
Setelah pertunjukan selesai dan makan malam, Jager dan Damian tampak lesu. Mereka berdua saling pandang, semoga setelah ini mereka tidak melakukan hal itu lagi. Walau tidak dipungkiri mereka bersenang-senang tapi mereka tidak mau melakukannya lagi.
Ainsley terlihat begitu senang, dia benar-benar puas. Mimpi yang dia lihat dapat terwujud dan tentunya tidak dia saja yang senang, Vivian juga terlihat senang karena dia bisa melihat pertunjukkan yang langka.
Mereka berdua terlihat puas tapi kedua pria yang baru menyelesaikan show mereka tampak tidak bersemangat. Mata mereka berdua tidak lepas dari Vivian dan Ainsley, show memalukan yang mereka lakukan benar-benar sukses membuat kedua wanita itu senang.
"Damian, sepertinya aku mau pergi mengungsi untuk sementara waktu," ucap ayahnya.
"Daddy mau pergi ke mana?" tanya Damian.
"Rumah adikmu, ke mana lagi?!" jawab ayahnya.
"Ck, mengungsinya tidak jauh jadi tidak perlu!"
"Hei, Daddy tidak mau melakukan hal seperti ini lagi!"
"Dad, percayalah. Kita tidak akan melakukannya lagi dan kita harus ingat, lain kali kita tidak boleh mencari tahu apa yang terjadi saat istriku tersenyum sendiri. Kita juga harus ingat, terlalu penasaran tidaklah baik!" ucap Damian.
"Baiklah, kau benar!" Jager menyetujui tapi sesungguhnya di dalam hati dia bahagia karena pertunjukan memalukan yang dia lakukan membuatnya merasa jika dia telah melakukan hal konyol yang seharusnya dia lakukan bersama dengan Vivian sewaktu kacil.
Mata Jager tidak lepas dari putrinya, di mana Vivian sedang melihat rekaman show memalukan yang mereka lakukan. Rekaman itu diambil oleh Vivian, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan apalagi itu kejadian langka yang tidak akan terulang kembali.
"Aku akan memperlihatkan video ini pada Matthew," ucap Vivian.
"Jangan!" teriak Damian dan Jager.
"Kenapa?" Vivian melihat mereka dengan tatapan heran.
"Vivi, simpan video itu sebagai kenangan untuk keluarga kita jadi cukup kita saya yang melihatnya," ucap Damian.
"Ck, bilang saja jika kalian malu!"
"Ayolah, berikan Daddy dan kakakmu ini muka," ucap ayahnya.
"Baiklah, aku hanya bercanda saja, Dad. Aku datang untuk memberikan makanan pada Daddy tapi aku tidak menduga akan mendapat tontonan menarik."
"Daddy senang jika kau senang," ucap ayahnya. Dia akan senang jika putrinya senang dan ini hal bagus apalagi selama dua puluh lima tahun berpisah, banyak kesenangan yang telah dia lewatkan bersama dengan sang putri.
Anggap apa yang dia lakukan untuk menebus waktu kebersamaan yang sudah terbuang banyak bahkan jika Vivian memintanya melakukan hal itu lagi, dia tidak akan keberatan untuk melakukannya.
"Dad, aku dan Matthew mau pergi ke Inggris untuk mengunjungi kedua orangtuaku yang ada di sana. Apa Daddy mau ikut?" tanya Vivian. Dia harap ayahnya mau ikut.
Jager memandangi Damian dan Ainsley yang sedang serius melihat sesuatu di ponsel. Sepertinya dia harus memberikan mereka waktu berdua di rumah agar hubungan mereka semakin mesra. Dia tahu mereka tidak bergerak bebas karena ada dirinya.
"Boleh juga, aku sudah lama tidak bertemu degan keluargamu yang ada di sana. Aku ikut jika tidak mengganggu!" ucapnya.
"Kalian akan pergi ke Inggris?" Damian mendekati ayah dan adiknya.
"Ya, jangan katakan jika Kakak mau ikut," ucap Vivian.
"Tidak, aku dan Ainsley juga berencana untuk pergi ke New York."
"Jika begitu kebetulan, Daddy ikut aku saja. Kakek juga ingin bertemu dengan Daddy."
"Baiklah, Daddy akan ikut denganmu. Kapan kalian akan pergi ke New York, Damian?" tanya ayahnya.
"Setelah aku menjenguk kakekku akhir pekan."
"Si tua bangka itu sakit?" tanya ayahnya lagi.
"Harry bilang begitu tapi sakitnya tidak parah."
Damian mengangguk, Jager memandangi putra dan putrinya secara bergiliran. Tanpa mereka sadari, ternyata putra dan putrinya sama-sama memiliki keluarga lain selain dirinya. Di saat dia menjadikan Damian sebagai putranya, di saat itu juga tanpa dia ketahui putrinya di adopsi oleh orang lain.
Jika dipikirkan, semua yang terjadi seperti timbal balik dari apa yang dia lakukan dan dia sangat bersyukur putrinya di adopsi oleh orang baik dan bisa bertemu lagi dengannya dan dia juga sangat bersyukur bisa menjadikan Damian sebagai putranya.
"Daddy sangat menyayangi kalian berdua," Jager memeluk putra dan putrinya, dulu dia menyangka hidupnya tidak berarti lagi setelah kehilangan Cristiana tapi sekarang dia sangat ingin hidup lebih lama agar dia memiliki waktu lebih lama bersama dengan putra dan putrinya dan tentunya dengan cucu-cucunya yang akan segera bertambah.
"Baiklah, aku harus pulang. Dua hari lagi aku akan menjemput Daddy," ucap Vivian.
"Daddy akan bersiap-siap," ucap Jager.
Vivian berpamitan pergi, apalagi hari sudah malam. Niat kedatangannya yang tidak lama jadi lama. Suaminya pasti sudah menunggu tapi dia tidak mau melewatkan kebersamaan mereka apalagi dia bisa melihat tingkah konyol ayah dan kakaknya yang mungkin tidak akan bisa dia lihat lagi. Untungnya dia datang, dan dia sangat bersyukur akan hal itu.
Saat itu Ainsley dengan mencuci piring di dapur, karena para pelayan belum kembali jadi dia harus membereskan piring kotor bekas mereka makan. Walau Damian melarang, tapi dia ingin melakukannya, lagi pula tidak ada yang dia lakukan.
Damian sedang berada di kamar ayahnya, kostum yang mereka kenakan sudah berada di tong sampah. Setelah memberikan obat dan berbincang dengan ayahnya, Damian mencari Ainsley yang masih berada di dapur.
"Bukankah sudah aku katakan kau tidak perlu membersihkannya?" Damian menghampiri istrinya yang sedang sibuk.
"Tidak apa-apa, Dam-Dam. Aku juga butuh bergerak agar aku tidak selalu merasa lelah di masa kehamilanku ini."
"Jika begitu aku akan membantumu."
"Dam-Dam, maaf jika aku telah membuat kalian malu."
"Hei, kenapa kau berkata seperti itu?"
"Hm, aku merasa?"
"Stts," jari Damian sudah berada di bibir Aisnley untuk menghentikan ucapannya.
"Aku dan Daddy melakukannya dengan senang hati. Lagi pula menjalani hidup tidak perlu tertalu serius, terkadang kita memang harus melakukan hal konyol untuk bersenang-senang dan hari ini, kita bersenang-senang. Daddy bahkan senang karena dia telah membuat Vivian senang dan kami bersyukur Vivian datang."
"Benarkah?" Ainsley memandangi suaminya dengan tatapan tidak percaya.
"Yes, kau tahu Daddy berpisah dengan adikku selama dua puluh lima tahun dan telah melewatkan begitu banyak hal menyenangkan yang bisa mereka lakukan bersama. Daddy berkata jika ini pertama kalinya dia melakukan hal konyol bersama dengan adikku dan tentunya hal itu membuat Daddy bahagia karena dia merasa jika dia telah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan dengan adikku semasa adikku masih kecil."
"Aku tidak tahu jika permintaan konyolku bisa membuat Daddy senang," ucap Ainsley.
"Sebab itu jangan merasa bersalah, bukankah kita bersenang-senang tadi?"
"Jadi, apa kau mau melakukannya lagi?" goda Ainsley.
"No!" jawab Damian dengan cepat.
"Aku tidak mau melakukannya lagi jadi jangan coba-coba jika tidak aku akan menghukummu dan tidak akan mengijinkanmu keluar dari kamar selama dua hari!"
"Wow, aku mencium hal menyenangkan di sini!"
"Sepertinya kau menantangku, Nyonya," Damian mendekati istrinya dan merangkul pinggangnya.
"Tuan Maxton, aku belum mandi. Apa kau mau memandikan aku sampai bersih?" Ainsley memainkan jari di dada suaminya untuk menggodanya.
"Dengan senang hati, memandikanmu adalah keahlianku," ucap Damian.
Ainsley sudah berada di gendongannya, Damian membawa istrinya menuju kamar tentu sambil mencium bibirnya. Sekarang waktunya mereka berdua, menikmati waktu mereka berdua di dalam kamar.
Walau baru saja melakukan hal konyol yang memalukan, tapi dia tidak memikirkannya karena waktu yang mereka lewati bersama sangat menyenangkan dan tentunya hal konyol yang mereka lakukan memberikan kebahagiaan untuk Jager karena dia merasa ini pertama kalinya dia bisa menebus waktu yang hilang dan bisa melakukan hal menyenangkan sebagai ayah dan anak bersama dengan Vivian.