Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Aku Menginginkan Gadis Itu!



Ainsley terlihat sibuk, merapikan barang-barangnya karena sebentar lagi mereka akan kembali ke Amerika. Barang yang semula tidak banyak, menjadi banyak karena dia membeli banyak barang. Barang-Barang titipan kedua kakak iparnya, mainan lucu yang dia belikan untuk six baby.


Dia juga membelikan oleh-oleh untuk keluarganya yang lain dan semua barang itu membuat kopernya bertambah. Untungnya dia tidak perlu repot membawa sehingga dia tidak mempermasalahkannya.


Selagi Ainsley sibuk, Damian keluar untuk berbicara dengan anak buahnya. Dia ingin tahu apa yang anak buahnya dapat sebelum dia kembali ke Amerika. Mereka berada di cafe yang ada di bawah hotel untuk berbincang saat itu. Dia berniat meminta anak buahnya kembali jika mereka tidak menemukan apa pun.


"Bagaimana, apa kalian tidak menemukan sesuatu selama berada di sini?" tanya Damian.


"Mereka sangat berhati-hati tapi beberapa hari yang lalu kami mengikuti mereka dan mereka pergi ke tengah hutan di mana ada sebuah bangunan kecil di sana. Tempat itu dijaga begitu ketat sehingga kami tidak bisa mendekat," jawab salah satu anak buahnya.


"Bangunan? Di mana?" Damian jadi terlihat penasaran.


"Prefektur Aomori."


Damian mengumpat, sial! Lumayan jauh dan dia tidak punya waktu untuk pergi ke sana apalagi sangat berbahaya pergi dengan tangan kosong. Jangan sampai dia mencelakai Ainsley selama liburan mereka di tempat itu.


"Apa kami harus menyelinap dan melihat bangunan itu?" tanya salah satu anak buahnya.


"Itu sangat berbahaya, apalagi kalian hanya berdua," jawab Damian.


"Tapi hanya ini kesempatan kita," ucap anak buah yang lain.


"Aku tahu, tapi aku tidak ingin kalian celaka. Jangan sampai kalian tertangkap lalu disiksa oleh mereka sampai mati!" Bagaimanapun nyawa anak buah ayahnya penting.


"Jadi, apa yang harus kami lakukan?" tanya sang anak buah.


Damian tampak berpikir, kemungkinan kekasih Mayumi ada di tempat itu tapi tidak ada yang tahu pria itu dalam keadaan hidup atau tidak. Jika dia meminta anak buahnya untuk menyusup masuk maka itu akan sangat membahayakan karena setiap markas musuh pasti dijaga dengan ketat apalagi jika ada sandera di dalamnya.


"Aku ingin kalian memantau tempat itu baik-baik. Jangan gegabah. cukup awasi saja gerak gerik mereka dan laporkan padaku. Ingat untuk selalu waspada dan jangan meremehkan mereka!" perintah Damian, dia juga mengingatkan karena dia tidak mau kedua anak buahnya celaka.


"Baik, kami akan melakukannya dengan hati-hati," ucap kedua anak buahnya.


"Bagus, kalian boleh pergi dan ingat pesanku! Jika sandera memang ada di sana maka aku akan datang lagi untuk menyelamatkannya tapi untuk saat ini kalian cukup memantau lokasi."


Kedua anak buahnya mengangguk, mereka berpamitan pergi untuk kembali memantau lokasi. Semoga mereka segera mendapat petunjuk karena mereka sudah sangat ingin kembali.


Damian juga pergi dari Cafe, dia ingin melihat apakah Ainsley sudah selesai membereskan barang-barangnya atau belum. Setidaknya anak buahnya sudah mendapatkan sebuah petunjuk, jika kekasih Mayumi memang ada di tempat itu dan masih hidup, maka dia akan datang bersama beberapa anak buahnya untuk menyelamatkan pria itu.


Pintu kamar dibuka, Damian tersenyum ketika melihat Ainsley berbaring di atas ranjang, sedangkan barang-barangnya masih berantakan.


"Apa masih belum selesai?" tanyanya seraya menghampiri Ainsley dan melewati barangnya yang berantakan.


"Ck, lupakan semua barang itu!"  Ainsley terlihat putus asa.


"Ada apa?" Damian berbaring di sisinya dan memeluknya.


"Sepertinya aku belanja terlalu banyak," Ainsley memeluknya, dia ingin seperti itu sejenak.


"Aku akan membantumu nanti."


"Hm, kau dari mana?" Aisnley memejamkan mata, dia jadi ingin tidur.


"Berbicara dengan anak buahku sebentar."


"Apa sudah ada hasil?"


"Benarkah? Jadi kekasihnya masih bisa diselamatkan?"


"Entahlah, ini hanya kemungkinan. Entah dia berada di bangunan itu atau tidak, aku masih meminta anak buahku memantau dan memastikan."


"Semoga masih hidup agar kau bisa menyelamatkannya. Jujur aku iba dengan Mayumi, dia pasti sangat sedih."


"Sepertinya kau sudah akrab dengannya."


"Ya, dia menyenangkan tapi dia harus menjalani hidup yang keras. Pasti sulit setelah kehilangan ayahnya, dia juga harus kehilangan kekasihnya."


"Sebab itu aku ingin membantunya, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Semua teman yang dia punya takut untuk berhubungan lagi dengannya, aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian."


"Aku juga akan membantu," ucap Ainsley.


"Oh, ya?"


"Aku sudah berjanji padanya akan membantu jadi aku akan membantu."


"Kita berdua yang akan membantunya," ucap Damian seraya memberikan ciuman di dahi.


Ainsley mengangguk, matanya masih terpejam untuk menikmati kecupan-kecupan yang diberikan oleh Damian di wajahnya. Damian mencium dahinya, lalu ke pipi dan setelah itu kecupan ringan Aisnley dapatkan di bibir.


"Dam, aku belum selesai," ucap Ainsley ketika Damian mencium lehernya.


"Nanti aku akan membantu!"


Ainsley tidak berkata apa-apa lagi, sebaiknya dia menikmati kebersamaan mereka sebelum mereka kembali. Damian membuka baju yang Ainsley gunakan tanpa ragu, tangan dan bibirnya sudah membelai tubuh Ainsley, memberikan sensasi nikmat untuk gadis itu.


Ainsley mengerang, sepertinya penerbangan mereka akan sedikit tertunda. Mereka berdua sibuk di atas ranjang, dengan kamar yang berantakan karena barang-barang yang belum selesai dirapikan. Manfaatkan waktu dengan baik karena setelah mereka pulang, mereka tidak akan bisa melakukan hal itu dengan leluasa karena ada cicak besar yang suka menempel di balik pintu dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.


Di tempat lain, seorang pria berjalan dengan terburu-buru dengan sebuah map berada di tangan. Pria itu masuk ke dalam sebuah ruangan di mana dua orang pria sedang berbincang. Pria itu membungkukkan badannya lalu menghampiri pria yang satunya dan pria itu adalah Akira.


Pria itu mengatakan sesuatu dengan sedikit berbisik lalu memberikan map yang dia bawa kepada Akira. Akira mengangguk , lalu membuka map yang diberikan. Matanya sibuk melihat sebuah informasi yang ada dan setelah itu Akira meletakkan informasi itu di atas meja.


"Jadi pria ini Damian Maxton?" Akira bertanya pada anak buahnya tapi matanya tidak lepas dari foto Damian.


"Hai!" jawab si anak buah.


"Lalu, siapa yang ada di sampingnya?" kini Akira menunjuk foto seorang gadis cantik yang ada di samping Damian.


"Sepertinya gadis itu kekasihnya."


Akira memainkan jari di dagu, matanya menatap ke arah Katsuo dan setelah itu dia melihat gadis yang ada di foto itu lagi.


"Aku menginginkan gadis itu," ucapnya.


"Apa kau serius?" tanya Katsuo.


"Mata diganti mata, gigi di balas gigi. Dia sudah berani membawa Mayumi pergi dan menyembunyikannya jadi aku menginginkan gadis itu. Bawa beberapa orang ke California, cari informasi mengenai pria ini dan tangkap gadis itu untukku!" perintah Akira.


"Hai!" jawab sang anak buah dan setelah itu dia berlalu pergi untuk menjalankan perintahnya.


Akira kembali memandangi gadis cantik yang ada di foto, berani membantu dan menyembunyikan Mayumi berarti menantangnya dan sekarang dia menginginkan gadis itu sebagai pengganti Mayumi.