Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Mulai Terjerat



Harry masih rapat saat Anna tiba di kantornya. Seperti biasa, dia disambut dengan baik oleh karyawan Harry. Dia bahkan dibawa masuk ke dalam ruangan Harry dan diminta untuk menunggu di dalam sana.


Karena sudah terbiasa, Anna tidak ragu. Lagi pula dia sudah meminta ijin pada Harry untuk datang ke kantornya dan bekerja di sana. Hari ini dia harus nennyelesaikan beberapa sketsa dan dia harap bisa menyelesaikannya.


Anna melangkah menuju sofa, tempat itu sudah bagaikan tempat spesial untuknya. Sketsa gambar yang harus dia selesaikan di keluarkan, Anna mulai serius mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.


Dia harap Harry segera kembali karena dia sudah tidak sabar. Harinya mulai terasa menyenangkan karena dia sudah dekat dengan Harry, semoga saja pria itu bisa dia dapatkan karena dia tidak akan mau menikah dengan Marco yang sudah dia anggap sebagai sahabat baik.


Tapi dia berharap Harry tidak dalam bahaya karena dirinya apalagi dia sangat yakin jika kedua pengawal ayahnya sudah melihat Harry. Sayangnya harapan itu tidak akan terjadi karena Marco telah merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Harry.


Anna mulai sibuk, sedangkan Harry sudah mendapat laporan jika Anna sudah menunggu. Harry tersenyum, datang juga gadis itu.


Hari ini dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Anna. Dia harus tahu karena pukulan yang dia dapat. Setidaknya dia bisa waspada lain waktu agar tidak mudah dipukul lagi.


Rapat Harry sudah selesai, dia sudah tidak sabar kembali. Harry masuk ke dalam ruangan, Anna berpaling untuk melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan.


Senyum Anna mengembang ketika melihatnya, gadis itu beranjak dan mendekati Harry yanng sudah berjalan menuju mejanya.


"Maaf jika aku berada di dalam ruanganmu tanpa seijinmu," ucap Anna basa basi.


"Tidak apa-apa, sudah biasa!"


Anna masih tersenyum, dia berdiri tidak jauh dari Harry. Matanya tidak lepas dari pria itu, tiba-tiba senyumnya hilang saat melihat wajah Harry.


"Ada apa dengan wajahmu?" Anna menghampiri Harry dengan terburu-buru.


"Tidak ada apa-apa!" jawab Harry karena dia tidak ingin Anna tahu jika dia dipukul oleh kedua pengawal ayahnya. Tidak karena itu memalukan tapi Anna sudah curiga jika wajah Harry seperti itu akibat kedua pengawal ayahnya.


"Tidak mungkin!" Anna memegangi wajah Harry, dia melihatnya dengan teliti. Walau Harry berkata tidak apa-apa tapi lebam di wajahnya tidak bisa dia sembunyikan.


"Apa kau mendapatkan lebam ini dari dua pengawal ayahku?" tanya Anna, dia terlihat khawatir dan dia juga merasa bersalah.


Harry diam saja, matanya tidak lepas dari Anna. Untuk apa gadis itu mengkhawatirkannya? Tapi tidak ada salahnya mengatakan pada Anna apa yang telah terjadi agar Anna tahu, seperti apa pria yang sedang dia kejar saat ini.


"Jawab aku, Harry. Apa kau dipukul oleh pengawal ayahku?" tanya Anna lagi.


"Ya, mereka memang memukul aku!" jawab Harry tanpa ragu, matanya menatap Anna tajam.


"Mereka mencegat aku setelah aku mengantarmu dan lihatlah, seperti apa pria yang kau sukai. Buka matamu lebar-lebar, aku hanya seorang pecundang. Aku tidak bisa mengalahkan mereka jadi sebaiknya kau tidak mengejar aku lagi. Aku hanya pria lemah, aku tidak bisa berkelahi jadi aku tidak bisa melindunginmu jika ada yang hendak berbuat jahat padamu. Aku juga tidak bisa melindungimu dari kedua pengawal ayahmu itu jadi berhentilah!" ucap Harry lagi. Dia ingin melihat apa yang akan Anna lakukan. Apa dia akan menyerah dan bosan mengejarnya setelah dia tahu pria seperti apa? Apa Anna seperti yang pernah Marco katakan? Wanita tidak suka dengan pria lemah dan dia ingin tahu apa reakasi Anna.


"Bodoh!" Anna duduk di atas pangkuan Harry dan memeluk lehernya. Harry terkejut tapi dia tidak mendorong tubuh Anna dan membiarkan gadis itu.


"Aku menyukaimu apa adanya, apa aku pernah bertanya padamu kau bisa berkelahi atau tidak? Jika aku menyukai pria yang bisa berkelahi dan melindungi aku maka aku akan mencari seoorang tukang pukul atau seorang pelatih fitnes tapi rasa suka yang aku rasakan padamuu tumbuh tanpa aku inginkan. Aku tidak peduli kau bisa berkelahi atau tidak, dua pengawal ayahku saja yang sudah keterlaluan."


Anna melepaskan pelukannya, matanya memandangi Harry dengan lekat dengan senyum terukir di bibir.


"Maafkan aku Harry, kau harus mengalami hal ini karena aku. Aku benar-benar minta maaf."


"Sudahlahh, tidak perlu dibahas. Lagi pula hanya lebam jadi tidak perlu dipikirkan."


"Selain wajahmu, apa lagi yang dipukul oleh mereka? Bagaimana dengan tubuhmu?" tangan Anna mulai bergerak, dari wajah Harry terus turun ke bawah.


"Bagaimana tubuhmu? Dadamu?" tangan Anna sudah berada di dada Harry, meraba otot dadanya yang keras. Walau Harry berkata dia tidak jago berkelahi tapi dia bisa merasakan otot dadanya yang keras dan rasanya ingin bersandar di sana.


Anna tidak menyia-nyiakan kesempatan, tangannya terus merayap ke bawah. Otak cabul langsung on, tangannya sudah berada di perut Harry saat itu.


"Kau ingin meraba sampai mana?" Harry terlihat kesal, kenapa gadis itu suka meraba?


"Hm, a-apa mereka juga melukai bagian itu?" tanya Anna sambil melihat ke bawah sana.


"Ck, kau benar-benar!" Harry menarik tangan Anna, gadis itu terkejut, matanya melotot karena Harry mencium bibirnya.


Entah kenapa Harry selalu melakukan hal itu dan tentunya dia senang. Bolehkah dia mengartikan jika Harry sudah memiliki perasaan untuknya?


Kedua tangan Anna kembali melingkar di leher Harry, mereka berdua sibuk berciuman. Pelukan Anna semakin erat, kedua tangan Harry juga sudah melingkar di tubuh Anna sambil mengusap punggungnya. Sial, sepertinya dia sudah mulai terjerat oleh gadis aneh dan mesum itu karena tangan Anna sudah bergerak sana sini.


Ciuman mereka belum juga selesai, Harry tidak melepaskan bibir Anna sama sekali. Tidak saja tangan Anna, tangan Harry juga sudah bergerak dan sudah berada di paha Anna. Meraba kulit halusnya dan terkadang meremas pahanya pelan.


Bagaimanapun dia lelaki normal, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti itu.


Ciuman mereka terlepas, setelah mereka berciuman cukup lama. Mereka berdua saling pandang dengan napas terengah. Wajah Anna memerah, jantungnya berdebar karena dia benar-benar senang. Ini kejutan yang dia nantikan.


Anna kembali memeluk Harry, dia harap ini bukan mimpi dan dia harap mereka bisa seperti itu lagi.


"Aku benar-benar minta maaf," ucap Anna lagi, dia benar-benar senang.


"Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau kabur dari rumah dan kedua pengawal itu harus menangkapmu?" tanya Harry ingin tahu.


Anna belum menjawab, apa dia harus mengatakan pada Harry jika dia memang melarikan diri dari rumah? Tapi sebaiknya Harry tidak tahu jika dia hanya punya waktu sedikit untuk mendapatkan pria itu karena dia tidak mau Harry iba dengannya.


"Aku memang lari dari rumah," ucapnya.


"Kenapa? Apa kau dipaksa melakukan sesuatu oleh ayahmu?" tanya Harry ingin tahu.


"Yeah, begitulah," jawab Anna mengiyakan.


"Apa Marco juga utusan ayahmu untuk memantau gerak gerikmu?"


"Anggap saja begitu. Jangan hiraukan dia, dia hanya sahabatku. Jika dia mengatakan sesuatu padamu tidak perlu didengarkan. Dia pasti ingin menghasutmu saja."


"Oh, ya?" entah kenapa dia jadi teringat kembali dengan ucapan Marrco saat itu.


"Ya, sebab itu jangan percaya dengannya."


"Jika begitu aku ingin tahu, Anna. Apa kau mengejar aku karena kau penasaran padaku?" tanya Harry.


"Apa maksudmu?" tanya Anna tidak mengerti.


"Seseorang berkata padaku jika kau sudah menyukai seseorang maka kau akan mengejarnya sampai dapat tapi setelah kau mendapatkannya, kau akan meninggalkan orang itu karena kau sudah mendapatkannya dan sudah bosan. Apa itu benar, Anna?"


Anna tidak menjawab, siapa yang mengatakan hal seperti itu pada Harry?


"Kenapa kau diam saja, apa yang dikatakan tentang dirimu adalah benar?" tanya Harry lagi.


"Apa Marco yang mengatakan hal ini padamu?" tanya Anna karena dia curiga Marco yang telah mengatakan hal seperti itu pada Harry.


"Mau siapa yang mengatakan hal ini tidaklah penting tapi memang Marco yang mengatakannya jadi jawab aku sekarang, apa yang aku dengar tentangmu ini benarr? Apa kau mengejar aku karena penasaran? Apa kau mengejar aku untuk menuntaskan rasa penasaranmu padaku?" tanya Harry lagi.


Anna masih belum menjawab, dia memaki dalam hati. Harry masih menunggu jawaban darinya, dia harap apa yang dikatakan Marco tentang Anna tidaklah benar tapi kenapa Anna tidak menjawab dan diam saja? Jangan katakan apa yang dikatakan oleh Marco tentang Anna adalah benar karena dia tidak terima dijadikan pelarian untuk menuntaskan rasa penasaran.