
Harry berdiri di depan jendela yang ada di dalam ruangannya. Setelah keluar untuk mencari ibunya, dia kembali ke dalam ruangan dan tidak mendapati Anna di dalam karena Anna sudah pergi.
Itu hal bagus, untungnya wanita itu tahu diri. Setidaknya sang ibu tidak mengetahui keberadaan Anna tapi tempat makanan yang ditinggalkan Anna sempat membuat ibunya curiga. Harry memberi ibunya penjelasan dengan susah payah, dia tidak mau sang ibu salah paham dan untungnya sang ibu percaya dengan alasan tidak masuk akal yang dia berikan.
Bagaimanapun dia tidak mau ibunya tahu jika dia mengijinkan seorang gadis aneh bekerja di tempatnya sehingga ibunya salah paham.
Harry masih termenung, jarinya berada di bibir. Dia tidak menyangka akan mencium gadis aneh itu. Lain kali akan dia usir saja, dia tidak mau melihat gadis itu lagi. Lagi pula sangat berbahaya membiarkan gadis itu berada di dalam ruangannya karena keluarganya bisa datang sewaktu-waktu.
Dia harap tidak ada yang tahu jika dia dikejar oleh seorang gadis aneh tapi sayangnya tanpa dia ketahui, sang ibu sedang pergi menemui desainer yang selalu direkomendasikan oleh sahabatnya dan desainer itu tak lain tak bukan adalah Anna.
Ibunya memang hanya datang sebentar untuk memberikan makanan sebelum menemui Anna. Itu sebabnya Anna segera pergi karena dia harus menemui klien baru. Dia sungguh tidak tahu jika klien yang memesan baju padanya adalah wanita yang dia lihat di kantor Harry.
Anna terlihat tercengang saat mengetahui jika ibu Harry 'lah klien yang harus dia temui. Wah, kebetulan macam apa ini? Sepertinya Dewi cinta sedang berpihak padanya. Di saat Harry tidak menginginkan dia mengenal ibunya, secara tidak langsung dia mengenal ibu Harry. Tiba-Tiba saja akal liciknya langsung aktif.
"Nona Cedric, maaf membuat anda menunggu," ucap Renata basa basi seraya menghampiri Anna yang sudah menunggu.
"Tidak perlu dipikirkan, Nyonya. Aku juga baru tiba," jawab Anna sambil tersenyum manis. Inilah namanya, mendayung ke muara tapi bertemu lautan luas. (Ini istilah dari autor sendiri, wkwkwk...)
Anna mempersilahkan Renata untuk duduk, saat itu mereka berada di sebuah cafe yang ada di pinggir pantai. Renata meminta Anna membuatkan sebuah gaun yang akan dia gunakan nanti untuk menghadiri sebuah pesta. Renata tersenyum melihat gadis cantik yang sedang duduk di hadapannya. Dia tidak menyangka jika Anna Cedric adalah seorang desainer. Tentunya ayah Anna bukanlah orang biasa.
"Bagaimana Nona Cedric, apa kau sudah membuat apa yang aku inginkan?" tanya Renata dan dia terlihat tidak sabar.
"Tentu," Anna mengeluarkan beberapa rancangan yang dia buat dan meletakkannya ke atas meja.
"Silahkan Nyonya pilih, yang mana yang Nyonya sukai," ucapnya.
"Wah, rancanganmu sangat bagus. Bagaimana jika kau membuatkan satu untuk putriku?" tanya Renata.
"Jangankan putri, Nyonya. Untuk putra Nyonya pun aku tidak keberatan," ucap Anna tanpa pikir panjang.
Renata menatapnya dengan heran, apa gadis itu mengenal Harry?
"Baiklah, bagaimana jika akhir pekan kau datang ke rumahku?"
"Dengan senang hati!" jawab Anna dengan cepat sampai membuat Renata kembali heran.
"Hm, maksudku," Anna pura-pura tidak enak hati , "Tentu aku tidak menolak," ucapnya lagi sambil tersenyum manis.
"Terima kasih, datanglah ke alamat ini," sebuah kartu nama di berikan, Anna mengambilnya dengan terburu-buru. Dia benar-benar mendapat kesempatan emas dan kesempatan itu datang dengan sendirinya. Dewi cinta benar-benar sedang bekerja, dan dia akan memanfaatkan hal ini dengan baik.
"Jika Nyonya tidak puas, aku akan membuatkan beberapa model lagi," ucap Anna. Dia harus memberikan service yang memuaskan untuk calon ibu mertua.
"Boleh juga, mumpung putriku belum pulang ke rumah suaminya jadi datanglah akhir pekan, dia pasti akan senang."
"Terima kasih, Nyonya. Aku tidak akan mengecewakan," senyum Anna semakin manis. Tanpa perlu bersusah payah, dia bisa datang ke rumah Harry.
Senyum Anna semakin mekar dengan ide licik memenuhi kepalanya. Harry pasti tidak akan tahu jika dia akan mendapat serangan mendadak dari gadis yang sedang jatuh cinta.
Setelah selesai, mereka berpisah. Renata kembali meminta Anna untuk datang dan tentunya Anna berjanji akan datang dan dia akan membuat rancangan terbaik untuk calon ibu mertua. Ambil dulu hati calon ibu mertua, lalu adiknya, ayahnya baru hati calon suami akan dia dapatkan dengan mudah.
Anna merapikan barang-barangnya dengan wajah berseri. Dia tidak pergi dari cafe itu karena sedang menunggu Carolina membawakan barang-barang yang ada di rumahnya. Rumah Carolina sudah tidak aman, dia tahu pengawal ayahnya akan kembali ke sana untuk mencari keberadaan dirinya.
Sambil menunggu, Anna memesan sepotong kue dan segelas kopi. Dia juga mencari sebuah apartemen yang bisa dia sewa karena dia membutuhkan tempat tinggal. Tidak sulit, dia bahkan sudah menemukan sebuah tempat bagus dan saat itu dia sedang menghubungi sang pemilik.
Di luar sana, Carolina melihat situasi sebelum turun dari mobil. Sesuai permintaan Anna, dia tampak waspada karena dia khawatir dia diikuti oleh dua pengawal yang ditugaskan oleh ayah Anna. Untuk menghindari kedua pengawal itu, Carolina bahkan berputar-putar. Jangan sampai sahabatnya tertangkap karena kelalaian yang dia lakukan.
Setelah situasi aman, Carolina bergegas masuk ke dalam cafe. Anna terlihat senang melihat sang sahabat baik yang sudah datang.
"Kenapa begitu lama?" tanya Anna.
"Hei, aku harus menghindari kedua pengawal ayahmu!"
"Apa mereka memantau rumahmu?" tanya Anna pura-pura.
"Seharusnya kau sudah tahu! Aku bahkan berputar-putar takut mereka mengikuti aku," ucap Carolina.
"Baiklah, kau boleh pesan apa pun. Aku akan traktir."
"Wow, tumben kau baik? Apa sudah terjadi hal yang bagus?" Carolina tampak penasaran.
"Tentu saja," Anna tersenyum lebar. Rasanya sudah tidak sabar akhir pekan cepat tiba.
"Apa yang telah terjadi? Cepat katakan!" sang sahabat semakin ingin tahu.
"Ini rahasia, kau tidak boleh tahu!" ucap Anna.
"Ck, dasar pelit!" gerutu Carolina.
"Sudah, maukah menemani aku menemui seseorang?" tanya Anna.
"Kau mau pergi ke mana?" tanya Carolina ingin tahu.
"Menyewa apartemen. Aku sudah mendapat tempat yang bagus, aku ingin bekerja di tempat nyaman agar hasil pekerjaanku tidak mengecewakan."
"Baiklah, aku akan menemanimu."
"Thanks," Anna tersenyum tersenyum, jalan untuk mendapatkan cintanya sudah terbuka lebar di depan mata.
Dia tidak menyangka akan mengenal keluarga Harry secepat ini. Walau pria itu belum menerima dirinya tapi dia akan berjuang, lagi pula dia masih memiliki banyak waktu. Sebelum waktunya habis, dia harus membuat Harry terbiasa dengan kehadirannya dan membuat pria itu menganggapnya spesial. Walau hanya tiga puluh hari tidak ada yang tidak mungkin dan semoga apa yang dia lakukan tidak sia-sia.