Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
kau Pasti Memerlukannya



Harry melihat jam, sudah jam tujuh lewat tapi Damian belum juga terlihat. Tapi dia tahu adiknya akan datang, jadi dia akan menunggu. Selama menunggu Harry jadi ingin tahu apa saja yang Anna lakukan di rumahnya. Dia juga ingin tahu gadis itu sudah pulang atau belum.


Anna belum membalas pesannya lagi sejak tadi, sebaiknya dia menghubungi gadis itu dan berbicara sebentar dengannya untuk mengusir rasa bosan karena menunggu adiknya yang belum juga datang. Ponsel sudah berada di tangan, Harry sudah ingin menghubungi Anna tapi niatnya terhenti karena Damian sedang menghampirinya.


Ponsel kembali di simpan, besok saja dia mencari gadis aneh itu. Mendatangi apartemen Anna mungkin bukan ide yang buruk. Lagi pula selama ini dia belum pernah berinisiatif mencari gadis itu.


"Maaf aku lama," ucap Damian seraya duduk di hadapannya.


"Tidak apa-apa, aku juga baru tiba."


"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" Damian memandanginya, melihat lebam yang masih belum hilang dari wajah Harry.


"Aku baik-baik saja, hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Harry ingin tahu.


"Kita bicarakan hal ini sambil minum," ucap Damian. Dia harus mencari tahu apa yang terjadi tanpa membuat Harry marah dan tersinggung.


"Kau benar."


Mereka memesan sebotol minuman yang akan menemani malam mereka, tentunya mereka tidak akan minum sampai mabuk apalagi Damian tidak ingin istrinya marah.


"Jadi? Apa yang ingin kau bahas?" tanya Harry.


"Bukan masalah penting tapi sepertinya akhir-akhir ini aku melihat ada yang mengikutimu secara diam-diam," ucap Damian pura-pura. Dia sengaja berkata demikian untuk melihat reaksi Harry.


"Benarkah?" Harry mengernyitkan dahi, apa kedua pengawal Anna masih mengikutinya?


"Aku tidak bermaksud menyinggungmu tapi apa kau sedang terlibat masalah?" tanya Damian ingin tahu.


"Tentu saja tidak!" Jangan sampai Damian tahu dia dipukul oleh dua pengawal ayah Anna kerena itu sangat memalukan.


"Baiklah, tapi aku ingin kau selalu waspada. Jangan terlalu meremehkan lawan karena bisa saja mereka menginginkan kematianmu."


Harry memandangi Damian dengan penuh selidik, kenapa Damian berkata seperti itu? Walau kedua pengawal ayah Anna memukulnya tapi dia yakin mereka pasti tidak akan membunuhnya.


"Terima kasih atas nasehatmu, aku pasti bisa jaga diri. Jadi, apa hal ini yang mau bicarakan padaku?" tanya Harry, matanya tidak lepas dari adiknya.


"Tidak, aku ingin membahas bisnis kita. Lagi pula kita tidak pernah minum berdua jadi aku sengaja mengajakmu ke sini," jawab Damian dengan cepat. Jangan sampai Harry tahu apa tujuannya.


"Kau benar, bagaimana kabar istrimu? Apa Ainsley tidak keberatan kau datang ke sini?"


"Ainsley baik, dia tidak akan keberatan karena aku sudah meminta ijin dengannya."


"Kau beruntung memiliki dirinya," ucap Harry.


"Hei, aku memang beruntung tapi bukan berarti sudah tidak ada wanita lagi di dunia ini. Mulailah membuka hati dan mencari pasangan hidup, kau juga sudah tidak muda. Sudah waktunya kau menikah dan membangun keluarga."


"Kau benar," entah kenapa dia kembali teringat dengan Anna Cedric.


Mereka kembali berbincang, tentu membicarakan bisnis mereka seperti yang Damian ucapkan. Lagi pula dia sudah tahu jika memang ada yang mengincar Harry. Sebaiknya dia mengambil tindakan untuk antisipasi. Jangan sampai kejadian tadi terulang tanpa dia ketahui.


Hari ini Harry beruntung karena dia melihat kedua penjahat itu, dia bahkan tidak berani membayangkan jika rencana licik kedua orang itu terlaksana. Harry pasti akan hancur dengan keadaan yang cacat, sebagai pria mungkin dia tidak akan mau hidup lagi. Keluarga mereka pasti akan sedih melihat keadaan Harry yang tidak berdaya.


Siapa pun dalang yang ingin mencelakai Harry, dia akan mencari tahu secara diam-diam, tentu tanpa Harry tahu. Tapi dia akan meminta Harry untuk waspada karena bisa saja, orang yang ingin menghancurkannya kembali mengirim penjahat lain untuk mencelakai Harry.


Mereka masih berbincang, sampai waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mereka memutuskan untuk kembali, Damian juga sudah harus pulang karena Ainsley sendirian di rumah. Mereka berdua berjalan bersama menuju mobil mereka yang terparkir tidak jauh.


"Lusa aku akan ke tempatmu dan membawa berkas yang diperlukan," ucap Harry.


"Aku tunggu tapi sebelum kau pergi, ada yang ingin aku berikan padamu," Damian mengeluarkan sebuah pistol yang selalu dia bawa di pinggang.


"Aku ingin kau membawa benda itu ke mana pun kau pergi!" Damian memberikan pistol itu pada Harry.


Harry terkejut, matanya menatap senjata api yang diberikan oleh Damian. Untuk seumur hidup, dia belum pernah memegang benda berbahaya itu.


"Kau memerlukannya, Harry. Bukankah aku sudah katakan jika ada yang mengikutimu secara diam-diam? Sebaiknya kau memiliki benda itu untuk jaga diri," Damian begitu serius saat mengatakan hal itu.


Mata Harry tidak lepas darinya, dia rasa Damian tidak sedang bercanda tapi dia yakin yang mengikutinya adalah kedua pengawal ayah Anna. Mereka juga sudah memberinya pelajaran, apa mereka belum puas dan ingin memukulnya lagi? Atau ada orang lain yang sedang mengikuti selain kedua pengawal itu? Semua ini terjadi setelah dia terlibat dengan Anna tapi entah kenapa dia tidak membenci gadis itu sama sekali.


"Terimalah, Brother. Kau pasti memerlukannya. Bawa benda ini ke mana pun kau pergi," ucap Damian lagi.


"Baiklah," Harry mengambil benda yang diberikan oleh adiknya. Benda itu bisa dia gunakan untuk melindungi Anna nanti jika gadis itu dalam masalah. Jangan sampai dia seperti pecundang saat mereka berdua mengalami masalah di jalan dan lari terlebih dahulu seperti pengecut.


"Aku akan menerima benda ini dan membawanya setiap waktu. Yang kau katakan benar, aku memang membutuhkan benda ini untuk jaga diri."


"Bagus, aku akan membawakan pelurunya untukmu nanti. Kau bisa mengisinya jika sudah habis."


"Terima kasih, Brother. Sudah malam, sebaiknya kita kembali."


Damian mengangguk, mereka berpisah di sana. Damian masih belum pergi, dia berada di dalam mobil dan melihat kepergian mobil Harry. Mungkin saja ada yang mengikutinya secara diam-diam, selain dua orang tadi. Mungkin akan ada dua orang lainnya selama dalangnya belum tertangkap, sebaiknya mereka waspada.


Damian mengambil ponsel, dia ingin tahu bagaimana dua orang yang dia tangkap tadi. Mungkin mereka akan buka mulut saat menjalani eksekusi tapi sayangnya mereka memang tidak mengenal orang yang membayar mereka.


"Bagaimana?" tanya Damian.


"Mereka selalu berkata jika mereka tidak tahu saat kami menyiksanya," jawab anak buahnya.


"Jika begitu tidak perlu ragu, bawa mereka dan jadikan umpan binatang!" perintah Damian.


Setelah memberi perintah, Damian terlihat berpikir. Sepertinya orang yang ingin mencelakai Harry tidak ingin ada yang tahu identitasnya dan memang semua penjahat selalu ingin menutupi identitasnya. Damian kembali menghubungi anak buahnya, dia akan bertindak tentu tanpa sepengetahuan Harry.


Dia juga meminta anak buahnya untuk menjalankan mobil, dia harus segera kembali dan mengatakan hal ini pada istrinya. Ainsley menunggunya sambil menonton televisi, dia tidak bisa tidur karena tidak ada suaminya. Ainsley melangkah menuju pintu saat mendengar suara mobil di luar sana, senyum mengembang di wajah karena dia tahu itu pasti suaminya.


Damian terkejut melihat Ainsley keluar dari rumah, kenapa istrinya tidak tidur?


"Nyonya, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Damian.


"Menunggumu pulang."


"Bukankah sudah aku katakan tidak perlu menunggu dan jika kau ingin menunggu, tunggu aku di kamar!"


"Aku bosan, Dam-Dam."


"Baiklah, ayo masuk," Damian meraih tangan istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Bagaimana, apa benar ada yang ingin mengincarnya?" tanya Ainsley ingin tahu.


"Yeah, aku bahkan menangkap dua orang yang ingin mencelakainya."


"Benarkah?" Ainsley terlihat tidak percaya.


"Hm, sepertinya dia sedang diincar tapi dia tidak menyadarinya."


"Ck, orang awam!" gerutu Ainsley. Damian terkekeh mendengar ucapan istrinya, Harry memang tidak pernah terlibat dengan kekerasan dan kejahatan apa pun sebab itu dia tidak peka dengan situasi berbahaya yang ada di sekitarnya.


"Lalu bagaimana? Jika ada yang mengincarnya dan berbahaya bukankah kau harus mengutus orang untuk melindunginya dari jauh?"


"Sudah aku lakukan, Sayang. Aku juga sudah memberinya sebuah pistol, semoga saja dia bisa menggunakan benda itu," ucap Damian.


"Bisa tidak bisa dia harus bisa apalagi saat bahaya sudah di depan mata!"


"Kau benar, aku pasti akan membantunya menemukan orang yang tidak suka dengannya."


"Bagus, sebagai saudara kau memang harus melindunginya," ucap Ainsley.


Damian tersenyum, situasi benar-benar terbalik. Biasanya kakak yang akan melindungi adik tapi sekarang adik yang harus melindungi sang kakak tapi dia tidak keberatan dan dia akan melakukannya secara diam-diam agar Harry tidak tersinggung dan malu. Bagaimanapun dia harus menjaga perasaan Harry seperti yang diucapkan oleh istrinya.