
Mayumi ketakutan, dia harap tidak ada yang masuk ke dalam karena dia tidak mau bom yang ada di tubuhnya aktif dan meledak. Katsuo dan anak buahnya bersembunyi, menunggu musuh mereka masuk ke dalam. Di luar sangat sunyi, tidak terdengar suara apa pun. Mereka bahkan saling pandang, dengan napas tertahan.
Hal itu tidak beda jauh dengan anak buah Akira, mereka juga bersembunyi dengan jantung mereka berdegup kencang. Senjata api yang ada di tangan dipegang dengan begitu erat. Mereka menelan ludah mereka dengan kasar. Napas mereka bahkan terdengar memburu, mata mereka fokus ke arah pintu.
Mereka menunggu musuh masuk dalam ketegangan, mereka bahkan merasa kesulitan bernapas. Entah kenapa di luar sana begitu sunyi, entah apa yang dilakukan oleh musuh mereka tidak tahu.
Matthew tidak bergerak, begitu juga dengan yang lain. Dia merasa ada yang aneh, entah apa yang ada di dalam sana jadi dia harus waspada. Matthew meminta yang lain untuk tidak menyergap masuk dengan terburu-buru, salah langkah sedikit saja maka fatal akibatnya. Jangan sampai mereka pulang hanya tinggal nama, karena itu tidaklah lucu.
Anak buah Akira semakin waspada, mata mereka masih tidak lepas dari pintu dan terkadang mereka melihat bos mereka. Mereka menunggu perintah karena tidak ada suara sama sekali di luar sana.
Matthew dan yang lain menyusun rencana, mereka berada agak jauh dari pintu agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Bagaimana Kak, apa kita langsung masuk menyergap?" tanya Ainsley.
"Tidak! Kita tidak bisa langsung masuk," ucap Matthew.
"Jadi bagaimana, Matth? Apa kita harus melemparkan bom asap ke dalam sana?" tanya Vivian pula.
"Ide bagus Babe, tapi kau harus ingat, ada sandera. Aku curiga ada perangkap dan bom asap tidak berguna sama sekali."
"Jadi?" tanya istrinya.
"Aku akan masuk untuk menjadi umpan."
"Serius?" tanya Vivian.
"Yes, dengarkan aku," Matthew mengatakan apa yang dia rencanakan kepada yang lain, Dia akan masuk terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan oleh musuh dan setelah itu dia akan mengatakan pada yang lain.
"Tapi ini berbahaya, Matth!" ucap Vivian.
"Tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Aku saja, semua ini terjadi karena perbuatan sahabatku," ucap Damian.
"Tidak perlu, aku yang akan menjadi umpan!" ucap Matthew. Dia punya rencana sendiri, dia harus melihat situasi di dalam sana dan melihat gerak gerik musuh.
"Baiklah, jika terjadi sesuatu padamu maka aku akan mencari Daddy baru untuk anak-anak!" ucap Vivian bercanda.
"Hei, awas jika kau berani!"
Vivian terkekeh, dia hanya bercanda saja. Setelah sepakat dengan rencana mereka, Matthew bergerak menuju pintu. Damian dan Ainsley berjalan mengikuti Matthew dari belakang dan mereka berdiri di sisi pintu.
Dua senjata berada di tangan, Matthew sudah berada di depan pintu. Dia akan masuk ke dalam untuk melihat apa yang sebenarnya direncanakan oleh musuh. Para musuh yang ada di dalam semakin waspada saat mendengar suara langkah kaki.
Akira memerintahkan anak buahnya untuk diam, agar musuh tidak tahu keberadaan mereka. Dengan begitu musuh akan melangkah lebih jauh dan menginjak kabel yang mereka sembunyikan. Mata mereka fokus ke pintu, saat pintu terbuka.
Napas mereka tertahan saat Matthew melangkah masuk sambil menodongkan senjata apinya ke arah depan. Matthew melangkah perlahan, matanya melihat sekeliling ruangan dengan teliti. Akira dan anak buahnya masih mengintip dari persembunyian, mereka bahkan masih menahan napas apalagi langkah Matthew semakin mendekati kabel perangkap yang mereka pasang.
Tinggal beberapa langkah lagi, mereka terlihat tidak sabar. Rasanya ingin berteriak agar Matthew semakin melangkah maju tapi jika mereka keluar, maka mereka akan mati dan rencana mereka akan ketahuan.
Matthew masih melangkah, terus melangkah bahkan kakinya sudah berada di atas kabel yang jaraknya tidak jauh dari atas lantai. Anak buah Akira sudah senang melihatnya, rasanya mereka ingin menjadi team sorak suara agar Matthew segera menginjak kabel itu sehingga tubuh pria itu akan di tebas oleh kawat yang mereka pasang.
Tanpa musuh sadari, Matthew memanfaatkan situasi itu. Matanya yang sedari tadi melihat sana sini, dia manfaatkan dengan baik untuk melihat apa saja yang ada di dalam ruangan. Matthew menghentikan kakinya untuk menyentuh lantai, dia bahkan melihat ke bawah dan tidak lama kemudian, seringai menghiasi wajah.
Sekarang dia sudah tahu apa yang sedang direncanakan musuh, itulah kenapa dia ingin menjadi umpan. Musuh benar-benar bodoh tidak tahu siapa yang sedang mereka lawan.
"Sial ... tembak!" teriak Akira karena Matthew malangkah mundur dan tidak menginjak perangkap yang mereka buat.
Mereka keluar dari persembunyian, menghujani Matthew dengan timah panas, sedangkan pria itu melangkah mundur sambil menembak. Sudah cukup, dia memang hanya ingin melihat apa yang disiapkan oleh musuh dan sekarang dia sudah tahu apa perangkap yang mereka siapkan.
Akira dan anak buahnya terus melangkah maju sambil menembak tapi mereka tidak berani mendekati pintu. Jangan sampai mereka sendiri yang terkena jebakan yang mereka buat. Tembakan mereka hanya mengenai daun pintu karena Matthew sudah keluar dan berdiri di samping adiknya yang berada di sisi pintu.
"Jadi pria Jepang itu yang kau inginkan?" tanya Matthew pada adiknya.
"Yes, tangan dan matanya milikku."
"Kau akan mendapatkannya!" ucap Matthew seraya mengangkat dua pistolnya.
"Berhati-hatilah, Babe. Mereka menyiapkan perangkap. Aku tidak tahu perangkap apa yang mereka siapkan di sana tapi di sini ada sebuah senjata otomatis yang terhubung dengan sebuah kabel halus, Jarak kebel dengan pintu hanya satu setengah meter. Tidak hanya itu, mereka juga menyiapkan sebuah gulungan kawat yang bisa tertarik secara otomatis jika ada yang menyentuh kabel lain yang berjarak tidak jauh dari atas lantai dan ketika seseorang menginjak kabel itu, maka kawat akan tertarik dan memotong tubuhnya menjadi dua bagian," jelas Matthew pada istrinya.
"Sh*i*t!" umpat Vivian. Ternyata benar di dalam sana ada perangkap.
"Di mana mereka meletakkan perangkapnya, Matth?" tanya Vivian ingin tahu. Jika sudah ada gambaran maka mereka bisa menemukan perangkap itu dengan mudah.
"Gulungan kawat ada di sisi kanan dan kiri, sedangkan senjata otomatis ada di bagian depan. Jika perangkap yang mereka buat sama, sebaiknya kau memperhatikan setiap ruangan dengan teliti karena bisa saja letaknya berbeda dan cara kerja juga berbeda karena di tempat kalian ada sandera."
Vivian dan Marline saling pandang, sepertinya mereka harus menyusun strategi agar bisa menyelamatkan sandera. Mantan agen dan mantan pembunuh bayaran berkolaborasi? Sepertinya sudah waktunya mereka menunjukkan kemampuan mereka lagi.
"Kau tidak perlu khawatir Matth, kami yang akan mengatasi yang di sini," ucap Vivian.
"Baiklah, aku harap kalian berhati-hati. Kami akan mulai menyerang mereka dan setelah selesai kami akan ke sana!" ucap Matthew.
Setelah berbicara dengan suaminya, Vivian dan Marline juga James berkumpul karena mereka akan menyusun rencana agar mereka bisa membawa sandera keluar dengan selamat.
Sementara itu, Akira dan anak buahnya fokus ke arah pintu dengan napas tertahan. Mana pria tadi? Kenapa lagi-lagi di luar sunyi?
Akira memerintahkan seorang anak buahnya untuk keluar memeriksa keadaan. Sepertinya pria itu sengaja menjadi umpan untuk mempelajari apa yang ada di dalam ruangan dan entah kenapa dia jadi curiga jika pria itu sudah tahu perangkap apa yang mereka persiapkan.
"Hati-Hati Katsuo, aku curiga mereka sudah tahu perangkap kita," Akira memberitahu Katsuo dengan pelan.
"Tidak perlu khawatir, kami akan menembak begitu mereka masuk," ucap Katsuo.
"Jangan buang waktu, gunakan Mayumi agar mereka muncul."
"Baiklah," jawab Katsuo seraya mengakhiri pembicaraan mereka tanpa tahu jika si ahli peretas sudah menyadap ponsel mereka dan sudah mendengar apa yang mereka bicarakan.
Seorang anak buah yang Akira perintahkan, melangkah menuju mendekati pintu dengan jantung berdebar dan tangan gemetar. Pria itu memperhatikan langkahnya dengan hati-hati agar tidak menginjak kabel perangkap. Rasanya situasi semakin menegangkan karena tidak ada yang tahu, apa yang sedang dilakukan oleh musuh di luar sana.
Langkahnya semakin mendekati kabel, pria itu bahkan melihat ke arah pintu dengan napas memburu. Kakinya terangkat, untuk melangkahi kabel. Dia bahkan terlihat ketakutan karena apa yang dia lakukan sangat berisiko. Kaki sudah melangkahi kabel, pria itu ingin segera melewati kabel berbahaya itu tapi ketika satu kakinya kembali diangkat, pintu ruangan sedikit terbuka.
DHUUUKKKK!!!
Sesuatu dilemparkan masuk ke dalam dan sebuah bola berguling masuk ke dalam sana. Akira dan anak buahnya saling pandang dan tidak lama kemudian, BIIPP ... bola itu mengeluarkan suara dan mereka tahu itu bukan hal bagus.
"Sial, itu bom!" para anak buahnya berteriak, sebagian dari mereka panik dan berlari. Pria yang melangkahi kabel tidak bergerak tapi naas, seseorang menabraknya sehingga dia hilang keseimbangan dan pria itu jatuh ke atas dua kabel perangkap.
Senjata otomatis langsung menembak, kawat pun tertarik dan memotong tubuh mereka yang tidak berlindung. Suara anak buah Akira terdengar di dalam ruangan, mereka menjadi korban atas perangkap yang mereka buat. Matthew dan Ainsley sudah bersiap, begitu juga Damian. Mereka akan segera menyergap masuk setelah senjata otomatis berhenti menembak.
Anak buah Akira masih panik, tapi sayangnya bola yang di lemparkan bukanlah bom karena itu hanya bola biasa untuk mengelabui mereka agar mereka panik. Lagi pula, Matthew menginginkan Akira dalam keadaan hidup.