Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Aku Tidak Mengenalnya!



Dua orang pelayan sedang membersihkan pecahan kaca yang ada di kamar Harry dan membersihkan bercak darah Anna yang ada di atas lantai. Renata tampak tidak enak hati pada Anna setelah melihat kaki dan tangannya yang terluka.


Entah apa yang terjadi, dia sangat ingin tahu apalagi Harry diam saja sedari tadi. Mereka sudah berada di meja makan saat itu, Anna sudah ingin pulang tapi Renata menahannya. Bagaimanapun dia sudah membuat banyak makanan.


Ainsley dan Damian juga berada di meja makan. Mereka diminta Renata untuk tidak pulang terlebih dahulu dan menikmati makanan bersama-sama. Karena tidak bisa menolak, jadi mereka memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Setidaknya suasana kekeluargaan sudah terasa di antara mereka dan sikap tidak menyenangkan yang selama ini mereka tunjukkan sudah tidak ada lagi.


Anna tersenyum canggung saat ibu Harry mengambilkan sepotong daging untuknya, dia jadi tidak enak hati karena harus bergabung dengan mereka. Dia hanya orang luar, tapi mereka memperlakukan dirinya dengan sangat baik.


"Maaf, Nona Cedric. Aku tidak tahu jika suara tadi adalah suara lemari yang jatuh," ucap Renata tidak enak hati. Bagaimanapun Anna putri duta besar, mereka sudah lalai dalam menyambut tamu sehingga Anna terluka. Jika sampai Briant Cedric tahu putrinya terluka di rumah mereka, bisa-bisa mereka dituntut dan bisa-bisa Harry masuk penjara.


"Tidak perlu dipermasalahkan, Nyonya. Hanya luka gores saja. Lagi pula aku yang menarik lemari itu tanpa sengaja jadi yang terjadi adalah kesalahanku."


"Baiklah, lain kali kami akan menyambut kedatanganmu lebih baik lagi."


Anna tersenyum, sedangkan Harry menatapnya dengan tajam. Dia sangat ingin tahu, siapa sebenarnya Anna sampai membuat ibunya merasa bersalah hanya karena luka di tangan dan kakinya? Dia juga akan mencari tahu nanti, dari mana ibunya mengenal Anna.


Mereka makan sambil berbincang, Anna diam saja karena dia bukan bagian dari keluarga itu. Tidak, belum. Dia pasti akan menjadi bagian dari keluarga itu nanti setelah dia mendapatkan Harry tapi sayangnya Anna tidak tahu jika sang ayah sudah punya rencana lain tentunya dengan pria yang akan dijodohkan dengannya.


"Karena tidak enak hati, Anna makan dengan cepat. Dia akan berpamitan pergi setelah ini, apalagi dia harus menemui klien lain yang ingin melihat rancangannya.


"Kapan kau akan datang ke rumahku, Anna?" tanya Ainsley. Dai harus tahu karena sebentar lagi dia mau pergi ke New York dengan Damian.


"Mungkin lusa," jawab Anna, "Hari ini aku harus bertemu klien lain karena aku sudah membuat janji dengannya," jawab Anna.


"Hubungi aku jika kau jadi datang," ucap Ainsley.


"Pasti, mungkin Harry mau mengantar aku nanti, benarkan?" tanya Anna sambil menatap ke arah Harry.


Harry hampir tersedak makanan karena namanya disebut.


"Kalian sepertinya sudah saling mengenal," ucap Renata.


"Tidak!" jawab Harry cepat. Jangan sampai Anna mengatakan jika dia sedang mengikutinya karena ada Ainsley di sana.


"Kami baru saja saling mengenal, di kamar," ucap Anna sambil tersenyum.


Mata Harry melotot, semua melihat ke arahnya. Sampai saat ini, mereka sangat ingin tahu kenapa Harry membawa Anna masuk ke dalam kamarnya dan kenapa mereka bisa tertimpa lemari. Jangan katakan mereka sedang adu gulat di dalam sana.


"Aku sudah selesai, Nyonya. Bolehkah aku pergi? Aku sudah harus menemui klien," ucap Anna.


"Tentu saja boleh, tapi kami belum memutuskan akan memilih yang mana," jawab Renata.


"Tidak perlu dipikirkan. Setelah memilih Nyonya bisa hubungi aku, aku akan datang ke sini lagi," ini akan jadi kesempatan untuknya datang lain.


"Baiklah, aku minta maaf karena harus merepotkan dirimu."


"Tidak apa-apa, terima kasih atas jamuannya," Anna pamit pergi, sedangkan Renata mengantarnya. Padahal mereka belum selesai tapi mereka tidak bisa menahan Anna untuk lebih lama.


"Aku benar-benar pernah melihatnya, tapi entah di mana," ucap Ainsley. Sedari tadi dia memikirkan hal itu. Dia memang pernah melihat Anna tapi dia tidak bisa mengingatnya walau dia sudah berusaha.


"Mungkin hanya perasaanmu saja," ucap Damian.


"Gadis penguntit seperti itu pasti ada di mana-mana. Mungkin tanpa sengaja kau pernah bertemu dengannya!" ucap Harry dan dia lupa jika tidak ada yang boleh tahu bahwa Anna adalah stalker yang mengikutinya.


"Gadis penguntit?" Isabel bertanya dan semua mata kembali melihat ke arahnya.


Harry mengumpat dalam hati, sial. Dia lupa dan semoga saja tidak ada yang curiga terutama Ainsley.


"Jangan asal bicara, Harry. Mana mungkin dia menjadi penguntit!" ucap sang ibu yang telah kembali dan menghampiri mereka.


"Kenapa tidak, Mom? Lagi pula dari mana Mommy mengenalnya? Apa dia yang sengaja mengukiti Mommy?" tanya Harry curiga.


"Hei, jaga ucapanmu. Mommy mengenalnya dari teman Mommy. Untuk apa dia mengikuti Mommy, memangnya kita siapa?" jawab sang ibu.


"Benarkah?" Harry tampak tidak percaya. Apa dia sudah salah paham pada Anna selama ini?


"Untuk apa Mommy bohong. Dia mau datang saja kita sudah harus senang."


"Memangnya dia siapa? Artis? Anak pejabat sampai kita tidak pantas!" ucap Harry sambil meraih gelas minuman. Ainsley yang dari keluarga terpandang saja tidak keberatan datang ke rumah mereka dan makan bersama dengan mereka di dapur yang sempit dan mungkin dapur mereka ini masih kalah besar dengan kandang anjing yang ada di rumahnya.


"Ck, kau benar-benar tidak tahu. Anna Cedric putri duta besar."


"Brruusss!" air yang ada di mulut Harry tersembur keluar, dan sialnya air itu mengenai tepat di wajah sang ayah.


"Harry," ayahnya berteriak kesal, sedangkan Harry mengelap mulutnya dengan terburu-buru. Ayahnya memang pantas di sembur, mungkin dengan begitu dosa masa lalu bisa sedikit terhapus.


"Oh, aku ingat sekarang," ucap Ainsley.


"Dia pernah hadir saat pernikahan kak Matthew," ucap Ainsley lagi, akhirnya dia ingat.


Harry tampak tidak percaya, apa ibunya tidak bercanda? Tapi melihat Ainsley bisa mengenal Anna, kemungkinan apa yang dikatakan oleh ibunya sangat benar. Anna putri duta besar? Sungguh lelucon yang tidak lucu karena tidak akan ada yang percaya jika putri seorang duta besar sedang mengejarnya.


Dia harus senang, atau tertawa? Tapi apa bedanya? Hng, entah kenapa dia semakin tidak berminat karena dia tidak mau mengulangi apa yang telah terjadi.


"kenapa kau terkejut seperti itu? Jangan katakan jika kalian berdua benar-benar saling mengenal?" tanya ibunya.


"Tidak, aku tidak kenal dengannya!" sangkal Harry.


"Tidak perlu berbohong, Harry. Jika kau tidak mengenalnya lalu kenapa kau membawanya masuk ke dalam kamarmu?" tanya ibunya curiga.


Harry diam saja, sial. Dia benar-benar tidak berpikir panjang tadi. Semua kembali melihatnya dengan tatapan ingin tahu, sedangkan Harry kembali mengumpat dalam hati.


"Aku tidak mengenalnya.  Aku hanya memintanya membuatkan sebuah jas untukku dan memintanya mengukur ukuran tubuhku!" setelah berkata demikian, Harry beranjak pergi. Semakin keluarganya ingin tahu, semakin dia tidak bisa menjawab rasa keingintahuan mereka.


Keluarganya saling pandang. Hei, sejak kapan seorang desainer harus mengetahui ukuran tubuh kliennya? Seorang desainer hanya merancang pakaian, bukan pembuat pakaian.


Harry masuk ke dalam kamar, sial. Dia bagaikan terjebak tapi dia belum bisa percaya jika Anna seorang putri duta besar. Apa dia baru saja bermimpi di lempar batu oleh seorang pejabat sehingga putri seorang duta besar mengejarnya?


Dia rasa semua ini hanya lelucon, mungkin ada Anna Cedric yang lain dan ibunya juga Ainsley salah mengenali. Ya, pasti begitu. Walau dia menyangkal, tapi ponsel sudah berada di tangan karena dia ingin mencari tahu tentang Anna lebih jauh.