
Pesawat yang membawa mereka sudah hendak mendarat di badar udara Tokyo Jepang. Ainsley terlihat sudah tidak sabar, walau ini bukan pertama kali dia mendatangi negeri sakura itu tapi kali ini pasti akan terasa berbeda. Biasanya dia datang untuk shoping dan jalan-jalan tapi kali ini dia datang bersama dengan orang yang dia cintai.
Ini pertama kali mereka jalan-jalan jauh dan menginap berdua, jujur dia gugup apalagi mereka sudah memilih akan menginap di mana saat berada di dalam pesawat. Yang membuatnya semakin gugup adalah, mereka akan tidurĀ bersama selama berada di Jepang.
Mereka sudah membuat banyak rencana, hari ini mereka tidak akan pergi ke mana pun dan akan istirahat di hotel tapi besok, Damian akan mengajak Ainsley pergi ke makam ibunya dan mengenalkan gadis itu kepada ibunya. Dia bahkan sudah merencanakan sesuatu dan ingin memberikan kejutan untuk Ainsley.
Mereka akan makan siang begitu tiba di hotel dan setelah itu Ainsley ingin berendam di air panas. Tidak perlu jauh-jauh, mereka menyewa hotel dengan fasilitas air panas di dalam kamar. Sebuah hotel mewah yang menyuguhkan keindahan kota tokyo menjadi pilihan.
Jika mereka tidak mau pergi ke mana pun, mereka bisa menikmati keindahan kota sambil berbaring di balkon dan menikmati wine terbaik yang disediakan oleh hotel itu. Sepertinya mereka akan melakukan hal itu nanti karena mereka berencana menghabiskan waktu di dalam kamar.
Pesawat sudah mendarat, Ainsley masih memandangi bandar udara Tokyo saat Damian membukakan sabuk pengaman yang masih dia gunakan.
"Ainsley, apa yang kau lihat?" tanya Damian karena Ainsley diam saja.
"Tidak, aku hanya melihat bandara saja," Ainsley tersenyum, sesungguhnya dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi karena selama di perjalanan dia melihat Damian lebih banyak melamun. Dia yakin sudah terjadi sesuatu, dia rasa ada hubungannya dengan keluarga Windstond.
"Baiklah, ayo kita segera turun," ajak Damian.
"Dam-Dam," Ainsley menahan tangannya saat Damian sudah berdiri dan hendak melangkah pergi.
"Ada apa?" Damian menghentikan langkahnya dan memandanginya dengan heran.
"Apa tidak menyenangkan jalan-jalan berdua denganku?" Ainsley juga memandanginya sehingga mata mereka berdua saling beradu.
"Tidak, kenapa kau berkata seperti itu?"
"Jika begitu katakan padaku, kenapa kau selalu termenung? Apa telah terjadi sesuatu antara kau dan keluarga ayahmu atau kau tidak suka kita datang ke tempat ini?"
Damian menghela napas, sial. Dia jadi merasa bersalah pada Ainsley. Semua ini gara-gara perkataan Harry. Padahal dia sudah tidak mau memikirkannya lagi tapi entah kenapa dia tidak bisa.
Damian menghampiri Ainsley dan duduk kembali bersama dengannya. Dia begitu bodoh menghancurkan momen kebersamaan mereka berdua hanya gara-gara ucapan Harry.
"Ada apa? Aku tidak suka melihatmu seperti ini. Jika kau tidak suka datang ke tempat maka kita akan kembali setelah mengisi bahan bakar," ucap Ainsley.
"Maafkan aku, aku menghancurkan kebersamaan kita."
"Tidak apa-apa," Ainsley memberikan usapan lembut di wajahnya. Dia harap Damian mengatakan padanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi, apa keluargamu datang dan mengganggumu lagi?" tanya Ainsley karena dia tahu, hanya mereka yang bisa membuat Damian seperti itu.
"Bagaimana jika kita bicarakan hal ini di hotel nanti?" ajak Damian.
"Tidak sekarang saja?"
"Di hotel, kita bicarakan sambil beristirahat di sana. Kau bilang ingin berendam air panas begitu tiba, bukan?"
"Oke, awas jika tidak kau katakan!" ancam Ainsley.
"Aku pasti akan mengatakannya," Damian mengangkat dagu Ainsley dan memberikan kecupan ringan di bibirnya.
"Maaf jika aku merusak suasana," ucapnya.
"Tidak apa-apa," ciuman di bibir kembali Ainsley dapat dan setelah itu, mereka berdua bersiap untuk turun.
Mereka berdua turun sambil berpegangan tangan, selama berada di Jepang, mereka telah memutuskan akan menggunakan angkutan umum. Lagi pula kebanyakan orang Jepang lebih suka berjalan kaki, kereta dan juga taksi. Fasilitas kendaraan umum di sana juga bersih dan nyaman, sebab itu Ainsley ingin menggunakan kendaraan umum sekali-kali.
Untuk menuju hotel, mereka menggunakan taksi dan tidak butuh lama, mereka sudah tiba di hotel. Ainsley begitu senang ketika melihat kolam air panas. Walau tidak besar seperti pemandian air panas pada umumnya tapi itu cukup untuknya dan juga Damian.
Karena mereka sudah lapar, mereka pergi makan terlebih dahulu di restoran yang ada di hotel itu. Ainsley sudah tidak sabar mendengar apa yang sebenarnya terjadi, oleh sebab itu begitu kembali dari makan siang, mereka berdua sudah berdiri di balkon memandangi kota Tokyo.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ainsley tanpa basa basi.
"Hei, aku sudah sangat ingin tahu ketika kita masih berada di pesawat," ucap Ainsley.
"Baiklah, kemari!" Damian meraih tangan Ainsley dan membawanya menuju kursi malas yang ada di sana. Dia duduk terlebih dahulu, dan setelah itu Ainsley duduk di atas pangkuannya.
Mereka diam, tidak ada yang berbicara. Ainsley mengusap rambut Damian karena saat itu, Damian sedang memeluknya dengan erat.
"Dam-Dam," Ainsley jadi canggung karena mereka hanya diam saja.
"Ainsley, apa aku tidak pantas untukmu?" Damian mengangkat wajah, memandangi gadis itu dengan lekat. Jujur dia merasa tidak pantas setelah memikirkan siapa dirinya.
"Kenapa kau berkata seperti ini, Dam-Dam? Siapa yang mengatakan padamu jika kau tidak pantas?"
"Hm, seseorang yang merasa jika dia yang lebih pantas bersama denganmu."
"Harry?" tebak Ainsley, sedangkan Damian mengangguk.
"Jangan dengarkan dia, dia tidak waras dan kau tahu aku tidak suka dengannya."
"Aku tahu, aku juga tidak ingin memikirkan hal ini tapi setiap aku melihat diriku, aku merasa apa yang Harry ucapkan sangat benar, aku tidak pantas untukmu karena aku?" ucapan Damian terhenti karena Ainsley meletakkan jarinya ke bibir pria itu.
"Aku tidak mau mendengar lebih lanjut. Kau seharusnya tahu kenapa aku memilih bersama denganmu. Tidak ada yang salah pada dirimu, kau juga punya orangtua tapi kenapa kau merasa dirimu tidak pantas?"
"Aku?"
"Dam-Dam," Ainsley memegangi wajahnya dan memandangi matanya. Gadis itu tersenyum dengan manis, dia tidak menyangka Damian akan berpikir seperti itu hanya karena apa yang Harry ucapakan. Apa Damian tidak percaya diri hanya karena dia anak yang tidak diinginkan?
"Aku memilih bersama denganmu karena aku mencintaimu, aku sudah tahu semua tentangmu dan aku tidak mempermasalahkannya begitu juga dengan keluargaku. Apa ada satu dari mereka yang melarang hubungan kita? Tidak ada yang sempurna, Dam-Dam. Keluargaku juga tidak. Kami juga memiliki banyak kekurangan dan kami tidak merasa berbangga diri sehingga kami harus memandang rendah orang lain."
"Aku hanya takut kau malu karena telah memilih aku, Ainsley."
"Hei, untuk apa aku malu? Aku akan malu jika aku merebut suami orang dan menghancurkan rumah tangga orang lain."
"Jadi? Aku pantas untukmu?" tanya Damian memastikan.
"Tentu saja kau pantas, kau putra Jager Maxton lalu kenapa kau merasa tidak pantas? Kau bahkan seperti kakek Edward yang tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga kami."
"Oh ya?"
"Hm, hubunganmu dengan ayah dan adikmu saat ini sangat mirip sekali dengan hubungan kakek Jacob dan Kakek Edwar juga nenek Olivia jadi kau tidak perlu merasa rendah diri. Orang yang mengatakan kau tidak pantas, sesungguhnya dialah yang tidak pantas!"
Damian tersenyum, dia kembali memeluk Ainsley dengan erat. Dia hanya takut mengecewakan Ainsley dan membuat gadis itu malu karena telah memilih dirinya.
"Thanks, Sweetheart."
"Aku sudah lama tidak mendengar kau memanggil aku seperti ini," ucap Ainsley.
"Jika begitu aku akan memanggilmu seperti itu setiap hari."
Ainsley tersenyum dan mencium dahi Damian. Lain kali jika dia bertemu dengan Harry maka akan dia tendang pria itu tanpa ragu.
"Jika begitu ayo kita berendam," ajak Damian.
"Aku berencana berendam sendiri."
"Rencana ditolak!" ucap Damian.
Damian membawa Ainsley masuk ke dalam kamar sambil mencium bibirnya. Sepertinya dia terlalu banyak berpikir, selama berada di sana dia akan menjadikan Ainsley sebagai miliknya dan membuktikan pada Harry jika dia sangat pantas bersama dengan Ainsley.