
Damian sudah menunggu di restoran, dia harap setelah ini tidak ada lagi keluarga Windstod yang mengganggu dirinya. Dia benar-benar tidak mau terlibat dalam permasalahan mereka, apalagi dia bisa menebak jika mereka sedang meributkan harta benda yang mereka miliki.
Sungguh dia tidak tertarik sama sekali, mau sekaya apa keluarga Windstond, dia tidak tertarik sekalipun keluarga itu pemilik seluruh California. Semua itu tidak akan membuatnya tertarik karena yang dia inginkan bukan harta benda tapi kasih sayang keluarga dan dia sudah mendapatkan itu dari ayah dan adiknya bahkan adik yang belum lama dia kenal begitu menyanyanginya padahal mereka tidak memiliki hubungan darah.
Saat itu Ainsley sudah tiba di restoran. Dia berjalan terlebih dahulu tanpa mempedulikan Harry dan kakeknya. Semoga saja setelah ini permasalahan Damian dengan keluarga ayahnya selesai.
Aland terlihat tidak sabar, dia sudah tidak sabar bertemu dengan cucunya yang lain. Ini pertemuan pertama mereka, dia harus memberikan kesan yang baik agar cucunya itu mau menerima tawaran yang dia berikan.
Tidak saja mereka yang tiba, Sherly juga sudah tiba. Dia menyamar, agar tidak ketahuan. Dia juga masuk ke dalam restoran seperti tamu yang lain. Matanya tidak lepas dari mereka, bahkan dia bisa melihat Damian yang sudah menunggu, sudah dia duga, pria itulah orangnya.
Damian tersenyum ketika melihat Ainsley, dia mengabaikan dua orang yang mengikuti Ainsley karena dia tidak peduli dengan mereka.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Ainsley.
"No," Damian mendekatinya dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi.
Ainsley tersenyum, tapi hati Harry panas. Dia benar-benar kesal melihatnya, apalagi Ainsley berdiri di samping Damian dan pria itu memeluk pinggangnya.
"Kakekmu dan Harry," ucap Ainsley basa basi.
Aland memandangi tidak berkedip, sedangkan Damian diam saja. Aland mendekatinya bahkan pria tua itu mengusap wajahnya.
"Jadi kau cucuku?"
"Aku rasa bukan," jawab Damian tapi Ainsley menyiku pinggangnya dan melotot ke arahnya.
"Aku tahu kau kecewa, ayahmu benar-benar sudah keterlaluan tidak mengatakan keberadaanmu pada kami," ucap Aland.
Damian diam, dia tidak mau mendengar basa basi yang tidak berguna tapi dia harus sopan agar dia tidak mempermalukan ayahnya.
Damian mengajak mereka untuk duduk, walau terdapat tatapan permusuhan dari Harry tapi dia cuek saja. Bukan kehendaknya menjadi saudara pria itu, bukan kehendaknya juga menjadi putra dari Carl Windstond. Jika bisa memilih, dia lebih suka menjadi putra kandung Jager Maxton.
Hati Harry semakin panas, dia benar-benar tidak senang melihat Ainsley duduk di samping Damian. Haruskan dia berbicara berdua dengan Damian dan memintanya melepaskan Ainsley? Mereka saudara, bukan? Seharusnya sebagai adik dia mau mengalah.
"Katakan padaku, Tuan Windstond, kenapa kalian ingin bertemu denganku?" tanya Damian tanpa bas basi karena setelah ini dia mau mengajak Ainsley pergi dan makan di tempat lain.
"Aku kakekmu Nak, kenapa kau memanggilku seperti itu?" tanya kakeknya.
"Maaf, aku tidak punya kakek. Kedua orangtua ayah dan ibuku sudah meninggal," ucap Damian.
Aland menghela napas, sepertinya tidak mudah. Dia tahu anak itu pasti kecewa dan marah karena sudah ditelantarkan begitu saja dan semua ini akibat perbuatan bodoh putranya.
"Aku tahu kau marah dan kecewa pada kami, aku sungguh tidak tahu keberadaanmu karena ayahmu tidak pernah mengatakan hal ini padaku," ucap Aland, dia harus mengambil hati anak itu sebelum dia memberikan penawaran.
"Tidak, jangan salah paham. Aku tidak kecewa dan marah karena bagiku kalian bukan siapa-siapa. Sejak awal aku tidak pernah mau bertemu dengan kalian, aku juga tidak mau kenal dengan kalian tapi tanpa aku inginkan, kalian mencariku dengan tujuan-tujuan kalian! Untuk apa? Bukankah kalian menganggap aku hanya anak haram yang dilahirkan oleh seorang ja*ang? Seharusnya kalian tidak perlu mencariku karena aku juga tidak mengganggu kalian tapi satu persatu dari kalian, melemparkan tuduhan padaku lalu menghina ibuku. Jadi katakan saja, untuk apa kau datang mencariku?" ucap Damian, mereka harus tahu jika dia tidak mau terlibat dengan permasalahan mereka.
"Bicara yang sopan pada Kakek!" ucap Harry tidak senang.
"Tidak perlu basa basi, aku tidak punya waktu. Aku mau pergi dengan pacarku!" jawab Damian.
"Aku tidak ingin kita jadi seperti ini, semua terjadi akibat kesalahan ayahmu. Dia menyembunyikan masalah sebesar ini padaku, jika aku tahu aku pasti sudah mencarimu sejak lama. Kau bagian dari keluarga Windstond, jadi kau bisa kembali ke rumah kapan pun yang mau, pintu terbuka lebar untukmu," ucap Aland.
"Terima kasih tapi aku sudah punya keluarga dan rumah yang nyaman," tolak Damian.
"Tidak apa-apa, kau bisa kembali kapan pun kau mau kembali."
"Hanya itu yang ingin kau katakan?" tanya Damian.
"Sesungguhnya ada hal penting, tapi aku tidak bisa mengatakannya karena ada orang asing," ucap Aland. Dia tidak bisa memberikan penawarannya jika gadis itu ada di sana. Cucunya pasti akan langsung menolak apalagi syarat yang akan dia berikan adalah menikahi Sherly.
"Ainsley pacarku, dia bukan orang asing!" Damian tampak tidak terima.
"Tidak apa-apa Dam-Dam, aku akan duduk di sana menunggumu," Ainsley beranjak, meninggalkan mereka. Walau tidak senang, tapi Damian ingin semua itu cepat selesai dan setelah itu dia pergi.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Damian setelah Ainsley pergi.
"Aku ingin memberikan semua yang aku punya padamu!" jawab Aland tanpa ragu.
Damian memandangi Harry, apa maksudnya? Apa sang Kakek tidak menganggap Harry ada?
"Kenapa? Bukankah kau bisa memberikan semua yang kau berikan pada Harry? Dia cucumu, bukan?"
"Memang, tapi dia menolak menikah dengan wanita yang sudah aku pilihkan dan jika kau mau menikah dengan wanita itu maka aku akan memberikan semua yang aku miliki padamu!"
Damian diam, matanya melihat Harry dan Aland secara bergantian tapi tidak lama kemudian tawanya terdengar. Ainsley melihat ke arahnya dan tampak heran, apa yang telah terjadi?
Damian masih tertawa, mereka semua benar-benar lucu. Pertama ayah dan istrinya mencari dirinya dan memintanya untuk tidak menjadi penghalang langkah Harry lalu sekarang sang Kakek ingin memberikan apa yang dia punya dengan syarat dia harus menikah dengan wanita yang dia pilihkan. Mereka sangat lucu, sungguh lucu. Apa mereka pikir dia kekurangan uang?
"Hentikan tawamu!" bentak Harry dengan nada kesal.
"Kalian sekeluarga sangat lucu, sungguh!" ucap Damian.
"Jangan menghina!" Harry benar-benar tidak senang.
"Dengarkan baik-baik, aku tidak akan sudi menerima apa pun tawaran yang akan kalian berikan sekalipun kalian begitu kaya raya karena aku sudah memiliki semua itu! Aku sudah punya harta yang berlimpah dari ayah yang sangat menyayangi aku dan aku mendapatkannya tanpa syarat! Aku kira kalian mencariku untuk tahu bagaimana keadaanku tapi nyatanya? Namaku saja tidak kau tanyakan! Kau bilang pintu rumahmu terbuka lebar untukku? Tidak ada satu dari kalian pun yang mencariku dengan niat tulus. Kalian mencari aku hanya untuk tujuan kalian saja jadi lupakan, aku tidak tertarik sama sekali! Aku harap tidak ada satu dari kalian pun yang mencari aku lagi, aku tidak mau terlibat dalam permasalahan kalian karena aku bukan bagian dari kalian!" ucap Damian, jujur dia kecewa dengan mereka semua.
"Tapi kau cucuku!" ucap Aland.
"Anakmu hanya menabur benihnya sembarangan, jadi anggap aku tidak ada!" setelah berkata demikian, Damian beranjak. Sudah cukup berbicara dengan mereka, apalagi dia tidak akan mau menerima apa pun yang mereka tawarkan.
"Bukan begitu," Aland hendak mencegah.
"Aku tidak tertarik, Kakek!" ucap Damian dan setelah itu dia berlalu pergi.
Aland dan Harry diam saja, menyaksikan kepergian Damian dan Ainsley, Sementara itu dari tempat duduk yang tidak jauh dari mereka, Sherly tampak kesal dan marah karena lagi-lagi dia ditolak.