry dan Damian saling pandang dan setelah itu Harry melihat ke arah Anna. Entah kenapa dia memiliki ide gila yang ingin dia lakukan saat ini juga.
"Jika begitu, apa aku sudah boleh pergi?" tanya pendeta itu.
"Tidak!" teriak Harry, dia melangkah mendekati pendeta itu dengan terburu-buru. Anna memandanginya dengan ekspresi heran, sedangkan Ainsley berbisik pada suaminya karena dia ingin tahu apa yang hendak di lakukan Harry tapi ya, Damian mengangkat bahu karena dia tidak tahu.
"Harry, apa maksudmu" tanya Anna.
"Pernikahannya tidak batal, Anna," jawab Harry.
"Maksudmu?" Anna semakin tidak mengerti.
"Anna," Harry mendekati Anna dan memegangi kedua tangannya.
"Sudah terlanjur jadi lanjutkan saja acara pernikahannya," ucapnya.
"Ma-Maksudmu?" Anna tampak gugup, dan tidak lama kemudian Anna terkejut melihat Harry berlutut di hadapannya.
"Anna Cedric, kau sudah membuat aku jatuh cinta padamu jadi maukah kau menikah denganku?" tanya Harry tanpa ragu karena dia memang sudah jatuh cinta dengan gadis aneh dan cabul itu jadi dia tidak mau menunda.
"Menikah? Di sini?" tanya Anna tidak percaya.
"Asal kau bersedia."
Anna menggigit bibir, dia tampak berpaling melihat ke arah sang ibu dan tentunya ibunya memberi isyarat supaya Anna menerima pernikahan itu. Tidak jauh dari mereka, Ainsey dan Damian terlihat tidak percaya, apa mereka serius akan menikah di antara kumpulan mayat yang ada di sana?
"Dam-Dam, kepala Harry tidak terbentur, bukan?" tanya Ainsley sambil berbisik.
"Aku rasa tidak," jawab Damian.
"Jika begitu apa dia stres setelah kejadian ini?"
"Sudahlah, ini hal bagus untuk mereka!"
"Oh, ini romantis sekali," ucap Marline tiba-tiba.
Sontak mereka melihat ke arah Marline, apanya yang romantis? Melamar sang kekasih di tengah tumpukan para mayat? Itu bukan Romantis tapi dramatis.
Anna masih belum menjawab, memang ini yang dia inginkan. Matanya melihat sekitar, Ainsley mulai memberi semangat agar Anna menerima lamaran Harry.
"Cepat jawab!" teriak Ainsley.
"Anna, apa kau tidak mau?" tanya Harry lagi.
"Tentu saja aku mau," jawab Anna dengan cepat.
"Jadi?"
"Baiklah, kita akan menikah di situasi yang sedang kacau ini. Mungkin ini akan menjadi pernikahan aneh yang pernah terjadi dalam sejarah."
Harry tersenyum, tidak jadi soal yang penting dia bisa menjadikan Anna sebagai miliknya karena dia tidak ragu lagi. Kedua orangtua Anna juga sudah setuju, mereka tidak akan melarang lagi setelah melihat kebrutalan Marco yang hampir membunuh Anna dan tentunya luka yang terdapat di paha Briant Cedric akan menjadi pelajaran untuknya.
Pernikahan dadakan pun di mulai, Anna dan Harry berdiri di depan pintu sedangkan yang lain berdiri tidak jauh dari mereka dan menyaksikan pernikahan mereka. Tentunya anak buah Damian juga menjadi saksi beserta para mayat yang belum di bereskan. Marco sudah dibawa pergi karena dia bisa mati kehabisan darah jadi dia tidak bisa menjadi saksi atas pernikahan itu dalam pingsannya.
Pernikahan ekstrim dan gila pun terlaksana, tidak perlu berlama-lama mereka sudah mengucapkan janji pernikahan. Cincin yang mereka gunakan juga cincin yang disiapkan Marco untuk mengikat Anna dan tentunya itu hanya sementara karena Harry berjanji akan membeli cincin yang lebih baik dari pada itu.
"Sekarang kalian sudah menjadi suami istri dan kau sudah boleh mencium pengantinmu," ucap sang pendeta.
Harry meraih pinggang Anna dan mencium bibirnya dengan tidak sabar, para anak buah Damian menembakkan senjata mereka ke atas biar lebih dramatis, sedangkan Damian dan Ainsley bertepuk tangan begitu juga dengan Marline dan Michael. Ternyata kedatangan mereka tidak sia-sia karena mereka bisa menyaksikan pernikahan paling aneh dalam sejarah.
"I love you," ucap Harry.
"Me too," mereka kembali berciuman dan lupa dengan sekitar.
"Guys, ayo pergi. Biarkan mereka berciuman sampai pagi!" ajak Michael seraya melangkah pergi bersama istrinya.
Anna dan Harry menyudahi ciuman mereka, jangan sampai mereka tertinggal di antara para mayat yang ada di sana.
"Hei, tunggu!" mereka berlari mengikuti yang lainnya menuju helikopter.
Mereka melangkah bersama pasangan mereka menuju helikopter, kedua orangtua Anna dibawa oleh anak buah Damian dan dinaikkan ke atas helikopter sesuai dengan perintah Michael karena mereka akan dibawa ke rumah sakit. Briant Cedric tampak lega, sepertinya mereka tidak menyinggung Michael Smith dan memang Michael tidak mau ikut campur, dia datang ke sana atas permintaan adiknya dan membantunya.
Mereka pergi dari tempat itu, akhirnya malam melelahkan mereka berakhir. Anak buah Damian masih berada di sana untuk menghilangkan jejak dan mereka juga mendapat perintah untuk menjaga Marco dengan ketat. Jika Anna tidak meminta melepaskan sahabatnya itu, Marco pasti sudah dibawa untuk di lempar ke kandang buaya dan semoga saja keputusan Anna tidak salah.
Malam itu Harry membawa istri yang baru dia nikahi pulang dan dia harap keluarganya tidak shock karena tiba-tiba saja dia sudah menikahi Anna.