Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Kita Pasti Akan Menemukannya.



Hari sudah siang, Harry memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya karena dia akan pergi untuk menemui adiknya. Dia berencana tidak akan lama, dia akan segera kembali karena Anna berkata akan datang ke kantor. Jangan sampai dia tidak ada saat gadis itu sudah datang.


Sebelum pergi, Harry memutuskan untuk menghubungi Anna. Mungkin dia bisa menjemput Anna setelah bertemu dengan Damian sehingga mereka bisa kembali bersama. Itu bukan ide buruk, dari pada Anna naik taksi nanti, lebih baik dia yang menjemputnya.


Dia benar-benar sudah terjerat oleh gadis aneh itu, tapi tidak jadi masalah. Selama Anna bukan milik orang lain walau dia harus berseteru dengan pria yang bernama Marco, sedikit tantangan justru membuatnya bersemangat. Mendapatkan cinta dengan cara yang mudah justru tidak menarik sama sekali.


Ponsel sudah berada di tangan, Harry sedang berusaha menghubungi Anna. Panggilannya bisa tersambung tapi anehnya Anna tidak menjawab. Harry kembali berusaha tapi hal sama yang terjadi. Ini aneh, tapi Harry tidak curiga. Mungkin saja Anna sedang sibuk dengan kliennya.


Harry mencoba beberapa kali tapi sia-sia, dia semakin yakin jika Anna sedang sibuk. Sebaiknya dia hubungi Anna lagi nanti setelah tiba di restoran, dia yakin Anna pasti akan menjawab. Entah kenapa tiba-tiba dia merindukan gadis aneh itu, dia jadi sangat ingin melihat wajah Anna.


Harry menggerutu, sial. Apa dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Anna? Dia rasa demikian, gadis itu sukses membuatnya jatuh hati dengan tingkah cabulnya. Tapi ini sangat bagus, berarti dia menang dari pria yang bernama Marco itu.


Rasanya sudah tidak sabar untuk menemui Anna dan mengatakan jika dia sudah menyukainya. Anna pasti akan senang, jangan sampai dia pingsan. Senyum Harry mekar, yeah, dia rasa Anna akan pingsan. Karena sudah waktunya pergi, Harry segera bergegas. Dia dan Damian sudah membuat janji akan bertemu di restoran untuk makan siang bersama sambil membahas pekerjaan.


Setelah tiba di restoran, Harry kembali menghubungi Anna. Dia harap Anna menjawab tapi sayangnya lagi-lagi hal yang sama yang dia dapatkan. Panggilannya bisa tersambung tapi Anna tidak merespon sama sekali. Itu karena ponsel Anna ada di sisi jalan.


Harry semakin heran, entah kenapa tiba-tiba dia punya firasat buruk. Jangan katakan Anna kembali ke apartemen untuk mengembalikan kunci lalu Marco menangkapnya dan menahan Anna di apartemennya. Itu bisa saja terjadi, dia tahu Anna tidak bisa melawan Marco sama sekali.


Harry melihat jam, sial. Pikirannya jadi kacau. Apa dia harus pergi ke apartemen Anna? Dia jadi gelisah dan hal itu membuat Damian heran karena dia sudah tiba. Dia tidak pernah melihat Harry seperti itu, tidak selama dia mengenalnya. Harry terlihat khawatir dan dia berusaha menghubungi seseorang sambil memaki. Dia jadi curiga jika sudah terjadi sesuatu.


Harry ingin pergi, tapi sayangnya Damian sudah menghampirinya. Mata Damian tidak lepas darinya apalagi Harry semakin terlihat gelisah.


"Ada apa denganmu?" tanya Damian ingin tahu.


"Tidak apa-apa," jawab Harry dengan cepat, dia tidak mau Damian tahu apa yang sedang dia khawatirkan.


"Katakan saja padaku, apa telah terjadi sesuatu?"


"Tidak," Harry benar-benar tidak mau Damian tahu apalagi ini masalah pribadinya.


"kau tidak perlu sungkan padaku, Brother. Aku saudaramu, aku pasti akan membantumu jika kau dalam masalah."


Harry memandangi Damian sejenak, dia tahu Damian akan membantunya dengan senang hati tapi dia rasa belum saatnya meminta bantuan Damian. Dia akan pergi ke apartemen Anna terlebih dahulu dan melihat keadaan di sana. Jika memang tidak ada mungkin dia harus mendatangi klien Anna di mana dia mengantar Anna tadi.  Dia tidak mau merepotkan Damian  untuk sesuatu yang belum pasti. Sebaiknya dia segera mengerjakan pekerjaannya agar dia bisa segera pergi ke apartemen Anna.


Mereka membahas pekerjaan tanpa ada kendala. Harry berusaha untuk fokus, semoga apa yang dia pikirkan saat ini tidak terjadi, semoga saja Anna benar-benar sibuk sehingga dia tidak bisa menjawab teleponnya.


Mereka berada di restoran itu cukup lama, Damian semakin curiga dengan tingkah Harry apalagi saat itu Harry kembali menghubungi Anna tapi lagi-lagi tidak ada respon. Sungguh aneh, firasat buruk kembali memenuhi hati.


"Ada apa, Harry? Apa keadaan Kakek semakin buruk?" mungkin saja keadaan kakek mereka yang semakin memburuk membuat Harry bertingkah aneh seperti itu.


"Tidak, Kakek baik-baik saja. Aku mengkhawatirkan keadaan gadis yang sedang dekat denganku akhir-akhir ini."


Damian tersenyum, sepertinya Harry mulai jatuh cinta. Itu hal bagus, Aisnley pasti senang mendengar hal ini tapi entah kenapa dia jadi curiga jika sudah terjadi dengan gadis yang sedang dekat dengan kakaknya itu.


"Ada apa dengannya?" Damian jadi ingin tahu.


"Entahlah, aku harap tidak terjadi apa pun. Aku sudah menghubunginya sedari tadi, tapi tidak ada jawaban. Aku curiga jika dia diculik oleh sahabatnya."


"Wow, kenapa begitu?"


"Ceritanya panjang, sebaiknya aku mencarinya di apartemen. Aku takut dia di tangkap oleh sahabatnya di sana lalu dia di sekap."


"Jika begitu aku ikut, mungkin aku bisa membantu," ucap Damian.


"Tidak perlu, Damian. Aku tidak mau merepotkan dirimu."


"Hei, sesama saudara tidak boleh berkata seperti itu. Sebagai saudara kita harus saling membantu."


"Boleh aku bergabung dengan organisasimu?" tanya Harry saat mereka melangkah pergi dari restoran.


"Wow, sepertinya kau ingin merubah profesi!" ucap Damian.


"Yeah, aku ingin tahu bagaimana rasanya saat menembak seseorang," ucap Harry pula.


Damian hanya terkekeh, tidak buruk. Sepertinya tidak ada salahnya Harry bergabung dalam organisasi Black King. Mungkin dengan demikian dia bisa melindungi dirinya sendiri nanti.


Mereka pergi menggunakan mobil Harry. Supir juga diminta pulang oleh Harry karena dia yang akan menyetir sendiri. Mereka berdua menuju apartemen Anna. Sungguh aneh karena kedua pengawal yang diutus oleh ayah Anna sudah tidak ada di sana lagi.


Mereka berdua melihat situasi, tidak ada tanda-tanda adanya orang bahkan di apartemen Marco pun tidak karena pria itu sudah pergi. Karena tidak mendapat apa pun, Harry mencari pengelola apartemen untuk bertanya dan benar saja, Marco sudah pergi saat dia membawa Anna pergi tidak lama.


Rasa curiga semakin memenuhi hati, dia semakin yakin Anna dibawa pergi tapi entah oleh kedua pengawal ayahnya atau dibawa pergi oleh Marco. Dia harap Anna dibawa kedua pengawal yang diutus oleh ayahnya karena dia tahu mereka akan membawa Anna pulang tapi dia takut jika sampai Anna dia dibawa oleh Marco karena entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu untuk mengikat Anna.


"Sial, ke mana sebenarnya Anna pergi?" Harry semakin terlihat frustasi.


"Tenang saja, kita pasti akan menemukannya. Hari ini ke mana dia pergi, apa kau tahu?" tanya Damian seraya menepuk bahu Harry untuk menenangkan sang kakak.


"Aku mengantarnya ke rumah kliennya tadi pagi."


"Jika begitu kita pergi ke sana, mungkin kita bisa mendapat petunjuk," ajak Damian.


Harry mengangguk, mereka bergerak menuju rumah klien Anna. Semoga saja mereka mendapatkan petunjuk dan selama di perjalanan, Harry terus berusaha menghubungi ponsel Anna. Jika sampai Marco melakukan sesuatu pada Anna, maka dia tidak akan memaafkan perbuatan pria itu.


Harry bahkan bertanya pada klien Anna, tapi dia berkata Anna sudah pergi beberapa jam yang lalu. Ini aneh, Harry semakin yakin jika Marco yang telah menculik Anna.


Mereka memutuskan untuk pergi. Sebelum masuk ke dalam mobil, Harry memutuskan untuk menghubungi Anna kembali, Dia harap tebakannya salah. Pintu mobil sudah terbuka, tiba-tiba dia bisa mendengar suara ponsel Anna walau samar-samar. Harry menghentikan niatnya, hal itu membuat Damian heran.


Harry melangkah menjauh, dia mencoba mencari datangnya suara. Damian keluar dari mobil dan menghampiri kakaknya, sepertinya dia menemukan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Damian.


"Kau dengar itu?" Harry kembali menghubungi ponsel Anna, kini mereka berdua dapat mendengarnya walau tidak begitu jelas.


Mereka berdua mulai melangkah, mendekati datangnya suara. Langkah Harry semakin cepat apalagi suara ponsel Anna semakin nyaring terdengar. Dia bahkan berlari dan mendapati ponsel Anna berada di sisi jalan, sepertinya tidak ada yang menyadari keberadaan benda itu karena kawasan yang begitu sepi.


"Sial!" umpatnya.


"Kau menemukannya?" tanya Damian.


Harry mengangguk seraya memperlihatkan ponsel Anna. Tebakannya benar-benar tidak salah tapi yang jadi masalahnya, siapa yang membawa Anna?


"Sial, Anna pasti sudah di culik!" ucap Harry frustasi, seharusnya dia tidak meninggalkan Anna. Jika dia menemaninya mungkin Anna tidak akan dibawa pergi.


"Tenang saja, kita pasti akan menemukannya," Damian melihat sana sini, cctv jalan yang dia cari. Berapa cctv berada di lokasi, jika begitu mereka bisa menemukan gadis itu dengan mudah.


"Ikut aku, Harry. Kita butuh bantuan seseorang."


"Siapa?"


"kakak iparku!" jawab Damian.


Damian mengajak Harry pergi untuk mencari si ahli peretas karena hanya dialah yang dapat membantu mereka menemukan keberadaan Anna.