
Baku tembak terus terjadi karena dua kubu masih saling menyerang. Katsuo masih berusaha mencari pemicu bom yang terpental entah ke mana. Dia melihat dari balik persembunyian dengan teliti, dia harus mendapatkan benda itu dan menekan pemicunya.
Dia berharap musuh mengenai kabel perangkap yang kedua tapi sayangnya musuh tidak juga maju dan menembak dari tempat persembunyian mereka. Sepertinya mereka sudah tahu dengan perangkap yang telah dia buat. Itu sangat masuk akal, sebab itu musuh tidak juga maju
Siapa pun mereka, Akira sudah meremehkan lawan hanya demi seorang gadis penebus yang dia inginkan dan sekarang, Mayumi saja belum mati tapi mereka sudah berada di ujung tanduk.
Mayumi harus mati, harus! Pemicu bom itu harus dia dapatkan. Mata Katsuo mencari pemicu di antara anak buahnya yang berlari menghindari tembakan. Ketika dia sudah melihat pemicunya yang berada berada di tengah ruangan, Katsuo berniat mengambilnya tapi sayangnya, seseorang menedangnya hingga pemicu itu terpental jauh.
Katsuo mengumpat, sial! Dia harus mendapatkan pemicunya untuk mempercepat kematian Mayumi dan tentunya dengan yang lain. Pria itu bersembunyi dan bergerak perlahan mendekati pemicu bom. Untuk saat ini biarkan para musuh mengira jika dia sudah kalah dan mati, dia akan bergerak tanpa ada yang menyadari dan ketika pemicu itu sudah dia dapatkan, maka dia akan meledakkan mereka semua dan mereka akan mati bersama.
Suara tembakan dan suara teriakan anak buahnya hampir tidak terdengar karena mereka mendapat serangan dari arah depan dan belakang. Marline juga menembak dari persembunyian agar dia tidak terkena tembakan. Anak buah Katsuo sudah bagaikan ayam kehilangan induk, mereka berusaha bersembunyi tapi mereka tidak dapat melakukannya.
Suara tembakan terakhir terdengar, korban terakhir jatuh bersimbah darah. Anak buah Katsuo bergelimpangan di dalam ruangan itu dan darah membanjiri lantai. Marline keluar dari persembunyian, begitu juga dengan yang lain. Tapi mereka masih waspada, senjata api mereka masih mengarah ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan. Jangan sampai ada yang pura-pura mati di antara mereka.
"Mana ketuanya?" tanya Vivian karena sejak tadi mereka tidak melihat ketuanya.
"Entahlah," jawab Marline.
"Pemicu bomnya?" tanya Vivian lagi, sedangkan Marline menggeleng.
"Sial, cari!"
Vivian bergerak maju bersama dengan yang lain. Mereka melangkah dengan hati-hati agar tidak mengenai kabel jebakan kedua. Dari balik persembunyian, Katsuo terus mendekati pemicu yang masuk ke bawah kolong sebuah lemari.
Vivian terus maju, begitu juga dengan James, sedangkan Marline menghampiri Mayumi yang sudah pingsan akibat lukanya yang terus mengeluarkan darah.
"Sial, tubuhnya mulai dingin!" ucap Marline saat dia menyentuh lengan Mayumi.
"Hati-hati, James. Jangan sampai kau menginjak kabelnya!" Vivian mengingatkan.
Marline meletakkan senjata apinya, dia sibuk melihat kursi Mayumi dan mendapati sebuah kabel tipis di sana. Marline mengikuti kabel itu yang mereka pasang sedemikian rupa menuju pintu.
"Berhenti!" teriak Marline saat James dan yang lain hendak menginjakkan kakinya ke atas lantai.
"Perhatikan kabelnya," Marline menunjuk sebuah kebel tipis yang berada di atas lantai. Kabel itu benar-benar sulit terlihat apalagi warna kabel dan lantai hampir serupa.
"Sial, hampir saja!" umpat Vivian.
"Sepertinya kabel itu terhubung dengan bom yang ada di tubuhnya," ucap Marline.
"Apa?" Vivian bergerak cepat menghampiri Mayumi.
Dia melihat bom rumit itu dengan serius, selama bertugas dia belum pernah menjinakkan bom seperti itu.
James memerintahkan anak buahnya untuk mencari Katsuo dan pemicu bom di antara mayat yang bergelimpangan, mereka sungguh tidak tahu jika pria itu sedang berusaha mengambil pemicu yang ada di kolong lemari.
"Mich, di mana kau?" tanya Vivian.
"Aku sudah hampir tiba, Kakak Ipar," jawab Michael.
"Cepat, kami tidak menemukan pemicunya. Bom ini bisa meledak sewaktu-waktu!" pinta Vivian.
James masih mencari pemicu dan Katsuo dari mayat anak buahnya tapi dia tidak menemukan pria itu dan juga pemicunya.
"Nona, pria itu tidak ada begitu juga pemicunya."
Vivian langsung siaga, begitu juga Marline. Mata mereka melihat sekeliling ruangan yang dipenuhi banyak barang. Sepertinya pemimpin kelompok itu sedang bersembunyi.
"Aku akan menangani jebakan ini dan kau pergi mengecek setiap sisi ruangan bersama James untuk menemukan pria itu!" ucap Vivian.
Marline mengangguk, dia dan James juga beberapa anak buah yang lain melangkah dengan hati-hati menghampiri beberapa lemari penyimpanan barang yang begitu tinggi. Dipersembunyiaannya, Katsuo masih berusaha meraih pemicu, tinggal sedikit lagi tapi ketika dia mendengar langkah kaki, Katsuo segera bersembunyi. Jangan sampai dia tertangkap dan mati tanpa membawa mereka semua.
Vivian merusak jebakan itu, sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Marline dan James masih menyelusuri ruangan, mencari keberadaan katsuo dan pemicu bom. Katsuo masih bersembunyi dengan jantung berdebar. Sial, dia benar-benar terpojok dan pemicu itu satu-satunya harapan yang dia punya.
Michael sudah tiba saat itu, dia segera menghampiri Kakak iparnya yang sedang mempelajari bom rumit yang melekat di tubuh Mayumi.
"Bagaimana, Mich? Aku tahu bom ini tidak boleh dilepas karena bom akan meledak secara otomatis," ucap Vivian.
"Kalian belum menemukan pemicunya?" tanya Michael.
"Mereka sedang mencari," jawab Vivian.
"Oke kakak ipar, kau harus membantuku," pinta Michael.
"Kita tidak punya banyak waktu, sebaiknya yang bisa keluar segera keluar!" ucapnya lagi
Vivian mengangguk dan memberi tanda dengan tangannya sebagai perintah kepada anak buah yang ada di sana untuk membawa Ken keluar dari tempat itu. Semua bergerak cepat, sedangkan Katsuo mengintip dari balik persembunyian.
Sial! Dia bisa melihat seorang pria sedang melakukan sesuatu pada bom yang ada di tubuh Mayumi. Sepertinya mereka hendak menjinakkan bom itu jadi dia harus segera mengambil pemicunya.
Karena anak buah yang hampir memergokinya tadi sudah pergi, Katsuo keluar dari persembunyian dan kembali berusaha meraih pemicu bom. Marline dan James berjaga dan tampak waspada, jika ada yang mencurigakan maka mereka akan langsung menembak.
Michael membuka penutup kabel, di mana terdapat puluhan rangkaian kabel yang rumit. Dia meminta Vivian untuk memegang alat yang dia butuhkan, salah sedikit saja mereka akan meledak.
Setelah melihat puluhan kabel dengan warna yang hampir tidak jauh berbeda, kini Michael melihat dua pemicu yang ada di sisi kanan dan kiri. Kedua pemicu itulah yang harus mereka waspadai karena bom itu akan meledak sekalipun mereka sudah memotong kabel pemicu lain yang ada di bawah karenaom itu bagai sebuah jebakan.
"Bagaimana, Mich?" tanya Vivian.
"Tidak perlu khawatir," jawab Michael.
Vivian hanya memperhatikan apa yang adik iparnya lakukan, Michael memotong beberapa kabel dengan warna yang berbeda lalu menyambung potongan kabel itu dengan yang lain.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Vivian ingin tahu.
"Apa kau punya penjepit rambut yang tipis, Kakak Ipar?" tanya Michael.
"Aku tidak punya," jawab Vivian karena dia memang tidak punya.
"Semacam jarum, aku butuh!" pinta Michael.
Vivian mencari apa yang Michael inginkan dan akhirnya dia memutuskan menggunting kawat yang ada di tengah ruangan. Mereka berpacu dengan waktu, Katsuo juga hampir mendapatkan pemicunya.
Michael masih sibuk dengan kabel-kabel rumit yang terdapat di bom, dia akan menghentikan bom itu sementara agar bisa dilepaskan dari tubuh Mayumi.
Vivian memberikan apa yang dia inginkan, sebuah potongan kawat sudah berada di tangan. Vivian tidak tahu untuk apa kawat itu tapi dia terlihat menahan napas ketika Michael hendak menaruh potongan kawat di antara lempengan besi tipis yang terus bergerak dan jika kedua lempengan itu menempel maka bom akan meledak.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Vivian.
"Tahan napas kakak ipar, jika aku meleset maka bom ini akan meledak dan kita mati!" ucap Michael.
Secara Refleks, Vivian menahan napasnya. Matanya bahkan tampak tidak berkedip melihat apa yang akan dilakukan oleh Michael. Pria itu juga menahan napas, tangannya terlihat sedikit bergetar saat mendekatkan potongan kawat ke arah lempengan besi tipis karena dia harus menyelipkan kawat itu di antara lempengan besi.
Dari persembunyiaan, Katsuo sangat senang, karena dia hampir mendapatkan pemicu. Sedikit lagi, hampir dapat dan jika sudah dapat maka dia akan langsung meledakkan bom itu.
Vivian masih menahan napas, sial. Dia bagaikan berada di dalam air. Jantungnya berdebar saat potongan kawat yang ada di tangan Michael semakin mendekati potongan besi yang terus bergerak mendekat. Entah kenapa dia merasa suasana menjadi mencekam.
Potongan kawat semakin dekat, Michael harus melakukannya dengan cepat dan tentunya tidak boleh meleset. Dia semakin fokus pada lempengan besi yang terus bergerak. Mata begitu fokus, degupan jantung bahkan terdengar tapi sayangnya tanpa mereka ketahui, Katsuo sudah mendapatkan pemicu bomnya dan dia akan segera meledakkan mereka semua.
"Btw, model bom cuma imajinasi aku. Gak ada bom model kayak gini, ini cuma model asal 😂#