
Dua kartu undangan pesta berada di atas meja Damian hari itu, seorang karyawan meletakkan kartu itu di sana dan setelah itu dia pergi karena Damian sedang rapat. Beberapa waktu telah berlalu, sudah banyak yang berubah. Perseteruan Damian dan keluarga ayahnya telah usai, Mayumi juga sudah dikabarkan menikah dengan kekasihnya dan menetap di Korea.
Usia kehamilan Ainsley sudah mencapai tiga bulan, sebentar lagi mereka akan menyambut kehadiran buah hati mereka. Jager bahkan sudah tidak sabar, pria tua itu sedang meributkan nama yang akan dia berikan pada cucunya nanti dan tentunya semua perlengkapan untuk sang bayi sudah lengkap tapi sayangnya selama kehamilan Ainsley mengeluh kram perut beberapa kali sehingga dokter mengatakan jika janin yang sedang dikandung oleh Ainsley sangat lemah.
Tentu itu adalah kabar tidak menyenangkan bagi mereka tapi mereka berusaha agar Ainsley tidak melakukan aktifitas berlebih begitu juga dengan Ainsley. Walau bosan tapi dia lebih memilih banyak berbaring, semua itu dia lakukan untuk janinnya.
Begitu Damian kembali ke ruangannya, dia mengambil kartu undangan itu dan melihatnya. Ternyata itu undangan pesta pernikahan Harry dan Anna yang tertunda. Tidak saja mengundang keluarganya, Harry juga mengundang semua keluarga Ainsley terlebih dia sangat berterima kasih pada Michael dan Marline yang sudah membantunya saat itu.
Jika tidak dibantu oleh Marline dan Michael, dia rasa mereka tidak akan menemukan Anna dengan mudah. Sebab itu Harry ingin bertemu dengan mereka lagi untuk mengucapkan terima kasih.
Damian meletakkan kartu undangan itu setelah melihatnya, sepertinya dia harus pergi ke rumah keluarga Ainsley untuk memberikan undangan itu pada mereka. Dia juga harus membelikan makanan yang Ainsley inginkan, sebaiknya dia segera bergegas jika tidak ayahnya pasti akan memarahinya karena begitu lama dan benar saja, ponsel sudah berbunyi dan itu dari ayahnya yang selalu heboh.
"Kenapa kau belum kembali?" tanya ayahnya tanpa basa basi.
"Aku baru selesai rapat, Dad."
"Jika begitu segera pulang, jangan membuat istrimu menunggu lama!"
"Aku tahu, aku akan segera pulang," Setelah berkata demikian, Damian mengambil kartu undangan dan pergi. Dia pergi ke rumah keluarga Aisnley terlebih dahulu sesuai rencana, dia tahu istrinya bisa menunggu tapi yang tidak sabar adalah ayahnya dan benar saja dugaannya, begitu kembali Damian mendapat ceramah dari ayahnya.
"Tidak boleh membuat wanita hamil menunggu lama, apa kau tidak tahu itu?"
"Aku tahu, Dad. Aku mampir ke rumah keluarga Ainsley sebentar."
"Untuk apa?"
"Memberikan kartu undangan dari Harry, mereka akan mengadakan pesta untuk merayakan pernikahan mereka."
"Oh, bagus jika begitu. Ini kabar bagus."
"Yeah," jawab Damian singkat.
"Jika begitu segera berikan makanan yang istrimu inginkan, dia sudah menunggumu sedari tadi!"
Damian mengangguk, Ainsley pasti ada di dalam kamar. Semenjak mereka tahu kandungan Ainsley lemah, ayahnya tidak mengijinkan Ainsley melakukan pekerjaan berat karena dia tidak mau menantunya itu kelelahan apalagi Ainsley selalu mengeluh kram perut.
Jager bahkan tidak mau pergi ke mana-mana, dia ingin menjaga menantunya apalagi Damian tidak bisa selalu berada di rumah. Mereka akan menjaga Ainsley selama kehamilannya karena mereka tidak mau hal buruk yang tidak mereka inginkan terjadi.
Pintu kamar terbuka, Damian tersenyum melihat istrinya yang sedang duduk di depan jendela sambil membaca sebuah majalah.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Damian seraya meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja.
"Tidak," Ainsley meletakkan majalahnya. Damian berlutut dan mengusap perut istrinya bahkan memberikan sebuah ciuman di sana.
"Bagaimana dengan kabar bayi kita?"
"Baik-Baik saja," Ainsley mengusap kepala suaminya yang masih mencium perutnya dan memberikan usapan lembut di sana.
"Kau tidak melakukan hal berat, bukan?"
"Tidak, Daddy selalu mengawasi aku bagaimana aku bisa melakukan apa pun?"
Damian terkekeh, ayahnya benar-benar berjaga-jaga agar istrinya tidak melakukan hal berat bahkan seorang pelayan selalu berada di dekat Ainsley yang akan mengambilkan apa pun yang Ainsley inginkan.
"Bertahanlah, tinggal beberapa bulan lagi sampai bayi kita lahir," ucap Damian karena dia tahu istrinya sudah bosan.
"Aku tahu, tapi aku ingin jalan-jalan ke taman nanti sore. Boleh, bukan?"
"Tentu saja, Sayang. Aku akan menemanimu. Sekarang makan makanan yang kau inginkan, jangan sampai membuat bayi kita menunggu terlalu lama di dalam sana."
Ainsley tersenyum dan mengangguk, sedangkan Damian mengambil makanan yang dia beli dan duduk di sisi istrinya. Sebelum menyuapi Ainsley, Damian memberikan kartu undangan yang dia dapat hari ini.
"Harry mengundang kita ke acara pesta yang akan diadakan dua hari lagi," ucapnya.
"Oh, ya?" Ainsley mengambil kartu undangan itu dan melihatnya.
"Jika kau tidak sehat sebaiknya kita tidak pergi. Daddy yang akan mewakilkan kita."
"Tidak apa-apa, Damian. Hanya pesta saja, aku tidak apa-apa."
"Apa kau yakin?" tanya Damian memastikan.
"Baiklah jika itu maumu, sekarang habiskan makanannya. Kita akan pergi ke taman sesuai dengan keinginanmu."
Ainsley tersenyum dan menerima suapan yang diberikan oleh suaminya. Rasanya sudah tidak sabar sang buah hati lahir dan mereka berharap selama kehamilan keadaan bayi mereka baik-baik saja. Saat menikmati makanannya, Ainsley mengusap perutnya sesekali karena dia merasa nyeri.
"Apa kau baik-baik saja?" Damian meletakkan makanan ke atas meja dan terlihat khawatir.
"Bawa aku berbaring, Dam-Dam," pinta Ainsley.
Tanpa membuang waktu, Damian menggendong istrinya dan membawanya menuju ranjang. Ainsley memegangi perutnya sambil meringis, dia harap bayi mereka baik-baik saja.
"Apa kau baik-baik saja?" Damian kembali bertanya dan terlihat khawatir luar biasa.
"Tidak apa-apa, hanya kram seperti biasa," jawab Ainsley dengan lemah. Rasa kram itu memang akan dia rasakan sesekali.
"Aku akan memanggil dokter," Damian mengusap wajah istrinya dan memberikan ciuman di dahi.
Ainsley hanya mengangguk, kehamilannya terasa sulit dan dia harap bayinya bisa bertahan sampai waktunya tiba nanti. Rasanya ingin segera melahirkan karena dia khawatir terjadi hal buruk pada bayi mereka.
Tidak butuh lama, dokter sudah datang untuk memeriksa keadaan Ainlsey. Jager terlihat khawatir luar biasa, tidak saja dia yang terlihat khawatir, Damian tidak kalah khawatirnya. Dia bahkan tidak berani berhubungan badan dengan istrinya dan tentunya dokter juga melarang mereka untuk melakukan hal itu.
"Tidak apa-apa, hanya kram saja," ucap dokter yang sudah selesai memeriksa keadaan Ainsley.
"Apa istriku akan selalu mengalami hal seperti ini sampai melahirkan?" tanya Damian ingin tahu.
"Tidak, saat usia kehamilan semakin matang maka keadaannya akan kembali normal karena bayi sudah kuat. kalian hanya perlu menjaga keadaannya selama beberapa bulan ke depan. Tidak perlu khawatir, beri banyak makanan bernutrisi dan vitamin agar calon bayi kalian semakin kuat," jelas sang dokter.
Damian mengangguk dan menghampiri istrinya, sedangkan Jager keluar bersama dokter itu dan berbincang di luar.
"Bagaimana keadaanmu, apa masih sakit?" Damian berbaring di sisi Ainsley, tangannya sudah berada di perut istrinya dan mengusapnya.
"Sudah tidak apa-apa."
"Beristirahatlah, jika keadaanmu sudah membaik aku akan membangunkanmu dan membawamu ke taman."
Ainsley mengangguk dan memeluk suaminya, sepertinya mereka tidak akan bisa pergi ke taman. Sepertinya perjuangannya selama hamil tidak akan mudah tapi dia yakin dia bisa melewatinya apalagi Damian begitu perhatian dan selalu menemaninya.
Damian bahkan tidak beranjak dari tempat tidur, usapan tidak henti dia berikan, ciumannya bahkan mendarat di wajah istrinya sesekali.
"Maaf merepotkanmu, Dam-Dam."
"Tidak perlu berkata seperti itu, kau istriku jadi kau adalah tanggung jawabku."
"Aku takut terjadi sesuatu pada bayi kita," Ainsley mengusap perutnya, semoga apa yang dia takutkan tidak terjadi.
"Semua pasti baik-baik saja, Sayang. Kau dengar apa yang dokter selalu katakan, bukan? Kita hanya perlu menjaganya dengan baik."
"Aku harap demikian, aku sudah tidak sabar bayi kita lahir."
"Aku juga," Damian mencium dahi istrinya, "Aku juga sudah tidak sabar bayi kita lahir," ucapnya lagi.
"Maaf kau harus menahan diri karena hal ini," Ainsley memeluk suaminya dengan erat, dia harap suaminya tidak kecewa karena mereka tidak bisa berhubungan badan untuk beberapa bulan lamanya.
"Bodoh, kenapa kau berkata seperti itu?"
"Aku takut membuatmu kecewa, Dam-Dam."
"Aku tidak akan kecewa untuk hal seperti itu. Lagi pula kau dan bayi kita lebih berharga dari pada apa pun. Hanya beberapa bulan saja, aku bisa menahan diri bahkan satu tahun pun aku akan menahan diri. Aku tidak akan mengkhianati dirimu hanya karena kita tidak bisa melakukan hal itu."
Ainsley tersenyum, sebuah ciuman dia berikan di pipi suaminya. Dia benar-benar tidak salah memilih pendamping hidup dan dia bahagia menikah dengan Damian.
"Sekarang tidurlah, kau sangat membutuhkannya. Jangan berpikir yang tidak penting karena kau tidak boleh stress."
Damian memeluk istrinya sehingga Ainsley tampak nyaman berada pelukannya. Dia tidak akan jadi baj*ngan hanya karena keadaan istrinya apalagi dia tahu, mereka hanya tidak bisa melakukan hal itu selama Ainsley sedang hamil saja.
"Thanks, Dam-Dam," ucap Ainsley sebelum dia tidur.
"Stt .., i love you," Damian memberikan kecupan lembut di bibir Ainsley.
Aisnley tersenyum dan terlihat bahagia. Tangan Damian tidak henti mengusap perut istrinya, semoga saja bayi mereka bisa bertahan sampai waktunya tiba. Dia akan selalu menemani Aisnley, tidak akan mengkhianati cinta Ainsley dan meninggalkannya hanya karena mereka tidak bisa berhubungan badan.