
Segala sesuatu yang diperlukan sudah Ainsley siapkan karena sebentar lagi pertunjukkan akan segera dimulai. Tinggal menunggu suaminya pulang, maka keinginannya bisa segera terwujud. Padahal dia tidak berniat, tapi karena suaminya bertanya jadi membuatnya ingin melihat suami dan mertuanya melakukan apa yang ada di dalam mimpi.
Anggap saja sebagai hiburan, selama hamil dia sudah tidak bekerja jadi dia bosan berada di rumah saja. Sepertinya dia harus mengajak Damian pergi jalan-jalan setelah pergi menjenguk kakeknya akhir pekan. Pergi ke Colorado bukan ide buruk, atau ke New York bertemu dengan Elena di sana. (Yang lupa, Elena anak Edward adiknya si Henry.)
Dia juga mendengar jika Elena sedang hamil, mungkin mereka bisa saling berbagi ilmu dan berbelanja perlengkapan bayi bersama. Ini bukan ide buruk, sebaiknya dia mengajak Damian pergi ke New York untuk menikmati waktu mereka di sana dan mengusir kebosanan.
Ainsley tersenyum melihat apa yang dia beli, rasanya sudah tidak sabar. Semoga saja suaminya cepat pulang, dia bahkan sudah membayangkan penampilan mereka berdua. Pasti sangat keren.
Damian sudah di perjalanan kembali saat itu. Rasanya tidak mau pulang tapi dia tidak mau mengecewakan istrinya. Selama ini Ainsley tidak pernah meminta apa pun tapi sekali dia meminta? Permintaan luar biasa yang membuatnya pusing. Lebih baik Ainsley memintanya makan sesuatu yang tidak dia sukai atau meminta perhiasan tapi dia lupa, jika Ainsley berasal dari keluarga unik.
Mobil sudah berhenti, sebelum turun Damian menghela napas sejenak. Permintaan istri yang sedang hamil memang tidak boleh ditolak apalagi ini adalah kehamilan pertamanya. Ainsley sudah menunggu dengan tidak sabar, ketika melihat suaminya kembali wajahnya tampak begitu berseri.
"Dam-Dam, akhirnya kau kembali juga," Ainsley menghampirinya sambil tersenyum.
"Kau terlihat tidak sabar," Damian melepaskan sepatunya sambil melonggarkan dasi.
"Tentu saja, aku sudah tidak sabar!" Tas diambil, Ainsley berlalu pergi.
Damian mengikuti langkah istrinya sambil menggeleng, matanya melihat rumah untuk mencari keberadaan ayahnya. Jangan katakan ayahnya kabur dan pergi ke rumah Vivian, lalu dia akan melakukan permintaan istrinya sendirian.
"Mana Daddy?"
"Di kamar sedang berbaring," jawab Ainlsey.
"Dad, aku sudah pulang!" Damian sedikit berteriak dan dia sengaja melakukannya.
Saat mendengarnya, Jager pura-pura batuk beberapa kali.
"Jangan pura-pura, Dad!" teriak Damian lagi.
"Hei, kenapa kau berteriak?" tanya Ainsley heran.
"Ainsley, Sayang. Mengenai permintaanmu itu, apakah kau tidak bisa meminta hal lain?" Damian mencoba menawar.
"Tidak mau, aku tidak mau yang lain!" Ainsley sudah terlanjur penasaran dan ingin melihat jadi dia tidak akan berubah pikiran.
"Ayolah, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan saja," ajaknya.
"Tidak! Tapi aku memang ingin mengajakmu pergi ke New York setelah kita menjenguk kakekmu."
"New York?"
"Hm, kau mau bukan?" Ainsley melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya karena mereka sudah berada di dalam kamar saat itu.
"Boleh saja, jadi permintaanmu?" ucapan Damian terhenti karena jari Ainsley sudah berada di bibirnya.
"Apa kau tidak mau mengabulkan permintaanku ini?" Ainsley memasang wajah sedih, pokoknya permintaannya tidak boleh di tolak.
Damian menghela napas, ya sudahlah. Dia paling tidak bisa melihat wajah istrinya seperti itu. Lagi pula dia tidak bisa menolak, dia hanya mencoba bernegosiasi.
"Baiklah, aku tidak akan menolak permintaan istriku yang manis ini," ucapnya.
"Aku tahu kau tidak akan menolak, terima kasih Dam-Dam," Ainsley memeluknya karena senang.
"Sudahlah, aku melakukannya karena aku mencintaimu."
"Thanks," Ainsley mendekatkan bibir mereka dan mendaratkan sebuah ciuman di sana.
Mereka berdua saling pandang, Damian mengusap wajah istrinya sambil tersenyum. Memiliki Ainsley adalah sebuah anugerah untuknya.
"I love you, Sweetheart."
"Me too," ucap Ainsley, mereka kembali berciuman dengan mesra. Damian memeluk pinggang istrinya dengan erat, tubuh mereka bahkan sudah merapat. Rasanya tidak cukup dengan kata-kata saja untuk menunjukkan rasa cintanya, bahkan apa yang dia lakukan tidak cukup untuk mengungkapkan bagaimana besarnya rasa cinta yang dia miliki untuk istrinya.
Bibir mereka terlepas, Damian masih memeluk istrinya dengan erat. Ainsley bersandar di dada suaminya dengan nyaman, apalagi tangan Damian tidak henti memberikan usapan lembut di punggungnya. Tidak perlu banyak bicara, waktu seperti itu sudah cukup untuk mereka berdua.
"Dam-Dam, apa kau tidak mau mandi?" Ainsley mengangkat wajah untuk memandangi sang suami.
"Tentu saja mau. Tunggu aku selesai mandi, aku akan melakukan apa yang kau inginkan," ucap Damian seraya mencium wajah istrinya. Kali ini dia tidak akan menolak, dia akan melakukan apa yang diinginkan oleh istrinya sebagai rasa cintanya pada istrinya.
Ainsley mengangguk, Damian kembali mencium wajah istrinya sebelum dia pergi mandi. Ainsley menunggu dengan tidak sabar, dia bahkan terlihat senang. Selama menunggu, Ainsley berbaring di atas ranjang. Matanya tidak lepas dari pintu kamar mandi, rasanya ingin meminta Damian untuk cepat.
Tidak berlama-lama, Damian sudah keluar dari kamar mandi. Lagi pula dia tidak mau membuat istrinya menunggu lama. Ainsley tersenyum, dia semakin terlihat tidak sabar.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Damian.
"Itu," Ainsley menunjuk pada sebuah paper bag yang ada di atas ranjang.
Damian mengambil, napas berat dihembuskan. Ck, semua itu gara-gara mimpi. Entah apa yang dilihat oleh istrinya sebelum tidur hingga dia bermimpi seperti itu.
"Dad, jangan pura-pura tidur!" ucap Damian seraya masuk ke dalam kamar ayahnya.
"Damian, bisakah Daddy tidak ikutan?" pinta Jager.
"No, kita harus berperan bersama!" tolak Damian.
"Dam-Dam, Daddy, aku menunggu!" terdengar suara teriakan Ainsley.
"Kau dengar itu, Dad? Daddy yang meminta aku mencari tahu jadi Daddy tidak boleh menghindar!"
"Ck, cucunya tidak beda jauh dengan kakeknya!" Semoga si tua bangka Jacob tidak tahu apa yang dia lakukan.
Mereka tidak punya pilihan, mau tidak mau mereka harus mengikuti permintaan Ainsley. Sebuah kostum sudah harus mereka kenakan, mereka bahkan saling pandang setelah mengenakan kostum itu dan tidak lama kemudian,. mereka saling menertawakan karena penampilan mereka.
"Dad, kau sangat pantas!" ucap Damian.
"Kau lebih pantas! Oh, semoga Cristiana tidak menertawakan aku di alam sana!" ucap Jager.
"Ayolah, Dad. Tidak begitu buruk!"
"Apanya? Kau lihat penampilanku ini?" Jager memutar tubuhnya untuk memperlihatkan kostum yang dia kenakan tapi ya, mereka sedang memakai kostum yang sama. Baju Superhero super ketat berwarna biru mereka kenakan tapi bukan itu yang membuat mereka terlihat konyol. Yang membuat mereka terlihat konyol adalah, rok balet berwarna pink melingkar di pinggang dan juga pita berwarna pink yang menjepit rambut mereka. Mereka seperti itu karena Ainsley ingin melihat mereka berdansa lalu menari balet.
Tema yang mereka bawakan adalah, Superhero belajar dansa dan balet. Entah apa yang dilihat Ainsley sebelum tidur sehingga dia bermimpi hal aneh seperti itu.
Tawa Damian dan Jager kembali terdengar. Oke, ini adalah hal paling konyol yang pernah mereka lakukan sebagai ayah dan anak. Sepertinya mereka tidak akan melakukannya lagi jadi sebaiknya mereka nikmati saja kelakukan konyol mereka.
Mereka keluar dari kamar dengan kostum super mereka, Ainsley terlihat begitu bersemangat. Agar peran dimainkan lebih mendalam, lampu rumah dibuat sedikit temaran. Musik juga dimainkan lalu Jager dan Damian mulai berdansa, sedangkan Ainsley menonton mereka sambil tertawa sesekali.
Tawanya Ainsley semakin menjadi saat suami dan ayah mertuanya menari balet, mereka bergerak canggung bahkan saling menabrak satu sama lain karena mereka tidak begitu tahu gerakan balet.
"Damian, gerak yang benar!" ucap ayahnya kesal saat Damian menabrak tubuhnya.
"Sorry, Dad. Aku tidak sengaja!"
Mereka kembali bergerak, kaki mereka berjinjit, kedua tangan mereka berada di atas lalu mereka berputar dan lagi-lagi mereka saling menabrak.
Ainsley tertawa terbahak-bahak. Jager kembali memarahi putranya tapi ya, mereka kembali melakukan hal yang sama karena mereka tidak bisa melakukannya. Mereka kembali menari, kaki mereka kembali berjinjit. Itu yang paling sulit.
Di luar sana, tanpa ada yang tahu, Vivian datang karena ada yang ingin dia berikan pada ayahnya. Suara tawa Ainsley dan suara musik yang melantun membuatnya heran apalagi suara ayah dan kakaknya terdengar. Karena ingin tahu, Vivian membuka pintu tanpa mengetuk, tentu dengan kunci cadangan yang dia punya.
Vivian berjalan dengan pelan menuju datangnya suara, rasa penasaran semakin tinggi. Vivian sudah berjalan mendekat, matanya terbelalak ketika melihat apa yang sedang dilakukan oleh ayah dan kakaknya.
"Daddy, Kak Damian," sontak saja Damian dan ayahnya melihat ke arah datangnya suara.
"Apa yang kalian lakukan?" Vivian terlihat tidak mengerti, sedangkan ayah dan kakaknya tampak panik.
"Kami tidak melakukan apa pun! Lupakan apa yang kau lihat!" teriak ayahnya. Mereka melarikan diri ke dalam kamar, sial, kedatangan Vivian sungguh tidak terduga.
"Kakak ipar, kenapa kau tidak memberitahu aku jika kau mau datang?" tanya Ainsley seraya menghampirinya.
"Apa yang sedang kalian mainkan?" tanya Vivian ingin tahu.
Ainsley terkekeh dan setelah itu, dia mengatakan apa yang sedang mereka lakukan. Vivian tertawa setelah mendengarnya, dia bahkan mengetuk pintu kamar ayahnya dan meminta mereka keluar karena dia juga ingin melihat.
"Celaka, Dad. Sepertinya show kita tidak akan berakhir dengan cepat!" ucap Damian dan mereka sedang berdiri membelakangi pintu saat ini.
"Dad, aku mau lihat, Kak Damian keluar!" pinta Vivian dari luar seraya mengedor pintu.
"Kau benar, penonton tak terduga datang!" ucap ayahnya.
"Bagaimana, Dad? Apa kita harus lanjut?"
"Ayolah keluar, aku mau melihatnya!" pinta Vivian lagi.
Ck, ini semua gara-gara mimpi istrimu!" ucap Jager.
"Dad, please!" Vivian mulai memelas.
"Jadi?" tanya Damian dan mereka saling pandang.
"Sudahlah, sudah terlanjur! Hanya untuk hari ini saja!"
Damian menghela napas, ya sudah. Pintu kamar terbuka, Vivian tertawa melihat penampilan mereka yang konyol. Dia sungguh tidak menyangka ayah dan kakaknya akan melakukan hal itu.
Mereka kembali menari balet, kali ini penonton bertambah dan lagi-lagi suara tawa Vivian dan Aisley terdengar. Beruntungnya Vivian datang sendiri jadi mereka tidak terlalu malu. Lagi pula apa yang mereka lakukan terasa menyenangkan.
Sekali-kali melakukan hal konyol tidak jadi soal, yang penting kebersamaan mereka bahkan mereka berdansa bersama untuk menikmati waktu mereka.