Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Aku Akan Menjagamu



Mereka sudah tiba, di rumah berlantai dua. Sudah lama tidak mendatangi rumah itu, Harry sempat ingin menjual rumah itu agar kenangannya bersama dengan Sherly bisa dia lupakan. Barang-Barang milik Sherly bahkan belum sempat dia singkirkan, sepertinya dia harus meminta pelayan pribadinya yang selalu berada di rumah itu untuk menyingkirkan barang-barang Sherly yang masih tersisa.


Anna masih duduk di mobil dan dia tampak begitu lemas. Tubuhnya semakin menggigil apalagi terkena Ac mobil. Jas Harry bahkan sudah dia kenakan tapi keadaannya semakin buruk. Anna juga enggan membuka matanya yang berat, seandainya Harry tidak datang mungkin dia akan sendirian di rumah dan kesepian.


Seorang pelayan menghampiri Harry dengan terburu-buru, saat melihat kedatangannya. Pelayan itu terlihat senang karena sang pemilik rumah datang setelah sekian lama. Koper Anna sudah di keluarkan oleh si supir, Harry meminta sang pelayan untuk membawanya masuk dan tentunya dia meminta sang pelayan untuk membuang barang Sherly yang tersisa sebelum dia membawa Anna masuk.


Dengan sigap sang pelayan bergerak cepat, beberapa pelayan lain juga diperintahkan untuk menjalankan tugas. Harry menghampiri mobil setelah memberi perintah, dia akan membawa Anna masuk karena gadis itu harus istirahat.


Pintu mobil dibuka, Anna membuka matanya yang berat dan melihat Harry sejenak.


"Apa sudah tiba?" tanyanya dengan suara lemah.


"Ya, aku akan menggendongmu masuk ke dalam."


"Tubuhku semakin dingin," ucap Anna sambil memeluk tubuhnya.


"Tidak perlu khawatir, aku akan memanggil dokter."


Harry menggendong Anna keluar dari mobil, memang tubuhnya semakin terasa panas tapi Anna justru menggigil. Anna memeluknya erat, walau keadaannya seperti itu tapi dia sangat bersyukur dan berterima kasih pada sakitnya. Jika tidak dia tidak akan mendapatkan keuntungan seperti itu.


"Apa ini rumahmu?" tanya Anna basa basi, tapi dia masih memejamkan matanya.


"Yeah, dulu aku tinggal di sini."


"Dengan tunanganmu?" tanya Anna lagi.


"Hm," jawab Harry singkat.


Anna hanya tersenyum, dia jadi ingin tahu bagaimana rupa tunangan Harry. Apa wanita itu lebih cantik dari pada dirinya? Sepertinya seperti itu, dia bahkan membayangkan wajah cantiknya.


Harry membawa Anna masuk ke dalam kamar tamu, dia tidak ingin di anggap mencari kesempatan dalam kesempitan. Bagaimanapun hubungan mereka belum begitu dekat walau mereka sudah berciuman beberapa kali. Dia bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya pada gadis mesum dan aneh itu.


Jangan sampai Marco mengira dia membawa Anna untuk mengambil keuntungan dan jangan sampai keluarga Anna mengira dia baj*ngan yang membawa Anna dan memanfaatkan gadis itu. Dia membawa Anna ke rumahnya karena dia mengkhawatirkan keadaannya.


Harry membaringkan Anna dengan perlahan, selimut juga ditarik untuk menutupi tubuhnya yang dingin. Anna berusaha tersenyum, entah kenapa pria itu begitu perhatian dan dia harap Harry sudah memiliki sedikit perasaan untuknya.


Ini langkah yang bagus, dia tidak menyangka akan berada di rumah Harry saat ini. Padahal dia mengira akan terus mengejar pria itu dengan susah payah, sepertinya membawa Harry dan mengenalkan pria itu pada kedua orangtuanya tidak hanya impian tapi sayangnya tanpa dia tahu, sang ayah begitu murka setelah Marco menghubunginya dan mengatakan Anna pergi dengan pria yang dia kejar selama ini.


Sepertinya dia telah memberi Anna waktu yang terlalu lama, Sekarang Anna sudah berani tinggal dengan seorang pria. Anna tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya tapi mereka tidak tahu Anna memutuskan ikut dengan Harry karena dia takut dengan Marco yang sudah berubah.


Briant Cedric masih berbicara dengan Marco dengan kemarahan di hati. Dia sungguh tidak menyangka putrinya akan melakukan hal itu. Sepertinya pria yang dikejar oleh putrinya mulai mempengaruhi putrinya sehingga kelakuan Anna semakin buruk. Jika sampai ada yang tahu, mau ditaruh di mana wajahnya?


Para lawannya bisa menjatuhkan dirinya karena kelakuan buruk putrinya, sepertinya tidak ada pilihan lain selain memaksa Anna untuk pulang dan segera menikah dengan Marco. Tidak ada jalan lain yang bisa mereka lakukan selain jalan itu.


"Apa kau tidak menahannya pergi, Marco?" tanya Briant Cedric.


"Tentu sudah, tapi Anna tidak mau mendengarkan ucapanku!" jawab Marco.


"Sial! Siapa sebenarnya pria yang dia kejar saat ini? Apa dia begitu hebat?"


"Tidak, dia hanya pengusaha biasa!"


"Jika begitu bawa Anna pulang! Apa pun caranya bawa dia pulang. Sepertinya aku terlalu berbaik hati memberikannya waktu satu bulan, seharusnya aku langsung memaksanya menikahimu begitu kau kembali! Sekarang tugasmu membawanya kembali, aku tidak peduli kau mau pakai cara apa. Setelah kau membawanya maka pada saat itu kalian harus langsung menikah agar dia tidak bisa lari lagi untuk mengejar pria tidak jelas itu!" ucap ayah Anna.


"Baiklah, aku akan membawanya kembali dan pria itu, Anna tidak akan bisa melihatnya lagi!" ucap Marco karena dia sudah berencana untuk menyingkirkan Harry.


Marco menyeringai, ijin untuk membawa Anna pulang sudah dia dapatkan. Tinggal mencari orang yang bisa menjalankan rencana itu saja. Kali ini dia pasti bisa menyingkirkan Harry dan membawa Anna kembali serta menjadikannya sebagai istri.


Apa pun caranya, Anna pasti menjadi miliknya dan mau lari ke mana pun, Anna tetap akan kembali padanya. Tanpa tahu sang ayah sudah memberikan ijin pada Marco untuk menariknya pulang, Anna tampak senang. Perhatian yang Harry berikan benar-benar membuatnya bahagia.


Dia harap semua itu bukan mimpi karena demamnya. Harry begitu baik bahkan saat ini Harry sedang menyuapi Anna bubur yang dibuatkan oleh sang pelayan. Seorang dokter bahkan sudah memeriksa keadaannya dan obat untuk menurunkan demamnya sudah ada dia atas meja. Dia jadi berpikir, betapa beruntung dirinya yang menyukai pria itu? Semoga saja keinginannya untuk menikah dengan Harry dapat terwujud.


Mangkuk bubur diletakkan, Harry mengambil obat dan memberikannya pada Anna. Melihat keadaan gadis itu membuatnya iba. Walau dulu dia sempat menjalin hubungan dengan Sherly tapi entah kenapa terasa berbeda. Apa dulu dia mau menjalin hubungan dengan Sherly karena terpaksa?


"Minum obatnya, setelah itu istirahat!" ucap Harry.


"Terima kasih, Harry," Anna tersenyum. Jika dia tidak sakit maka dia akan meraba seluruh tubuh pria itu apalagi Harry sudah berkata jika dia boleh meraba tubuhnya sesuka hati. Uh, rasanya sudah tidak sabar. Otak cabul pun mulai berfantasi liar.


Harry melotot, karena Anna memperhatikannya bagaikan serigala lapar. Kenapa dia merasa jika dia harus waspada pada gadis cabul itu? Tidak, jangan sampai situasi terbalik dan jangan sampai Anna yang menyerangnya dan mengikatnya di ranjang. Seharusnya dia tidak asal bicara hanya karena ingin membuat Marco kesal. Sekarang dia jadi menyesal, sepertinya dia benar-benar harus membeli sebuah baju besi yang selalu ada di museum.


"Belum puas memandangiku?" tanya Harry dengan nada kesal.


"Aku sudah tidak sabar meraba seluruh tubuhmu, Harry," Anna tersenyum nakal sambil menekuk kedua tangannya.


Harry merinding, sial. Dia benar-benar harus mewaspadai gadis cabul itu.


"Sebaiknya segera tidur dan jangan coba-coba menyelinap masuk ke dalam kamarku saat malam!" ancam Harry.


"Wah, ini seperti undangan," Anna tersenyum lebar, sedangkan Harry menggeleng.


Anna membaringkan diri, dia akan menyelinap nanti malam. Siapa suruh memberinya ide seperti itu? Padahal dia kira Harry akan pulang ke rumah keluarganya tapi dia tidak menyangka pria itu akan tinggal di sana juga. Anna tersenyum saat Harry mengusap dahinya, aneh. Dia tidak kesal dan tidak membenci gadis cabul itu. Apa karena sifat Anna yang unik? Atau karena dia sudah lama melajang?


"Tidurlah, aku akan menjagamu," ucap Harry.


"Thanks, Harry. Aku sangat bersyukur kau datang hari ini."


"Tidak perlu dipikirkan, mulai sekarang kau bisa tinggal di sini."


"Aku benar-benar berterima kasih."


"Sudahlah," Harry menunduk dan mencium dahi Anna.


Anna memejamkan mata, hatinya terasa berbunga. Semua perhatian yang Harry berikan membuatnya terbuai. Ciuman Harry bahkan belum berhenti, dari dahinya turun ke pipi, hidungnya bahkan tidak luput dari ciumannya. Satu tangan Anna sudah melingkar di tubuh Harry, bibirnya juga sudah terbuka untuk menerima ciuman lembut yang diberikan oleh pria itu.


Entah kenapa itu menjadi sebuah kegiatan yang tidak boleh mereka lewatkan. Anna menikmatinya, begitu juga dengan Harry. Mereka berciuman cukup lama sampai membuat kepala Anna semakin pusing. Semoga dia tidak mimisan dan pingsan.


Harry melepaskan bibirnya, pria itu tersenyum sambil mengusap bibir Anna yang memerah. Anna juga tersenyum, jantungnya berdebar dan wajahnya tampak memerah.


"Tidurlah, jika ada yang kau inginkan panggil aku," ucap Harry.


"Hm," Anna mengangguk, selimut ditarik hingga menutupi sebagian wajahnya.


Harry turun dari atas ranjang, sedangkan mata Anna tidak lepas darinya bahkan sampai Harry keluar dari kamar. Anna menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya karena dia merasa wajahnya terasa panas.


"Oh, Anna. Apa sebentar lagi kau akan melepaskan keperawananmu?" ucapnya dengan pelan.


Jantung Anna semakin berdetak dengan cepat, wajahnya juga merah padam. Anna diam dengan pikiran cabulnya, tanpa dia sadari darah mengalir dari hidungnya. Anna memaki dalam hati, dia segera keluar dari selimut dengan terburu-buru. Sial, jangan katakan dia akan pingsan saat mereka akan melakukan hal itu dan sepertinya dia benar-benar akan pingsan.