
Begitu kembali, Damian segera mencari istrinya karena dia sangat mengkhawatirkan Ainsley dan sangat ingin melihat keadaannya. Damian tampak terkejut karena tidak mendapati Ainsley di tempat tidur. Dia bahkan terlihat panik, Damian berlari menuju kamar mandi sambil memanggil. Semoga saja istrinya ada di dalam sana.
"Ainsley apa kau di dalam?" Damian melangkah masuk, untuk mencari keberadaan istrinya.
Dia kembali terkejut saat melihat Ainsley duduk di atas lantai kamar mandi yang dingin, Ainsley bahkan tertidur sambil bersandar di closet. Tidak hanya itu saja, bajunya terlihat basah. Damian menghampiri istrinya dengan terburu-buru, dia semakin terlihat cemas.
"Ainsley, kenapa kau duduk di lantai? Apa yang terjadi denganmu?" Damian sudah berjongkok, tangannya sedang meraba wajahnya istrinya yang terasa panas.
"Dam-Dam, kau sudah kembali?" Ainsley membuka matanya yang terasa berat.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau basah kuyup seperti ini?"
"Perutku mual. Dam-Dam. Aku lelah mondar mandir jadi aku pikir lebih baik aku duduk di sini," jawab Ainsley dengan suara lemah.
"Ck, seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri!" Damian menggendong Ainsley dan membawanya keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru.
"Maaf, aku telah merepotkanmu."
"Hei, apa yang kau bicarakan?"
"Perutku mual, bawa aku kembali ke kamar mandi!" pinta Ainsley.
"Apa?"
"Cepat, Dam!"
Damian kembali ke kamar mandi dengan cepat, Ainsley diturunkan di dekat wastafel. Damian berdiri di sisinya dan terlihat tidak tega saat Ainsley sedang muntah. Ainsley tampak lelah, tenaganya bahkan tidak ada.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Damian sambil mengusap punggung istrinya.
"Buruk!" Ainsley mencuci wajahnya, dia tidak suka keadaannya yang seperti itu.
"Jika begitu ganti bajumu, aku akan memanggil dokter untuk melihat keadaanmu."
"Tidak perlu, Dam-Dam. Sudah begitu larut, aku hanya butuh istirahat," ucap Ainsey.
"Baiklah, ayo ganti bajumu. Jika keadaanmu tidak juga membaik maka aku akan membawamu ke rumah sakit."
Aisnley mengangguk, Damian kembali meggendong istrinya. Damian bahkan membuka baju Ainsley yang basah dan mengganti dengan piyama bersih.
"Berbaringlah, aku akan mengambilkan air hangat dan juga obat untukmu. Aku akan mengompres dahimu karena kau mulai demam."
"Thanks," Ainsley berusaha tersenyum, walaupun sesungguhnya matanya sudah terasa berat.
Setelah memberikan sebuah ciuman di dahi, Damian keluar dari kamar untuk mengambil air hangat. Jager sudah menunggu, dia sangat ingin tahu bagaimana keadaan menantunya. Begitu melihat Damian yang melangkah menuju dapur dengan terburu-buru, Jager mengikutinya dari belakang.
"Bagaimana dengan keadaan Ainsley?" tanya Jager ingin tahu.
"Kurang baik, Dad. Seharusnya kita tidak meninggalkannya!"
"Apa yang terjadi dengannya?" Jager terlihat khawatir.
"Dia bilang perutnya mual, keadaannya juga semakin buruk. Aku akan mengompres dahinya dan memberinya obat," jawab Damian. Dia sibuk mengambil obat yang akan dia berikan untuk istrinya.
"Mual?" Jager mengernyitkan dahi, sedangkan Damian mengganguk.
Damian mengambil air hangat tapi tiba-tiba saja terdengar suara sorakan Jager Maxton. Damian memandangi ayahnya dengan tatapan heran, dia bahkan tidak percaya melihat tingkah ayahnya yang terlihat begitu senang bagaikan anak kecil yang mendapatkan permen.
"Ada apa denganmu, Dad?"
"Jangan beri obat apa pun untuk istrimu, pergi temani dia. Aku akan memerintahkan seseorang untuk membeli sesuatu!" ucap ayahnya.
"Kenapa?" Damian semakin tidak mengerti.
Damian tampak tidak mengerti, tapi dia menuruti perkataan ayahnya. Obat ditinggalkan, Damian membawa air hangat dan kompres ke dalam kamar. Padahal dia pikir hendak memberi istrinya obat mual dan obat demam, tapi sebaiknya dia mendengarkan perkataan ayahnya.
Damian duduk di sisi ranjang dan meraba dahi istrinya yang terasa panas. Kompres diletakkan, Ainsley terbangun dan melihatnya dengan tatapan sayu.
"Bagaimana keadaanmu?" Damian semakin terlihat khawatir.
"Seperti yang kau lihat, kepalaku semakin sakit."
"Baiklah, jangan memaksakan diri. Aku rasa sebaiknya aku memanggil dokter."
"Tidak perlu, Dam-Dam. Besok keadaanku pasti sudah membaik," ucap Ainsley.
"Tapi lebih baik keadaanmu di periksa, Sayang."
"Aku hanya ingin kau menemani aku, Dam-Dam," pinta Ainsley.
Damian menghela napas, sebaiknya dia menuruti permintaan istrinya.
"Baiklah, apa ada yang kau inginkan?" tanya Damian, dia semakin tidak tega melihat keadaan istrinya.
"Tidak, aku hanya ingin kau memelukku," pinta Ainsley.
"Baiklah, minum air hangatnya dan setelah ini aku akan memelukmu."
Ainsley bangun dengan susah payah, tentu Damian membantunya. Setelah meneguk air hangatnya, Ainsley kembali berbaring dan sesuai dengan permintaan istrinya, Damian berbaring di samping Ainsley dan memeluknya.
Usapan lembut dan ciuman di wajah Damian berikan, semoga istrinya hanya demam biasa. Karena kehangatan tubuh suaminya, Ainsley tampak tertidur. Bagaimanapun dia sudah lelah dan tidak bertenaga. Jika keadaannya tidak juga membaik maka besok mereka akan pergi ke rumah sakit.
Di luar sana, Jager sedang menunggu anak buahnya membelikan apa yang dia inginkan. Tentu dia meminta anak buahnya untuk membeli test pack. Dia sangat yakin jika Ainsley sedang hamil, tapi dia ingin memastikannya dengan alat itu. Dia sangat ingin memanggil dokter pribadinya tapi lebih baik Ainsley di bawa ke dokter spesialis kandungan jika memang menantunya itu positif hamil.
Jager terlihat mondar mandir, dia sangat berharap tebakannya tidak salah. Dia sudah sangat menantikan hal ini, walau dia sudah memiliki enam cucu tapi kali ini anak yang dilahirkan oleh istri Damian yang akan menyandang namanya dan menjadi penerus selanjutnya.
Dia sangat bersyukur mengadopsi Damian. Tanpa bersusah payah dia sudah mendapatkan seorang putra yang luar biasa. Tentu semua itu tidak lepas dari didikan yang dia berikan dan tentunya dari didikan Sayuri. Kasih sayang dan cinta yang dia berikan selama ini tidak sia-sia, rasanya ingin menari karena dia yakin seratus persen jika istri putranya sedang hamil.
Yang dia tunggu akhirnya datang, sang anak buah kembali dengan test pack yang dia inginkan. Setelah mendapatkannya Jager menghampiri kamar putranya, dan mengetuk pintu kamar dengan perlahan.
"Damian," Jager memanggil dan kembali mengetuk.
Damian menyingkirkan tangan Aisnley yang melingkar di tubuhnya, dia beranjak dengan perlahan karena dia tidak mau membangunkan Ainsley.
Pintu dibuka, Damian sangat heran saat ayahnya memberikan sesuatu padanya.
"Berikan pada Ainsley saat dia hendak ke kamar mandi," ucap ayahnya.
"Apa ini, Dad?" Damian melihat apa yang ayahnya berikan.
"Test pack, aku rasa istrimu sedang hamil."
"Daddy serius?" Damian terlihat tidak percaya.
"Ya, semoga tebakanku tidak salah."
Damian melihat ke arah ayahnya lalu dia menoleh ke arah istrinya, dia terlihat senang dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya.
"Baiklah, Daddy tunggu kabar baik dariku!" Damian terlihat bersemangat.
Jager mengangguk, dia akan menunggu. Damian kembali ke dalam kamar, dia terlihat mondar mandir menunggu Ainsley bangun untuk ke kamar mandi tapi sayangnya, Ainsley tampak begitu nyenyak. Di luar sana Jager juga menunggu, kenapa putranya begitu lama? Rasanya ingin mengetuk tapi dia harus sabar.
Kedua ayah dan anak itu menunggu dengan tidak sabar tapi ya, Ainsley tidur. Lagi pula dia sudah begitu lama di kamar mandi. Jager sudah begitu kesal, dia benar-benar tidak sabar. Jager menempelkan telinganya di daun pintu. Jangan katakan Damian tertidur tapi memang, Damian tertidur sambil memeluk istrinya karena mengantuk dan akhirnya, dia melupakan sang ayah dan tidur Ainsley semakin nyenyak karena kehangatan tubuh suaminya.